Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Lamaran & Keraguan


__ADS_3

Malam ini Erlan membawa Dera ke apartemennya. Ia menggandeng tangan Dera menuju balkon kamarnya. Di sana Erlan menyiapkan makan malam romantis di hiasi cahaya lilin yang sangat indah.


" Mas apa ini?" Tanya Dera menatap Erlan.


" Sesuai janjiku padamu." Sahut Erlan.


" Dera lihatlah ke atas!" Ucap Erlan menunjuk langit malam.


Dera mengikuti arahan Erlan dan....


Duar.... Duar.... Duar....


Letusan kembang api tiga kali mengeluarkan tulisan I Love you membuat Dera terharu.


Erlan berlutut di depan Dera sambil menggenggam tangannya.


" Dera... Malam ini aku kembali melamarmu, tidak bosan bosan aku mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu apapun yang terjadi, aku ingin kau selalu berada di sampingku menemani hari hariku dengan penuh cinta dan kasih sayang, Aldera Pramesti, maukah kau menikah denganku?" Erlan menatap Dera dengan tatapan penuh permohonan.


" Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak, bagiku rasa cinta itu telah mati, tapi bersamamu aku merasakan kenyamanan, kau membuatku merasa kalau kita saling membutuhkan satu sama lain, kau membuatku ingin selalu menghabiskan waktu bersamamu, aku akan memberikan kesempatan kepadamu untuk membuatku mengerti akan perasaanku kepadamu Mas." Ucap Dera.


" Akan aku pastikan jika yang kau rasakan kepadaku adalah cinta." Sahut Erlan.


Erlan mengeluarkan sekotak cincin dari saku celananya. Ia memegang tangan Dera lalu menyematkan cincin di jari manisnya.


" Jangan pernah melepas cincin ini apapun yang terjadi." Erlan mengecup jari Dera.


" Aku janji." Sahut Dera.


" Terima kasih sayang " Erlan menarik tubuh Dera ke dalam pelukannya.


" Mulai hari ini kita akan memulai hubungan sebagai sepasang kekasih, aku akan mempersiapkan pernikahan kita secepatnya." Ucap Erlan.


" Iya Mas." Sahut Dera.


Keduanya melanjutkan dengan makan malam bersama. Setelah selesai Erlan mengantarkan Dera pulang kenrumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Dera berada di cafe nya, ia sedang meeting dengan para karyawan untuk membahas pembukaan cabang di kota Bandung.


" Menurutmu gimana Deon? Apa kamu bisa mencari cooki untuk menghandle cafe kita di sana? Kalau bisa cari orang sana saja biar dia nggak bolak balik Bandung Jakarta." Ujar Dera.


" Akan aku usahakan, aku punya teman di daerah sana yang pandai memasak tapi dia bukan seorang cooki." Sahut Deon.


" Tidak masalah, kamu rekrut dia aja untuk bergabung dengan kita, yang aku cari di sini kemampuannya bukan gelarnya." Ucap Dera.


" Mana perempuan tidak tahu diri itu?"


Suara teriakan itu membuat mereka semua menoleh ke arahnya.


" Nyonya Rubi." Gumam Dera berdiri.


Nyonya Rubi menghampiri Dera lalu menatap tajam ke arahnya.


Plak.....


Tamparan keras mendarat di pipi mulus Dera, semua karyawan melongo menatapnya.


" Dasar perempuan tidak tahu diri, gila harta, aku tahu tujuanmu yang sebenarnya mendekati putraku." Bentaknya.

__ADS_1


" Anda keliru nyonya, bukan saya mendekatinya tapi Mas Erlan yang mendekati saya lebih dulu." Sahut Dera tanpa takut.


" Heh percaya diri sekali kamu? Apa kamu pikir putraku akan tergila gila denganmu? Lihat wanita ini!" Ucap nyonya Rubi menarik tangan seorang gadis cantik.


" Dia Monika, calon istrinya Erlan, kamu bisa kan melihat perbedaan kalian berdua dimana? Monika wanita berkelas, wanita berpendidikan dan dia masih gadis, tidak janda seperti dirimu." Ucapan nyonya Rubi melukai harga diri Dera.


" Ya anda benar nyonya, Monika jauh lebih segalanya dari saya, dia masih gadis, dia pintar, dia cantik, mungkin juga dia dari keluarga terpandang, tapi satu perbedaan di antara kami yang tidak bisa Anda lihat nyonya." Dera menatap nyonya Rubi.


Nyonya Rubi mengerutkan keningnya.


" Cinta." Ucap Dera.


" Mas Erlan memiliki cinta yang besar untuk seorang janda seperti saya, namun tidak untuk gadis seperti Monika." Sambung Dera.


" Kau sangat membanggakan cinta, apa kau yakin putraku benar benar mencintaimu? Atau dia hanya memanfaatkanmu saja supaya dia bisa terbebas dari perjodohan ini."


Deg....


Jantung Dera berdetak dua kali lipat dari biasanya.


" Putraku tidak mungkin memilih wanita seperti Monika untuk memanfaatkannya, dia pasti mencari wanita sepertimu yang sangat mudah untuk di perdaya, hanya dengan di iming imingi cinta dan perhatian kau akan tergoda dengan rayuannya, itulah sebabnya putraku mendekatimu, tapi setelah dia mendapatkan wanita lain, pasti dia akan membuangmu, wanita seperti Monika saja di tolak apalagi wanita rendahan sepertimu, itulah cara orang kaya mengatasi masalah." Ucap nyonya Rubi menatap Dera sinis.


Dera berpikir ada benarnya ucapan nyonya Rubi, apakah ia harus mempercayainya?


" Aku ke sini karena merasa kasihan kepadamu, kau wanita polos yang tidak tahu apa apa, almarhum suamiku telah menjodohkan Erlan dengan Monika, dan aku harus menjalankan wasiatnya secepat mungkin bukan? Aku harap kau bisa memahami pentingnya menjalankan wasiat orang yang sudah tiada, kamu tidak mau kan di sebut sebagai pelakor? Jadi jauhi Erlan dan biarkan dia menjalankan peran sebagai anak yang berbakti pada orang tuanya dengan menikahi Monika." Ucap nyonya Rubi.


Monika maju menatap Dera dengan tatapan meremehkan.


" Aku nggak heran sih kalau kamu mengejar Kak Erlan, siapa sih yang nggak jatuh ke dalam pesona Kak Erlan, tapi sayangnya dia hanya akan menjadi milikku, kami berdua sudah sangat dekat selama ini, bahkan kami sering menghabiskan waktu bersama, tapi sayangnya Kak Erlan tidak cukup dengan satu wanita, jadi dia menolakku." Ucap Monika.


" Aku memberi syarat kepadanya, aku akan menerima keputusannya jika dia menikahi wanita lain, itu sebabnya dia mendekatimu, jadi berhati hatilah! Atau kau akan menyesal." Sambung Monika menepuk bahu Dera.


" Dera kau tidak pa pa?" Tanya Deon.


" Aku baik baik saja." Sahut Dera.


" Siapa dia Ra? Dan apa maksudnya kamu jadi pelakor? Apa kau punya hubungan dengan pria yang tempo hari ke sini?" Tanya Deon.


" Tinggalkan aku sendiri!" Titah Dera.


Deon menghela nafasnya.


" Baiklah, kalau ada apa apa panggil aku." Deon meninggalkan Dera sendiri di ruangannya.


Setelah kepergian Deon, Dera menimbang nimbang ucapan Monika dan nyonya Rubi.


" Apa benar Mas Erlan hanya memanfaatkan aku? Tapi cintanya kepadaku selama ini terlihat begitu nyata, hubungan kami baru di mulai tapi badai telah datang menghalangi, aku harus bagaimana? Apakah aku harus menanyakan semua ini kepada Mas Erlan? Tapi bagaimana jika dia tidak mau terus terang? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika Mas Erlan juga mengkhianati ku." Monolog Dera.


Dera mengusap air matanya. Setelah semalaman ia berpikir untuk menerima Erlan, sekarang hatinya kembali di landa kebingungan. Ada keraguan yang mengusik di dalam hatinya.


Di kantor, Erlan segera berlari menuju mobilnya setelah mendapat laporan dari Bimo jika ibu tirinya mendatangi Dera. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


" Kalau sampai Dera kenapa napa, aku tidak akan melepaskan kalian, aku akan menunjukkan siapa aku sebenarnya dan apa yang bisa aku lakukan kepada kalian berdua." Monolog Erlan.


Sesampainya di cafe, Erlan segera masuk ke dalam.


" Dimana Dera?" Tanya Erlan kepada kasir.


" Nona Dera sudah pulang Tuan." Sahutnya.

__ADS_1


Erlan kembali ke mobilnya. Kali ini ia menuju rumah Dera.


Erlan menekan bel berkali kali namun Dera tidak kunjung membukakannya.


" Dera buka pintunya!" Teriak Erlan.


Dok.... Dok... Dok...


Erlan menggebrak pintunya berkali kali.


" Dera aku mohon buka pintunya, kalau tidak aku akan mendobraknya." Teriak Erlan.


Namun teriakannya sia sia, karena Dera tidak mau membuka pintunya.


" Dera." Erlan berteriak lagi.


" Kalau kau tidak mau membuka pintunya, kau akan melihat aku mati di sini." Erlan berteriak lagi.


Dan.....


Ceklek.....


Dera membuka pintunya.


Erlan menangkup wajah Dera yang sembab.


" Siapa yang melakukan ini?" Tanya Erlan saat melihat pipi kiri Sera bengkak.


" Siapa yang melakukannya?" Bentak Erlan.


" Nyonya Rubi atau Monika?" Tanya Erlan.


" Nyonya Rubi." Sahut Dera.


Erlan menarik tangan Dera menuju mobilnya.


" Kita mau kemana Mas?" Tanya Dera.


" Masuk!" Ucap Erlan.


" Kita mau kemana?" Dera bertanya lagi.


" Kau akan tahu kita mau kemana." Sahut Erlan.


Mau tidak mau akhirnya Dera masuk ke mobil Erlan. Erlan segera melajukan mobilnya menuju..,


Sudah ketebak mau kemana?


Author tunggu like koment dan 🌹nya ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....



Baru launching... Author tunggu dukungannya di sana ya...

__ADS_1



__ADS_2