Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Seasons 2. 10 Pengkhianatan Bimo


__ADS_3

Malam ini Bimo dan Qiran sedang makan malam. Qiran nampak lesu dan malas untuk sekedar menelan makanannya. Ia kehilangan nafsu makannya begitu saja.


" Sayang kamu nampak lesu gitu, sini Mas suapin aja seperti biasanya biar kamu makan banyak." Bimo menarik piring Qiran.


Ia menyuapkan sesendok makanan ke mulut Qiran, namun Qiran menggelengkan kepalanya.


" Kenapa hmm?" Tanya Bimo lembut.


" Aku tidak selera makan." Qiran beranjak meninggalkan meja makan.


Ia kembali ke kamarnya. Bukan tanpa alasan Qiran melakukan semua itu. Ia membaca chat mesra Bimo dengan Maya dari ponselnya. Mereka berdua nampak sangat dekat. Qiran yakin kalau keduanya memiliki hubungan khusus.


Qiran merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Tak lama Bimo masuk menghampirinya.


" Sayang apa kamu sedang tidak enak badan?" Bimo naik ke atas ranjang.


" Aku baik baik saja." Sahut Qiran.


"Tapi hatiku yang tidak baik baik saja Mas, aku terluka dengan pengkhianatan yang kau lakukan." Lanjut Qiran dalam hati.


" Baiklah kau istirahat saja, Mas mau menyelesaikan pekerjaan Mas dulu ya." Bimo turun dari ranjang menuju sofa. Ia membuka laptopnya untuk menyelesaikan perkejaannya.


Drt.... Drt....


Ponsel Bimo berdering, ia melihat id pemanggil yang tak lain adalah Maya. Ia melirik Qiran sekilas lalu mengangkat teleponnya.


" Halo."


........


" Apa?" Pekik Bimo.


......


" Baiklah aku akan segera ke sana." Bimo mematikan sambungan teleponnya.


" Kenapa Mas?" Tanya Qiran.


" Tidak apa sayang, temanku mengalami kecelakaan saja, Mas harus ke sana sekarang." Sahut Bimo.


Bimo memakai jaketnya lalu menyambar kunci di atas nakas.


" Mas pergi dulu ya, kamu tidur saja." Bimo mencium kening Qiran lalu pergi meninggalkan Qiran sendirian.


Tak mau kehilangan jejak, Qiran langsung mengikuti Bimo secara diam diam.


Ia melajukan mobilnya tak jauh di belakang mobil Bimo, mobil menuju arah rumah sakit.


" Rumah sakit? Oh ya tadi dia bilang temannya kecelakaan." Gumam Qiran.


Sesampainya di rumah sakit, Qiran kembali mengikuti Bimo. Bimo tidak menyadarinya karena saking paniknya.

__ADS_1


Bimo masuk ke ruangan melati nomer tiga. Ia menghampiri Maya yang sedang menangis di atas ranjang. Dengan sangat pelan, Qiran membuka sedikit pintunya.


" Maya." Ucap Bimo.


Grep....


" Bimo hiks.... Anak kita Bim."


Jeduar.....


Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Qiran kaku.


" Anak kita? Itu berarti mereka benar benar punya hubungan." Batin Qiran.


" Anak kita tiada Bim, aku keguguran.... Hiks.."


Sret....


Bagai di sayat dengan sebilah pisau, hati Qiran sangat sakit mendengar ucapan Maya.


" Maya tenanglah! Tenangkan dirimu! Jangan buat pikiranmu stress karena hal ini." Ucap Bimo.


Maya melepas pelukannya. Ia menatap tajam ke arah Bimo.


" Bagaimana aku bisa tenang hah? Anak kita tiada Bim... Aku kehilangannya." Teriak Maya.


" Iya tenanglah!" Ucap Bimo.


" Apa kau senang dengan musibah ini? Kau sudah tidak mencintaiku lagi? Kau sudah tidak peduli dengan kami hah? Kalau begitu pergilah dari sini! Aku tidak membutuhkan kamu lagi, pergilah dari sini!" Teriak Maya histeris.


Tak mau merasakan yang lebih sakit dari itu, Qiran memilih untuk pergi. Ia berjalan dengan lesu membawa luka yang menganga di dalam hatinya. Tak terasa air mata menetes begitu saja di pipinya.


" Tega kamu Mas! Kau tega melakukan semua ini kepadaku, dimana salahku? Apa kekuranganku? Apa karena aku belum memberikan hakku padamu sehingga kau memilih melakukannya bersama aunti Maya? Hiks.... Tuhan.... Rasanya sakit sekali, bahkan ini sangat sakit... Aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini." Qiran mengusap air matanya.


" Aku akan pulang ke rumah papa, aku harus memberitahu papa soal ini, aku tidak mau hidup bersama pengkhianat seperti Mas Bimo, sebelum semuanya terlalu jauh, aku akan meminta berpisah darinya." Monolog Qiran.


" Tapi pasti papa tidak percaya akan hal ini, papa sangat mempercayai Mas Bimo, aku benar benar tidak tahu harus bagaimana." Ujar Qiran.


Qiran melajukan mobilnya menuju rumahnya. Ia mengurungkan niatnya kembali ke rumah orang tuanya. Ia teringat nasehat mamanya yang harus menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Qiran akan menunggu kejujuran dari Bimo sendiri.


...****************...


Pagi ini Qiran membuka matanya, ia menoleh ke samping yang biasanya ada Bimo kini hanya ada bantal saja. Hatinya semakin tersayat karena tidak ada kabar dari Bimo.


Ingin rasanya Qiran berteriak, namun ia menahannya. Ia tidak mau ambil pusing dengan sikap Bimo. Ia turun dari ranjang masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi Qiran turun ke bawah, ia duduk di meja makan sambil melamun. Pasalnya mau masak tapi ia tidak bisa masak. Bimo yang di tunggu tunggu tidak juga pulang.


Tidak kuat dengan semua ini, Qiran memilih pergi ke rumah orang tuanya. Saat ia sampai di depan pintu, ia berpapasan dengan Bimo yang hendak masuk ke dalam.


" Sayang kamu mau kemana?" Tanya Bimo.

__ADS_1


Qiran hanya menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, ia berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Bimo.


" Sayang tunggu!" Bimo mencekal tangan Qiran.


" Sayang maafkan Mas! Mas tidak pulang karena teman Mas tidak ada yang menemani, Mas tidak tega sayang membiarkan dia sendirian." Ucap Bimo.


Bukannya menjawab, Qiran justru meneteskan air mata. Hatinya sangat kecewa kepada Bimo yang tidak mau jujur padanya. Qiran mengusp air matanya menatap Bimo.


" Sayang jangan menangis! Maafkan Mas!" Bimo hendak mengusap air mata Qiran namun Qiran menepisnya membuat Bimo melongo.


Qiran masuk ke mobilnya lalu melajukan mobilnya ke jalan raya. Tak mau terjadi apa apa dengan Qiran, Bimo segera mengikutinya dengan mobilnya.


Mobil Qiran berhenti di depan rumah Dera dan Erlan. Ia masuk ke dalam menuju meja makan. Ia yakin kedua orang tuanya ada di sana.


" Assalamu'alaikum." Ucap Qiran membuat kedua orang tuanya menoleh ke arahnya


" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Dera.


Qiran menyalami kedua orang tuanya dengan takzim, lalu duduk di kursinya.


" Kamu sendirian? Mana Bimo?" Tanya Erlan.


" Aku di sini Bos."


Qiran menoleh ke arah Bimo yang sedang menghampirinya, ia memutar bola matanya malas.


" Ma aku lapar." Ucap Qiran.


" Mama akan ambilkan piring untuk kalian berdua." Dera mengambil dia piring dan sendok untuk Qiran dan Bimo.


" Kenapa putriku bisa sampai kelaparan Bim?" Selidik Bimo.


" Mas Bimo sibuk Pa, akhir akhir ini banyak meeting dadakan kan?" Sahut Qiran.


Bimo menatap ke arahnya.


" Meeting dadakan?" Erlan mengerutkan keningnya.


" Iya, dia sering di telepon oleh client nya untuk meeting, dia juga sering lembur kan, Papa harus memberikan bonus yang banyak kepadanya supaya aku bisa jalan jalan ke puncak lagi seperti kemarin."


Deg....


Ucapan Qiran seperti batu besar yang menghantam dada Bimo.


" Apa waktu itu bos Erlan menelepon Qiran? Ya Tuhan... Jangan sampai Qiran mengetahui semuanya saat ini sebelum masalahku selesai." Batin Bimo.


Penasaran apa yang sebenarnya terjadi?


Tekan like donk untuk menjaga performa karya author...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC...


__ADS_2