
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit kini Bimo di perbolehkan pulang ke rumah. Erlan dan Dera menjemput mereka.
" Gimana kabarmu Bim? Apa sudah mendingan?" Tanya Erlan.
" Sudah bos." Sahut Bimo.
" Syukurlah kalau begitu." Ujar Erlan.
" Apa Qiran merawatmu dengan baik Bang?" Dera menatap Bimo.
" Sangat baik, aku bahkan tidak menyangka kalau princess bisa bersikap dewasa, dengan sabar dia merawatku selama dua hari jni." Sahut Bimo menatap Qiran.
" Itu sudah menjadi tugasku Mas." Sahut Qiran menutup koper kecilnya.
" Sudah siap? Kalau sudah ayo kita pulang!" Ucap Erlan.
" Iya Pa." Sahut Qiran.
Qiran mengapit lengan Bimo menuju mobil Erlan. Setelah itu Erlan melajukan mobilnya menuju rumah Bimo.
Sesampainya di sana Qiran membantu Bimo berbaring di atas ranjang bersandar pada tumpukan bantal.
" Istirahat di sini Mas! Aku mau mandi dulu dari kemarin aku tidak mandi dengan benar." Qiran masuk ke dalam kamar mandi.
" Qiran sudah memaafkanmu?" Tanya Erlan.
" Sepertinya bos." Sahut Bimo.
" Ya sudah istirahatlah! Aku ke bawah dulu!" Erlan dan Dera keluar dari kamar Bimo.
Tak lama Qiran keluar dari kamar mandi. Ia menatap Bimo yang sepertinya sedang cemas sambil menggenggam ponselnya.
" Mas kenapa?" Qiran menatap Bimo begitupun sebaliknya.
" Maya kecelakaan sayang." Sahut Bimo.
Ya baru saja Bimo mendapat telepon dari rumah sakit.
Qiran menghela nafasnya pelan mendengar nama Maya.
" Lalu kenapa Mas cemas seperti itu?" Qiran bertanya lagi.
" Mas sedikit khawatir dengan keadaannya, kondisinya kritis dan di sana pasti tidak ada yang menemaninya." Sahut Bimo hati hati.
" Kalau begitu Mas ke sana saja temani aunti Maya." Qiran duduk di depan meja rias merias wajahnya.
" Apakah boleh?" Tanya Bimo antusias.
" Ya... Silahkan pergi!" Ucap Qiran.
" Terima kasih sayang." Bimo turun dari ranjang.
" Dan jangan kembali ke rumah ini lagi!"
Ucapan Qiran mengurungkan niat Bimo. Bimo kembali duduk di atas ranjang. Qiran menatap Bimo begitupun sebaliknya.
" Mas sakit aku yang merawatnya, sekarang baru mulai sembuh mau pergi merawat orang lain? Benar benar mengejutkan Mas! Hebat!" Decak Qiran keluar dari kamarnya.
" Sayang tunggu!" Panggil Bimo.
Qiran tidak menggubrisnya ia terus berjalan dengan kesal.
" Aku kira semuanya berakhir sampai di sini tapi bayang bayang Maya masih berkeliaran di pikirannya." Gerutu Qiran menuruni tangga.
" Kenapa sayang?" Tanya Dera.
" Nggak pa pa Ma, Mama sama Papa sudah mau pulang?" Tanya Qiran.
" Iya sayang, kami pulang dulu ya." Ucap Dera.
" Hati hati Ma, Pa." Qiran menyalami kedua orang tuanya dengan takzim.
" Sampaikan pamit Papa pada Bimo." Ucap Erlan.
__ADS_1
" Iya Pa." Sahut Qiran.
Qiran mengantar kedua orang tuanya sampai teras, ia masuk kembali ke dalam rumah.
Qiran duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Ia berbalas pesan dengan Abrisam.
Drt... Drt...
" Sam telepon." Qiran mengangkat teleponnya.
" Halo kenapa telepon?" Tanya Qiran.
" Aku mau mengajakmu jalan, besok aku sudah kembali ke London, hitung hitung salam perpisahan." Ujar Sam.
" Maaf aku nggak bisa Sam! Mas Bimo lagi sakit nggak mungkin aku meninggalkannya sendirian." Sahut Qiran.
" Yah sayang sekali aku tidak bisa bertemu denganmu untuk yang terakhir kali." Ucap Sam.
" Terakhir kali? Memangnya kau tidak akan pulang ke sini?" Tanya Qiran.
" Tidak Qi! Aku akan menjalankan bisnisku di sana dan aku akan menetap di sana." Sahut Sam.
" Apa kamu sama sekali tidak akan kemari untuk menjenguk mama sama papamu sekalipun?" Qiran bertanya lagi.
" Mama sama Papa ikut bersamaku, papaku sudah mengajukan resign kan ke Papa kamu." Ujar Sam.
" Owh aku tidak tahu, sayang sekali ya kita tidak bisa menghabiskan waktu bersama." Ucap Qiran.
" Ya sudah tidak apa! Kalau ada waktu nanti aku akan ke rumahmu." Ucap Sam.
" Ah itu lebih baik, kamu bawa makanan jadi kita bisa makan bersama di gazebo belakang." Ujar Qiran.
" Aku kira kamu mau memasakkan sesuatu untukku." Ujar Sam.
" Kamu sendiri kan tahu kalau aku tidak bisa memasak, yang ada nanti kamu malah keracunan karena makan masakanku." Qiran berbaring di sofa.
" Iya kau benar, ya sudah ya aku mau packing dulu." Ucap Sam.
" Kenapa tidak menerima ajakan Sam?"
Qiran mendongak, ternyata Bimo berdiri di belakang Qiran sedari tadi.
" Ada suami yang harus aku urus." Sahut Qiran.
" Oh Mas berharap aku pergi sama Sam, terus Mas mau pergi menemui aunti Maya gitu?" Qiran berdiri di depan Bimo sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
" Bukan begitu sayang, Mas minta maaf! Mas tidak jadi ke rumah sakit, Mas sudah meminta seorang perawat untuk menemaninya." Sahut Bimo.
" Itu lebih baik, dan bayar perawat itu pakai uangmu sendiri." Qiran berlalu meninggalkan Bimo.
" Astaga aku lupa kalau aku tidak punya uang." Bimo menepuk jidatnya.
Ia menyusul Qiran ke kamarnya. Ia mendekati Qiran yang berbaring di atas ranjang.
" Sayang Mas mohon...
" Aku akan membayarnya." Sahut Qiran.
" Dan aku akan membayar perawat untukmu karena aku mau pulang, tidak ada gunanya aku di sini merawat orang yang tidak menghargai perasaanku, aku akan berada dimana aku di hargai bukan di butuhkan." Ucap Qiran menutup tubuhnya dengan selimut.
Bimo ikut berbaring lalu memeluk Qiran dari belakang.
" Maafkan Mas sayang! Lagi lagi Mas melukai perasaanmu, Mas tidak mau di rawat oleh orang lain, yang Mas mau hanya kamu." Ucap Bimo.
Qiran tidak bergeming.
" Nih orang saking baiknya apa bego' sih! Lama lama geregetan aku." Batin Qiran.
Tak terasa Qiran terlelap dalam tidurnya begitupun Bimo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari bel rumah berbunyi. Qiran segera membuka pintunya.
__ADS_1
" Sam, silahkan masuk!" Ucap Qiran.
" Terima kasih! Ini aku bawakan makanan kesukaanmu, bakso mercon dari cafe di depan sekolah." Sam memberikan sekantong plastik berukuran sedang.
" A... Terima kasih Sam, tahu aja apa yang aku mau, kita langsung makan aja." Ucap Qiran.
Keduanya menuju meja makan.
" Om Bimo mana?" Tanya Sam menatap Qiran yang sedang memindahkan bakso ke mangkok.
" Ada di kamar, sebentar lagi turun." Sahut Qiran.
Dan benar saja Bimo menghampiri mereka, ia duduk di depan Sam.
" Apa kabar Om?" Tanya Sam basa basi.
" Seperti yang kau lihat! Om baik baik saja." Sahut Bimo.
" Mas... Sam membawakan bakso untuk kita, Mas makan ya!" Qiran meletakkan semangkok bakso di depan Bimo.
" Terima kasih." Bimo menatap Sam.
" Sama sama Om." Sahut Sam.
Mereka mulai memakan bakso panas berkuah pedas level tujuh itu.
" Qi, sebelum aku pergi aku ingin mengatakan sesuatu yang selama ini aku pendam padamu." Sam menatap Qiran.
" Apa itu Sam?" Tanya Qiran.
" Sebenarnya selama ini aku mencintaimu!"
Uhuk... Uhuk... Uhuk....
Bimo tersedak kuah pedasnya.
" Minum Mas!" Qiran memberikan segelas air putih pada Bimo.
" A... Apa? Kamu berani mengatakan cinta pada Qiran di depan Om?" Bimo menatap tajam ke arah Sam.
" Iya Om, bukan apa apa... Aku hanya ingin mengeluarkan apa yang selama ini membuat sesak di dadaku Om, aku mencintai Qiran tapi aku tidak bisa mengatakannya karena Papa selalu bilang kepadaku kalau kami saudara, entah saudara dari mana aku sendiri tidak tahu, hatiku rasanya plong setelah mengatakan semua ini." Ujar Sam.
Sam menatap Qiran.
" Qiran aku juga ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku? Walaupun kita tidak mungkin bisa bersama tapi aku ingin tahu jawabanmu." Ucap Sam.
Bimo melongo menatap Sam.
" Sam aku... Aku sudah bilang padamu waktu itu kan? Lalu kenapa kau malah menanyakan hal ini jika jawabannya sama dengan apa yang aku katakan padamu tempo hari." Ucap Qiran.
" Aku ingin mendengarnya dengan jelas Qi, aku ingin mendengar kau mengatakan yang sebenarnya, bukan kehobongan." Sahut Sam.
" Jawabanku tetap sama, aku mencintai...
" Hentikan!" Ucap Bimo memotong ucapan Qiran.
" Kalian memang tidak punya perasaan." Bimo meninggalkan mereka berdua.
Hatinya sakit karena ia berpikir Qiran juga mencintai Sam. Ia masuk ke dalam kamar mengambil minumannya lalu duduk menyesap minuman yang akan membuatnya tenang.
Qiran menatap tajam mata Sam.
" Kau membuat kesalahpahaman di antara kami Sam, aku sudah bilang padamu kalau aku mencintainya, kenapa kau memaksa sih. Maaf aku harus menjelaskan semua ini kepada suamiku." Qiran menyusul Bimo ke kamarnya.
" Sekarang aku percaya kalau kau benar benar mencintainya Qi, semoga kau selalu bahagia, aku akan membawa luka ini pergi selamanya." Batin Sam meninggalkan rumah Bimo.
Jangan lupa tekan like donk untuk menjaga performa karya ini, author lihat viewnya banyak lhoh tapi yang like sedikit...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1