
Bimo masuk ke dalam kamar Qiran, ia menghampiri Qiran yang saat ini sedang berdiri menghadap ke luar jendela.
" Sayang kau tahu tentang masalah ke puncak?" Tanya Bimo.
Qiran membalikkan badannya. Ia menatap Bimo dengan penuh selidik.
" Ya, kemana kau waktu itu? Kenapa kau berbohong kepadaku dan pada papa?" Selidik Qiran.
" Mas ke rumah teman, karena teman Mas mendapat musibah saat itu, dia membutuhkan dukungan Mas di sana, maaf Mas sudah membohongimu." Sahut Bimo.
" Setiap malam kau sibuk dengan ponselmu, memangnya siapa yang kau hubungi sebenarnya?" Qiran bertanya lagi.
" Temanku." Jawaban Bimo masih sama.
" Semalam kamu tidak pulang, kamu kemana?" Tanya Qiran.
" Mas menemani teman Mas yang kecelakaan di rumah sakit, dia sendirian, kasihan dia tidak punya keluarga lagi." Sahut Bimo.
" Masih temanmu, apakah mereka orang yang sama? Siapa? Apa dia teman istimewamu?" Tanya Qiran.
Qiran geram dengan jawaban Bimo. Ia sudah memberikan jalan untuk Bimo jujur padanya namun sepertinya Bimo lebih senang dengan kebohongannya.
" Tidak dia hanya teman biasa saja, tidak ada yang istimewa di antara kami." Sahut Bimo.
" Temanmu lagi, yang kamu maksud sebenarnya teman yang mana? Laki laki atau perempuan?"
Pertanyaan Qiran kali ini tidak di jawab oleh Bimo. Ia memilih membungkam mulutnya entah apa yang sedang ia pikirkan.
" Heh, kau tidak bisa menjawabnya, itu tandanya dia teman yang sangat istimewa untukmu, mungkin hubungan kalian tidak hanya sebatas teman." Ujar Qiran.
" Tidak sayang dia hanya teman Mas saja." Bimo menggenggam tangan Qiran.
" Bukan! Dia pasti teman istimewamu! Atau malah dia kekasihmu!" Kukuh Qiran.
Ia berharap kali ini Bimo mau berbicara jujur padanya.
" Tidak sayang... Dia hanya temanku."
" Dia istrimu!" Teriak Qiran mengangkat tangannya hingga genggaman Bimo lepas. Ia kehabisan kesabaran dengan tingkah Bimo.
Deg....
Jantung Bimo terasa berhenti berdetak. Ia menatap Qiran yang nampak meneteskan air matanya.
" Dia istrimu Om... " Qiran mengusap air matanya.
Hati Bimo mencelos mendengar panggilan Qiran.
" Sa..
" Satu kali kau berbohong padaku, aku masih memaklumi nya... Dua kali kau lakukan itu lagi, aku masih bisa memaafkannya, tapi sekarang sudah berapa kebohongan yang kau katakan padaku Om... Hiks... Hiks... " Isak Qiran.
" Sayang dengarkan penjelasan Mas dulu!"
" Aku tidak mau mendengarkan apapun darimu! Semua yang keluar dari mulutmu hanyalah kebohongan saja! Aku tidak mempercayaimu lagi!" Teriak Qiran.
Bimo memejamkan matanya menahan sakit di dadanya melihat air mata Qiran.
" Sayang kamu salah paham! Mas...
" Aku tahu semuanya..." Sahut Qiran kembali memotong ucapan Qiran.
__ADS_1
" Aku juga mencintaimu, baiklah aku akan ke sana, jangan lupa makan, selamat malam, dan terakhir apa?... " Qiran menjeda ucapannya.
" Aku melihat semuanya apa yang kau lakukan dengan aunti Maya." Bentak Qiran.
Jeduar...
Bagai di sambar petir di siang bolong tubuh Bimo terasa kaku.
" Wow Om Bimo... Aku tidak menyangka jika kau pandai berakting, aku tidak pernah menyangka jika sebenarnya kau bermuka dua." Cibir Qiran.
" Kalian baru saja kehilangan anak kalian kan? Aku turut prihatin akan hal itu, aku turut berduka atas apa yang melanda aunti Maya, sekarang kembalilah ke rumah sakit! Temani istrimu yang kau cintai itu." Ucap Qiran.
" Sayang... Mas tidak...
" Aku mau pisah!"
Jeduar...
Lagi lagi ucapan Qiran begitu mengejutkan Bimo. Ia menatap tajam ke arah Qiran.
" Mas tidak akan pernah mau berpisah darimu." Tekan Bimo.
" Aku tidak peduli, kalau kau tidak mau menceraikan aku maka aku yang akan menceraikanmu, kalian sudah hidup bahagia, jangan menyeret ku ke dalam hubungan kalian berdua jika pada akhirnya aku yang akan tersakiti, sekarang pergilah dari sini, aku tidak mau lagi melihat wajahmu!" Usia Qiran.
" Sayang dengarkan penjelasan Mas dulu! Jangan emosi seperti ini! Mas mohon!" Ucap Bimo.
Qiran mengambil lampu tidur lalu...
Bugh...
Qiran melempar lampu tidur itu hingga mengenai dahi Bimo.
" Awh." Bimo menyentuh dahinya yang berdarah.
" Sayang."
" Aku bilang pergi dari sini! Pergi! Pergi!" Qiran melempar semua barang yang ada di sekitarnya.
" Kalau kau tidak mau pergi aku akan membunuhmu di sini!" Qiran mendorong Bimo ke arah pintu.
" Sayang Mas mohon jangan seperti ini!" Ucap Bimo mencoba menenangkan Qiran. Namun Qiran tetaplah Qiran, ia tidak akan akan tetap keraas kepala.
" Aku sangat membencimu Om! Aku menyesal telah menikah denganmu, aku membencimu!" Bentak Qiran mendorong Bimo keluar.
Brak...
Qiran menutup kasar pintu kamarnya. Ia luruh ke lantai bersandar pada pintu.
" Hiks..... Kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa? Kenapa dia mengkhianati aku? Kenapa? Argh..... " Qiran berteriak menarik kasar rambutnya.
Bimo yang masih berdiri di luar kamar pun ikut menangis mendengar jeritan pilu Qiran.
" Hiks.... Hiks.... Maafkan Mas sayang! Mas mengaku salah! Tapi setidaknya dengarkan penjelasan Mas dulu! Mas tidak ada hubungan apa apa dengannya, Mas terpaksa melakukannya sayang... Maafkan Mas hiksss." Isak Bimo dengan posisi yang sama.
Dera dan Erlan yang mendengar keributan dari kamar putrinya menghampiri Bimo.
" Ada apa Bimo? Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Dan tadi, kenapa Qiran berteriak?" Tanya Erlan.
" Aku melakukan kesalahan bos." Ucap Bimo mendongak.
" Kesalahan? Kesalahan apa?" Tanya Erlan.
__ADS_1
" Aku menyakiti hati princes hiks... Aku membohonginya... Princes marah padaku, dia minta pisah bos."
" Apa?" Pekik Dera.
" Lalu kenapa keningmu Bang? Tanya Dera.
" Princes melempar ku dengan lampu tidur." Sahut Bimo.
Dera mengangguk anggukkan kepalanya.
" Sekarang duduklah di ruang keluarga! Kita akan selesaikan masalah ini sama sama, aku akan segera membawa Qiran ke sana." Ucap Dera.
" Baiklah, ayo Bim kita ke bawah!" Ucap Erlan menggandeng Bimo.
Tok tok...
" Sayang." Ucap Dera.
Tidak ada sahutan.
" Sayang Mama mau bicara padamu, Mama masuk ya." Dera membuka pintunya. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat kamar Qiran yang seperti kamar pecah.
" Sayang." Dera menghampiri Qiran yang sedang telungkup di atas ranjang.
" Nak dengarkan Mama! Semua masalah bisa di bicarakan dengan baik, semua masalah pasti ada solusinya! Sekarang turunlah! Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama sama, suami dan papamu sudah menunggu di bawah." Ujar Dera.
" Aku tidak mau Ma! Yang aku mau hanyalah perpisahan." Sahut Qiran.
" Sayang... Mama tidak tahu apa masalah yang kalian alami, tapi selesaikan semua ini dengan baik baik, kalau memang kesalahan Bimo tidak bisa di maafkan, Mama tidak akan melarang keinginanmu karena Mama pernah berada di posisi seperti ini, ayo kita ke bawah!." Bujuk Dera.
Ia bisa menebak jika masalah pitrinya ada sangkut pautnya dengan orang ketiga.
Akhirnya Qiran mau menuruti kata mamanya. Keduanya turun ke bawah menghampiri Erlan dan Bimo.
Bimo menatap wajah Qiran yang terlihat sembab. Qiran duduk berseberangan dengan Bimo, ia tidak mau menatap Bimo membuat hati Bimo semakin sedih.
" Sekarang sudah ada kalian berdua, coba katakan apa masalah yang sedang kalian hadapi, Papa akan membantumu menyelesaikan masalah ini Qiran." Ucap Erlan menatap putrinya.
" Aku tidak mau mengatakan apa masalahnya, yang jelas aku mau minta pisah dari Om Bimo."
" Sayang Mas tidak mau! tolong dengarkan penjelasan Mas dulu!" Sahut Bimo.
" Setelah kebohongan yang kau ucapkan akhir akhir ini, apa kau pikir aku bisa percaya kepadamu lagi?" Qiran menatap Bimo begitupun sebaliknya.
" Tidak!!! Aku tidak akan memberikan kepercayaan itu lagi sejak kau menyia-nyiakannya." Sahut Qiran.
" Sebentar sayang! Kalau kau tidak mau menjelaskan tidak apa apa, Papa akan meminta Bimo untuk menjelaskan semuanya dulu, Papa tidak paham dengan apa yang terjadi." Ucap Erlan.
Erlan menatap Bimo.
" Katakan Bimo! Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Erlan.
" Sebenarnya.....
Apa yang terjadi sebenarnya?????
Author gantung dulu ya....
Tekan like koment vote dan kasih author 🌹biar semangat ngetik jadi nggak gantung gantung hhh....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...