Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Sakit Hati Aulia


__ADS_3

Satu bulan berlalu, hubungan Aulia dan Revan semakin dekat. Malam ini Revan berencana mengungkapkan perasaannya kepada Aulia.


Selesai makan malam, Revan mengajak Aulia ke kamarnya. Keduanya duduk di tepi ranjang.


" Sayang." Ucap Revan menggenggam tangan Aulia.


" Iya Mas." Sahut Aulia menatap ke arah Revan sambil tersenyum.


" Sebulan yang kau berikan kepadaku untuk menggantikan nama Dera dengan namamu sudah berlalu, perlu kau tahu! Hanya dalam waktu dua minggu aku sudah bisa melupakan Dera, sejak dua minggu yang lalu hatiku hanya terukir penuh oleh namamu, aku menyadari perasaanku padamu, aku mencintaimu setulus hatiku, aku ingin membina rumah tangga yang bahagia bersamamu, sekarang aku bisa melanjutkan pernikahan ini tanpa adanya bayang bayang masa lalu, aku mencintaimu istri sholihahku." Ungkap Revan mengelus pipi Aulia.


" Aku harap pernyataanmu ini adalah sebuah kejujuran Mas, aku tidak mau ada kebohongan di dalam setiap kata yang kau ucapkan padaku, aku menerimamu dan aku juga mencintaimu, imamku." Sahut Aulia.


Revan mencium kening Aulia.


" Bolehkah aku membuka hijabmu?" Tanya Revan.


" Tentu saja." Sahut Aulia.


Revan membuka hijab instant yang di kenakan oleh Aulia. Ia menatap wajah cantik Aulia, dengan rambut sepanjang punggung.


" Rambutmu indah sekali, dan wajahmu lebih cantik tanpa hijab, tapi biarlah kecantikan ini hanya aku yang boleh melihatnya, kau harus tetap menutup semuanya untukku." Ucap Revan.


" Bukan untukmu Mas! Aku menutup aurat ku karena itu kewajiban seorang muslim, aku melakukannya karena Allah." Sahut Aulia.


" Iya itu maksudku, terima kasih sayang kau telah menjadi istri yang baik untukku." Revan kembali mencium kening Aulia.


" Bolehkah aku melakukannya sekarang?" Revan menatap Aulia yang menganggukkan kepalanya.


Revan mendorong pelan tubuh Aulia ke ranjang. Ia menatap wajah Aulia lalu mengecup bibirnya. Aulia membuka sedikit mulutnya membiarkan Revan mengekspos setiap inchi nya.


Ciuman Revan turun ke leher Aulia. Ia membuat beberapa jejak di sana. Tanpa keduanya sadari, kini tubuh keduanya sama sama polos.


Saat Revan hendak memulai permainannya, tiba tiba ponselnya berdering. Ia segera mengangkat teleponnya terlebih dahulu karena itu telepon dari bosnya, Erlan.


Revan nampak mengangguk anggukkan kepala, setelah itu ia menutup teleponnya.


" Siapa Mas?" Tanya Aulia.


" Bos Erlan, kita lanjut?" Tanya Revan menatap Aulia. Aulia menganggukkan kepalanya.


" Cakar punggungku jika kau merasakan sakit sayang." Ucap Revan yang di balas anggukan kepala oleh Aulia.


Satu kali hentakan tidak berhasil, dua kali, tiga kali dan yang keempatnya baru Revan bisa membobol gawang dengan sempurna.


Aulia mencengkeram sprei dengan kuat menahan sakit yang luar biasa baginya. Ada sesuatu yang menyesakkan di bagian bawahnya. Ingin rasanya Aulia menghentikan Revan namun ia tidak mau membuat Revan kecewa.


Malam ini Aulia menjadi milik Revan sepenuhnya. Ia sudah memberikan hak Revan sebagai suaminya. Suara erangan dan desah** memenuhi kamar keduanya. Keduanya nampak bahagia setelah berhasil mencapai nirwana bersama sama.


" Terima kasih sayang, kau telah menjaganya untukku." Ucap Revan mencium kening Aulia.

__ADS_1


" Hmm." Gumam Aulia.


Revan merebahkan tubuhnya di samping Aulia. Ia memeluk Aulia dari belakang. Keduanya sama sama terlelap dalam mimpi yang indah.


Pagi ini Aulia sedang memasak. Ia hanya memakai gaun rumahan dengan rambut yang di jepet ke atas. Revan menghampirinya lalu memeluknya dari belakang.


Grep...


" Astaghfirullahal'azim Mas, kamu ngagetin aja." Ucap Aulia.


" Cantik banget istriku pagi ini, hati hati! Nanti kamu lupa keluar pakai beginian lagi." Ujar Revan.


" Ya enggak lah Mas! Setelah mandi aku juga pakai hijab lagi." Sahut Aulia.


" Iya aku percaya padamu." Sahut Revan.


" Ya udah kita sarapan dulu Mas, aku udah siapkan makanan untukmu." Ucap Aulia.


" Baiklah." Sahut Revan duduk di kursinya.


Aulia melayani Revan dengan baik. Keduanya makan dengan khidmat. Setelah selesai sarapan, Revan pamit berangkat ke kantornya.


Siang ini Aulia berencana mengantar makan siang untuk Revan. Setelah memasukkan makanan ke dalam wadah, Aulia segera menuju mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju kantor Revan.


Lima belas menit Aulia sampai di sana. Setelah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, Aulia menghampiri Revan di pos satpam yang tak jauh dari sana.


" Sebenarnya kamu sudah melupakan mantan istrimu belum?" Tanya temannya.


" Sudah." Sahut Revan membuat Aulia tersenyum.


" Tapi semalam saat aku menyentuhnya, tiba tiba terlintas bayangan Dera di kepalaku."


Jeduar......


Senyuman yang tadi sempat menghiasi wajah Aulia kini hilang musnah.


" Terus?" Tanyanya.


" Sebenarnya aku berhenti, tapi aku takut Aulia kecewa, sebisa mungkin aku memainkan peran seolah olah aku menikmatinya." Sahut Revan membuat hati Aulia mencelos.


" Kenapa bisa seperti kamu teringat Dera?" Tanya teman Revan.


" Itu karena....


" Eh ada Neng cantik, mau cari siapa Neng?" Tanya salah satu teman Revan yang baru saja datang. Entah darimana dia.


Revan menoleh ke luar pintu,


Deg....

__ADS_1


Jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat Aulia yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu. Terlihat Aulia mengusap air mata di sudut pipinya.


Revan keluar menghampiri Aulia.


" Sayang sejak kapan kamu di sini?" Tanya Revan memastikan.


" Sejak kau bilang, semalam aku menyentuhnya tiba tiba terlintas bayangan Dera di kepalaku." Sahut Aulia mbuat Revan melongo.


" Sayang itu.....


" Apa pantas hal seperti itu kamu beritahukan kepada temanmu?" Tanya Aulia menunjuk teman Revan.


" Kau merendahkan harga diriku Mas! Aku menyesal telah mempercayaimu." Ucap Aulia.


" Ini Bang buat kamu aja." Aulia memberikan wadah makanannya kepada teman Revan.


" Sayang dengarkan penjelasanku dulu!" Revan mencekal tangan Aulia.


" Semua sudah jelas Mas! Aku tidak mau berdebat di sini! Malu di lihat orang, cukup kau saja yang mengumbar aib keluarga kita pada temanmu." Aulia menepis tangan Revan.


Ia masuk ke mobilnya lalu melajukan mobilnya.


Brummmmmm


Aulia ngebut begitu saja membuat Revan menggelengkan kepalanya.


" Ya Tuhan sayang.... Aku membuatmu salah paham dengan ucapanku, aku harus segera menjelaskannya sebelum semuanya terlambat." Ujar Revan.


Revan ijin kepada teman temannya untuk mengejar Aulia. Kedua temannya lun mengijinkannya karena mereka memahami dengan permasalahan yang sedang Revan alami.


Revan segera menyetop taksi untuk sampai ke rumahnya.


Di dalam mobil, Aulia nampak merutuki kebodohannya.


" Hiks... Hiks.... Bodoh kamu Aulia! Kenapa kamu percaya begitu saja dengan pria seperti Revan? Pada dasarnya dia bukan pria yang baik Aulia.... Ya Tuhan... rasanya aku tidak kuat menahan rasa sakit ini, bagaimana bisa suamiku membayangkan wanita lain saat menyentuhku hiks.... Tega kamu Mas, aku tidak pernah mengharapkan ini darimu." Aulia mengusap air matanya.


Aulia melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Aulia segera berlari menuju kamarnya.


He he konflik lagi....


Biar tambah seru ya.....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat up nya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport dan menemani author selama ini, semoga sehat selalu....


Miss U All....


TBC....

__ADS_1


__ADS_2