Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Babby Qiran


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, Dera baru saja melahirkan seorang putri cantik yang ia beri nama Qirani Sasmaya yang artinya cahaya indah di rumah sakit ternama di kota ini. Erlan dan Dera nampak sangat bahagia dengan kehadiran putri kecil mereka.


Itu terbukti dengan Erlan yang sedari tadi menggendong bayi mungilnya, sedangkan Bimo duduk di sofa menanti gilirannya menggendong babby Qiran sambil memainkan ponselnya.


" Bos gantian donk gendongnya, kan aku juga mau gendong princes tercinta." Ujar Bimo.


" Anak gue masih orok Bemo, otak lo mesum sok bawa bawa cinta segala." Sahut Erlan menimang putri kecilnya.


" Ya bukan gitu bos maksud saya, maksud saya itu saya akan menjadikan Qiran princes tercinta, saya akan menuruti apapun permintaannya." Ujar Bimo.


" Jangan terlalu memanjakan dia nanti, aku mau dia tumbuh menjadi gadis mandiri seperti Mamanya." Ucap Erlan menatap Dera. Dera tersenyum kepadanya.


" Kalau bisa kenapa tidak di lakukan bos? Biarkan saya memanjakannya! Setidaknya dia tidak akan merasa hidup sendiri seperti saya yang tidak punya siapa siapa." Sahut Bimo.


" Makanya buruan nikah, biar ada yang nemenin lo, ada yang melayani lo, lo nggak perlu memijat kaki lo sendiri kalau udah nikah." Ujar Erlan.


" Gimana mau nikah kalau calonnya aja masih bayi." Ujar Bimo.


" Emangnya lo beneran mau jadi mantu gue?" Erlan menatap Bimo.


" Saya kalau ngomong nggak pernah bercanda bos." Sahut Bimo.


" Iya tahu, lo kan orangnya kaku plus dingin lagi, gimana nasib anak saya nanti kalau punya suami sepertimu, udah tua, dingin, kaku lagi." Sahut Erlan.


" Aku akan memperlakukannya bagaikan tuan putri dari negeri princes, aku tidak akan membiarkannya mengelus tentang sikapku, aku akan menjadi pria teromantis di dunia ini, pokoknya aku akan membuat nona Qiran bahagia." Sahut Bimo penuh semangat.


" Ya akan gue pegang janji lo, awas aja kalau lo berani ngecewain anak gue, gue pecat lo jadi asisten plus menantu gue." Ujar Erlan.


" Siap bos, yang penting udah dapat restu." Sahut Bimo.


" Udah bos sini gantian." Ujar Bimo.


" Hati hati! Jangan sampai jatuh! Kalau jatuh lo gue pecat." Ucap Erlan memberikan putri kecilnya kepada Bimo.


Dengan hati hati Bimo menggendong babby Qiran.


" Hai princes nya Om, kamu masih kecil tapi udah kelihatan cantiknya sih, besok kalau udah besar Om Bimo pinang jadi istri ya." Ucap Bimo sambil menciumi pipi merah babby Qiran.


" Bener bener gila." Ucap Erlan.


Bimo tidak menggubris nya, ia asyik bermain dengan babby Qiran. Sedangkan Erlan duduk di kursi samping ranjang.


Erlan menggenggam tangan Dera yang masih berbaring lemah di atas ranjang.


" Terima kasih sayang sudah berjuang untuk kami, kami mencintaimu." Erlan mencium punggung tangan Dera.


" Iya Mas, aku juga berterima kasih atas kebahagiaan ini, tanpamu semua ini tidak ada artinya, kau lah pencipta kebahagiaan dalam hidupku, kau mau menerimaku apa adanya tanpa memandang statusku, aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu." Ucap Dera.


" Semoga keluarga kita selalu bahagia sayang." Ujar Erlan.

__ADS_1


" Amin." Sahut Dera.


Dera dan Erlan menatap Bimo yang sedang menggendong babby Qiran. Mereka nampak tersenyum melihat Bimo begitu menyayangi Qiran.


Tok tok


Pintu di ketuk dari luar, Erlan segera membukanya.


Ceklek....


" Revan, Aulia, silahkan masuk." Ucap Erlan memberikan jalan pada keduanya.


" Terima kasih bos." Sahut Revan.


Keduanya masuk menghampiri Dera.


" Selamat Mbak Dera, semoga putri Mbak Dera menjadi anak sholehah, dan berbakti kepada kedua orang tua." Ucap Aulia.


" Amin, terima kasih kalian sudah repot repot ke sini." Ucap Dera.


" Tidak repot kok Mbak, siapa nama putrimu Mbak?" Tanya Aulia.


" Qirani Sasmaya, panggilannya Qiran." Sahut Dera.


" Nama yang bagus dan tersirat makna indah di dalamnya." Ujar Aulia.


Aulia menatap Revan yang di balas senyuman olehnya.


" Gimana? Sudah ada kabar baik belum?" Dera bertanya lagi.


" Alhamdulillah sudah Mbak, aku baru periksa dan kata dokter kehamilan ku memasuki enam minggu." Sahut Aulia.


" Wah berarti benih Mas Revan top care donk, kalian nggak usah nunggu lama, Tuhan langsung memberikan keinginan kalian, selamat untuk kalian berdua, semoga sehat dan lancar saat persalinan." Ucap Dera.


" Amin." Sahut Aulia dan Revan bersamaan.


" Aku ucapkan selamat Mas kau akan menjadi seorang ayah." Ucap Dera.


" Terima kasih Dera." Ucap Revan.


" Bolehkah aku menggendongnya?" Tanya Aulia.


" Eh tidak boleh sayang, kau sedang hamil muda jadi kau tidak boleh membawa sesuatu yang berat, aku tidak mau kalau kamu sampai kenapa napa." Sahut Revan.


" Mas tapi aku...


" Menurut lah sayang!" Sahut Revan memotong ucapan Aulia.


" Baiklah." Sahut Aulia.

__ADS_1


" Selamat Bro, sebentar lagi kau akan menimang bayi mungil seperti putriku, tinggal milikmu laki laki atau perempuan." Ucap Erlan.


" Terima kasih bos, mau laki laki ataupun perempuan yang penting sehat." Sahut Revan.


" Itu memang yang utama Van, sekarang wanita pun bisa menjadi pemimpin, jadi jangan terobsesi dengan anak laki laki seperti zaman dulu." Ujar Erlan.


" Iya." Sahut Revan.


Para lelaki mengobrol di sofa, sedangkan Aulia dan Dera mengobrol di ranjang.


" Sepertinya Mas Revan sangat menyayangimu." Ucap Dera.


Aulia menatap Dera dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Jangan salah paham! Aku bahagia melihat Mas Revan hidup bahagia denganmu, kami sama sama tidak punya keluarga, jadi aku bisa merasakan betapa sedihnya hidup sendirian, aku pernah merasakannya saat Mas Revan mengkhianatiku." Ujar Dera.


" Aku mohon sama kamu Aulia, jangan pernah berpikiran negatif terhadap hubunganku dan Mas Revan saat ini, kami hanya menganggap satu sama lain saudara, tidak lebih." Sambung Dera.


" Jujur Mbak, terkadang aku merasa takut dengan kedekatan kalian walaupun hanya sebagai keluarga, aku takut Mas Revan kembali mencintaimu, apalagi mengingat masa lalunya yang pernah tergoda dengan wanita lain." Ucap Aulia.


Dera mengerutkan keningnya.


" Tapi aku selalu melawan rasa takut itu dan pasrah kepada Allah, entah sampai kapan Mas Revan akan mencintaiku." Ujar Aulia.


" Sampai aku tiada sayang." Tiba tiba Revan mengalungkan tangannya ke leher Aulia dari belakang.


" Buang jauh jauh rasa takutmu itu! Karena semua itu tidak akan terjadi, di hatiku hanya akan ada namamu dan anak anak kita, perasaanku pada Dera sudah berganti menjadi perasaan yang ingin mensuport sebagai keluarga saja, itulah yang aku rasakan sayang." Ujar Revan.


" Terima kasih Mas, maaf sudah meragukanmu." Ucap Aulia.


" Tidak masalah sayang, karena apa yang timbul dalam hati biasanya tidak kita rencanakan, yang jelas percayalah padaku, semakin kau mempercayaiku maka semakin kuat pula cintaku kepadamu." Sahut Revan.


" Sekarang sudah jelas Aulia, kita semua bersaudara jadi jangan sampai ada perasaan yang bisa menghancurkan hubungan kekeluargaan ini." Ucap Dera.


" Iya Mbak." Sahut Aulia merasa lega.


Mereka kembali mengobrol, kali ini mereka membicarakan seputar kehamilan dan cara mengurus bayi yang benar. Mereka terlihat sama sama bahagia.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat author biar author makin semangat...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Author bawa cerita baru lhoh...


Menceritakan tentang kisah orang ke tiga namun bukan pelakor, penasaran nggak?


Intip dan dukung juga ya... Author tunggu kalian semua di sana....


__ADS_1


__ADS_2