
Lovely melajukan mobilnya menuju kantor William dengan kecepatan tinggi. Ia tidak mau sampai terlambat sampai di sana.
Setelah memarkir mobilnya Lovely segera berlari menuju ruangan William.
Brak...
Lovely membuka kasar pintunya, ia menetralkan nafasnya yang ngos ngos an.
" Sayang kenapa kamu berlari seperti itu hmm?" William menghampiri Lovely.
" Liam aku mohon jangan hancurkan perusahaan Sam! Banyak karyawan yang bergantung di sana." Ucap Lovely menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
" Aku ingin balas dendam pada Sam, bukan pada orang lain ataupun kedua orang tuanya, aku mohon!" Sambung Lovely menatap Liam penuh harap.
" Kau mengkhianatiku! Kau mulai berpaling dariku, itu sebabnya beberapa minggu ini kau menghindariku." Ucap William menatap Lovely.
" Tidak ada yang berubah Liam. Aku tetap Lovely yang dulu, Lovelymu, milikmu, bukan milik orang lain." Ucap Lovely.
" Kau mulai pandai berbohong Love, aku bisa merasakan jika kau mulai menjauh dariku." Ujar William.
" Maafkan aku! Aku akui kalau aku memang menghindarimu, Sam mulai mendekati aku saat ini. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini Li, rencanaku hampir berhasil. Tinggal menunggu sedikit waktu saja, aku harap kamu bisa mengerti keadaanku saat ini." Ucap Lovely.
" Aku tidak percaya denganmu lagi Love." Ucap William.
Lovely menghela nafasnya pelan. Ia melingkatkan tanganya ke leher William.
" Dengan cara apa supaya kau bisa percaya padaku?" Tanya Lovely.
" Aku mau itu! Jika kau bisa memberikannya sekarang juga maka aku akan mempercayaimu sepenuhnya sampai kapan pun." Ucap William.
Lovely nampak sedikit berpikir.
" Baiklah! Lakukan apa yang kau mau, kepercayaanmu lebih berarti daripada hidupku sendiri." Ucap Lovely membuat William terkejut. Ia tidak menyangka jika Lovely akan memberikannya.
" Apa kau yakin? Kau sedang tidak membohongiku kan?" Selidik William.
" Aku yakin, lakukanlah!" Sahut Lovely.
William menuntun Lovely ke ruang pribadinya. Ia mendorong pelan Lovely di atas ranjang lalu mengukungnya.
" Kau tidak akan menyesal?" William mengelus pipi Lovely.
" Tidak." Sahut Lovely.
" Aku tidak bercanda sayang, kali ini aku akan benar benar melakukannya." Ucap William tidak mau Lovely sampai menyesali keputusannya.
" Aku juga tidak bercanda Liam, aku milikmu dan hidupku ini juga milikmu. Kau berhak melakukan apapun padaku." Sahut Lovely.
" Baiklah aku akan melakukannya." Ucap William.
William mencium bibir Lovely dengan lembut. Tangannya bergerilya kemana mana. Ia meremas salah satu gunung kembar milik Lovely membuat Lovely mendesis.
__ADS_1
" Shh Liam.."
Ciuman William turun ke leher Lovely. Ia memainkan lidahnya di sana. Sesekali ia menyesapnya dengan pelan tanpa meninggalkan jejak merah.
Tangan William membuka kancing kemeja Lovely satu persatu hingga menampakan bagian dada yang nampak begitu menggoda. William menatapnya tanpa berkedip, Lovely menatap Liam lalu keduanya saling melemparkan tatapan.
William menyatukan kening mereka sejenak. Debaran detak jantung keduanya sangat kencang, nafas mereka terlihat memburu.
" Aku akan memberikan semua ini kepada Liam, dia sudah banyak berbuat untukku, tidak masalah kan aku memberikannya sekarang, kami juga akan segera menikah setelah aku berpisah dari Sam." Batin Lovely.
" Kau sudah membuktikannya Love, aku tidak mungkin melukai harga dirimu dengan merenggut kesucianmu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak akan melakukan hal yang membuatmu merasa di rendahkan. Aku mencintaimu sayang." Batin William mencium kening Lovely.
William kembali mengancingkan baju Lovely membuat Lovely mengerutkan keningnya.
" Kenapa kau tidak melakukannya?" Tanya Lovely.
" Kau tahu pasti alasannya sayang."
Lovely tersenyum mendengar ucapan William Inilah yang membuat Lovely jatuh hati pada William dan siap memberikan seluruh hidupnya untuk William. Kasih sayang William nyata no kaleng kaleng. Ia bisa melakukan apapun demi membuat Lovely tersenyum bahagia.
" Aku percaya padamu sayang, aku percaya kau tidak akan mengkhianatiku, karena tidak ada alasan untuk mengkhianatiku bukan?" William mengecup bibir Lovely.
" Iya." Lovely menganggukkan kepalanya.
" Sekarang aku tidak akan ikut menawar tender itu, tapi sebagai gantinya aku ingin tidur sambil memelukmu. Akhir akhir ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, aku selalu memikirkanmu sayang. Apa kau mau memeluk aku?" William menatap Lovely penuh harap.
" Baiklah aku akan memelukmu." Ucap Lovely.
" Kasihan sekali kamu Liam, kamu begitu takut kehilangan aku yang bukan siapa siapa ini. Kau bisa mendapatkan wanita manapun dengan kekuasaan dan kekayaan yang kau miliki, tapi kau lebih memilih aku. Aku berjanji tidak akan pernah mengkhianatimu, kau segalanya bagiku, aku mencintaimu." Ucap Lovely mencium kening William.
Sambil menunggu William tidur, Lovely duduk bersandar sambil memainkan ponselnya.
" Engh... " Lenguh William.
" Sayang jangan tinggalkan aku! Jangan kembali mencintainya! Kau hanya milikku! Aku tidak bisa hidup tanpamu sayang... Aku mohon Love, jangan tinggalkan aku!" Racau William di alam bawah sadarnya.
" Liam bangunlah!" Lovely mengusap keringat yang menetes di dahi William.
" William bangunlah sayang!" Ucap Lovely menepuk pelan pipi William.
" Lovely!" William beranjak duduk seketika.
" Liam aku di sini!" Ucap Lovely.
" Sayang." William memeluk Lovely dengan erat seolah tidak mau kehilangannya.
" Tenanglah! Aku di sini. Aku tidak akan meninggalkan pria sebaik dirimu demi pria yang telah menghinaku dan membuatku sakit hati." Lovely mengelus punggung William.
" Aku takut kehilanganmu sayang! Hiks.. Aku takut." Ucap William cemas.
" Badan kamu panas Li." Lovely melepas pelukannya. Ia meletakkan punggung tangannya pada dahi William yang terasa panas.
__ADS_1
" Kau harus minum obat! Kalau tidak sakitmu akan tambah parah." Ujar Lovely.
Liam menganggukkan kepalanya.
" Kau bila obatnya dulu." Lovely turun dari ranjang menuju kotak p3k.
Ia juga menelepin OB untuk membawakan makanan ke atas.
Sepuluh menit OB datang membawakan sepiring nasi goreng. Lovely segera menyuapi William dengan telaten.
" Kamu juga harus makan sayang." Ujar William mengambil sendok dari tangan Lovely.
" A'" William menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulut Lovely.
Lovely menerimanya. Keduanya makan saling suap suapan. Setelah selesai, Lovely memberikan obat pada William.
" Sekarang tidur lagi ya! Aku akan menemanimu di sini." Ucap Lovely naik ke atas ranjang.
" Jangan tinggalkan aku! Aku akan mengantarmu setelah aku bangun nanti." Ucap William menggenggam tangan Lovely.
" Baiklah aku tidak akan pergi, sekarang tidurlah biar nanti bangun bangun demammu sudah sembuh." Ujar Lovely.
William menganggukkan kepalanya, ia kembali tidur setelah meminum obatnya.
Sore hari William sudah mendingan, demamnya sudah turun. Ia mengantar Lovely ke rumahnya, sebenarnya Lovely menolaknya. Ia takut Sam mencurigainya namun William terus memaksa. Tidak mau membuat William banyak pikiran akhirnya ia menyetujuinya.
Sesampainya di jalan depan rumah Sam, William turun dari mobil Lovely. Ia masuk ke dalam mobil yang di bawa asistentnya.
" Hati hati!" Ucap Lovely yang di balas anggukan kepala oleh Lovely.
Lovely memarkirkan mobilnya di garasi. Ia turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumahnya tiba tiba...
" Darimana saja kau?"
Lovely menatap Sam yang saat ini berdiri di depannya.
" Aku dari rumah teman." Kilah Lovely.
" Aku melihat William turun dari mobilmu, apa dia yang kau sebut teman? Sejak kapan kalian saling kenal? Apa kalian punya hubungan sehingga dia mengantamu sampai ke rumah?"
" *Mati aku... Kenapa Sam harus melihatnya sih.. Aku harus jawab apa ya... "
Jawab apa nih?
Jangan lupa like koment vote dan kasih 🌹 yang banyak buat author...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC*...
__ADS_1