Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Bulan Madu


__ADS_3

Pagi ini Dera sedang menyiapkan sarapan untuk Erlan. Tiba tiba Erlan memeluknya dari belakang membuat Dera terkejut.


" Mas... Kamu membuatku terkejut tahu nggak sih!" Ujar Dera.


" Ya maaf sayang, aku memang sengaja mengagetkanmu." Ujar Erlan mencium pipi Dera.


" Nakal kamu ya." Dera mencubit perut Erlan.


" Awh sakit sayang." Keluh Erlan.


" Makanya jangan suka usil Mas! Udah ah lepasin! Aku mau masak." Ujar Dera.


" Aku bantu ya." Erlan melepas pelukannya.


" Emangnya bisa?" Dera menatap Erlan.


" Emangnya kamu pikir selama ini siapa yang masak? Aku masak untuk diriku sendiri sayang." Ujar Erlan.


" Aku pikir kamu beli Mas." Sahut Dera.


" Enggak, sini aku bantuin." Erlan membantu Dera memotong daging ayam.


Sedangkan Dera menyiapkan bumbunya. Tiga puluh menit rica rica ayam sama ayam lada hitam telah tersaji di meja makan. Mereka makan dengan sedikit berbincang.


" Besok kita akan pergi bulan madu pagi pagi sekali, jadi mulai berkemaslah, kita akan di sana selama tiga hari." Ucap Erlan.


" Iya Mas." Sahut Dera.


" Apa kau yakin hanya ingin pergi ke puncak saja? Kamu tidak ingin ke pulau B atau ke luar negeri sekalian gitu? Banyak lho tempat tempat yang asyik untuk berbulan madu di luar negeri, seperti Paris misalnya." Erlan menatap Dera.


" Tidak Mas, aku ingin ke puncak saja, suasana di sana sangat mendukung kan untuk bulan madu kita?" Dera mengerlingkan matanya ke arah Erlan.


" Kamu mulai bisa menggodaku ya." Erlan mencubit pelan hidung Dera.


" Kamu suka kan kalau aku pintar menggoda?" Tanya Dera.


" Suka, tapi hanya menggoda aku bukan yang lainnya." Sahut Erlan.


" Ya iyalah Mas, masa' aku mau menggoda pria lain, yang ada nanti kamu marah marah sama aku." Ujar Dera.


" Tentu donk, aku akan memotong leher pria yang kau goda itu sampai putus." Ancam Erlan.


" Ngeri sekali! Aku nggak bisa bayangkan bagaimana kau akan me....


Erlan membungkam mulut Dera dengan bibirnya. Ia mencium bibir Dera dengan lembut. Ia menahan tengkuk Dera memperdalam ciumannya. Dera membalas ciuman Erlan membuat suara decapan memenuhi dapur mereka.


Setelah keduanya kehabisan nafas, Erlan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Dera dengan jempolnya.


" Terima kasih sudah memberiku semangat di pagi hari dengan vitamin B." Ucap Erlan.


" Vitamin B?" Dera mengerutkan keningnya.


" Bibirmu." Kekeh Erlan membuat Dera tersenyum.


" Aku berangkat dulu sayang, kamu hati hati di rumah, kalau ada apa apa langsung telepon aku ya." Erlan mencium kening Dera.


" Hati hati Mas." Sahut Erlan.

__ADS_1


" Iya sayang." Erlan pergi meninggalkan Dera.


Dera menatap kepergiannya sambil tersenyum.


" Aku tidak menyangka jika aku akan hidup bersama pria lain selain kamu Mas Revan, semoga Mas Erlan tidak akan mengkhianati cintaku, dan semoga kebahagiaan ini akan kekal selamanya." Monolog Dera.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Erlan melajukan mobilnya menuju puncak yang ada di kota B. Tiga jam perjalanan mereka sampai di villa yang di sewa oleh Erlan.


Mereka masuk ke dalam lalu menuju kamarnya.


" Biarkan aku yang menatanya Mas." Ucap Dera saat Erlan hendak memasukkan baju bajunya ke almari.


" Aku akan membantumu sayang." Ujar Erlan.


Keduanya menata pakaian di almari bersama. Terkadang Erlan sangat jahil, ia menggelitik pinggang Dera hingga baju yang Dera pegang jatuh berantakan. Keduanya melewati waktu berdua dengan candaan yang membuat keduanya merasa bahagia saling memiliki.


" Setelah ini kita jalan jalan atau mau tiduran aja di ranjang?" Tanya Erlan.


" Penginnya sih jalan jalan, tapi sepertinya cuacanya tidak mendukung, seperti mau turun hujan." Ujar Dera.


" Alam mendukung kita untuk di dalam kamar saja menghabiskan waktu berdua, mencetak Erlan junior." Erlan merangkul pundak Dera.


" Baiklah Mas, sesuai tujuan kita ke sini, bulan madu... Mari kita habiskan waktu berdua di sini." Sahut Dera mencium pipi Erlan.


" Kau mulai berani agresif sayang." Ucap Erlan.


" Nggak apa sama suami sendiri." Sahut Dera.


Erlan menggandeng Dera menuju ranjang. Ia mendorong Dera dengan pelan, lalu menindih tubuh Dera.


" Aku siap menerima semuanya Mas." Sahit Dera.


Erlan memulai permainan dengan mencium bibir Dera, ia memagut lembut bibir yang membuatnya candu. Suara decapan memenuhi kamar mereka.


Dera mendesis saat ciuman Erlan turun ke leher. Ia mencetak beberapa tatto merah di sana. Tangannya meremas salah satu gundukan kembar milik Dera membuat Dera mendes*** membangkitkan gairah Erlan.


" Kamu memang candu untukku sayang, aku selalu ingin menghabiskan waktu bersamamu." Erlan mencium kening Dera.


Erlan membuka penutup tubuh Dera membuat Dera nampak polos tanpa sehelai benang pun, ia memainkan dua gundukan kembar dengan lidahnya.


" Shh Massss." Desis Dera.


Lagi lagi Erlan membuatnya tak berdaya karena di buai oleh kenikmatan surga dunia.


" Awh Mas..." Lirih Dera saat Erlan memasukkan anakan anaconda ke kandangnya dengan sempurna.


Erlan kembali menghujani Dera dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Suara desa*** dan erangan membuktikan perjuangan mereka untuk mencapai puncak nirwana.


Setelah keduanya sama sama sampai di puncaknya, tubuh Erlan tumbang di samping Dera.


" Sayang milikmu seperti milik seorang gadis, membuatku tidak mau berhenti melakukannya." Ujar Erlan.


" Emangnya kamu pernah menyentuh gadis begitu?" Selidik Dera mengatur nafasnya yang masih terdengar ngos ngosan.


" Ya enggak lah! Tapi aku bisa merasakan kalau milikmu tidak jauh berbeda dari yang masih tersegel." Sahut Erlan.

__ADS_1


" Itu karena aku menjaga dan merawatnya Mas." Ucap Dera.


" Terima kasih sayang." Ucap Erlan.


Keduanya terlelap ke alam mimpi saling berpelukan. Apalagi cuaca memang sangat mendukung untuk tetap berada di balik selimut. Suasana dinginnya puncak di tambah hujan deras yang mengguyur bumi saat ini sangat menguntungkan bagi mereka berdua.


...****************...


Di hari kedua, Erlan membawa Dera jalan jalan di kawasan kebun teh. Dera sangat takjub dengan pemandangan yang ada.


" Mas kita foto dulu buat kenang kenangan ya." Ujar Dera mengeluarkan ponselnya.


Keduanya berpose mesra di depan kamera. Erlan mencium pipi Dera begitupun sebaliknya.


" Yei bagus juga, aku akan menggunakannya untuk wallpaper di ponselku." Ucap Dera puas dengan hasil jepretannya.


" Untuk profile juga donk sayang." Sahut Erlan.


" Nggak ah malu." Sahut Dera.


" Kenapa malu?" Erlan menatap Dera.


" Aku nggak suka ngumbar kemesraan Mas, nanti kalau kita di timpa masalah mereka yang lihat pasti akan menghujat kita, jadi jangan publikasikan kebahagiaan kita." Ujar Dera.


" Baiklah terserah kau saja, ayo kita jalan lagi." Ajak Erlan.


Kedua kembali berjalan menyusuri perkebunan teh yang terhampar luas. Embun pagi membuat daun teh terlihat basah.


Dera mengedarkan pandangan ke sekitar hingga tatapannya bertemu dengan tatapan seorang pria.


" Rizal." Gumam Dera.


" Siapa sayang? Rizal? Mana dia?" Erlan menatap Dera.


" Itu tadi situ Mas." Dera menunjuk pohon nangka yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


" Mana? Tidak ada?" Erlan celingak celinguk mencari sosok Rizal namun tidak ada.


" Mau apa Rizal ke sini? Mungkin kamu salah lihat aja sayang." Ujar Erlan.


" Mungkin Mas, tapi kalau benar Rizal, aku takut dia akan berbuat macam macam sama kita Mas." Dera mengapit lengan Erlan.


" Tidak perlu takut sayang! Ada aku di sini." Ucap Erlan.


" Tapi aku tetap takut Mas, aku takut dia akan berbuat sesuatu padamu di sini, apalagi di sini kan sepi." Ujar Dera.


" Ya sudah kalau kamu takut, kita kembali aja ke villa." Ujar Erlan. Dera menganggukkan kepalanya.


Erlan menggandeng tangan Dera kembali ke villa.


" Aku yakin kalau tadi itu benar Rizal, mau apa dia ke sini? Apa dia mau berbuat sesuatu kepada kami? Ya Tuhan tolong lindungilah kami." Doa Dera dalam hati.


Nongol lagi si Rizal, kira kira mau ngapain ya?


Tekan like koment vite dan 🌹nya buat author biar author makin semangat...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2