
Qiran sedang ingin memasak di dapur, namun ia tidak tahu apa apa karena selama ini ia tidak pernah memasak, kecuali masak mie instant dan menggoreng telur saja, itupun kadang kadang gosong.
Karena selama ini Bimo melarangnya mendekati kompor, alasannya berbahaya. Alhasil Qiran tidak tahu urusan dapur.
Ia berjalan mondar mandir sambil menggigit jarinya, satu tangannya berada di pinggangnya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Bimo menghampirinya.
" Aku mau masak, tapi aku nggak tahu mau masak apa." Sahut Qiran.
" Memangnya kamu bisa masak apa?" Canda Bimo menaik turun alisnya. Bimo tahu betul kalau Qiran tidak bisa memasak.
" Ih kamu Mas." Qiran memukul pelan dada Bimo.
Nyesss....
Hati Bimo seperti tersiram es mendengar panggilan ' Mas' dari Qiran.
Bimo menangkap tangan Qiran, keduanya saling melempar pandangan.
" Mas?" Bimo mengerutkan keningnya.
" Iya Mas, kenapa?" Qiran mengalungkan tangannya ke leher Bimo.
" Kamu sekarang suamiku kan? Bukan Om ku lagi?"
Bimo menganggukkan kepalanya.
" Jadi mulai sekarang aku akan memanggilmu Mas, aku tidak mau nanti orang orang berpikir aku menjadi simpanan om om saat jalan bersamamu kalau aku masih memanggilmu Om." Ujar Qiran.
" Baiklah, Mas senang dengan panggilan itu, bahkan sangat senang." Ucap Bimo tersenyum.
" Apa yang aku dapatkan setelah membuat Mas senang?" Tanya Qiran.
" Mas akan memasak makanan untukmu." Sahut Bimo.
" Aaaa terima kasih Mas Bimo." Qiran mengerlingkan matanya.
Bimo mengacak rambut Qiran. Qiran menjauhkan tangannya dari Bimo.
" Kamu mau makan apa?" Tanya Bimo.
" Makan apa aja lah Mas, yang penting kenyang." Sahut Qiran duduk di kursi.
" Kalau begitu bantu Mas meracik sayurannya!" Bimo memberikan pisau dan wortel kepada Qiran.
" Ok." Sahut Qiran.
Qiran mulai mengupas wortel lalu ia mencucinya. Setelah di cuci ia segera memotongnya. Sedangkan Bimo membuat bumbunya. Ia akan memasak capcay basah untuk sarapan.
Kres....
" Awh." Pekik Qiran melemparkan pisaunya.
" Kenapa sayang?" Bimo menghampiri Qiran dengan cemas.
Qiran menunjukkan telunjuknya yang berdarah.
" Astaga sayang... Maafkan Mas!" Bimo menarik tangan Qiran menuju wastafel. Ia mengucuri telunjuk Qiran dengan air mengalir.
" Duduk sini! Mas akan ambil plester buat kamu."
Bimo segera mengambil handplast dari kotak p3k.
" Sini sayang!" Ucap Bimo menarik tangan Qiran. Ia segera memakaikan handplastnya.
" Pasti sakit banget ya?" Tanya Bimo menatap Qiran.
__ADS_1
" Sakit... " Rengek Qiran.
" Maafkan Mas sayang! Mas sangat menyesal telah memintamu membantu Mas, Mas tidak akan memintamu memegang pisau lagi, biarkan Mas yang menyelesaikan semuanya! Kamu duduk aja di sini, atau mau tiduran di kamar saja?" Bimo mengelus kepala Qiran.
" Tidak pa pa Mas, aku di sini saja mau lihatin Mas masak, biar aku bisa masak nantinya." Sahut Qiran.
" Baiklah." Sahut Bimo.
" Mas masak apa sih? Kok ada sayuran ada baksonya juga." Ujar Qiran.
" Mas masak capcay sayur sayang, seperti yang suka kau makan itu." Ujar Bimo.
" Owh, baru tahu aku." Ucap Qiran.
" Nanti makan yang banyak ya! Biar sehat!" Ucap Qiran.
" Siap Mas!!" Sahut Qiran.
Qiran melihat Bimo memasak, entah mengapa setiap gerakan Bimo terlihat ***** di mata Qiran. Qiran tersenyum bahagia.
Selesai memasak, Bimo menata makanan ke meja makan.
" Silahkan makan sayang!" Ucap Bimo.
" Suapi." Ucap Qiran.
" Baiklah." Sahut Bimo.
Bimo menyuapi Qiran dengan telaten, sesekali tatapan mereka bertemu. Bimo nampak sangat bahagia. Hidupnya terasa mendapat jackpot bisa memiliki Qiran seutuhnya.
Drt... Drt....
Ponsel Qiran berdering panggilan masuk dari Satria. Ia menatap Bimo begitupun sebaliknya.
" Siapa sayang?" Tanya Bimo.
" Satria Mas." Sahut Qiran.
Qiran mengangkat panggilannya.
" Halo."
" Halo Qi, kamu dimana? Aku dengar kamu berhenti kuliah kenapa?" Tanya Satria.
Qiran menatap Bimo begitupun sebaliknya. Bimo ingin tahu jawaban apa yang akan Qiran berikan kepada Satria.
Qiran menghela nafasnya.
" Aku sudah menikah Sat."
" Apa?" Pekik Satria.
" Menikah? Kapan kamu menikah? Kamu menikah dengan siapa?" Tanya Satria terkejut.
" Aku menikah kemarin dengan suamiku, kau tidak perlu tahu siapa dia, dan sekarang aku ikut suamiku jadi aku memilih untuk berhenti kuliah." Sahut Qiran.
" Lalu bagaimana dengan aku Qi? Aku mencintaimu, aku ingin hidup bersamamu, kau bahkan tidak menjawab ungkapan cintaku waktu itu, apa tidak ada kesempatan untukku sama sekali? Saat kita bersama kau tidak menceritakan tentang pria manapun, lalu bagaimana kau bisa menikah sekarang, aku yakin kau pasti di jodohkan kan? Kau tidak mencintainya kan? Kalau begitu ayo kita kabur! Aku akan membawamu pergi darinya dan setelah itu kita menikah." Ujar Satria.
Bimo mengepalkan erat tangannya.
" Maafkan aku Sat! Aku tidak bisa menerima cintamu, semoga suatu saat nanti kau mendapatkan wanita yang baik untukmu, ya sudah ya aku sedang sibuk, sekali lagi maaf!" Qiran memutus sambungan teleponnya.
" Apa kamu menyesal menikah dengan Mas?" Selidik Bimo menatap Qiran.
" Tidak! Aku tidak pernah menyesali keputusanku Mas." Sahut Qiran mantap.
" Aku menerima pernikahan ini dengan ikhlas, aku harap Mas tidak akan pernah membuat aku kecewa, kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan segan segan meninggalkanmu." Ancam Qiran.
__ADS_1
" Tentu sayang, Mas berjanji tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kita, Mas sangat mencintaimu." Sahut Bimo mengelus kepala Qiran.
" Mas ayo kita main ke rumah Papa!" Ajak Qiran.
" Kamu ingin ke sana? Apa kamu tidak capek?" Tanya Bimo.
" Tidak! Aku kangen sama mama sama papa, kita ke sana ya." Ujar Qiran.
" Baiklah ayo." Sahut Bimo.
" Aku bersiap dulu." Ujar Qiran kembali ke kamarnya.
Bimo duduk di atas mobil sambil menunggu Qiran selesai bersiap.
Tak lama Qiran keluar dari rumah menghampirinya.
" Sudah siap tuan putri?" Canda Bimo.
" Sudah Mas." Sahut Qiran.
Setelah masuk ke dalam mobil, keduanya menuju rumah Erlan. Tiga puluh menit, Bimo menghentikan mobilnya di halaman rumah Erlan. Ia menggandeng tangan Qiran masuk ke dalam rumah.
" Assalamu'alaikum." Ucap Bimo dan Qiran bersamaan.
Mereka menghampiri Erlan dan Dera dk ruang keluarga.
" Wa'alaikumsallam sayang, duh roman romannya pengantin baru, cerah bener." Canda Dera.
Qiran mengerucutkan bibirnya, duduk di samping Dera.
" Kenapa manyun gitu hmm?" Dera menatap putrinya.
" Mama sama Papa jahat! Kenapa kalian tidak memberitahuku soal Om Bimo." Ucap Qiran kesal.
" Maafkan Papa sayang, Papa menyembunyikan hal ini karena Papa takut kalau kamu akan menolak pernikahan ini setelah tahu kalau Bimo yang menjadi suamimu, Papa hanya kasihan saja pada Bimo kalau sampai kau menolaknya, dia udah nungguin kamu selama sembilan belas tahun lamanya, masa' iya penantiannya harus sia sia." Ujar Erlan sambil tersenyum.
" Kalian semua jahat sama Qiran, hanya aku yang tidak tahu apa apa di sini, apa Papa tahu? Saat aku bangun tidur, tahu tahu Om Bimo di sampingmu, ya jelas aku kaget lah Pa, aku berpikir kami telah melakukan kesalahan, aku bahkan sampai nangis nangis karena takut suamiku nanti marah, nggak tahunya dia suamiku sendiri." Gerutu Qiran.
" Lagian kamu juga aneh sayang, mana mungkin Bimo melakukan semua itu kalau kalian tidak ada hubungan, selama ini kan Bimo paling anti kalau sama yang namanya wanita." Sahut Erlan.
" Iya juga sih ya Pa." Sahut Qiran menyadari kebodohannya.
" Ah pokoknya Papa sama Mama jahat! Mas Bimo juga." Qiran menatap tajam ke arah Bimo. Ia tidak mau kalah.
Erlan dan Dera saling melempar pandangannya.
" Mas?" Erlan dan Dera mengerutkan keningnya.
" Iya Mas Bimo, ya kali aku memanggilnya dengan Om Bimo, entar yang ada di kirain aku simpanan Om Om." Sahut Qiran.
Dera dan Erlan tersenyum mendengar alasan Qiran.
" Apapun itu yang jelas Mama doakan semoga kalian berdua selalu bahagia, halangan dan rintangan pasti ada, suatu saat masalah pasti akan datang, tapi satu pesan Mama kepadamu Qiran, selesaikan semuanya dengan kepala dingin, jangan pernah mengambil keputusan saat sedang emosi, apa kau mengerti?" Dera mengelus kepala putrinya.
" Iya Ma aku mengerti." Sahut Qiran memeluk mamanya.
" Terima kasih Bos, Dera, kalian telah mempercayakan Qiran kepadaku, aku berjanji akan selalu membuatnya bahagia." Ucap Bimo di balas senyuman oleh Dera dan Erlan.
Akankah Bimo bisa menepati janjinya?
Penasaran konflik apa yang akan mereka hadapi?
Kalau gitu jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...