Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Suami Siaga


__ADS_3

Dera duduk di tepi ranjang sambil melihat Erlan yang sedang menggantikan popok babby Qiran. Erlan nampak sedikit kesusahan namun Dera membiarkan Erlan menyelesaikannya sendiri.


" Sayang ini kaki Qiran kok kecil amat gini ya, sebenarnya aku takut megang, tapi demi menjadi Papa yang bisa mengurus anak anaknya dengan baik jadi aku beranikan deh." Ujar Erlan.


" Kalau kamu hati hati nggak bakal keseleo Mas, lihat tuh anak kita! Dia senyum senyum kan di gantiin sama Papanya." Dera menatap babby Qiran yang nampak tersenyum menatap Erlan.


" Halo sayang... Anaknya Papa senang ya kalau Papa yang gantiin popoknya, anak pinter, anaknya Papa, mulai sekarang Papa akan mengurusmu, Papa akan memandikanmu dan mendandanimu biar cantik." Ucap Erlan menatap babby Qiran.


Babby Qiran tersenyum menunjukkan gusi tanpa giginya membuat wajahnya terlihat merah padam.


" Emang kamu bisa mandiin Qiran? Yang ada nanti teriak teriak lagi." Kekeh Dera.


" Enggak lah sayang, aku pasti bisa, apalagi kalau di ajari sama kamu, pasti cepat bisa." Sahut Erlan di balas senyuman oleh Dera.


" Anak Papa cepat besar ya sayang, Papa udah nggak sabar pengin ngajak kamu jalan ke mall." Ujar Erlan.


" Ngapain ke mall Mas?" Dera mengerutkan keningnya.


" Beli mainan lah sayang." Sahut Erlan.


" Oh." Gumam Dera.


Selesai mengganti popok babby Qiran, Erlan lalu menggendongnya. Ia menimang babby Qiran dengan pelan.


Tok tok...


Pintu di ketuk dari luar. Terlihat Bi Sumi berdiri di depan pintu.


" Ada apa Bi?" Tanya Dera.


" Ada tamu di bawah Non, katanya mau ketemu Tuan Erlan." Sahut Bi Sumi.


Dera menatap Erlan.


" Suruh tunggu sebentar Bi." Ujar Erlan.


" Baik Tuan." Sahut Bi Sumi meninggalkan kamar Erlan.


" Siapa ya Mas yang mau menemuimu?" Tanya Dera menatap Erlan.


" Aku juga nggak tahu sayang, aku temui dulu ya." Sahut Erlan.


" Boleh aku ikut menemuinya?" Tanya Dera.


" Iya boleh, ayo." Ajak Erlan.


Keduanya berjalan menuju ruang tamu, Erlan menggendong babby Qiran dengan hati hati.


" Rizal." Gumam Dera menatap Rizal yang duduk di sebuah kursi roda.


" Dera, Erlan." Ucap Rizal.


" Mau apa kau ke sini?" Sinis Erlan.


" Mas." Dera menyentuh lengan Erlan.


" Kita duduk dulu." Ucap Dera.


Dera dan Erlan duduk di sofa.


" Gimana kabarmu Rizal? Apa tubuhmu sudah sembuh dari rasa sakit?" Tanya Dera membuat Erlan langsung menatap ke arahnya.

__ADS_1


" Seperti yang kau lihat Dera, sekarang aku menjadi pria lumpuh." Sahut Rizal.


Dera menatap iba kepadanya.


" Maafkan Mas Erlan yang telah membuatmu seperti ini." Ucap Dera.


" Apa apaan kamu sayang? Dia memang pantas mendapatkannya." Ujar Erlan.


" Mas nggak boleh gitu! Kita sesama manusia harus saling memaafkan." Ucap Dera.


" Tidak apa Dera, aku memang pantas mendapatkannya." Sahut Rizal.


" Katakan apa tujuanmu datang ke sini!" Titah Erlan.


" Aku ke sini untuk berpamitan pada kalian, aku akan menetap di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, aku meminta maaf pada kalian berdua atas apa yang pernah aku lakukan pada kalian, dan terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk tetap hidup walaupun dengan keadaan seperti ini." Ucap Rizal.


" Dera yang membuatmu masih tetap hidup, harusnya kau mati saja supaya kau tidak merasakan penderitaan hidup cacat seperti sekarang ini." Ucap Erlan.


" Mas kamu nyadar nggak sih kalau omongan kamu keterlaluan, lagian ada anak kita Mas... Nggak baik ngomong seperti itu." Ujar Dera memberi pengertian.


Erlan menatap babby Qiran yang memejamkan mata, lalu ia menciumi nya.


" Maafkan Papa sayang." Ucap Erlan.


" Kami sudah memaafkanmu, hati hati di jalan! Semoga selamat sampai tujuan, aku doakan semoga kelak kau mendapatkan wanita yang bisa membuatmu bahagia, dan menerimamu apa adanya, kalau itu terjadi jangan lupa kabari kami!" Ucap Dera.


" Apa kau akan datang jika aku menikah nanti?" Tanya Rizal.


" Akan kami usahakan." Sahut Dera.


" Terima kasih, kau akan segera mendapatkan kabar baik itu." Ujar Rizal.


" Apa kau sudah mendapatkan wanita itu?" Selidik Dera.


" Sebentar lagi aku akan mendapatkannya." Sahut Rizal.


" Semoga, aku sangat menanti kabar itu tiba." Sahut Dera.


Setelah berpamitan Rizal segera keluar dari rumah Dera. Ia masuk ke mobil di bantu oleh suster yang selama ini merawatnya. Suster Siska namanya.


Dera menatapnya dari jendela rumahnya.


" Kenapa sayang?" Erlan mendekati Dera.


" Sepertinya suster itu yang Rizal maksud Mas, mungkin kedekatan mereka membawa berkah untuk Rizal, jika itu benar semoga mereka selalu berbahagia." Ucap Dera.


" Istriku baik hati sekali sih, semuanya di doakan supaya bahagia." Ucap Erlan mencium pipi Dera.


" Memang itu yang harus kita lakukan Mas, kita tidak boleh mendoakan orang yang buruk buruk, atau semua itu akan kembali kepada diri kita, sekarang ayo kembali ke kamar Mas, kasihan Qiran kalau tidur dalam gendongan lama lama." Ujar Dera.


" Iya." Sahut Erlan.


Keduanya kembali ke dalam kamar mereka.


...****************...


Di rumah Revan, Aulia sedang memakan rujak mangga muda dan jambu air, dengan bumbu kacang yang di beri banyak asam Jawa.


Revan yang melihatnya merasa ngilu sendiri.


" Kamu tidak mau Mas? Enak lhoh makan rujak siang siang gini." Ucap Aulia.

__ADS_1


" Tidak sayang, melihatnya saja gigiku rasanya linu." Sahut Revan.


" Ya udah kalau nggak mau." Sahut Aulia meneruskan makannya.


" Mas aku pengin pulang ke rumah Abhi." Ucap Aulia tiba tiba.


" Kenapa tiba tiba kamu ingin ke sana sayang?" Revan menatap Aulia.


" Aku kangen sama mereka dan aku pengin menginap di sana untuk beberapa hari." Ujar Aulia.


" Tapi aku tidak bisa sayang, aku harus bekerja dan nggak ada libur untuk bulan ini kecuali hari Minggu." Sahut Revan.


" Ya sudah, lain kali aja ke rumah Abhi nya, pas kamu libur saja." Ucap Aulia.


" Terima kasih sayang sudah mengerti diriku, maafkan aku sudah membuat kamu kecewa." Ucap Revan.


" Tidak apa Mas, aku memahami keadaanmu yang tidak bisa cuti kerja Mas." Sahut Aulia.


" Rujak nya udah habis, mau makan apalagi?" Tanya Revan.


" Sebenarnya aku mau makan masakanmu." Lirih Aulia.


" Mau aku masakin apa?" Tanya Revan.


" Emang kamu bisa masak?" Selidik Aulia.


Revan menggelengkan kepalanya. Aulia menghela nafasnya.


" Ya udah nggak pa pa Mas, jangan bersedih! Gimana kalau kamu masakin aku telur ceplok saja, pasti bisa kan?" Ujar Aulia.


" Kalau itu aku bisa, aku masakin dulu ya." Revan menyalakan kompor.


Ia menuangkan sedikit minyak di atas wajan, lalu menggoreng telur ceplok mata sapi. Ia menambahkan kaldu di atasnya.


Setelah matang, ia menyajikannya di depan Aulia.


" Udah matang sayang, silahkan di makan." Ucap Revan.


" Sepertinya enak ini Mas." Ucap Aulia.


Aulia memotong kuning telurnya, tiba tiba kuning telurnya lumer.


" Mas ini belum matang, masih mentah di dalamnya nih! Gimana sih cuma masak telur aja nggak bisa." Ucap Aulia tanpa sadar. Ia benar benar kecewa dengan Revan. Sedari tadi ia sudah membayangkan makan kuning telur yang terasa empuk dan lembut malah kenyataanya lumer seperti bubur.


" Maaf sayang aku tidak tahu, akan aku masakkan lagi." Ucap Revan.


" Nggak perlu! Aku udah nggak pengin lagi." Kesal Aulia meninggalkan Revan.


" Sabar Revan... Memang wanita hamil itu sensian." Monolog Revan.


Siapa yang dulu gitu waktu hamil?


Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author biar author semangat ngetiknya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All....


**TBC....


Yang belum mampir ke Affair With You, Author tunggu di sana ya**...

__ADS_1


__ADS_2