
Qiran menatap Bimo dengan tajam.
" Katakan apa yang Om lakukan di sini! Dan apa yang terjadi dengan kita Om!" Desak Qiran.
Bimo masih bungkam membuat Qiran berpikir telah terjadi sesuatu yang tidak seharusnya di lakukan oleh mereka berdua. Bukankah tidur bersama dengan pria lain itu sebuah dosa?
" Hiks.... Hiks... " Qiran terisak membuat Bimo panik.
" Sayang jangan menangis!" Bimo menarik Qiran ke dalam pelukannya.
" Lepas! Lepaskan aku! Kau jahat Om! Kau jahat padaku! Bagaimana bisa kau tega melakukan semua ini padaku Om? Kau merendahkan harga diriku sebagai seorang wanita, kau mencuri kesempatan dalam kesempitan, bagaimana aku mengatakan semua ini pada suamiku hiks.. Apa yang akan dia pikirkan tentangku? Dan bagaimana aku akan menghadapinya? Bagaimana aku bisa menghadapi papa dan mama? Hiks.... Kau jahat Om! Aku membencimu." Isak Qiran.
Bimo semakin mengeratkan pelukannya, hatinya mencelos mendengar kalimat kebencian dari Qiran. Ia menciumi pucuk kepala Qiran.
" Sayang tenanglah jangan menangis! Om tidak melakukan apa apa kepadamu, tenanglah! Suamimu tidak akan marah, percayalah pada Om!" Ujar Bimo.
Qiran melepas pelukannya, ia mengusap air matanya lalu menatap Bimo.
" Darimana Om bisa tahu kalau dia tidak akan marah jika melihat kita seperti ini? Semua suami pasti akan marah jika melihat istrinya tidur dengan laki laki lain Om, Apa yang akan kita katakan padanya? Bagaimana kita menjelaskan semua ini?" Tanya Qiran.
" Dia tidak akan marah, percayalah Qiran!" Ucap Bimo.
" Bagaiman Om bisa seyakin itu? Memangnya siapa Om baginya hah?" Tanya Qiran dengan suara meninggi.
" Karena aku suamimu."
Jeduar.....
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Qiran terasa kaku, lidahnya terasa kelu.
" Apa aku salah dengar? Om Bimo suamiku? Ah tidak tidak... Sepertinya aku memang salah mendengar ucapan Om Bimo tadi, aku harus memastikannya." Ujar Qiran dalam hati.
" Apa Om Bilang?" Qiran menatap Bimo.
Bimo mengambil nafas lalu menghembuskannya. Ia takut dengan reaksi Qiran setelah mengetahuinya. Ia takut Qiran akan kabur darinya.
" Iya Qiran, pria yang menikahimu adalah Om sendiri." Sahut Bimo.
__ADS_1
Deg...
Qiran tidak mengerti, apakah ia harus senang atau sedih mengetahui fakta ini.
" Bagaimana bisa ini terjadi padaku? Di saat aku mencoba menjauh darinya justru Tuhan mempersatukan kami dalam pernikahan? Ya Tuhan.... Suratan apa yang coba kau tulis untukku? Tapi aku bersyukur padamu, setidaknya aku hidup bersama pria yang aku cintai dan mencintaiku." Batin Qiran.
" Sayang." Panggil Bimo.
" Kenapa Om menikahiku? Apa karena papa yang memaksa Om?" Selidik Qiran.
" Tidak! Om menikahimu karena Om mencintaimu." Sahut Bimo.
Ada ribuan kupu kupu beterbangan di dalam hati Qiran. Ia tidak menyangka jika ternyata cintanya mendapat sambutan.
" Sejak kapan?" Qiran bertanya lagi seolah sedang mengintrogasi Bimo.
" Sejak kamu belum lahir."
" Apa?" Pekik Qiran membulatkan matanya.
" Bagaimana bisa Om mencintaiku sebelum aku lahir? Jangan bercanda! Karena candaanmu nggak masuk akal Om." Cebik Qiran.
" Setelah papa dan mamamu menikah, Om bilang kepada mereka jika nanti mereka punya anak perempuan, maka Om akan menjadikannya istriku, dan benar saja, Dera melahirkan seorang anak perempuan yaitu dirimu." Ujar Bimo.
" Sejak kamu lahir, Om selalu ada buatmu, Om ikut andil dalam mengurusmu, Om harus menjaga calon istri kecil om kan, itulah sebabnya Om tidak pernah dekat dengan wanita manapun, Om selalu memanjakanmu karena Om ingin kamu bahagia sayang, rasa cinta Om kepadamu ada sejak ada dalam kandungan." Ujar Bimo.
Qiran menatap Bimo tidak percaya. Adakah cinta seperti itu? Bukankah cinta datang dari mata turun ke hati?
" Apa kau tahu? Kau selalu menyusahkan Om saat di dalam kandungan mamamu, kau tidak akan makan kalau tidak Om yang menyuapi nya, kau meminta Om membelikan ini itu, bahkan kau meminta om mengambilkan jambu di belakang rumah, padahal pohon jambu nya sangat tinggi, pokoknya kamu benar benar menyusahkan Om, itu sebabnya Om meminta kamu dari papa dan mamamu untuk menjadi istri Om." Sambung Bimo.
" Oh ceritanya Om mau minta balas budi denganku? Dulu Om yang menjaga dan merawatku sekarang setelah Om sudah tua gantian aku yang mengurus Om, begitu?" Tebak Qiran.
" Tidak sayang, bukan begitu! Yang jelas Om mencintaimu dan ingin hidup bahagia bersamamu." Sahut Bimo.
" Seharusnya mama punya anak perempuan di saat Om berumur enam puluh tahun saja, jadi Om tidak akan menikah sampai kakek kakek ha ha ha." Canda Qiran.
" Kamu tega berbicara seperti itu sama Om." Sahut Bimo.
__ADS_1
" Iya maaf." Ucap Qiran.
" Seperti biasa, Om maafkan sayang." Sahut Bimo.
" Lalu kenapa Om tidak mengatakan kepadaku sebelumnya? Kenapa Om harus menikahiku dengan cara dramatis seperti ini?" Tanya Qiran.
" Karena Om tidak mau mendengar penolakan dari bibirmu, Om takut kamu tidak mau menerima Om sebagai suamimu, Om tidak bisa hidup tanpamu, om tidak mau kehilanganmu sayang." Bimo menciumi punggung tangan Qiran.
" Maukah kau menemani Om sampai ajal menjemput Om? Kau tidak akan pergi kan setelah mengetahui fakta ini?" Bimo menatap Qiran.
Qiran menghela nafasnya pelan.
" Mau gimana lagi Om? Semuanya sudah terlanjur, sekarang kau bukan Om ku lagi melainkan suamiku, jadi mau tidak mau aku harus tetap menemanimu kan? aku harus menghabiskan masa mudaku dengan pria tua sepertimu." Ucap Qiran.
" Terima kasih sayang." Bimo memeluk Qiran.
" Walaupun Om tahu kamu terpaksa menerima semua ini tapi Om berharap suatu saat nanti kau akan membalas perasaan Om, supaya kita bisa membina keluarga kecil yang bahagia, apalagi usia Om yang semakin tua, Om ingin hidup dengan di cintai oleh istri om sendiri." Ucap Bimo.
Qiran sangat paham dengan apa yang di ucapkan Bimo. Bimo menginginkan keturunan dari pernikahan mereka.
" Cintamu sudah lama terbalas Om, tapi aku malu untuk mengakuinya sekarang, biarlah kau menganggapku seperti itu, yang jelas aku akan membuktikan cintaku dengan perbuatan, aku akan selalu berada di sampingmu untuk memberikan cinta dan kebahagiaan untuk dirimu, semoga kita selalu bahagia Om." Ujar Qiran dalam hati.
" Qiran kenapa diam saja?" Tanya Bimo menatap Qiran.
" Iya Om, aku akan berusaha membalas perasaanmu secepatnya." Sahut Qiran.
" Terima kasih sayang." Ucap Bimo kembali memeluk Qiran.
" Rasanya begitu nyaman berada dalam pelukanmu Om, aku sangat bahagia pada akhirnya aku bisa bersatu dengan orang yang aku cintai, terima kasih ya Tuhan kau telah memberikan apa yang aku inginkan, terima kasih ma, pa kalian tahu apa yang aku inginkan tanpa aku mengatakannya." Batin Qiran tersenyum bahagia.
Mau langsung konflik apa bahagia dulu nih?
Tulis di kolom komentar ya?
Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹yang banyak buat author...
Author ucapkan terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....