
Qiran menuruni anak tangga menghampiri Bimo yang sedang memasak di dapur.
" Harusnya Mas tidak usah repot repot masak, biar aku saja!" Ujar Qiran duduk di kursi.
" Tidak pa pa sayang, khusus hari ini biar Mas yang memasaknya." Sahut Bimo.
" Mas aku ada undangan party nanti malam, aku ke sana ya." Ujar Qiran.
" Party apa sayang?" Tanya Bimo menatap Qiran.
" Ulang tahun Bella." Sahut Qiran.
" Kalau nggak kesana gimana."
" Dia udah undang aku masa' aku nggak ke sana, kan nggak enak Mas." Ujar Qiran.
" Baiklah kesananya sama Mas." Ucap Bimo.
" Emangnya Mas mau nemenin aku? Entar Mas bosan lagi di sana, kan acara remaja remaja gitu Mas." Qiran menatap Bimo.
" Tidak sayang... Apapun akan Mas lakukan untukmu termasuk menikmati kebosanan karena menunggumu." Sahut Bimo.
" Tapi mereka tidak tahu kalau aku sudah menikah Mas, mereka pasti akan menganggap Mas sebagai om ku." Ujar Qiran.
" Tidak pa pa, biarkan Mas menjadi ommu malam ini, kau tidak perlu memberitahu mereka." Sahut Bimo kukuh.
" Baiklah terserah Mas saja." Sahut Qiran pasrah.
Selesai memasak Bimo menyajikan makanannya di meja. Qiran segera mengisi piring Bimo lalu mengisi piringnya sendiri.
" Kalau Mas merencanakan bulan madu, kira kira mau bulan madu kemana?" Bimo menatap Qiran.
" Aku nggak mau bulan madu Mas, Mas kan tahu kalau aku paling malas kemana mana." Sahut Qiran.
" Iya Mas lupa, kita bulan madu ala rumahan aja, kita habiskan waktu di dalam kamar selama satu minggu, gimana?" Tanya Bimo memberikan tawaran.
" Busyet lama amat satu minggu Mas, terus selama satu minggu itu kitak akan kemana mana? Udah ah nggak usah aneh aneh, jalani saja kehidupan seperti biasanya, nggak bulan madu juga kita bisa begituan kok." Ujar Qiran.
" Iya deh sayang, Mas nurut aja sama kamu. Kita begituan setiap pagi dan malam ya." Sahut Bimo mengerlingkan matanya.
" Hmm penginnya Mas, akunya yang nggak kuat Mas." Sahut Qiran.
Bimo tersenyum menatap Qiran.
Selesai sarapan Bimo berangkat ke kantornya sedangkan Qiran kembali ke kamarnya.
...----------------...
Jam tujuh malam Qiran dan Bimo bersiap ke pesta Bella yang di selenggarakan di ballroom sebuah hotel ternama.
Setelah sampai di sana, Bimo segera menggandeng tangan Qiran masuk ke dalam. Suasana pesta nampak ramai. Qiran menghampiri Bella yang berada di depan sana.
" Happy birthday Bell, semoga panjang umur." Qiran memeluk Bella.
" Terima kasih." Sahut Bella.
Bella menatap sinis tangan Qiran yang mengapit lengan Bimo.
" Lo keliatan mesra sekali sama om lo." Cibir Bella.
" Kenapa? Emang nggak boleh?" Tanya Qiran menatap Bella.
" Lo ada main sama om lo sendiri? Apa nggak ada pria lain gitu? Menjijikkan!" Cebik Bella.
" Terserah gue donk mau main sama siapa aja, bukan urusan lo kan, mending lo urusin pesta lo ini sebelum gue menghancurkannya." Ucap Qiran dengan penuh arti membuat Bella bungkam.
" Bolehkah aku menikmati pestanya?" Tanya Qiran sedikit menyindir.
" Oh silahkan! Aku akan mengirimkan minuman untukmu." Sahut Bella.
" Terima kasih." Sahut Qiran.
Qiran dan Bimo mencari meja yang masih kosong. Tak lama setelah itu seorang pelayan menghampirinya.
__ADS_1
" Nona ini minumannya." Ucap pelayan memberikan segelas jus anggur kepada Qiran.
Qiran memperhatikan sekitar mencari meja yang biasanya tersaji minuman, namun ia tidak menemukannya.
" Minuman tidak tersedia di meja Nona, makanya kami yang mengantarkannya, apa anda mau memesan makanannya? Biar kami buatkan lebih dulu." Ujarnya.
" Tidak, terima kasih." Sahut Qiran.
" Baiklah Nona kalau begitu saya permisi, selamat menikmati pestanya." Sahutnya berlalu meninggalkan keduanya.
" Pesta apa? Pesta yang aneh, masa' makanan sama minuman harus pesan dulu, seperti di cafe aja." Ujar Qiran.
" Mungkin memang seperti ini konsep yang Bella mau sayang." Sahut Bimo.
" Kita pulang aja Mas! Bosan aku di sini." Ujar Qiran.
" Kenapa malah kamu yang bosan? Padahal tadi kamu berpikir Mas yang akan bosan." Kekeh Bimo.
" Udah ah ayo! Mending kita makan malam di resto." Ajak Qiran.
Qiran dan Bimo beranjak dari kursinya tanpa menyentuh minumannya.
" Hai Qiran!" Sapa seorang pria mendekati Qiran.
Qiran menatapnya dengan seksama.
" Kau... " Qiran mencoba berpikir.
" Aku Gio, kekasih masa SMP." Ujar Gio.
Qiran melirik Bimo yang nampak terkejut.
" Hai Om." Sapa Gio.
" Hmm." Gumam Bimo.
" Nikmati pestanya bersamaku Qi, tinggalkan ommu di sini."
" Eh jangan main tarik tarik gitu donk." Ucap Qiran.
" Siapa Gi?" Tanya Riski, salah satu teman Gio.
" Cewek gue bro." Sahut Gio dengan bangga.
" Apaan sih!" Qiran menepis tangan Gio.
" Wih.. Galak juga Gi." Ujar Putra.
" Galak galak jinak bro." Sahut Gio.
" Siapa namamu nona cantik?" Tanya Riski.
" Qirani." Sahut Gio.
" Dengar ya! Gue bukan pacar Gio, dia hanya ngasal aja, mana main tarik tarik tangan gue lagi." Ujar Qiran.
Qiran hendak melangkah namun dengan cepat kilat Gio menariknya hingga tubuhnya bersandar di meja. Gio mencium bibir Qiran dengan rakus. Semua orang menatap tak percaya ke arahnya.
Bimo yang tidak terima istrinya di lecehkan langsung mendatangi Gio. Ia menarik kasar punggung Gio lalu..
Bugh... Bugh.. Bugh...
Bimo memukuli Gio dengan membabi buta.
" Mas hentikan! Dia akan mati." Teriak Qiran.
Bimo tidak mengindahkan teriakan Qiran. Ia tetap memukuli wajah Gio.
Bugh... Bugh...
" Mas sudah!" Qiran memegangi tangan Bimo.
" Ku mohon hentikan ini demi aku!" Sambung Qiran.
__ADS_1
" Kalau bukan karena Qiran, lo udah mati di tangan gue." Bentak Bimo.
Teman teman Gio membantunya berdiri. Darah segar mengalir dari pipi dan sudut bibirnya.
" Apa apaan ini Qiran! Kau mengacaukan pestaku." Teriak Bella.
" Bukan aku, tapi dia!" Qiran menunjuk wajah Gio.
Bella menatap Gio yang dalam kondisi berantakan.
" Astaga sayang kau kenapa?" Bella hendak menyentuh pipi Gio.
" Apaan sih." Gio menepis tangan Bella.
" Dan ingat! Jangan panggil gue sayang karena gue bukan siapa siapa lo, dasar cewek murahan!" Cebik Gio.
Bella merasa malu dengan ucapan Gio. Untuk mengalihkan semua itu Bella menatap Bimo dengan tajam.
" Kenapa om memukuli pacarku hah?" Tanya Bella.
" Dia telah melecehkan istriku."
Jawaban Bimo membuat semua orang melongo.
" Istrimu? Siapa istrimu?" Tanya Bella.
" Qiran, Qiran istriku dan dia mencium paksa istriku di depan orang banyak, aku tidak terima." Tekan Bimo.
" Qitan istrimu? Jadi kalian sudah menikah?" Bella terkekeh mendengar berita ini.
" Wow Qiran... Ternyata kau menikahi ommu sendiri ha ha ha apa kau tidak laku? Atau kau memang senang dengan pesona om om yang sudah tua." Cibir Bella.
" Memangnya kenapa dengan om om? Justru mereka lebih hot daripada yang muda, kaleng kaleng." Sahut Qiran.
Qiran mendekati Gio. Ia menatap tajam ke arahnya lalu...
Plak....
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Gio.
" Qiran." Gumam Gio menyentuh pipinya yang terasa panas.
" Siapa lo berani beraninya nyium gue? Dasar laki laki brengsek!" Umpat Qiran.
Bugh...
Qiran meninju perut Gio. Ia menggenggam tangan Bimo melangkah menuju pintu keluar.
" Sial banget sih gue hari ini!" Umpat Qiran.
Qiran menuju wastafel yang ada di luar gedung. Ia membasuh bibirnya berkali kali. Bahkan ia menggosoknya sampai merah.
" Sayang jangan menyakiti bibirmu!" Ucap Bimo.
" Aku ingin menghilangkan jejaknya Mas, aku nggak sudi ada jejak pria brengsek itu di bibirku." Sahut Qiran.
" Bukan begitu caranya." Ujar Bimo.
" Lalu?" Qiran menatap Bimo.
Bimo menangkup wajah Qiran. Ia memajukan wajahnya lalu mencium bibir Qiran dengan lembut. Ia tidak peduli dengan tatapan orang orang di sana.
Setelah merasa jejaknya sudah hilang, Bimo melepas pagutannya. Qiran menubruk Bimo menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Bimo.
Bimo merangkul pundak Qiran menuju mobilnya tanpa melihat tatapan orang orang yang berlalu lalang di sana. Setelah masuk mobil Bimo segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Selalu tekan like untuk mendukung karya author...
Terima kasih untuk readers yang telah mensupport author semoga sehat selalu....
Miss U All...
TBC.....
__ADS_1