
Hari ini adalah hari pertama Qiran masuk ke perguruan tinggi. Ia di berikan waktu oleh papanya dua tahun untuk mendapatkan gelar sarjananya. Qiran merasa ini benar benar hal konyol. Entah Qiran bisa mendapatkannya atau tidak yang jelas ia jalani saja, hitung hitung menambah pengalaman.
Qiran selalu menanyakan apa alasannya dua tahun lagi ia harus berhenti kuliah namun papanya selalu menjawab " nanti kau kan tahu sendiri alasannya". Ia tidak mau ambil pusing, cukup nikmati hidup ini dengan bahagia.
Selesai bersiap, Qiran turun ke bawah untuk sarapan. Di sana sudah ada papa, mama dan Bimo.
" Pagi Ma, Pa, Om." Qiran mencium pipi mama dan papanya.
" Pagi sayang." Sahut Erlan dan Dera bersamaan.
" Pagi princess." Sahut Bimo.
Qiran duduk di samping Bimo.
" Om nggak di cium nih?" Canda Bimo.
" Nggak usah! Kalau nanti Om aku cium, yang ada Om malah jatuh cinta sama aku." Sahut Qiran.
Bimo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Erlan dan Dera hanya tersenyum saja.
" Baiklah princess, sekarang kamu mau makan apa?" Tanya Bimo menatap Qiran.
" Aku mau makan sandwich aja Om." Sahut Qiran.
" Ok, tapi nanti saat istirahat kamu sudah harus makan nasi." Sahut Bimo menyiapkan sandwich untuk Qiran.
Ya selama ini Bimo selalu menyiapkan atau pun sekedar mengambilkan makanan untuk Qiran. Bimo benar benar memanjakannya.
" Siap Om ku." Sahut Qiran.
" Ini, sekarang makanlah dan minum susunya." Bimo menyajikan sandwich ke piring Qiran.
" Ma kasih Om." Ucap Qiran.
Qiran memakan sandwich buatan Bimo yang menurutnya sangat enak di bandingkan buatan Dera.
" Sayang hari ini hari pertama kamu masuk kuliah, kamu harus mengikuti ospek dengan baik, jangan berantem sama teman, dan jangan membuat keributan apapun di kelas." Ujar Dera memberi nasehat.
" Iya Ma, tapi Mama tenang saja! Kalaupun aku membuat masalah, ada Om Bimo yang akan menyelesaikannya." Qiran menatap Bimo yang saat ini sedang menatapnya juga, lalu ia mengerlingkan matanya.
Mendapat itu jantung Bimo terasa berdebar seperti genderang mau perang. Dera dan Erlan saling melempar senyuman melihat Bimo yang salah tingkah.
Tidak tahan menahan debaran di dalam hatinya, akhirnya Bimo menyudahi sarapannya.
" Om tunggu di luar ya." Ucap Bimo mengelus kepala Qiran.
" Om tidak menghabiskan sarapannya? Kenapa? Apa ucapan Qiran membuat selera makan Om jadi hilang?" Qiran mendongak menatap Bimo.
" Tidak sayang, Om sedang tidak enak badan saja, Om keluar dulu ya." Sahut Bimo.
__ADS_1
" Iya Om." Sahut Qiran.
Dera menatap kepergian Bimo.
" Hanya mendapat kelingan mata saja kamu udah panas ringan Bang, bagaimana nanti kalau kalian sudah menikah? Mungkin kamu akan sakit kepala setiap hari." Batin Dera terkekeh.
Selesai sarapan, Qiran berpamitan dengan kedua orang tuanya.
" Ma, Pa, aku berangkat dulu." Qiran menyalami kedua orang tuanya dengan takzim.
" Hati hati sayang." Ucap Dera.
" Iya Ma." Sahut Qiran.
Qiran berjalan keluar menghampiri Bimo yang sedang bersandar pada mobil sambil memainkan ponselnya.
" Om." Bimo mendongak menatap Qiran.
Keduanya saling tatap. Qiran terpana melihat sosok Bimo yang sangat tampan di matanya. Usianya yang memasuki kepala empat tidak menyurutkan kadar ketampanan yang Bimo miliki.
" Udah mau berangkat?" Tanya Bimo.
" Iya, ayo." Ajak Qiran.
Bimo membukakan pintu mobil untuk Qiran, setelah itu ia memutari mobil masuk ke dalam. Bimo melajukan mobilnya menuju kampus xx dimana Qiran akan menimba ilmu.
" Nanti di kampus nggak boleh ganjen sama cowok!" Ucap Bimo.
" Ya nggak boleh aja, kamu di sana mau belajar bukan mau cari pasangan kan?" Ujar Bimo.
" Satu kali dayung, dua pulau terlampaui Om." Sahut Qiran.
Bimo mengerutkan keningnya.
" Ya.. Kalau aku bisa mendapatkan pasangan, kenapa tidak? Aku akan mendapatkan ilmu sekaligus mendapatkan pasangan untuk masa depanku nanti." Ucap Qiran membuat hati Bimo sedikit cemas.
" Kalau begitu tidak usah kuliah saja! Langsung nikah aja kan dapat pasangan." Sahut Bimo fokus pada stirnya.
" Iya kamu benar Om, lagian kuliah cuma di kasih waktu dua tahun, belum lulus udah berhenti, apa Om tahu alasan papa melakukan semua ini? Apa papa bangkrut dan tidak bisa membiayai kuliahku?" Tanya Qiran.
" Nanti pada saatnya tiba kau akan tahu sendiri sayang, sekarang mending fokus belajar! Ingat! Jangan pacaran!" Ucap Bimo.
" Om sama papa sama aja, aku kan udah gedhe Om masa' nggak boleh pacaran, teman temanku aja udah pada punya pacar, bahkan lebih dari satu." Gerutu Qiran.
" Itu kan temanmu, kalau kamu tidak boleh!" Sahut Bimo enteng.
Qiran mengerucutkan bibirnya membuat Bimo merasa gemas sendiri.
Sesampainya di kampus, Bimo turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Qiran. Semua mata para cewek cewek terpana melihatnya.
__ADS_1
" Ya ampun ganteng banget."
" Astaga... Dia sopirnya atau papanya ya."
" Atau mungkin dia pacarnya, tapi masa' pacaran sama om om sih."
" Ya nggak pa pa, om om ganteng gitu, aku juga tidak akan menolaknya."
Begitulah ocehan dari para gadis. Qiran yang merasa geram menghampiri mereka semua.
" Kalian semua tidak pernah melihat cowok ganteng? Tajir? Makanya mata kalian ijo hah." Ketus Qiran.
" Kami cuma terpesona aja sama om itu!" Sahut salah satu gadis sambil menunjuk Bimo.
" Nggak boleh ada yang terpesona sama Om gue, dia milik gue dan nggak akan gue kasih ke lo, lo semua." Ucap Qiran menunjuk mereka satu satu.
" Sekarang bubar kalian semua!" Tekan Qiran.
Mereka semua bubar meninggalkan Qiran. Qiran membalikkan badannya menatap Bimo yang sedang duduk di batu besar sambil tersenyum ke arahnya.
" Ngapain senyam senyum gitu Om? Suka di puji sama gadis gadis cantik?" Qiran menghampiri Bimo.
" He he... Om tidak menyangka ternyata mereka terpesona sama ketampanan Om." Sahut Bimo.
" Ingat! Udah tua, nggak usah banyak gaya!" Ucap Qiran.
" Om tidak bergaya aja banyak yang suka, itu rejeki namanya sayang... Siapa tahu Om bisa menikahi salah satu dari mereka." Canda Bimo.
" Udah sana pergi! Yang ada nanti Om jadi kerumunan para cewek cewek di sini." Ucap Qiran.
" Masih ada setengah jama lagi." Bimo melihat jam mewah yang melingkar di tangannya.
" Pergi aku bilang!" Titah Qiran menatap Bimo dengan tajam.
" Baiklah sayang Om akan pergi, kamu hati hati! kalau ada apa apa segera telepon Om." Ucap Bimo mengelus kepala Qiran.
" Hmm." Gumam Qiran.
Entah mengapa Qiran merasa kesal melihat Bimo menjadi pusat perhatian teman teman ceweknya. Apalagi saat Bimo mengatakan menikahi salah satu dari mereka. Ada sesuatu yang mengusik hatinya.
Bimo melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kampus menuju kantornya. Ia menatap sekilas Qiran lewat spion mobil lalu tersenyum sendiri.
" Om semakin menyayangimu sayang, seandainya kamu tahu kalau perasaan Om padamu bukan sebagai Om, apa kamu bisa menerimanya? Sebenarnya Om ingin sekali mengatakan perasaan ini padamu tapi Om harus menunggu dua tahun lagi. Semoga penantian Om selama ini tidak sia sia Qiran." Monolog Bimo terus melajukan mobilnya menuju kantor.
Siapa nih yang nggak klepek klepek sama Om Bimo? Author aja sampe nggak bisa bobok...
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya buat author biar makin semangat.
__ADS_1
Terima kasih untuk readers yang selalu mensupprt author semoga sehat selalu...
Miss U All....