Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Kecelakaan


__ADS_3

Tiga hari Erlan dan Dera lalui dengan penuh kebahagiaan, hari ini mereka kembali ke kota.


" Ayo sayang, apa sudah siap?" Ajak Erlan.


" Iya Mas." Sahut Dera masuk ke mobil.


Erlan melajukan mobilnya menuruni jalanan yang basah karena terguyur hujan subuh tadi.


" Pelan pelan aja Mas, jalannya licin." Ucap Dera.


" Iya sayang." Sahut Erlan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sampai di turunan tajam tiba tiba Erlan hilang keseimbangan.


" Mas kenapa Mas?" Tanya Dera cemas.


" Remnya blong." Sahut Erlan.


" Apa? Bagaimana bisa blong Mas? Kemarin baik baik saja." Ujar Dera.


" Aku juga tidak tahu sayang, kenapa tiba tiba remnya blong? Sekarang lebih baik kita berdoa saja semoga kita tidak kenapa napa sampai di jalanan datar nanti, aku akan mengecilkan gasnya biar tidak terlalu kencang laju mobilnya." Ujar Erlan.


" Ya Tuhan selamatkan kami!" Ucap Dera.


Belum sampai di jalanan datar, tiba tiba ada sebuah mobil yang menyebrang tanpa melihat ke arah Erlan membuat Erlan membanting stirnya ke kiri lalu...


" Masssss." Teriak Dera.


Brak.... Brak....


Mobil Erlan terguling guling ke jurang. Keduanya pasrah akan kemungkinan ajal akan menjemput mereka saat ini. Erlan terus menggenggam tangan Dera tanpa mau melepaskannya hingga kesadaran keduanya menghilang.


Malam hari Dera mengerjapkan matanya, ia memperhatikan sekitar yang nampak serba putih.


" Shhh aku dimana?" Dera memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.


Sekilas ia teringat kejadian kecelakaan yang ia dan Erlan alami.


" Mas Erlan, dimana Mas Erlan?" Ucap Dera cemas.


Dera hendak turun dari ranjangnya, namun seseorang menahannya.


" Mas Er.... " Dera menjeda ucapannya karena ternyata bukan Erlan yang menahannya melainkan Rizal.


" Rizal, ngapain kamu di sini?" Dera mengerutkan keningnya.


" Tadi Revan menelepon ku, katanya dia mendapat kabar kalau kamu mengalami kecelakaan, dan dia memintaku ke sini untuk menemanimu." Sahut Rizal.


" Mas Erlan mana? Dimana Mas Erlan, Rizal? Apa dia baik baik saja?" Tanya Dera.


" Kondisi Erlan kritis, dia sedang dalam penanganan dokter di ruang ICU dan untuk saat ini dia tidak diperbolehkan di jenguk oleh siapapun, kita akan menjenguknya besok pagi saja." Ujar Rizal.


" Ya Tuhan Mas Erlan..... Ya Tuhan aku mohon selamatkan suamiku, aku tidak bisa hidup tanpanya hiks... Aku tidak bisa hidup tanpa Mas Erlan ya Rob, aku mohon selamatkan dia hiks.." Isak Dera.


" Tenang Dera! Erlan pasti baik baik saja." Rizal menarik Dera ke pelukannya.

__ADS_1


Dera mendorong tubuh Rizal, ia menatap Rizal dengan tajam.


" Apa kau di balik semua ini?" Rizal mengerutkan keningnya.


" Apa maksudmu menuduhku seperti itu Dera?" Rizal baik bertanya.


" Aku melihatmu di kebun teh itu, dan aku sangat yakin kau dalang di balik kecelakaan yang aku alami." Teriak Dera.


" Dera jangan berteriak! Kepalamu akan sakit nanti." Ucap Rizal memegang kedua bahu Dera.


" Dengarkan aku! Aku memang ada di sana waktu itu, perkebunan itu milikku dan aku sudah satu minggu berada di sana melakukan peninjauan, saat kau melihatku waktu itu, siangnya aku langsung pulang ke kota, terus bagaimana aku bisa melakukan semua ini hmm?" Tanya Rizal lembut sambil menangkup wajah Dera.


" Aku tidak akan membuat rencana yang bisa menyakitimu Dera, kau wanita pertama yang aku cintai sampai saat ini, jika aku merencanakan pembunuhan kepada Erlan, itu akan aku lakukan di saat Erlan sedang sendiri, bukan bersamamu, aku tidak mungkin tega menyakiti wanita yang aku cintai, kau paham kan maksudku?" Rizal mengusap air mata Dera.


Dera berpikir benar adanya apa yang di katakan oleh Rizal.


" Jadi jangan pernah berpikir kalau aku yang bertanggung jawab atas semua ini." Sambung Rizal.


" Maafkan aku." Ucap Dera.


Rizal tersenyum ke arahnya.


" Sekarang kamu tenanglah! Tenangkan pikiranmu supaya kau lekas sembuh dan bisa merawat Erlan bagaimanapun keadaan Erlan nanti, dokter mengatakan jika kondisi Erlan sangat parah, itu sebabnya kita semua di minta mendoakannya supaya ia bisa segera melewati masa kritisnya." Ucap Rizal membantu Dera berbaring.


" Kapan aku bisa menjenguk Mas Erlan?" Tanya Dera.


" Setelah dia melewati masa kritisnya, kau istirahatlah! Aku akan menemanimu di sini." Rizal mengelus elus kepala Dera hingga membuat Dera terlelap.


" Aku akan merebut hatimu dan merebut cintamu kembali Dera, Tuhan memberikanku kesempatan kedua dan aku tidak akan melewatkan kesempatan ini." Gumam Rizal.


Pagi hari saat Dera bangun tidur, Rizal sudah menuambutnya dengan senyuman manisnya.


" Pagi." Sapa Rizal.


" Eh pagi Rizal." Sahut Dera bersandar pada head board.


" Kau mau langsung mandi?" Tanya Rizal.


" Iya, tolong panggilkan perawat wanita untukku." Ucap Dera.


" Baiklah akan aku panggilkan." Rizal mengacak rambut Dera.


" Awh." Pekik Dera.


" Ah maaf Dera, aku tidak sengaja, maafkan aku." Ucap Rizal menyesali perbuatannya.


" Tidak apa." Sahut Dera.


" Aku panggil perawat dulu, setelah itu aku mau melihat kondisi Erlan, kamu mandilah!" Rizal keluar dari ruangan Dera.


Tak lama seorang suster datang membantu Dera mandi. Setelah selesai, Dera kembali duduk di atas ranjang.


" Biar aku yang menyisir nya Sus, terima kasih atas bantuannya." Rizal menghampiri suster lalu mengambil alih sisir di tangannya.


" Baik Tuan, saya permisi dulu." Ucap suster undur diri.

__ADS_1


Dengan telaten Rizal menyisir rambut Dera. Hal yang sama yang biasa Erlan lakukan setiap pagi.


Air mata menetea begitu saja saat Dera mengingat semua itu.


" Hei kamu menangis?" Rizal melongok wajah Dera.


" Aku hanya merindukan Mas Erlan." Dera mengusap air matanya.


" Setelah ini aku akan membawamu ke sana, tapi kita hanya bisa melihat dari luar saja." Ujar Rizal.


" Iya tidak masalah, yang penting aku bisa melihatnya, walaupun dari jauh hatiku akan lebih tenang setelah melihatnya." Ujar Dera.


" Sekarang sudah cantik, biar semakin cantik tersenyumlah! Erlan akan merasa sedih kalau kamu terus terusan murung seperti ini." Ujar Rizal membuat Dera tersenyum.


" Pintar, mau jalan atau mau pakai kursi roda?" Tanya Rizal menatap Dera.


" Jalan saja." Sahut Dera.


" Baiklah ayo." Rizal membantu Dera turun dari ranjang.


Keduanya berjalan menuju ruang ICU. Dera melihat Erlan yang sedang berbaring lemah dari lubang kaca yang ada di pintu.


Air mata kembali menetes di pipinya. Ia segera mengusapnya sebelum Rizal melihatnya.


" Menangislah di bahuku! Bagikan rasa sedihmu kepadaku, siapa tahu dengan begitu kesedihanmu akan berkurang." Ujar Rizal.


" Tidak! Terima kasih, bukankah katamu aku harus kuat? Aku akan belajar menjadi kuat saat ini, demi Mas Erlan." Ucap Dera.


" Aku salut dengan ketegaranmu." Ujar Rizal.


" Ya Tuhan.... Selamatkan suamiku, bantu dia melewati masa kritisnya, kembalikan dia di sampingku seperti sebelumnya, aku sangat mencintainya, ku mohon selamatkan suamiku dan berilah dia umur yang panjang ya Rob... Bertahanlah Mas demi aku." Doa Dera dalam hatinya.


Seorang dokter hendak masuk ke dalam.


" Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" Dera mendekati dokter itu.


" Keadaannya masih sama Nona, Tuan Erlan masih kritis dan bila kondisinya seperti ini terus, maka kemungkinan paling buruk akan terjadi, jadi berdoa saja semoga ada keajaiban dari Tuhan untuk Tuan Erlan, Nona." Terang dokter.


" Lakukan yang terbaik untuk suami saya Dok." Ucap Dera lesu.


" Kami pasti akan melakukannya Nona, kalau begitu saya akan memeriksa Tuan Erlan dulu, semoga ada keajaiban dari Tuhan, semoga beliau sudah melewati masa kritisnya." Ucap Dokter masuk ke dalam.


Dera kembali menangis membayangkan kemungkinan buruk yang bisa di alami Erlan.


Rizal memeluk Dera yang memang saat ini membutuhkan dukungan darinya.


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Erlan akan tiada atau sadar?


Tekan like koment vote dan hadiahnya biar Erlan semangat melawan mautnya ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author Semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2