Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Seasons 2.33 Perasaan Khawatir


__ADS_3

Pagi ini Bimo sedang menimang Bianca sambil bernyanyi ria sedangkan Qiran sedang mandi di dalam sana.


" Anak Papa sayang, cepat besar ya biar Papa bisa mengajak kamu jalan jalan. Papa sudah tua sayang, Papa takut tidak bisa melihat saat kau besar nanti." Ucap Bimo meneteskan air mata membayangkan semua itu terjadi padanya.


" Mas bicara apa sih! Nggak baik bicara seperti itu Mas, itu sama saja kamu berdoa Mas. Emangnya kamu nggak mau melihat pertumbuhan Bian sampai dia dewasa nanti? Apa kamu tidak ingin menjadi wali nikahnya?" Qiran menghampiri Bimo.


" Mau lah sayang, maafkan Mas karena Mas berbicara buruk." Ucap Bimo.


" Aku maafkan tapi lain kali jangan pernah berbicara seperti itu lagi! Aku tidak menyukainya. Bukankah Mas ingin memiliki banyak anak? Jadi tetap semangat dan selalu berdoa supaya Mas panjang umur dan sehat selalu." Ucap Qiran menatap Bimo.


Cup...


Bimo mengecup bibir Qiran.


" Terima kasih sayang." Ucap Bimo.


Qiran membalasnya dengan senyuman.


" Sini Mas! Bian biar minum dulu." Ujar Qiran.


Qiran menyusui Bian sambil menoel pipinya. Bimo duduk di samping Qiran menatap putri kecilnya.


" Dia cantik banget sayang mirip kamu." Ucap Bimo.


" Iya Mas kalau aku nggak cantik kamu nggak akan suka sama aku." Sahut Qiran mengerlingkan matanya.


" Kata siapa? Mas nggak mandang fisik kok. Buktinya waktu itu kamu masih sangat kecil Mas udah suka." Ujar Bimo.


" Iya deh Mas Bimo emang is the best pokoknya, buktinya bisa buat aku jatuh ke dalam pesonamu." Ucap Qiran.


" Setelah Bian besar kita tinggal cetak adik laki laki buat Bian, biar lengkap kita punya anak laki laki dan perempuan." Ucap Bimo penuh arti.


" Apa sih Mas! Gedein Bian dulu baru memikirkan memberikannya adik." Ujar Qiran.


" Baiklah sayang yang penting aku harus sehat dan kuat." Ucap Bimo terkekeh.


" Harus donk!" Sahut Qiran.


Setelah Bian kembali tidur, keduanya turun ke bawah untuk sarapan. Qiran mengambilkan makanan untuk Bimo.


" Kamu harus makan banyak sayang biar asimu banyak." Bimo menyodorkan sesendok makanan kepada Qiran.


" Aku udah besar Mas, udah jadi ibu juga masa' masih di suapi." Ujar Qiran.


" Tidak pa pa sayang biar kelihatan romantis." Sahut Bimo.


Qiran menerima suapan Bimo. Ia mengunyah makanannya dengan pelan. Keduanya makan dengan khidmat setelah selesai mereka kembali ke kamarnya.


" Mas kamu nggak berangkat kerja?" Tanya Qiran.


" Mas cuti sayang selama satu bulan, biarkan papamu mengerjakan semua pekerjaannya. Mas ingin menemani kalian selama satu bulan penuh ini, Mas tidak mau ketinggalan menemani perkembangan Bian." Bimo berbaring miring menatap Bian.


" Baiklah terserah kau saja Mas." Sahut Qiran. pasrah.


Keduanya berbaring di atas ranjang bersandar pada headboard dengan Bian di tengah tengah mereka. Qiran memainkan ponselnya.

__ADS_1


Sesekali mereka saling curi pandang. Qiran tersenyum menatap Bimo begitupun sebaliknya.


" Apa sih Mas senyum senyum gitu." Ujar Qiran terkekeh.


" Memandangmu sayang." Sahut Bimo menggoda.


" Baiklah silahkan pandang aku biar kamu puas Mas." Ucap Qiran.


" Sebenarnya tidak hanya ingin memandang, tapi Mas ingin menyentuhmu!" Ucap Bimo mengerlingkan mata.


" Genit." Cibir Qiran.


" Nggak pa pa sama istri sendiri ini." Sahut Bimo.


" Hmm." Gumam Qiran.


Drt... Drt...


Ponsel berdering. Video call dari Abrisam.


" Halo." Sapa Qiran menatap wajah Abrisam yang terpapang di layar ponselnya.


" Halo Qi, gimana kabarmu?" Tanya Sam.


" Baik, kamu sendiri gimana?" Tanya Qiran.


" Alhamdulillah baik, by the way mau lihat keponakanku donk Qi." Ujar Sam.


Qiran mengarahkan kamera ponselnya ke arah Bian yang sedang tertidur pulas.


" Cantiknya keponakan Om, siapa namanya Qi?" Tanya Sam.


" Nama yang bagus, kalau besok udah besar boleh nggak buat aku Qi." Ucap Sam.


" Buat kamu? Buat apa?" Tanya Qiran.


" Buat aku jadikan istriku, seperti kamu dan om Bimo." Ucap Sam membuat Bimo cemberut.


" Ya nggak boleh lah! Aku tidak akan membiarkan anakku menikah dengan pria tua sepertimu." Ujar Qiran.


" Ya siapa tahu aja dia sama seperti mamanya, sukanya sama yang jauh lebih tua." Sindir Sam.


Qiran melirik ke arah Bimo. Raut wajahnya sudah berubah menjadi suram.


" Sam.... Kamu sengaja banget deh mancing emosi orang. Udah ah jangan bercanda mulu." Ujar Qiran.


Keduanya mengobrol dan saling melempar candaan, tak lupa Sam menyapa Bimo juga.


Setelah selesai Qiran mematikan sambungan ponselnya. Qiran menatap Bimo yang menekuk mukanya.


" Kenapa Mas? Kok mukanya di tekuk gitu?" Tanya Qiran.


" Kalian ngobrolnya sambil nyindir Mas, pakai ada kata kata pria tua segala. Tua tua gini kamu suka kan?" Bimo menatap Qiran.


" Kalau enggak gimana?" Qiran balik bertanya.

__ADS_1


" Kalau enggak ya udah." Sahut Bimo kesal.


" Uluh uluh suamiku ngambek nih ye." Goda Qiran.


" Kamu godain Mas?" Bimo menarik pelan kepala Qiran lalu mengecup kening Qiran dengan lama.


Tok tok..


" Masuk!!" Teriak Bimo.


Pintu terbuka menampilkan Dera di sana.


" Mama." Ucap Qiran.


Deta tersenyum menghampiri mereka.


" Apa Mama ganggu kalian?" Tanya Dera.


" Enggak Ma kami lagi santai kok." Sahut Qiran.


" Iya kamu ganggu Ra." Sahut Bimo.


" Aku kangen sama cucuku Bang." Ucap Dera.


" Rupanya cucu Oma sedang tidur to." Dera mendekati Bian di atas ranjang.


" Ya udah sayang, Mas ke ruang kerja dulu ya! Udah ada mama kamu yang akan nemenin kamu." Ucap Bimo mencium kening Qiran tanpa malu di depan ibu mertuanya.


Bimo keluar kamar menuju ruang kerja.


" Gimana cucu mama sayang? Apa dia tidak rewel?" Tanya Dera.


" Tidak Ma, dia malah tidur terus." Sahut Qiran.


" Syukurlah... Maaf Mama tidak bisa membantumu mengurus Bian. Akhir akhir ini kesehatan papamu sering terganggu. Kadang Mama berpikir papamu seperti ini karena efek minuman dan rokok dulu saat muda, apalagi saat menjadi anggota gangster." Ujar Dera merasa sedih.


" Jangan terlalu di pikirkan Ma! Yang ada nanti Mama malah yang sakit. Kalau Mama sakit siapa yang akan mengurus papa nanti." Ujar Qiran.


" Iya sayang terima kasih sudah membuat Mama sedikit tenang. Mama tidak akan memikirkan apapun yang membuat Mama stress, Mama akan fokus pada papamu saja." Ujar Dera.


" Iya Ma, seharusnya memang begitu." Ucap Qiran.


Babby Bian membuka mata sambil menggeliat.


" Cucu Oma jadi terganggu ya tidurnya, maaf ya sayang." Ujar Dera menciumi pipi Bian.


" Iya Oma, aku haus Oma makanya bangun." Sahut Qiran menirukan suara anak kecil.


" Mama jadi ingat waktu kamu masih bayi dulu sayang, cantik dan imut seperti Bian. Semoga kelak Bian akan menjadi anak yang solehah dan berbakti kepada orang tua." Ucap Dera


" Amin." Sahut Qiran.


Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author...


Terima kasih untuk kalian yang telah memberikan support kepada author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2