
Erlan mencari Dera ke rumahnya namun kosong. Ia segera meminta Bimo menuju cafe milik Dera.
Sesampainya di Cafe AP, Erlan segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam.
" Dimana bos kalian?" Tanya Erlan kepada kasir.
" Ada di ruangannya Tuan." Sahut kasir menunjuk ruangan yang tak jauh dari sana.
Erlan berjalan menuju pintu yang tertutup rapat.
Ceklek....
Tanpa ijin Erlan membuka pintunya, sayup sayup ia mendengar Dera sedang berbicara dengan seseorang.
" Revan." Gumam Erlan.
" Udah lah Mas, ngapain sih kamu ke sini? Aku mau kerja Mas jadi tolong jangan ganggu aku lagi." Ucap Dera menatap jengah ke arah Revan.
" Aku mau menemani kamu kerja sayang, lagian kamu kan sudah memaafkan aku, jadi biarkan aku menemanimu sebagai teman." Sahut Revan.
" Aku memang memaafkanmu tapi bukan berarti kamu bisa berbuat seenaknya begini Mas, aku sudah bilang padamu kan untuk tidak menumuiku lagi? Jadi sekarang pergilah! Jangan menggangguku lagi!" Ucap Dera.
" Tapi sayang, aku juga pernah bilang sama kamu kan kalau setelah aku menceraikan Nita, aku akan kembali mengejar cintamu dan kau tidak bisa melarang itu." Ucap Revan bersikeras.
" Aku sudah menceraikan Nita kemarin, dan mulai hari ini aku akan kembali mengejarmu untuk mendapatkan cintamu, dan aku harap kau mau menerimaku kembali, kita akan rujuk suatu hari nanti." Sambung Revan.
" Buang jauh jauh pikiranmu Mas, karena sampai kapan pun aku tidak akan mau rujuk denganmu, tolong mengertilah! Aku sedang banyak pikiran saat ini, aku malas untuk berdebat denganmu, sekarang keluar dari ruanganku!" Usir Dera. Ia merasa pusing menghadapi dua pria yang selalu mengusik hidupnya.
" Dera aku mohon jangan bersikap seperti ini, aku juga korban di sini Dera, aku tidak akan tergoda dengan Nita jika dia tidak terus terusan menggodaku, kau tahu benar akan cintaku kepadamu selama ini, aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku." Ujar Revan menggenggam tangan Dera.
" Kalau kau bersikap seperti ini aku justru akan membencimu Mas, aku harap kau tidak akan pernah menemuiku lagi, sekarang keluarlah dari ruangan ini!" Usir Dera.
" Tapi Dera..
" Cukup Mas!" Bentak Dera membuat Revan menatapnya tidak percaya.
" Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku jika melihat wajahmu? Hatiku sakit Mas.... Jika mengingat pengkhianatanmu ingin rasanya aku membunuhmu saat itu juga, tapi apa? Aku selalu menahannya, aku memaafkanmu karena bagaimanapun kau lah pria yang selalu menemaniku di saat aku terpuruk, tapi aku juga tidak bisa menerimamu kembali setelah pengkhianatan yang kau lakukan padaku, tapi kau salah mengartikan sikapku, kau malah membuatku semakin muak denganmu, dan jangan kau pikir aku tidak bisa membencimu Mas.. Aku membencimu... Aku membencimu." Teriak Dera.
" Dera...
" Keluar!" Bentak Dera.
Tidak mau membuat Dera semakin marah, Revan pun akhirnya keluar dari ruangan Dera.
" Argh..... " Teriak Dera menarik kasar rambutnya.
" Kenapa hidupku menjadi kacau seperti ini? Lama lama aku bisa gila kalau seperti ini." Ucap Dera.
" Kalau kau ingin terbebas darinya, maka menikahlah denganku."
Dera menoleh ke asal suara, ia menghembuskan nafasnya kasar setelah melihat Erlan yang sedang berjalan menghampirinya.
" Ini lagi... Membuatku semakin pusing saja." Batin Dera.
" Mau apa kau kemari? Aku sedang tidak ingin bertemu siapapun." Ucap Dera dingin.
" Aku ke sini untuk meminta maaf sama kamu, maafkan aku yang telah berkata kasar kepadamu, bukan tanpa alasan aku mengucapkan semua itu, aku telah salah paham kepadamu." Ujar Erlan.
__ADS_1
" Salah paham yang bagaimana?" Dera balik bertanya menatap Erlan.
" Semalam aku ke rumahmu, aku melihatmu dan Revan berpelukan, dan aku mendengar jika kalian berbaikan, aku berpikir kalau kamu menerima Revan menjadi suamimu lagi, padahal kau menolakku dengan alasan tidak mau menikah lagi, itulah sebabnya aku marah." Terang Erlan.
Erlan menggenggam tangan Dera, keduanya saling melempar pandangan.
" Maafkan aku yang telah menyakiti perasaanmu, aku tidak bermaksud membuatmu terluka, aku minta maaf." Ucap Erlan mengelus pipi Dera.
" Katakan siapa sebenarnya dirimu!" Ucap Dera menatap Erlan.
" Aku... Aku Erlangga Pramana, CEO perusahaan EP Group." Sahut Dera membuatnya terkejut.
" Kenapa kau tidak bilang ini dari awal? Kenapa....
" Karena kau tidak bertanya kepadaku tentang siapa aku, jadi jangan katakan kalau aku berbohong padamu." Sahut Erlan memotong ucapan Dera.
" Sekarang lupakan tentang siapa aku, apa kau mau memaafkanku?" Tanya Erlan.
" Aku memaafkanmu." Ucap Dera tersenyum manis.
Erlan menarik Dera ke dalam pelukannya. Ia mencium pucuk kepala Dera membuat Dera menjauhkan tubuhnya dari Erlan.
" Jangan seperti ini! Kita tidak memiliki hubungan apa apa, aku tidak mau ini akan menjadi fitnah untuk kita berdua." Ucap Dera.
" Untuk itu buat hubungan kita menjadi spesial, dengan begitu Revan tidak akan mengganggumu lagi." Ujar Erlan berusaha membujuk Dera.
" Pikirkan baik baik Dera! Jika kau menjadi istriku tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi, baik itu Revan maupun Rizal." Sambung Erkan.
" Begitupun jika aku menjalin hubungan dengan pria lainnya, kau juga tidak akan bisa menggangguku lagi kan?" Ujar Dera.
" Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi, jika aku tidak bisa mendapatkanmu maka yang lainnya pun tidak, tapi tenanglah! Kau akan menjadi milikku suatu hari nanti." Ujar Erlan.
" Aku akan menculikmu dan menikahimu dengan paksa, seperti yang Rizal lakukan kepadamu." Sahut Erlan.
" Jahat." Cebik Dera.
" Terpaksa, apapun adil dalam cinta dan perang." Ucap Erlan.
" Jadi apa jawabanmu?" Tanya Erlan sedikit memaksa.
" Aku tidak mau jawaban yang sama seperti kemarin, aku mau jawaban yang beda dan membuat hatiku tenang sekaligus bahagia." Sambung Erlan.
" Kau pemaksa sekali." Ucap Dera.
" Kau tidak akan mau kalau tidak di paksa, jadi apa kau menerima lamaran ku kali ini?" Tanya Erlan menatap Dera.
" Kau tidak melamar ku dengan benar." Ujar Dera.
" Baiklah, aku akan menyiapkan lamaran yang romantis untukmu nanti malam, terima kasih sudah menerimaku." Ucap Erlan.
" Eh aku belum memberikan jawaban ya." Ucap Dera.
" Aku menganggap jawabanmu ' iya Mas Erlan, aku menerimamu dengan sepenuh hatiku karena aku sudah melihat cinta tulus dari dalam hatimu'." Ujar Erlan.
" Udah ah aku kerja dulu, laporan beberapa bulan terakhir belum aku cek." Ujar Dera kembali ke kursinya.
" Aku akan menemanimu di sini." Ucap Erlan duduk di sofa.
__ADS_1
Erlan memainkan ponselnya mengirim pesan pada Bimo.
📲Me
Cari bukti kesalahan pekerja yang bernama Revan
Dera menatap Erlan yang masih asyik dengan ponselnya, menunggu laporan dari Bimo.
" Apa tanganmu sudah tidak sakit?" Tanya Dera.
" Tidak! Sesakit apapun itu selama kau yang mengobatinya maka sakit itu akan hilang." Sahut Erlan.
" Dasar om om bucin!" Ucap Dera.
" Kau akan tahu bagaimana om om ini memberikanmu cinta yang sebenarnya." Sahut Erlan.
" Aku ingin melihat bagaimana kamu bisa memperjuangkanku untuk menjadi milikmu." Ujar Dera.
" Akan aku buktikan." Sahut Erlan.
Dera fokus pada pekerjaannya sedangkan Erlan fokus pada laporan yang di berikan oleh Bimo.
Erlan mengerutkan keningnya, lalu ia menatap ke arah Dera. Ia mengembangkan senyumnya saat melihat Dera yang nampak sedang berpikir sambil menggigit pensil di tangannya.
" De." Panggil Erlan.
Dera menoleh ke arahnya.
" Ya ada apa? Apa kamu haus Mas?" Tanya Dera membuat hati Erlan seperti di siram air es.
" Tidak, aku hanya ingin memberitahumu sesuatu." Sahut Erlan.
" Apa itu?" Tanya Dera.
" Revan terbukti menggelapkan dana perusahaan, dan aku harus memenjarakannya, bagaimana menurutmu?" Tanya Erlan.
" Menggelapkan dana perusahaan? Untuk apa Mas Revan melakukan semua itu?" Gumam Dera mengerutkan keningnya.
" Mungkin untuk selingkuhannya itu, bukankah kau pernah bilang kalau uang gaji yang Revan berikan kepadamu utuh? Bisa jadi dia memberikan uang korupsinya untuk selingkuhannya itu." Ujar Erlan.
" Iya kau benar Mas, mungkin itu sebabnya dia menggelapkan uang perusahaan, tapi kenapa kau meminta pendapatku? Bukankah seorang tersangka memang harus di penjara?" Tanya Dera.
" Bagaimanapun dia pernah memiliki hubungan denganmu, aku tidak mau keputusanku akan menghambat hubungan kita." Ucap Erlan.
"Sekaligus aku ingin memastikan perasaanmu kepadanya, apakah kau masih menyimpan cinta untuknya atau tidak." Lanjut Erlan dalam hatinya.
" Itu urusanmu dengannya Mas, tidak ada hubungannya denganku, lakukan saja sesuai aturan perusahaan." Sahut Dera.
" Baiklah." Sahut Erlan.
" Aku tidak menyangka jika kau tega melakukan semua ini kepadaku Mas, aku semakin yakin dengan keputusanku." Batin Dera.
" Aku berharap dengan cara ini, dia tidak akan mengganggumu lagi, dan kita akan hidup bahagia selamanya." Ujar Erlan dalam hati.
Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All...
TBC......