
Jam sepuluh malam Bimo baru saja pulang dari kantor. Ia masuk ke dalam kamarnya dengan lesu.
Gelap...
Ia memperhatikan sekitar, nampak lilin menyala dengan aroma therapi yang semerbak menyeruak ke dalam hidungnya. Ia mengerutkan keningnya melihat Qiran yang sedang duduk di atas ranjang dengan posisi yang sangat menggoda, lingerie hitam membuat tubuh putihnya terekspos dengan jelas.
Bimo berjalan mendekatinya, semakin dekat, semakin dekat dan...
Glek...
Ia menelan salivanya dengan kasar, karena semakin mendekat tubuh Qiran semakin jelas terlihat. Sesuatu di bawah sana terasa sesak.
" Sa... Sayang kamu.... " Bimo nampak gugup.
" Kenapa gugup begitu Mas? Seharusnya kau tidak segugup ini kan?" Qiran mengeluarkan suara seksinya.
Bimo mengukung tubuh Qiran, Ia mengelus pipi Qiran dengan lembut membuat Qiran memejamkan matanya.
Cup...
Bimo mencium bibir Qiran, Qiran membuka sedikit mulutnya. Bimo segera menyusupkan lidahnya mengeskpos setiap inchinya. Tangannya menahan tengkuk Qiran memperdalam ciumannya. Terdengar suara decapan di tengah tengah sepinya malam.
Ciuman yang semula lembut kini semakin menuntut. Bimo menyesap leher Qiran membuat Qiran mendesis. Ia membuat beberapa stempel kepemilikan di sana.
" Shhh Mas."
Qiran tidak tahu jika suaranya semakin membangkitkan gairah Bimo. Sesuatu di bawah sana minta segera di puaskan. Tangan Bimo meremas salah satu gunung kembar yang terasa kenyal membuat sang empu belingsatan.
Perlahan tapi pasti Bimo mulai melepas pakaiannya dan lingerie yang Qiran pakai. Kini keduanya sama sama polos membuat Bimo bebas mengekspos setiap inchi tubuh Qiran.
Bimo memainkan lidahnya di gunung kembar milik Qiran, Qiran menggelinjang seperti cacing yang kepanasan.
" Masss."
Tangan Bimo kini bermain main di area favoritenya. Sentuhan Bimo benar benar membuat Qiran menggila.
" Mas datang sayang." Bisik Bimo dengan suara serak.
Qiran hanya menganggukkan kepalanya karena ia pun berharap hal yang sama. Bimo menuntun senjatanya siap menembak lawannya. Tidak ada jeritan, tidak ada air mata ataupun drama drama menyedihkan ataupun menegangkan yang ada hanya kenikmatan surga dunia yang keduanya ciptakan sendiri.
Suara desah@n memenuhi kamar mereka. Qiran berkali kali mengeluarkan suara s*ksinya. Bimo benar benar merasa melayang terbang ke awan, apalagi di usianya yang sudah tidak lagi muda ini yang pertama kalinya.
" Sayang... " Lirih Bimo.
Bimo terus memacu tubuhnya di atas Qiran sampai keduanya mencapai puncak nirwana bersama.
" Terima kasih sayang." Bimo mengecup kening Qiran.
" Hmm." Qiran menganggukkan kepalanya.
Bimo menutupi tubuhnya dan tubuh Qiran menggunakan selimut. Ia melingkarkan tangannya pada perut Qiran, keduanya memejamkan mata.
" Terima kasih Tuhan kau telah memberikan kesempatan ini kepadaku, kesempatan memiliki Qiran sepenuhnya, kekhawatiranku berkurang setelah ini, aku yakin Qiran benar benar mencintaiku, dan aku percaya jika Qiran tidak akan meninggalkan pria tua ini." Batin Bimo mencium pipi Qiran.
Keduanya sama sama terlelap.
__ADS_1
Sinar matahari masuk ke kamar Qiran melalui celah celah korden. Qiran mengerjapkan matanya menatap Bimo yang masih terlelap di depannya. Qiran tersenyum bahagia mengingat kejadian beberapa jam lalu.
Ya Bimo kembali menyentuhnya sampai hari menjelang pagi. Qiran bahkan sampai kewalahan meladeni Bimo.
" Pagi sayang."
Cup...
Bimo mengecup kening Qiran.
" Mas udah bangun?"
" Udah donk! Mas juga tahu kalau kamu sedang mengagumi wajah tampan Mas." Sahut Bimo.
" Dih geer. Siapa juga yang mengagumi wajah Mas, wajah pria tua gitu juga." Ejek Qiran.
" Hmmm.... Jangan lupakan kalau pria tua ini mampu membuatmu selalu menyebut namaku sayang, bahkan kau sampai kewalahan." Bimo mengerlingkan matanya.
" Apa sih Mas! Bikin malu aja!" Ucap Qiran malu malu.
" Kenapa mesti malu sih sayang, Mas ini suami kamu lhoh, jadi nggak perlu ada kata malu." Bimo merapikan anak rambut Qiran.
" Bangun Mas! Gendong aku ke kamar mandi!" Ucap Qiran.
" Apa masih sakit?" Tanya Bimo.
" Enggak terlalu, tapi badanku rasanya remuk semua, bahkan aku malas untuk bergerak sedikitpun." Sahut Qiran.
" Mas akan menyiapkan air hangat untukmu." Bimo turun dari ranjang.
" Kenapa lagi di tutupi? Kan kamu udah melihat semuanya." Ujar Bimo menggelengkan kepalanya. Ia masuk ke kamar mandi.
" Ya ampun Mas Bimo... Bagaimana bisa dia telanj*ng seperti itu tanpa malu." Gumam Qiran membuka selimutnya.
" Sayang airnya sudah siap." Ucap Bimo keluar kamar mandi.
" Ya ampun Mas... Pakai bathrobe atau handuk kek, kamu nggak malu apa nggak berpakaian seperti itu?" Ujar Qiran.
" Nggak!" Sahut Bimo membuang selimut Qiran.
" Ya Tuhan!" Ucap Qiran.
Bimo menggendong Qiran ala bridal style menuju kamar mandi. Ia menurunkan Qiran di bathup kamar mandi.
Tiba tiba...
Byurrrr...
Bimo ikut masuk ke dalam bathup.
" Apalagi ini Mas? Kenapa kamu masuk ke sini sih! Kamu mandi di bawah shower aja jangan ikutan di sini! Yang ada nanti kita nggak cuma mandi lagi." Ujar Qiran.
" Enggak sayang... Kita beneran mandi kok." Sahut Bimo.
Bimo menggosok punggung Qiran menggunakan sabun. Qiran tersenyum bahagia mendapat perhatian Bimo seperti ini. Ternyata sebahagia ini hidup dengan saling mencintai.
__ADS_1
Selesai mandi mereka sarapan bersama. Bimo terus menatap Qiran membuat Qiran salah tingkah.
" Apa sih Mas ngelihatin aku mulu dari tadi." Ucap Qiran.
" Kenapa? Orang Mas ngelihatin istri Mas sendiri masa' nggak boleh." Sahut Bimo.
" Ya tapi jangan gitu lah Mas ngelihatin nya, kan aku risih jadinya." Ujar Qiran.
" Baiklah sayang maafkan Mas." Sahut Bimo menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Sayang, terima kasih untuk kejutan tadi malam, tapi ngomong ngomong semalam hari apa sih? Kenapa kamu memberikan kejutan pada Mas?" Tanya Bimo menatap Qiran.
" Mas lupa semalam hari apa?" Qiran kembali bertanya sambil menatap Bimo.
Bimo mencoba mengingat ingatnya.
" Mas lupa sayang, hari apa sih? Cepat kasih tahu Mas." Desak Bimo.
" Semalam adalah hari...... " Qiran menggantungkan ucapannya.
" Hari apa sayang... " Tekan Bimo.
" Hari ulang tahunmu Mas." Sahut Qiran.
" Selamat ulang tahun semoga panjang umur sehat selalu dan selalu mencintaiku." Ucap Qiran.
Bimo melongo membulatkan matanya. Pasalnya selama ini ia tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya.
" Sa... Sayang."
Tiba tiba Bimo meneteskan air matanya.
" Mas, Mas kenapa menangis?" Qiran nampak khawatir. Ia segera mendekati Bimo.
" Mas menangis karena bahagia sayang, baru kali ini Mas merayakan ulang tahun dengan kejutan yang luar biasa seperti semalam, terima kasih sudah memberikan kebahagiaan ini kepada Mas, Mas sangat menyayangi dan mencintaimu sayang." Ucap Bimo memeluk pinggang Qiran, ia membenamkan wajahnya di perut Qiran.
Qiran mengelus kepala Bimo dengan lembut.
" Aku juga mencintaimu Mas, semoga kedepannya kita akan hidup bahagia selamanya bersama keluarga kecil kita." Ujar Qiran.
" Amin sayang." Sahut Bimo.
" Sekarang kita lanjutkan makan ya, aku nggak mau kalau Mas sampai sakit." Ucap Qiran.
" Iya sayang, sekali lagi terimakasih kasih." Sahut Bimo.
Mereka melanjutkan makannya. Setelah selesai Bimo menarik tangan Qiran menuju kamarnya.
Kira kira apa yang akan Bimo lakukan pada Qiran ya?
Jangan lupa untuk selalu tekan like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat...
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC...