
Di dalam sebuah kamar, Dera membuka matanya. Ia mengerutkan keningnya menatap ke seluruh penjuru ruangan.
" Aku dimana? Kamar siapa ini?" Gumam Dera.
Mengingat sesuatu, Dera segera membuka selimutnya, ia menghela nafas lega karena ia masih berpakaian lengkap.
Ceklek....
Pintu terbuka membuat Dera menoleh ke arahnya.
" Kamu." Ucap Dera.
" Bukannya kamu Rizal? Temannya Mas Revan?" Tanya Dera memastikan.
" Ya." Sahut Rizal menghampiri Dera.
" Kenapa kau membawaku kemari?" Tanya Dera. Ia yakin kalau ini rumah Rizal jadi ia tidak perlu bertanya lagi.
" Kita akan menikah." Sahut Rizal.
" Apa? Menikah? Jangan bercanda Rizal! Aku tidak suka leluconmu ini." Ucap Dera.
" Aku tidak sedang bercanda sayang." Ucap Rizal mengelus pipi Dera.
Plak
Dera menepis tangan Rizal.
" Wow.... Aku suka kamu yang seperti ini sayang, aku semakin menginginkanmu." Ucap Rizal.
" Berhenti memanggilku sayang, kita tidak sedekat itu dan kita tidak punya hubungan apa apa." Ujar Dera.
" Bagimu kita tidak ada hubungan apa apa, tapi bagiku kau adalah kekasihku, dan sebentar lagi kau akan menjadi istriku." Sahut Rizal.
Dera mengernyitkan dahinya.
" Apa maksudmu? Apa kita saling mengenal sebelumnya? Aku bahkan tidak tahu siapa kau sebenarnya." Ucap Dera.
" Kau benar benar melupakan aku sayang." Ucap Rizal berdiri menghadap jendela.
" Apa maksudmu dan apa tujuanmu sebenarnya? Aku bingung dengan semua ini? Sayang, kekasih, melupakanmu, apa itu?" Tanya Dera menatap Rizal.
Rizal menatap Dera dengan tangan ia masukkan ke saku celananya.
" Apa kau ingat pria yang berkirim pesan kepadamu sebelum kau menikahi Revan?" Tanya Rizal.
" Pria?" Dera mencoba mengingat ingat semuanya.
" Yah.... Pria yang menjadi teman curhatmu, pria yang menjadi tempat keluh kesahmu, pria yang mengatakan cintanya padamu, apa kau ingat itu?" Tanya Rizal memegang kedua pundak Dera.
" Ya... Dia Mas Revan." Sahut Dera.
" Bukan." Ucap Rizal mendorong pelan tubuh Dera.
" Dia bukan Revan, dia adalah aku."
__ADS_1
Jeduarrr
" A... Apa?" Tanya Dera menatap Rizal tidak percaya.
" Ya dialah aku.... Inisial R itu Rizal bukan Revan." Ucap Rizal.
" Tapi yang menemuiku waktu itu, Mas Revan bukan kamu." Ujar Dera.
" Itu karena aku tidak bisa menemuimu, saat itu aku harus ke luar negeri menjenguk Papaku, aku meminta Revan untuk menemuimu dan mengatakan padamu kalau aku sedang ada urusan, aku akan menikahimu setelah aku kembali dari sana, namun apa?" Tanya Rizal menatap Dera yang tercengang mendengar ucapan Rizal.
" Setelah aku kembali dari luar negeri, kau justru sudah menikah dengan Revan, kalian mengkhianatiku." Sambung Rizal.
" Tidak... Tidak... Ini tidak mungkin." Ucap Dera.
" Hatiku sangat sakit saat itu, aku hancur Ra, aku merasa di khianati oleh kekasih dan temanku sendiri, aku ingin menemuimu saat itu juga tapi aku tahu jika ternyata kau tidak mengetahui yang sebenarnya, itu sebabnya aku menunggu kesempatan yang baik untuk mengambilmu kembali dari Revan." Ujar Rizal mengusap sudut matanya.
" Tapi pertemuan ku dengan Mas Revan saat itu berselang dua tahun dengan pernikahanku, kenapa kau pergi selama itu?" Tanya Dera ingin tahu.
" Papaku koma dan aku harus mengurus perusahaan menggantikannya, aku hendak meneleponmu tapi aku selalu gagal, dan aku juga kehilangan kontak Revan." Ujar Rizal.
" Ponselku hilang." Ucap Dera.
" Aku sudah menduganya." Sahut Rizal.
" Tapi tidak masalah! Lupakan masa kelam itu! Yang penting sekarang kau ada di sini, kau akan menjadi milikku, walaupun aku mendapatkan sisa dari temanku sendiri tapi aku bahagia bisa memilikimu." Ucap Rizal menggenggam tangan Dera.
" Tidak Rizal, ini tidak benar! Kau tidak bisa memaksaku seperti ini, biarkan aku pergi dan hidup dengan tenang." Ujar Dera.
" Aku tidak akan pernah melepaskanmu Dera, karena aku tidak mau kehilanganmu lagi, aku mencintaimu dari dulu sampai sekarang dan akan seperti itu selamanya." Ucap Rizal.
" Kenapa? Apa karena kau mencintai pria itu?" Tanya Rizal.
" Bukan karena siapa siapa Rizal, tapi karena aku tidak mau menjalin hubungan lagi, aku ingin hidup sendiri karena aku lebih bahagia hidup tanpa suami." Sahut Dera berharap Rizal mau mengerti.
" Aku bilang tidak ya tidak! Kita akan menikah sebentar lagi, penghulu dalam perjalanan ke sini, ada pelayan yang akan membantumu bersiap, kau harus menurut padanya, jangan membuang waktu dan aku tidak mau menerima penolakan atau kau akan menerima akibatnya." Ucap Rizal.
...----------------...
Dengan langkah gontai, Revan memasuki rumah Nita. Ia menghentikan langkahnya saat mendengar obrolan Nita dengan seseorang di telepon.
" Ya kau harus memberikan aku uang yang banyak, aku sudah berhasil memisahkan Revan dari Dera." Ucap Nita membuat Revan mengepalkan erat tangannya.
" Apa kau mencintai Revan?" Tanya seseorang di sebrang sana.
Ya... Nita mengaktifkan loud speakernya karena saat ini ia sedang memakai kutek pada kukunya.
" Mencintai? Mencintai pria bodoh itu? Ya tidak lah... Aku melakukan semua ini demi uang, kau kan tahu kalau aku tidak bisa jauh jauh dari uang, kalau aku boleh memilih aku akan memilih mencintaimu daripada mencintainya, kau lebih setia darinya buktinya sampai saat ini kau masih mencintai Dera." Ucapan Nita membuat jantung Revan merasa deg deg an.
" Tentu... Aku pria setia yang hanya akan mencintai satu wanita, yaitu Dera tidak ada yang lainnya." Ucapnya.
" Walaupun kau merayuku seribu kali pun aku tidak akan tertarik denganmu seperti si Revan bodoh itu." Sambungnya.
Revan merasa mengenal suara pria yang ada di sebrang sana. Ia mencoba mengingat ingatnya namun Ia lebih tertarik dengan obrolan mereka.
" Kapan kau akan menikahi Dera?" Tanya Nita. Revan fokus pada jawaban pria itu.
__ADS_1
" Sebentar lagi... Saat ini Dera sedang bersiap, ya sudah aku mau menemui penghulu dulu, aku ucapkan terima kasih padamu, kau memang partner yang baik, aku akan menstranfer bonus untukmu jika aku sudah berhasil menikahi Dera nanti." Ucapnya.
" Ok aku ucapkan selamat untukmu Rizal." Sahut Nita.
" Rizal." Gumam Revan.
Darah Revan mendidih, ia menghampiri Nita lalu menarik tubuh Nita.
" Katakan dimana Rizal membawa Dera?" Bentak Revan.
" Ma.... Mas Revan." Gugup Nita.
" Tidak perlu bersikap sok manis lagi di depanku, aku sudah tahu semuanya, ternyata kau bersekongkol dengan Rizal untuk memisahkan aku dan Dera, benar benar wanita licik." Ucap Rizal mence*k leher Nita.
" Le.... Lepas!" Lirih Nita.
Nafasnya terasa tercekik dan dadanya terasa sesak.
" Sekarang katakan dimana Rizal membawa Dera?" Bentak Revan menekam cekikannya.
" A... Aku tidak tahu." Ucap Nita menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak percaya, katakan atau kau akan mati di sini." Tekan Revan.
" A.. Aku benar benar tidak tahu, Rizal tidak memberitahuku." Sahut Nita.
Revan melepas cekikannya lalu mendorong Nita ke lantai.
" Awh." Pekik Nita saat kepalanya terpentok sudut meja.
" Kau harus bertanggung jawab atas semua ini, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, kau akan menerima akibatnya dari semua perbuatanmu." Ucap Revan.
Revan mengunci pintu dari luar.
" Aku harus memberitahu Erlan, tapi bagaimana caranya aku memberitahunya?" Gumam Revan.
" Sebentar.... Kalau di lihat lihat Erlan mirip bos tempatku bekerja, Erlangga... Mungkinkah dia?" Ujar Revan.
Revan mengeluarkan ponselnya, ia membuka profile ceo perusahaan tempatnya bekerja dan....
" Benar... Ini bos Erlangga, aku tidak menyangka Dera bisa mengenalnya, pantas saja Dera lebih memilih dia dari pada aku." Monolog Revan.
Revan menyingkirkan egonya, ia mencoba menelepon asisten Erlan untuk memberitahunya sekaligus meminta bantuannya. Ia siap bersaing dengan Erlan nanti. Yang ia pikirkan saat ini yaitu menyelamatkan Dera dari Rizal.
Berhasilkah Revan dan Erlan menghentikan pernikahan yang Rizal rencanakan?
Penasaran nggak nih? Tekan like koment vote dan hadiah biar mereka berhasil ya...
Terima kasih atas suport yang kalian berikan.. Semoga sehat selalu....
Miss U All...
TBC....
__ADS_1