
Pagi ini Aulia bangun lebih awal. Ia harus melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Setelah membasuh mukanya, ia menyiapkan pakaian untuk Revan. Setelah itu ia turun ke dapur untuk memasak sarapan.
Revan mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Ia tersenyum kecut saat melihat sofa yang sudah kosong. Revan segera turun dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi, Revan menghampiri Aulia yang sedang memasak.
" Aku belum memberimu uang, tapi kamu sudah masak untukku." Ucap Revan duduk di meja makan.
" Aku akan menghitungnya sebagai hutang." Sahut Aulia menyiapkan makanan di meja makan.
Revan terkekeh mendengarnya.
" Baiklah aku akan melunasi nya bulan depan kalau aku udah gajian, maafkan suamimu ini yang tidak punya apa apa." Ucap Revan.
" Makanlah! Aku mau mandi dan harus segera pergi ke resto." Ucap Aulia meninggalkan Revan sendiri.
" Walaupun dia melayani ku, tapi dia berusaha menghindariku." Monolog Revan.
Revan makan sarapan sendiri. Setelah selesai Ia kembali ke kamarnya. Di sana Aulia sedang bersiap memakai hijabnya.
" Kau berangkat kerja hari ini?" Tanya Revan.
" Ya, dan aku harap kau tidak akan melarang ku, karena tidak ada yang bisa aku lakukan di rumah." Sahut Aulia.
" Baiklah aku mengijinkanmu, hati hati." Ucap Revan.
" Aku berangkat, assalamu'alaikum." Ucap Aulia menyalami Revan.
" Aulia, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Ucap Revan.
" Aku sudah terlambat, jika tidak penting tidak usah mengatakan apa apa." Aulia keluar dari kamarnya.
" Wa'alaikumsallam." Ucap Revan.
Revan menghela nafasnya pelan. Ia tahu kalau Aulia sengaja menjaga jarak dengannya.
Aulia melajukan mobilnya menuju restonya. Sesampainya di sana, ia segera masuk ke dalam ruangannya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
" Maafkan aku Mas, aku harus melakukan ini supaya kau menyadari apa arti diriku dalam hidupmu, aku tidak mau kau terbayang bayang masa lalumu, karena masa lalumu akan menghalangi kebahagiaan masa depanmu." Monolog Aulia.
Di dalam pos satpam, Revan merasa gelisah dengan sikap Aulia pagi ini.
__ADS_1
" Kenapa aku merasa resah saat dia mengabaikan aku? Harusnya aku tidak terpengaruh kan kalau aku tidak mencintainya? Lalu kenapa hatiku seperti ini? Apa mungkin secepat ini aku jatuh cinta padanya? Atau karena ada ikatan kuat di antara kami?" Tanya Revan pada dirinya sendiri.
" Aku akan meneleponnya." Ucap Revan mengambil ponselnya.
" Tapi apa yang mau aku katakan padanya? Ah tidak jadi." Revan memasukkan kembali ponsel ke sakunya.
" Tapi aku belum bisa tenang kalau belum mendengar suaranya, ucapannya semalam begitu mengusik hatiku, aku tidak mau membuatnya kecewa dan berpikir kalau aku pria yang tidak punya tanggung jawab terhadap komitment, ku telepon saja." Ucap Revan.
Revan menelepon nomer Aulia. Telepon tersambung, tinggal menunggu Aulia mengangkatnya. Tak lama....
" Halo assalamu'alaikum." Sapa Aulia di sebrang sana.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Revan.
" Ya ada apa Mas? Maaf aku sedang sibuk nih." Ucap Aulia.
" E.. Aku... Aku." Revan menjeda ucapannya sesaat.
" Ya.. Ada apa Mas? Katakan saja! Aku lagi sibuk banget nih, kalau tidak ada yang penting aku tutup teleponnya ya." Ucap Aulia.
" Nanti kamu pulang jam berapa?" Tanya Revan.
" Hah?" Aulia mengerutkan keningnya.
" Baiklah, nanti akan aku masakkan, ya sudah Mas Assalamu'alaikum." Tanpa menunggu jawaban dari Revan, Aulia menutup teleponnya.
Revan menghela nafasnya pelan.
" Sesibuk apa sih kamu Aulia, sampai sampai pengin ngobrol sama kamu aja susah." Gerutu Revan.
Waktu pun berlalu, tak terasa sudah jam lima sore. Revan baru pulang dari tempatnya bekerja. Ia masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh Aulia dengan senyuman. Hati Revan teduh melihatnya.
" Mandilah Mas! Aku sudah siapkan makanan yang kamu mau di meja makan." Ucap Aulia setelah menyalami Revan.
" Terima kasih." Sahut Revan.
Revan masuk ke kamarnya lalu ia langsung mandi. Hidupnya kembali berwarna sejak kehadiran Aulia. Bahkan dulu saat bersama Dera, Dera jarang menyambutnya di rumah karena ia pulang selalu larut malam.
Selesai mandi, Revan turun ke bawah. Ia menuju meja makan dimana Aulia sedang menunggunya. Tanpa menunggu perintah, Aulia segera mengambilkan makanan untuk Revan.
" Ini Mas." Ucap Aulia.
__ADS_1
" Kamu tidak makan?" Revan menatap Aulia.
" Tidak, nanti saja! Kamu makanlah! Aku akan menyelesaikan pekerjaanku yang lain." Sahut Aulia pergi meninggalkan Revan sendiri.
" Untuk apa dia menyiapkan makanan untukku kalau ujung ujungnya aku harus makan sendiri." Ucap Revan kesal.
Aulia tersenyum mendengar ucapan Revan.
" Aku harap kau akan segera menyadari perasaanmu kepadaku Mas, aku ingin kita hidup bahagia tanpa bayang bayang masa lalumu, aku ingin cinta dan hatimu hanya untukku karena aku tidak ingin kau menduakan aku." Ujar Aulia dalam hatinya.
Setelah Revan selesai makan, Aulia kembali menghampirinya.
" Kau sudah selesai Mas?" Ujar Aulia mengambil piring kotor milik Revan. Lalu Ia langsung mencucinya.
" Kenapa kamu menghindariku?" Tanya Revan.
" Aku menghindarimu?" Aulia mengerutkan keningnya.
" Ya, aku merasa kau sengaja menjaga jarak denganku." Ujar Revan.
" Aku seperti ini karena ingin menjaga hatiku Mas, jika suatu saat nanti kau tidak bisa menerimaku, setidaknya aku tidak akan merasa kekecewaan yang mendalam." Sahut Aulia menohok hati Revan.
" Apa karena aku menolakmu semalam? Makanya kau melakukan semua ini padaku?" Tanya Revan menatap Aulia yang saat ini sedang berdiri menatapnya.
" Penolakanmu semalam membuatku tersadar Mas, bagaimana perasaanmu saat ini kepadaku, yah pada dasarnya kita memang menikah bukan karena cinta, tapi karena musibah yang menghampiri kita, mungkin itu sebabnya kau menolak ku, tapi perlu kau tahu Mas! Aku juga tidak ada perasaan apa apa padamu Mas, tapi aku bertekad untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu saat aku bersedia menerima pernikahan ini, aku yakin cinta akan hadir seiring berjalannya waktu, aku ikhlas menerima pernikahan ini, dan aku selalu berdoa pernikahan ini akan membawa kebahagiaan untuk kita." Ucap Aulia.
" Tapi sepertinya hatimu belum bisa menerimanya, jauh di dalam hatimu masih ada Mbak Dera, tidak masalah! Mungkin kau butuh waktu untuk menggantikan nama itu dengan namaku, atau mungkin kau akan menghapusnya dari hatimu untuk selamanya, aku akan menunggu sampai waktu itu tiba, tapi ingat satu hal Mas." Ucap Aulia menatap Revan.
" Jangan sampai kau membuatku lelah dan menyerah dengan perasaanmu, aku manusia biasa dan aku seorang wanita yang ingin di sayangi dan di cintai oleh suaminya, aku harap kamu paham akan hal itu." Ucap Aulia meninggalkan Revan yang mematung di sana.
" Kau benar Aulia, aku harus segera menghapus nama Dera dalam hatiku, kau wanita yang baik, aku tidak mau menyesal karena kehilanganmu, aku berjanji mulai sekarang hanya namamu yang ada di dalam hatiku." Monolog Revan menatap kepergian Aulia.
Revan segera menyusul Aulia ke kamarnya.
Mau apa hayoooo?????
Yuk ramein like, koment, vote dan hadiahnya biar author makin semangat....
Udah double up lho masa' nggak mau kasih hadiah buat author kece ini 😂
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...