
Bimo menatap Qiran tidak percaya.
" Apa ini sayang?" Bimo mengerutkan keningnya.
" Baca saja!" Sahut Qiran.
" Setelah di baca segera di tanda tangani." Sambung Qiran.
Bimo membaca dan memahami isi dari dokumen yang di berikan Qiran padanya.
" Apa ini berarti sekarang Mas sudah tidak punya apa apa lagi?" Tanya Bimo menatap Qiran.
" Kenapa? Apa kau takut? Memangnya kau bekerja untuk siapa?" Qiran bersedekap dada menatap Bimo.
" Untukmu." Sahut Bimo.
" Lalu kenapa kau keberatan menandatanganinya? Tidak ada bedanya kan? Kau bekerja juga tidak memegang uang karena semua gajimu kau berikan padaku. Yang jelas ini semua jaminan agar kau tidak macam macam lagi, mulai sekarang semua yang kau milikku adalah milikku, jadi.... Saat kau mengkhianati aku, aku akan menendangmu jauh jauh dari hidupku dan kau akan menjadi tunawisma karena kau sudah tidak punya punya apa apa lagi." Ucap Qiran.
" Lalu bagaimana jika Mas membutuhkan sesuatu?" Tanya Bimo.
" Kau bisa memintanya padaku Om, ribet amat!" Cebik Qiran.
" Dan bagaimana jika kau yang meninggalkan Mas?" Bimo kembali bertanya.
" Selama kau tidak mengkhianati pernikahan ini, maka aku pastikan aku tidak akan pernah meninggalkanmu, jika sampai itu terjadi maka aku akan mengembalikan semua milikmu." Sahut Qiran.
Tidak ada pergerakan dari Bimo membuat Qiran geram.
" Ya sudah tidak perlu di tandangani! Aku akan mengirim dokumen yang lain saja kepadamu." Ucap Qiran merebut dokumen itu.
" Dokumen apalagi sayang?" Tanya Bimo.
" DOKUMEN PERPISAHAN." Tekan Qiran.
" Akan aku tanda tangani." Bimo kembali merebut dokumen dari tangan Qiran dengan cepat lalu ia membubuhkan tanda tangan di sana.
Dokumen pengalihan seluruh harta yang Bimo miliki baik sekarang ataupun nanti resmi menjadi milik Qirani Sasmaya.
Qiran tersenyum melihat Bimo menandatanginya. Ternyata Bimo lebih memilih dirinya daripada hartanya.
" Sudah sayang, apapun akan Mas berikan untukmu! Jangankan seluruh harta Mas, jika pun kau meminta nyawa Mas, akan Mas berikan." Ucap Bimo memberikan dokumen itu kepada Qiran kembali.
" Mulai sekarang berhati hatilah dalam melangkah atau pun mengambil keputusan Mas! Sekali kau salah melangkah kau akan menanggung akibatnya, kau akan terlunta lunta di jalanan karena kau susah tidak punya apa apa lagi, apalagi usiamu sudah semakin tua, jadi pikirkan setiap langkah yang akan kau tempuh, kau paham kan Mas Bimo tersayang." Ucap Qiran mengerlingkan matanya.
" Mas paham sayang, berarti kau sudah memaafkan Mas kan?" Tanya Bimo memastikan.
" Baiklah aku memaafkan dirimu, kau masih suamiku." Sahut Qiran.
" Ter..." Bimo hendak maju mendekati Qiran namun Qiran terburu menutup pintunya.
Brak...
__ADS_1
" Eh sayang tunggu." Bimo menghela nafasnya pelan.
" Hah Mas tidak pernah membayangkan semua ini akan terjadi." Bimo menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau istri kecilnya secerdik ini.
" Inilah pelajaran untukmu Mas, lain kali kau akan berpikir dia kali untuk melakukan sesuatu hal yang membuatku marah." Qiran membanting tubuhnya di atas ranjang.
Bimo kembali ke ruang tamu dengan lesu menghampiri Dera dan Erlan.
" Kenapa lesu begitu Bim? Apa Qiran belum memaafkanmu?" Tanya Erlan.
" Entahlah bos! Aku juga tidak tahu, aku lesu karena sepertinya princess masih marah padaku, padahal baru saja aku berikan semua milikku kepadanya." Sahut Bimo.
Jawaban Bimo membuat Dera dan Erlan mengerutkan keningnya.
" Princess berhasil membuatku menandatangani dokumen pengalihan harta milikku menjadi atas namanya, sekarang aku sudah tidak punya apa apa lagi, bahkan uang seribu rupiah sekalipun karena semuanya milik princess sekarang." Sambung Bimo.
Kali ini jawaban Bimo membuat kedua mertuanya menahan tawa.
Bimo menatap mereka berdua.
" Tertawalah tidak usah di tahan!"
" Ha ha ha." Dera dan Erlan tertawa mendengar ucapan Bimo. Mereka juga tidak menyangka kalau putrinya memiliki akal licik seperti ini kepada suaminya sendiri.
" Ckk kalian memang tidak punya perasaan, menantu lagi sedih malah di ketawain." Lirih Bimo.
" Ya sudah nggak usah bersedih! Ikhlaskan semuanya! Biasanya kau akan memberikan semua yang Qiran minta kenapa sekarang kau bersedih gitu? Apa karena Maya? Kau ingin membiayai hidupnya begitu?" Tanya Erlan.
Erlan kembali tertawa, bahkan saat ini ia tertawa terbahak bahak sambil memegangi perutnya.
" Udah Mas jangan ketawa terus, kasihan Bang Bimo." Ujar Dera.
" Aku tidak menyangka aja sayang, pria tua seperti Bimo mau aja di kadalin sama anak ingusan seperti Qiran, mamp*s lah kau Bimo! Kau tidak bisa berbuat apa apa setelah ini, bahkan buat beli bensin aja lo harus minta sama istri lo, benar benar menyedihkan." Sahut Erlan.
" Yang sabar Bang, nanti lama lama juga Qiran akan luluh, dia anak yang baik kok." Sahut Dera.
" Iya." Sahut Bimo.
" Ternyata putriku cerdik juga, dia tidak mau kamu sampai selingkuh darinya, itu sebabnya kau di buat miskin olehnya, ha ha ha Bimo... Bimo... Ngenes amat hidup lo." Ejek Erlan.
Dera menggelengkan kepalanya.
" Tapi tidak apa bos, dengan mengambil alih semua hartaku itu berarti princess tidak akan pernah meninggalkan aku, berarti kami akan selalu hidup bersama selamanya, aaaa.... Aku rela memberikan apapun asalkan princess selalu bersamaku, aku yakin seiring berjalannya waktu princess pasti akan membalas cintaku, kami akan bahagia bersama anak anak kami nanti." Ujar Bimo tersenyum senang.
Dera dan Erlan menggelengkan kepalanya.
...****************...
Saat ini Dera, Erlan dan Bimo sedang berkumpul di meja makan. Mereka menunggu Qiran turun. Tak lama yang di tunggu pun akhirnya turun menghampiri mereka semua.
Mereka mengerutkan keningnya menatap Qiran, pasalnya Qiran berdandan rapi. Gaun hitam di bawah lutut, riasan natural dan jangan lupakan high hells lima centinya.
__ADS_1
" Sayang kamu mau kemana?" Tanya Bimo.
" Aku mau makan malam di luar Mas..
" Baiklah Mas akan pergi bersamamu." Sahut Bimo memotong ucapan Qiran.
" Ah tidak tidak... Aku memang mau makan di luar, tapi tidak bersamamu." Ujar Qiran.
" Lalu?" Tanya Bimo.
" Aku pergi bersama Abrisam." Sahut Qiran.
" Apa?" Bimo menatap tajam ke arah Qiran.
Ya Bimo tidak terima kalau Qiran pergi bersama Abrisam karena dia tahu kalau Abrisam memendam perasaan terhadap Qiran. Ia takut Qiran akan condong ke arahnya.
" Di sini ada suamimu tapi kau malah pergi bersama pria lain?" Ujar Bimo.
" Dia bukan orang lain Mas, dia temanku." Sahut Qiran.
" Tapi Mas suamimu sayang, seharusnya kau pergi bersama Mas bukan bersama dia karena Mas ada di sini." Ujar Bimo.
" Bukankah kau sendiri yang mengajariku seperti ini? Demi TEMAN abaikan PASANGAN." Tekan Qiran.
Skak Mat.
Bimo tidak bisa menjawab apa apa lagi.
" Ya sudah Pa, Ma, aku pergi dulu! Abrisam sudah menungguku di depan, assalamu'alaikum." Qiran berlalu meninggalkan meja makan tanpa mempedulikan Bimo.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Dera.
Bimo masih terbengong dengan fakta yang terjadi padanya.
" Ya sudah Bang, mari kita makan." Ucap Dera.
" Aku tidak berselera Der, aku permisi." Bimo meninggalkan Dera dan Erlan.
Bimo menaiki tangga menuju kamar Qiran dengan perasaan sedihnya.
" Beginikah yang di rasakan Qiran saat itu? Sesakit inikah saat tahu pasangan kita bersama orang lain? Maafkan Mas sayang! Maafkan Mas yang tidak mengerti akan perasaanmu, Mas menyesal sayang, sangat menyesal." Batin Bimo masuk ke kamar Qiran.
Nah lhoh sakit kan Bang?
Jangan lupa untuk selalu tekan like..
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC...
__ADS_1