
Dera bangun dari tidurnya. Ia memunguti pakaiannya lalu bergegas menuju kamar mandi. Selesai mandi ia keluar dari ruangan Erlan.
" Kemana Mas Erlan ya? Kok kosong." Ujar Dera.
Dera melihat jam yang melingkar di tangannya.
" Jam satu lagi, aku harus ke cafe... Ya udah lah nanti aku telepon aja Mas Erlannya." Gumam Dera keluar ruangan Erlan.
Ia meninggalkan kantor Erlan tanpa memberitahu siapapun. Ia masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya menuju cafenya.
Tiga puluh menit Dera sampai di cafenya. Ia di sambut oleh Deon.
" Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dera menatap Deon.
" Ada satu perusahaan yang memakai jasa cathering kita dalam porsi yang sangat besar, bayangkan Dera, sepuluh ribu porsi... Terus dia baru bayar DP dua puluh persen, sekarang dia membatalkannya secara sepihak, padahal kita sudah beli semua bahan bahannya, terus mau di kemanain sepuluh ribu porsi itu Dera, kita rugi besar." Ujar Deon.
" Siapa yang meminta DP dua puluh persen?" Selidik Dera.
" Lusi." Sahut Deon.
" Suruh Lusi ke ruanganku." Titah Dera.
Di dalam ruangan Dera menatap tajam ke arah Lusi.
" Bagaimana kamu bisa se ceroboh ini? Apa aku pernh mengajarkanmu meminta DP dia puluh persen? Apalagi dalam partai besar seperti itu? Jawab!" Bentak Dera.
Lusi berjingkrak kaget.
" Maafkan saya Nona." Ucap Lusi.
" Enak sekali kau meminta maaf! Apa kau akan menanggung semua kerugian kafe ini? Sampai berapa lama kau akan menggunakan seluruh gajimu untuk melunasinya? Bayangkan saja! Satu porsi seratus ribu, lalu berapa uang yang di habiskan untuk sepuluh ribu porsi?" Tanya Dera menatap tajam ke arah Lusi.
" Maafkan saya Nona." Ucap Lusi.
" Saya tidak menerima kata maafmu, sekarang kau kembali ke perusahaan itu lalu minta ganti rugi yang mereka sebabkan." Ucap Dera.
" Ba... Baik Nona." Sahut Lusi beranjak dari kursinya.
" Tunggu Lusi! Memangnya perusahaan mana yang berani membatalkan pesanannya?" Dera menatap Lusi.
" EP Group, Nona." Sahut Lusi.
" Apa?" Pekik Lusi.
" EP Group? Siapa yang bertransaksi denganmu?" Dera bertanya lagi.
" Pak Bima." Sahut Lusi.
" Oh ternyata lo mau main main sama gue Bang, lihat aja! Gue akan kuras seluruh kantong lo buat bayar kerugian yang gue alami." Batin Dera.
" Apa sebelumnya kau ada masalah dengannya? Pernah bertemu sebelum dia memesan makanan itu misalnya." Ucap Dera.
Lusi mencoba mengingat pertemuan pertamanya dengan Bimo.
__ADS_1
Flash Back On
Lusi yang sedang terburu buru menuju cafe, mengayuh sepedanya dengan tenaga full di jalanan kota. Karena kurangnya konsentrasi, ia tidak melihat Bimo yang sedang berjongkok membenarkan tali sepatunya.
" Awas!!!!" Teriak Lusi.
Namun naas tiba tiba....
Brak....
Ban sepeda Lusi bagian depan menabrak punggung Bimo hingga keduanya jatuh tertimpa sepeda.
" Awh." Pekik Bimo dan Lusi bersamaan.
" Awh sakitnya.... Lo punya mata nggak sih! Orang segede gini main tabrak aja." Kesal Bimo.
Brak...
Bimo mendorong sepeda Lusi, lalu ia bangun menatap tajam ke arah Lusi.
" Lo harus tanggung jawab! Kasih gue duit buat pijat punggung gue yang bengkok akibat kecerobohan lo ini." Ucap Bimo.
" Duit?" Lusi mengerutkan keningnya.
" Iya duit, uang, apa lo nggak tahu yang namanya duit?" Bimo menatap Lusi yang masih duduk di aspalan.
" Setidaknya tolongin dulu Bang, baru minta tanggung jawab." Ujar Lusi mengukurkan tangannya.
" Ogah! Lo kerja dimana?" Bimo memperhatikan seragam yang di pakai Lusi.
Bimo segera meninggalkan Lusi yang menatapnya sambil melongo.
" Kok ada ya orang yang tidak peduli dengan orang lain sepertinya, hah soal sekali aku pagi ini! Tapi tidak apa, mending dia pergi dari pada minta duit sama gue." Ujar Lusi beranjak.
Ia kembali mengayuh sepedanya menuju cafe. Sesampaibya di cafe, ia langsung masuk ke dalam. Alangkah terkejutnya Lusi saat melihat Bimo sedang duduk di dalam sambil menatapnya.
" Kamu lagi? Mau ngapain kamu ke sini?" Tanya Lusi.
" Apa begini cara menyambut pelanggan? Atau perlu aku adukan sikapmu ini kepada bosmu." Ujar Bimo.
" Ah maaf, maaf." Sahut Lusi duduk di depan Bimo.
" Apa yang bisa saya bantu, pak?" Lusi menatap Bimo.
" Aku ingin memesan makanan dalam jumlah banyak." Ucap Bimo.
" Berapa porsi dan paket yang mana? Mau paket satu, dua atau tiga?" Tanya Lusi menunjukkan buku menu.
" Paket satu, sepuluh ribu porsi." Ucap Bimo.
" Apa? Sepuluh ribu porsi? Anda beneran mau memesannya atau hanya mengerjai saya karena insiden tadi?" Selidik Lusi.
" Aku ke sini atas perintah bos saya, EP Group, dan ini DP untuk membayarnya, dua puluh persen." Bimo meletakkan setumpuk uang sebagai DP.
__ADS_1
" Kirimkan lusa ke perusahaan kami, Terima kasih." Bimo meninggalkan Lusi begitu saja.
" Siapa nama anda tuan?" Tanya Lusi menghentikan langkah Bimo.
" Bima." Sahut Bimo melanjutkan langkahnya.
Flash back off.
" Begitu Nona Dera, saya mohon maafkan saya, karena kecerobohan saya cafe ini jadi rugi besar." Ujar Lusi.
" Tidak apa! Kita tidak akan rugi, tetap kirimkan semua menu itu ke perusahaan EP Group." Ucap Dera.
" Tapi Nona, pak Bima kan sudah membatalkannya." Ujar Lusi.
" Bosnya Bima adalah suami saya, biarkan suami saya yang membayarnya dengan memotong gaji Bimo." Sahut Dera membuat Lusi melotot.
" Apa? Anda istri dari CEO perusahaan besar?" Tanya Lusi tidak percaya. Ia tidak tahu karena ia karyawan yang baru masuk satu minggu ini.
" Iya, lanjutkan pekerjaan kalian, aku akan mengurus Bimo." Ucap Dera meninggalkan cafe nya.
Dera melajukan mobilnya menuju kantor Erlan kembali. Sesampainya di sana, ia segera berjalan menuju ruangan Bimo.
" Bang." Panggil Dera menghampiri Bimo yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Ya, ada apa Nona?" Tanya Bimo tanpa menoleh ke arah Dera.
" Mau menagih uang pesanan sepuluh ribu porsi makanan." Tekan Dera.
Bimo langsung berjingkrak kaget. Ia menatap Dera lalu menampilkan senyuman terbaiknya.
" He he, kan udah aku batalin! Lagian udah aku kasih DP dua puluh persen juga." Ujar Bimo.
" Nggak bisa membatalkan secara sepihak Bang! Kalau kamu nggak mau melunasinya maka aku akan menjodohkanmu dengan Lusi, pegawai yang kau kerjai itu." Dera menaik turunkan alisnya.
" Nggak mau! Orang aku mau nunggu anak kaku kok." Ujar Bimo.
" Bayar!" Dera melumahkan tangannya ke depan Bimo.
" Nggak ada duit sebanyak itu, Nona Dera." Ucap Bimo.
" Minta bosmu Bang, kan kamu bisa nyicil tiap bulan, kalau nggak mau aku akan memberitahu Mas Erlan kalau kamu membuat cafe ku bangkrut, dan aku akan memintanya melamarkan Lusi untukmu, gimana?" Dera menatap Bimo.
" Nggak! Nggak mau! Baiklah nanti aku akan pinjam ke bos Erlan." Sahut Bimo.
" Nah gitu donk! Jadi laki itu harus bertanggung jawab! Jangan cuma jawab doank tapi nggak mau nanggung." Ujar Dera.
" Lusa akan aku kirim ke sini." Sambung Dera.
" Lalu buat apa makanan sebanyak itu Nona Dera?" Tanya Bimo.
" Bagikan ke karyawan lah, aku pergi." Sahut Dera keluar ruangan Bimo.
" Hah nasib nasib.... Alamat satu tahun nggak nerima gaji." Keluh Bimo menepuk jidatnya.
__ADS_1
TBC....