Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
The Last


__ADS_3

Lima tahun berlalu, kini usia Qiran menginjak enam tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang cantik, bahkan sangat cantik di bandingkan teman teman seusianya.


Hari ini mereka kedatangan Revan dan Aulia. Dan jangan lupakan pangeran kecil mereka, Abrisham yang usianya hampir sama dengan Qiran.


Revan, Aulia, Erlan dan Dera duduk di halaman beralaskan karpet. Sedangkan anak anak, mereka sedang bermain bola tak jauh dari mereka bersama dengan Bimo.


" Om Bimo tangkap!" Abrisham melempar bola ke arah Bimo, Bimo segera menangkapnya.


Hap...


" Yei... " Sorak Abrisham.


" Ayo Qiran kita main lempar tangkap bola! Atau kamu mau kita main sepak bola saja?" Tawar Abrisham menatap Qiran yang cemberut.


" Kalian nggak asyik ah! Mending aku main boneka aja sama Om Bimo, ayo Om kita main boneka di sana." Qiran menarik tangan Bimo untuk mengikutinya.


Bimo mengikuti Qiran yang saat ini sedang menuju gazebo. Di sana boneka boneka kesayangan Qiran nampak banyak sekali.


" Om angkat!" Qiran menyodorkan kedua tangannya.


" Ok sayang." Bimo mengangkat tubuh Qiran ke atas gazebo.


" Duh princes nya Om udah besar, udah berat lhoh timbangannya, Om Bimo saja udah nggak kuat gendong Qiran." Ujar Bimo.


" Itu karena Om sudah tua, padahal Om belum menikah, bagaimana kalau nanti Om Bimo punya anak sendiri? Pasti Om Bimo udah nggak bisa gendong." Sahut Qiran.


" Apa benar ya yang di katakan Qiran? Kalau nunggu lima belas tahunan lagi, apa aku bisa menggendong anakku nanti? " Batin Bimo.


" Om nggak mau nikah." Ucap Bimo.


" Kenapa Om? Papa sama Mama menikah." Ucap Qiran menatap Bimo.


" Nggak ada yang suka sama Om." Sahut Bimo.


" Kalau begitu, biar Qiran aja yang menikahi Om, Qiran kan suka sama Om Bimo." Seru Qiran membuat semuanya menoleh ke arah mereka.


" Lo ngajarin apa sama anak gue Bim?" Tanya Erlan menatap tajam.


" Nggak ngajarin apa apa bos, princes Qiran memintaku untuk menikah, aku tidak mau lalu dia bilang seperti itu, sepertinya memang kami jodoh bos." Ucap Bimo.


" Awas aja kalau lo ketahuan ngajarin anak gue macam macam." Ancam Erlan.


" Nggak berani bos, aku ngajarinnya besok aja kalau udah halal." Kekeh Bimo.


" Sialan lo." Umpat Erlan.


" Papa udah jangan ganggu Om Bimo! Om Bimo mau main sama Qiran." Ucap Qiran berkacak pinggang.

__ADS_1


" Ok baiklah, maafkan Papa princes." Ucap Erlan.


" Qiran maafkan Pa." Sahut Qiran.


" Ayo Om kita main." Ajak Qiran.


" Ayo." Sahut Bimo.


Qiran mengambil bonek beruang lalu memberikannya pada Bimo.


" Om kamu pegang boneka beruang aja, aku yang pegang boneka gajah." Ucap Qiran.


" Baik princes." Bimo memegang boneka beruang besar berwarna coklat.


" Ayo Om kita mulai, Om dulu ya yang menyapa." Ujar Qiran.


" Halo princes... Siapa namamu cantik?" Tanya Bimo menggoyangkan bonekanya.


" Om nanyanya ke gajah bukan ke Qiran gimana sih Om, ini gajahnya laki laki masa' di bilang cantik." Protes Qiran.


Bimo tersenyum mendengar ocehan Qiran. Entah menuruni siapa, yang jelas Qiran menjadi anak cerewet, periang dan keras kepala. Ia akan marah jika kemauannya tidak di turuti.


Mungkin juga ini hasil dari Bimo yang selalu memanjakannya.


" Hai gajah, namamu siapa?" Tanya Bimo.


" Kalau udah tahu gajah, ngapain nanya Om." Ucap Qiran kesal.


" Hai penghuni hutan, siapa namamu?" Tanya Bimo menggerakkan bonekanya.


" Hai... Namaku gajah, kalau kamu pasti beruang kan? Aku tahu dari bentuk tubuhmu yang jelek itu." Sahut Qiran membuat Bimo menahan tawanya. Kalau dia tertawa pasti Qiran akan memarahinya.


" Iya.. Kau pintar sekali." Sahut Bimo.


" Wahai beruang apakah kau sudah makan?" Tanya Qiran.


" Sudah, aku sudah makan banyak dan sekarang perutku sudah kenyang, apa kau belum makan gajah? Tapi walaupun kamu tidak makan, badanmu masih terlihat gendhut." Ucap Bimo.


" Ha ha ha... Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk tubuh kamu saat kamu kurus, pasti semua tulang tulang kamu akan terlihat, dan jalanmu akan tertatih seperti seorang kakek kakek ha ha ha." Qiran tertawa lepas.


" Oh ngeledekin Om Bimo ya, sepertinya Om harus memberimu pelajaran." Ucap Bimo mendekati Qiran.


Bimo langsung menggelitik perut Qiran membuat Qiran tertawa terbahak bahak.


" Ha ha ha ha." Qiran terus tertawa.


" Papa... Mama... Tolongin aku! Om Bimo nakal.... Papa... Mama...." Teriak Qiran meminta tolong.

__ADS_1


Dera yang mendengar teriakannya hanya menggelengkan kepala saja.


Pemandangan seperti ini sudah biasa ia lihat setiap harinya. Bahkan yang lebih ramai dari ini sering terdengar di telinga Dera dan Erlan.


Mereka sangat bahagia melihat Bimo yang sangat menyayangi Qiran seperti anak mereka sendiri.


" Qiran terlihat sangat akrab sama Bang Bimo ya Mbak." Ujar Aulia.


" Iya, mungkin karena selama ini Bimo ikut mengurus Qiran sejak kecil, bahkan waktu kecil apa apa maunya sama Bang Bimo, makan aja kalau nggak di suapin Bang Bimo dia nggak mau, sekolah aja sampai sekarang yang ngantar jemput Bang Bimo, dia akan marah kalau aku atau Papanya yang jemput dia." Sahut Dera.


" Bang Bimo juga terlihat manjain Qiran banget, seperti anaknya sendiri." Ucap Aulia.


" Iya." Sahut Dera.


Abrisham nampak mengepalkan tangannya erat mendengar perbincangan para orang tua.


" Abrisham kamu tidak ikut main sama mereka? Enak juga lhoh mainan boneka, sana main bareng sama Qiran dan Om Bimo." Ucap Erlan.


" Nggak! Qiran sukanya main sama Om Bimo bukan sama Abri." Ucap Abri kesal. Abrisham masuk ke dalam rumah.


Revan, Erlan, Dera dan Aulia menatap Abrisham heran.


" Kenapa dengan anak lo Van? Kelihatannya dia sedang kesal, apa dia kesal karena nggak di ajak main sama Qiran ya." Ucap Erlan.


" Mungkin saja, paling di dalam dia main game." Sahut Revan.


" Tak terasa anak anak kita cepat banget besarnya, sepertinya baru kemarin aku melahirkan Qiran sekarang udah hampir enam tahun, sebentar lagi dia masuk SMP, terus Sma, terus....


" Menikah." Sahut Erlan.


Dera menoleh ke arah Erlan.


" Apa kau lupa kalau Bimo sudah lama menunggunya? Kalau Qiran melanjutkan perguruan tinggi, keburu Bimo kakek kakek sayang." Sambung Erlan.


" Iya maaf Mas aku lupa." Sahut Dera.


Mereka berbincang membicarakan hal hal unfaedah ke sana ke mari. Sedangkan Qiran asyik bermain dengan Bimo.


Abrisham di dalam asyik dengan ponselnya bermain game yang sedang viral saat ini.


Kebahagiaan yang kedua keluarga mereka rasakan nampak nyata. Mereka berharap kebahagiaan akan kekal selamanya.


...----------------...


Kita berada di penghujung jalan seasons satunya... Kita lanjut seasons dua...


Terima kasih untuk readers yang sudah menemani perjalanan author selama ini, mohon maaf jika author banyak kekurangan.

__ADS_1


Semoga sehat selalu.....


...The End ...


__ADS_2