Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Seasons 2. 31 Serba Salah


__ADS_3

Qiran mengerjapkan matanya. Ia turun dari ranjang masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai ia turun ke bawah menuju dapur mengabaikan Bimo yang masih duduk di ranjang sambil menatapnya.


Bimo menghela nafasnya pelan. Ia masuk ke kamar mandi membersihkan badan dan pikirannya.


Qiran menghampiri mamanya yang sedang memasak untuk sarapan.


" Pagi Ma." Sapa Qiran duduk di kursinya.


" Pagi sayang, mana bang Bimo?" Tanya Dera.


" Lagi mandi Ma." Sahut Qiran asal.


" Ya sudah, bantuin Mama menata makanan donk sayang." Ujar Dera.


" Iya Ma." Sahut Qiran.


Qiran menata gurameh goreng di atas piring, tiba tiba perutnya terasa mual.


Qiran langsung berlari ke wastafel.


Huek... Huek...


" Sayang." Bimo menghampiri Qiran lalu memijat pelan tengkuknya.


Huek... Huek....


Qiran memuntahkan semua cairan bening di perutnya.


Setelah agak mendingan ia membasuh mulutnya dengan air bersih.


" Hah." Qiran memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.


" Kita ke kamar aja sayang." Ucap Bimo.


" Argh!" Pekik Qiran saat merasa tubuhnya melayang.


Bimo menggendong Qiran menuju kamarnya. Ia merebahkan Qiran di atas ranjang.


" Minum dulu sayang!" Bimo memberikan segelas air putih hangat kepada Qiran.


Qiran meminumnya hingga tandas.


Bimo naik ke atas ranjang memijat kepala Qiran dengan pelan.


" Gimana sayang? Apa sudah mendingan?" Tanya Bimo.


" Sudah mendingan, pijatanmu enak juga Mas." Ujar Qiran.


" Jangan meminta Mas untuk jadi tukang urut." Ucap Bimo.


" Ya enggak lah Mas, kalau Mas jadi tukang urut yang ada semua cewek cewek pada ngantri jadi langganan kamu." Kekeh Qiran tidak bisa membayangkan bagaimana para wanita menunggu pijatan Bimo.


" Mas juga tidak mau. Sekarang kamu mau makan apa untuk sarapan?" Bimo kembali bertanya.


" Aku tidak mau makan Mas, rasanya kalau keingat makanan malah mau muntah." Sahut Qiran.


" Baiklah kalau pengin makan sesuatu, kamu bilang aja sama Mas! Mas akan membelikannya untukmu." Ujar Bimo.


" Iya Mas." Sahut Qiran.

__ADS_1


Siang hari Qiran ingin memakan es krim di campur rujak buah. Dengan penuh semangat Bimo membelikannya di kedai terdekat. Setelah mendapat yang ia mau Bimo kembali ke rumah. Ia langsung ke kamar memberikan es krim pada Qiran.


" Ini sayang!" Bimo memberikan satu cup es krimnya.


" Terima kasih Mas." Ucap Qiran.


Qiran segera membukanya. Ia menyuapkan es tersebut ke mulutnya.


" Mas rujaknya kok kurang pedas sih!" Kesal Qiran.


Qiran meletakkan cup es krim dengan kasar ke atas meja.


" Sayang ngambek lagi." Ujar Bimo menghela nafasnya.


" Mas kan tahu kalau aku sukanya pedas banget, kenapa belinya yang sedang doank, kan nggak enak." Gerutu Qiran sambil cemberut.


" Maf sayang! Mas tidak tahu kalau bisa request level pedasnya, Mas hanya bilang beli es krim rujak doank. Sekarang habiskan aja! Besok kita beli lagi sesuai keinginanmu." Ujar Bimo.


" Nggak mau!" Ketus Qiran.


Lagi lagi emosi Qiran memuncak. Bimo mengucapkan kata istighfar dalam hatinya.


" Ya udah kalau kamu nggak mau makan, biar Mas aja yang makan semuanya." Ucap Bimo.


Bimo menyuapkan eskrim tersebut ke mulutnya. Walaupun rasanya ngilu di giginya namun Bimo tetap memakannya.


Ia menatap Qiran yang saat ini juga sedang menatapnya.


" A' sayang, ini enak lhoh." Bimo menyodorkan sesendok es krim ke mulut Qiran.


Qiran menerima suapannya.


" Itu karena Mas yang menyuapi, lain kali biar Mas suapi kamu setiap kamu mau makan apapun." Ucap Bimo.


Qiran menganggukkan kepalanya. Setelah es krimnya habis, Qiran kembali berbaring di ranjangnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari hari berlalu tak terasa kehamilan Qiran masuk usia sembilan bulan. Dera dan Erlan sudah kembali rumahnya Selama beberapa bulan ini Bimo menghadapi sikap Qiran dengan sangat sabar. Qiran menjadi pemarah selama kehamilannya.


Seperti hari ini, hanya karena Bimo tidak menjawab panggilannya Qiran marah.


" Mas kamu ini dengerin aku nggak sih! Aku manggil manggil kamu dari tadi juga." Kesal Qiran menghampiri Bimo yang sedang berkutat dengan laptopnya di ruang kerja.


" Maaf sayang Mas tidak mendengar panggilanmu." Ucap Bimo menatap Qiran yang berdiri sambil memegangi perut buncitnya.


" Ada apa kamu manggil Mas?" Tanya Bimo.


" Punggungku pegal." Rengek Qiran seperti anak kecil.


" Mas akan menyelesaikan pekerjaan Mas dulu, setelah itu Mas akan mengusap usap punggungmu." Ucap Bimo.


" Nggak mau! Aku maunya sekarang Mas! Sudahi pekerjaanmu atau aku akan marah." Ancam Qiran cemberut.


" Baiklah sayang, sini duduk." Bimo menepuk pahanya.


Dengan senang hari Qiran duduk di pangkuan Bimo.


Bimo mengelus punggung Qiran dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk melanjutkan pekerjaan.

__ADS_1


" Mas jangan terlalu keras bekerjanya, aku tidak mau Mas sampai kelelahan terus sakit. Ingat umur Mas! Mas udah tua, anak kita belum lahir. Nanti kalau anak kita besar Mas udah nggak mampu bekerja gimana." Ujar Qiran.


Entah itu sebuah nasehat atau sebuah hinaan, Bimo sendiri tidak tahu.


" Tenang saja sayang! Mas selalu jaga kesehatan kok." Sahut Bimo.


" Mas aku berat ya?" Tanya Qiran sedikit konyol.


" Tidak." Sahut Bimo.


" Kalau aku jawab berat pasti ngambek lagi, gimana nggak berat coba berat badannya aja nambah lima belas kilo." Batin Bimo.


" Masa' sih Mas? Padahal aku gemuk banget sekarang lhoh. Mau jalan aja susahnya minta ampun." Ujar Qiran.


" Buktinya Mas masih kuat mangku kamu." Sahut Bimo.


" Pasti di kuat kuatin nih! Sebenarnya pasti Mas merasa berat banget." Ucap Qiran.


" Iya kan Mas?" Tanya Qiran menatap Bimo.


" Enggak ah." Sahut Bimo.


" Bohong! Jujur kenapa sih Mas." Ucap Qiran mulai kesal.


" Iya iya berat." Ucap Bimo keceplosan.


" Tuh kan..... Aku jadi berat. Tubuhku tidak seindah dulu, aku sekarang gendut banget Mas. Pasti Mas nggak suka melihat aku sekarang apalagi badanku jadi kaya gini, pasti Mas suka lirik lirik cewek cantik di luar sana." Ucap Qiran turun dari pangkuan Bimo.


" Astaga sayang.... Mas harus bagaimana? Begini salah, begitu juga salah. Mas bilang tidak kamu marah, sekarang Mas bilang berat kamunya ngambek dan menuduh Mas yang tidak tidak. Mas jadi bingung sendiri sama sikap kamu selama ini." Ujar Bimo menatap Qiran.


" Hiks.... Mas memarahiku! Mas jahat!" Ucap Qiran dengan nada tinggi.


Setelah itu Qiran pergi meninggalkan Bimo.


Bimo mengacak rambutnya dengan kasar. Ia merasa frustasi dengan sikap Qiran yang emosinya naik turun seperti roller coaster.


Bimo menyimpan filenya setelah itu ia menyusul Qiran di kamarnya.


" Sayang jangan ngambek donk!" Bimo menghampiri Qiran yang berbaring di atas ranjang.


" Hiks.." Isak Qiran.


" Astaga sayang kamu nangis... Maafkan Mas ya! Mas tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, kamu tetap cantik dan akan selalu menjadi idaman Mas. Bagaimanapun dirimu Mas sangat mencintaimu, dari dulu, sekarang dan nanti." Ucap Bimo memeluk Qiran dari belakang.


Qiran masih terisak. Ia tidak tahu kenapa hatinya menjadi begitu sensitif selama beberapa bulan ini.


" Teruslah bersabar Bimo... Kalau anakmu sudah lahir nanti pasti Qiran akan kembali seperti dulu lagi. Sehat sehat sayang di dalam sini." Batin Bimo mengelus perut Qiran.


Tekan like untuk mendukung karya author..


Setelah Qiran melahirkan mau tamat apa lanjut nih?


Tulis di kolom komentar ya...


Terima kasih...


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2