
Di sebuah restoran ternama Qiran dan Abrisam duduk berhadapan sambil memakan pesanannya.
" Kenapa kamu bisa menikahi om Bimo Qi?" Abrisam menatap Qiran.
" Karena aku mencintainya Sam." Sahut Qiran.
" Saat mama mengabariku aku sangat terkejut, bagaimana bisa kau menikahi ommu sendiri? Walaupun kau bilang kau mencintai Om Bimo, tapi aku sama sekali tidak percaya padamu Qi." Ujar Abrisam.
" Aku tidak menuntut kepercayaanmu Sam, aku menjawab pertanyaanmu karena aku menghargaimu sebagai temanku saja." Sahut Qiran.
" Baiklah maafkan aku! Aku hanya bisa berdoa semoga kau selalu bahagia Qi, jika kau tidak bahagia berlarilah ke arahku! Aku akan membebaskanmu darinya." Ujar Abrisam.
" Itu tidak mungkin terjadi, karena Om Bimo sangat menyayangiku Sam, kau tahu pasti akan hal itu." Qiran menatap Abrisam.
Abrisam menganggukkan kepalanya.
Keduanya melanjutkan makan dengan khidmat, sesekali Abrisam mencuri pandang ke arah Qiran.
" Aku yakin kau pasti bohong kalau kau mencintai om Bimo, seandainya aku bisa mengungkapkan perasaanku padamu Qi, sayangnya aku tidak punya keberanian untuk mengatakan hal itu karena papa selalu bilang kalau kita saudara, kita tidak akan pernah bisa bersatu selamanya." Batin Abrisam.
Selesai makan mereka jalan jalan di taman kota melihat indahnya malam.
Di tempat lain,
Di dalam kamar Qiran, Bimo nampak berdiri di balkon dengan cemas. Ia berjalan mondar mandir sambil sesekali melihat jam mewah yang melingkar di tangannya.
" Ckk! Kapan mereka akan pulang sih? Sudah jam setengah sembilan juga belum pulang pulang." Gerutu Bimo.
" Apa saja yang sebenarnya mereka lakukan di sana? Masa' cuma makan aja lama banget, atau jangan jangan mereka lanjut jalan jalan ya? Aku susul aja kali ya.. Mungkin mereka sedang di taman kota."
Bimo segera turun ke bawah. Ia melajukan mobilnya menuju taman kota.
Dan benar saja, Bimo melihat Qiran sedang duduk berdua dengan Abrisam. Keduanya nampak tertawa bahagia.
" Kurang ajar! Aku di rumah cemas menunggu princess pulang dengan kelaparan, mereka malah tertawa bahagia di sini, benar benar menjengkelkan." Kesal Bimo mengepalkan tangannya.
Bimo terus mengawasi keduanya sampai pada Abrisam terlihat hendak mencium Qiran. Bimo tidak terima, ia turun dari mobil lalu menghampiri mereka.
" Qiran." Teriak Bimo.
Abrisam dan Qiran menoleh ke arah Bimo.
" Apa yang kalian lakukan hah? Kalian mau berciuman di tempat terbuka seperti ini?"
Qiran melongo membuka sedikit mulutnya mendengar ucapan Bimo.
" Ngomong apa sih Mas? Siapa yang mau berciuman?" Qiran berdiri di depan Bimo.
__ADS_1
" Lha itu barusan, Mas lihat Abrisam mau mencium kamu." Ujar Bimo.
" Kamu salah paham Mas, Sam meniup mataku yang kelilipan, ya kali kami ciuman di tempat ini, kalau niat mah di dalam mobil juga bisa, aman malahan nggak ada yang lihat."
Kali Bimo yang melongo, ia menarik tangan Qiran menuju mobilnya.
" Om tunggu Om! Lepasin Qiran!" Ucapan Abrisam menghentikan langkah Bimo.
" Qiran istriku, jadi jangan campuri urusan kami! Biarkan Qiran pulang bersama suaminya, kau pulang saja sekarang, bocil tidak boleh keluyuran malam malam begini." Ujar Bimo.
" Kalau gitu Om predator donk! Karena om menikah sama bocil, umur aku dan Qiran kan sama." Ejek Abrisam berlalu dari sana.
" Dasar bocah kurang ajar!" Umpat Bimo.
" Ha ha ha ha." Qiran tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa lepas di depan Bimo.
" Kenapa tertawa sayang? Apa kamu senang kalau suamimu di ejek sama dia?" Selidik Bimo.
" Ucapan Sam memang benar Mas, Mas memang menikah dengan bocil kan." Qiran masuk ke dalam mobilnya.
Bimo mengacak kasar rambutnya.
Bimo melajukan mobilnya menuju rumah, sampai di tengah tengah perjalanan tiba tiba mobilnya mati.
" Kenapa mobilnya mogok Mas? Apa kau lupa menservisnya?" Tanya Qiran.
Bimo menatap Qiran lalu tersenyum memamerkan deretan giginya.
" Apa?" Pekik Qiran.
" Bagaimana bisa bensinnya bisa habis sih Mas? Apa Mas tidak mengeceknya lebih dulu? Kalau begini terus gimana? Padahal pom bensin masih jauh dari sini." Gerutu Qiran.
" Mas akan mendorong mobilnya, kamu duduk di sini!" Sahut Bimo.
" What? Mendorong? Astaga... Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tatapan orang sorang kepada kita Mas? Mobil semewah ini harus di dorong karena kehabisan bensin? Oh my god... Seumur umur baru kali ini aku mengalami hal ini, tahu gini tadi aku pulang sama Sam aja." Omel Qiran.
" Sabar sayang! Jadikan ini sebagai kenangan terindah untuk kita berdua." Ujar Bimo.
" Kenangan mengenaskan lha iya." Sahut Qiran cemberut. Bimo keluar dari mobil.
Qiran duduk di kursi kemudi sedangkan Bimo mendorong mobilnya. Mobil bergerak dengan pelan membuat Qiran menjadi emosi sendiri. Lebih tepatnya Qiran emosi karena malu. Mereka menjadi tontonan para pengendara lainnya.
" Hah baru kali ini ada orang mendorong mobil mewah karena kehabisan bensin, benar benar konyol." Ucap Qiran.
Lima ratus meter mereka sampai di pom bensin. Pengisian segera di lakukan sampai full tank.
" Sayang." Bimo mengetuk kaca mobil.
__ADS_1
" Apa?" Qiran menatap Bimo.
" Bayar!" Ucap Bimo.
" Apa? Mas... Aku memang mengambil alih hartamu tapi kau tidak semiskin itu kan? Kau masih memegang semua kartumu, aku tidak memblokirnya lhoh." Ucap Qiran membuat petugas SPBU tersenyum.
" Iya sayang Mas tahu, tapi sayangnya Mas lupa membawa dompet Mas sayang." Ucap Bimo nyengir kuda.
" Astaga!" Qiran menepuk jidatnya.
" Ini nih efek sudah tua jadi sudah mulai pikun." Ucap Qiran.
" Maaf sayang, Mas tadi terburu buru perginya." Ujar Bimo.
" Ya udah berapa Mas?" Qiran menatap petugas SPBU.
" Enam ratus ribu Nona." Sahutnya.
Qiran membuka tas selempang nya lalu memberikan uang enam lembar seratusan.
" Terima kasih Nona, semoga perjalanan anda menyenangkan." Ucapnya.
" Sama sama."
Tanpa membuang waktu Qiran segera melajukan mobilnya tanpa menunggu Bimo masuk ke dalam.
" Sayang tunggu!" Bimo berlari mengejar mobilnya.
" Rasain kamu Mas! Benar benar bikin malu deh!" Qiran tersenyum smirk sambil terus melajukan mobilnya.
" Bodo' amat kamu mau mikir gimana Mas? Kamu mau marah juga nggak apa, salah sendiri bikin aku kesal plus malu lagi."
Bimo berjalan sambil mengusap keringatnya. Ia merutuki kesialan dalam hidupnya hari ini.
" Sial banget sih gue! Belum juga baikan udah bikin princess marah lagi, hah aku harus jalan sampai rumah, mana tidak ada taksi yang melintas lagi, sepi banget... Ya Tuhan... Tolong aku! Kirimkan orang baik untuk membantuku, aku tidak sanggup berjalan sampai rumah dalam keadaan kelaparan seperti ini, ini masih jauh sekali ya Tuhan... Masa' iya aku harus berjalan sampai tiga kilometer, auto kaki gue bisa patah sampai rumah." Monolog Bimo sambil terus berjalan.
Bimo melihat sekitar, tatapannya tertuju pada rumah sakit. Ia tersenyum smirk saat menemukan ide yang bagus untuk membuat Qiran menyesali perbuatannya yang telah meninggalkan Bimo begitu saja.
" Mas akan membuatmu bertanggung jawab akan hal ini sayang, tunggu kejutan yang akan Mas berikan kepadamu." Ujar Bimo dalam hati.
*Kira kira kejutan apa ya?
Penasaran?
Tekan like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC*...