Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Salah Sebut


__ADS_3

Malam ini Revan sedang makan malam bersama Aulia. Ia mengerutkan keningnya saat melihat menu sederhana yang di masak oleh istrinya.


Tumis ayam cabai hijau, sambal goreng cabai hijau, Udang pedas cabai hijau dan sayur daun singkong di lengkapi dengan cabai hijau juga.


" Sayang kenapa masakannya pakai cabai hijau semua? Aku....


" Kenapa? Kamu nggak suka? Kalau nggak suka ya udah aku buang aja." Sahut Aulia memotong ucapan Revan.


Aulia beranjak hendak membereskan makanan, namun Revan segera menahannya.


" Tidak sayang, aku suka kok, kita makan ya." Ujar Revan.


Aulia mengambilkan makanan untuk Revan, setelah itu ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Aulia makan sambil melirik ke arah Revan. Ia tersenyum smirk saat melihat Revan memasukkan makanan ke mulutnya sambil memejamkan matanya.


" Kau akan terbiasa dengan semua ini Mas, aku akan menghilangkan kebiasaanmu bersama mbak Dera supaya kau bisa melupakannya." Gumam Aulia dalam hatinya.


" Ini kebetulan apa hari apes ku ya? Kenapa Aulia memasak masakan yang tidak aku sukai? Kalau nggak di makan pasti dia akan marah dan kecewa.. Kalau di makan, gimana cara aku memakannya? Sedangkan aku paling nggak doyan cabai hijau.... Semoga rasanya enak dan perutku bisa menerimanya." Batin Revan.


Revan mengunyah makanannya. Ia tersenyum saat mendapati rasa lezat dalam masakan Aulia.


" Hmm aku tidak menyangka rasanya selezat ini, memang pintar memasak istriku ini, sepertinya dia chef handal." Batin Revan.


Setelah makan malam. Revan dan Aulia masuk ke dalam kamarnya.


" Mandilah Mas! Aku sudah siapkan air hangat dan baju gantinya." Ucap Aulia.


" Iya, terima kasih sayang." Ucap Revan yang di balas senyuman oleh Aulia.


Revan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mandi, ia memakai baju gantinya. Lagi lagi Revan mengerutkan keningnya. Pasalnya Aulia menyiapkan kaos oblong berwarna hitam dan celana boxer berwarna hitam juga.


" Sayang kamu membeli baju dan celana baru untukku?" Tanya Revan.


" Iya, aku suka warna hitam jadi mulai sekarang semua baju dan kemeja yang akan kau pakai berwarna hitam." Sahut Aulia.


" Apa?" Pekik Revan.


Aulia menghampiri Revan yang hanya memakai handuk saja.


" Kenapa? Kamu tidak suka? Kalau tidak suka aku akan mengembalikan semua baju yang aku beli ke butiknya, kau bisa membeli dan memilih sendiri baju yang kamu suka." Ujar Aulia.


" Ah tidak sayang, walaupun aku kurang suka baju berwarna hitam, tapi aku akan memakai apapun yang kamu belikan, siapa tahu kalau aku memakai baju hitam aku akan kelihatan tambah keren." Ucap Revan.


" Mungkin saja, sekarang pakailah! Kau telah menodai mataku dengan handuk kecilmu itu." Ujar Aulia.


Revan kembali masuk ke kamar mandi. Ia memakai baju dan celana yang di pilihkan oleh Aulia.

__ADS_1


" Keren juga, kalau tahu sekeren ini dari dulu aku pakai baju berwarna hitam saja, seleranya memang benar benar bagus." Ucap Revan memutar tubuhnya di depan cermin.


Ceklek....


Revan keluar dari kamar mandi, Aulia menatap Revan sambil melongo.


" Ganteng banget suami gue... Walaupun udah duda tapi tidak kalah sama yang single." Batin Aulia.


" Lap encesnya sayang." Ucap Revan.


Aulia mengusap bibirnya membuat Revan terkekeh.


" Kamu bohongi aku!" Cebik Aulia.


" Iya maaf." Ucap Revan.


" Kamu ganteng juga Mas pakai baju hitam, tidak sia sia aku membelikanmu baju warna hitam seperti ini." Ujar Aulia dengan mata berbinar.


" Iya donk! Suaminya siapa dulu.... " Revan menjeda ucapannya.


" Dera.... "


Deg....


Jantung Aulia terasa nyeri mendengar Revan menyebut nama Dera. Hatinya mencelos, ucapan Revan membuat Aulia sadar jika di hati Revan masih ada nama Dera dengan jelas.


" Ah maaf sayang aku salah ucap, maksudku suaminya Aulia." Ucap Revan setelah menyadari kesalahannya.


Aulia masuk ke dalam kamar mandi. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu.


" Kenapa rasanya sesakit ini mendengar Mas Revan mengucap nama mbak Dera, bukankah aku memberinya waktu selama satu bulan? Ini baru sehari kenapa aku merasa ingin sekali menuntut Mas Revan melupakan mbak Dera? Sadar Aulia... Kau tidak boleh egois, kau juga harus memahami perasaan suamimu, bukankah dia sudah berusaha jujur kepadamu, ya Allah mohon ampuni aku yang serakah ingin memiliki Mas Revan sendiri, jika Mas Revan di takdirkan untukku maka jagalah dia untukku ya Rob, jika bukan maka bantu aku untuk mengikhlaskannya, semuanya aku serahkan padamu ya Rob karena aku tahu semua ini hanya titipan." Monolog Aulia mengusap air matanya.


Setelah merasa lebih tenang, Aulia membasuh mukanya. Ia keluar kamar mandi lalu naik ke atas ranjang. Revan menatap ke arahnya.


" Sayang maafkan aku, aku benar benar tidak sadar dengan apa yang aku ucapkan, maafkan aku yang telah menyakiti perasaanmu." Ucap Revan.


" Its ok Mas." Sahut Aulia berbaring memunggungi Revan.


" Kau tidur menggunakan hijab? Apa kau tidak panas? Apa kau tidak berniat menampakkan auratmu kepada suamimu? " Tanya Revan.


" Tidak Mas! Aku nyaman seperti ini." Sahut Aulia.


" Baiklah senyamanmu saja, aku tidak akan memaksa." Sahut Revan.


Revan berbaring memeluk Aulia dari belakang. Aulia memejamkan matanya menahan emosi di dalam hatinya.


" Aku tahu kau menangis tadi di dalam kamar mandi, maafkan aku!" Ucap Revan mencium pucuk kepala Aulia.

__ADS_1


Aulia tidak bergeming.


" Jika kau merasa tersakiti kau bilang saja padaku, aku akan memperbaiki diriku agar aku tidak menyakitimu lagi." Ujar Revan.


" Tidak ada seorang istri yang rela suaminya menyebut nama wanita lain Mas, walaupun itu mantan istrinya, tapi tidak masalah aku memahamimu, biarkan rasa ini aku yang menanggungnya, sekarang sudah malam kau tidurlah! Besok kau harus bekerja lagi kan? Selamat malam." Ucap Aulia.


" Selamat malam sayang, semoga mimpi indah! Maafkan aku." Ucap Revan.


Keduanya memejamkan mata menuju alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Dera sedang menyiapkan pakaian untuk Erlan. Tiba tiba Erlan memeluknya dari belakang.


Grep....


" Mas kamu bikin aku kaget saja." Ucap Dera.


" Maaf sayang!" Sahut Erlan.


" Udah selesai mandinya? Cepat amat! Aku aja baru mau mengambil baju ganti kamu Mas." Ujar Dera.


" Sepertinya kamu yang lama deh Yank." Ujar Erlan melepas pelukannya.


Dera menatap Erlan.


" Iya kau benar Mas, perutku bertambah besar jadi aku mulai susah untuk bergerak cepat, punggungku juga sering terasa pegal, itu sebabnya aku lama mengerjakan segala sesuatunya." Ucap Dera.


" Astaga sayang maafkan aku, aku tidak tahu kalau aku begitu merepotkanmu, mulai sekarang kau tidak perlu menyiapkan baju untukku, aku akan mengambilnya sendiri, kau tidak boleh kecapekan, kau duduk manis aja di sini karena aku tidak mau sampai kamu kenapa napa." Ucap Erlan menuntun Dera ke tepi ranjang.


Erlan duduk berlutut di depan Dera. Ia mengusap perut buncit milik Dera.


" Sayangnya Papa, maafkan Papa ya yang telah menyusahkan kamu dan Mama kamu, Papa tidak menyadari kesusahan Mamamu sayang, sehat sehat di dalam sini, kita akan segera bertemu." Ucap Erlan mencium perut Dera.


" Tidak apa Mas, itu sudah menjadi kewajibanku untuk melayanimu." Ujar Dera.


" Kau istriku bukan pelayananku sayang, kau bisa melakukan semua itu setelah anak kita besar nanti, jadi mulai sekarang biarkan aku belajar mandiri." Ucap Erlan memakai bajunya.


Dera tersenyum bahagia memiliki Erlan yang sangat menyayanginya.


" Semoga kita selalu bahagia bersama Mas, aku sangat bersyukur bisa memilikimu sebagai pendamping hidupku." Ujar Dera dalam hati.


Udah double up nih....


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All....


TBC....


__ADS_2