Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Seasons 2. 21 Kepergian Maya


__ADS_3

Malam ini Bimo tidur dengan gelisah, ia baru saja menerima telepon dari suster kalau kondisi Maya semakin memburuk. Bahkan kemungkinan untuk sembuh dangatlah tipis. Untuk itu suster memintanya ke sana.


Bimo ingin pergi tapi ia tidak bisa meminta ijin istrinya karena Qiran sudah tidur.


" Aku harus bagaimana? Kalau aku pergi pasti yang ada Qiran akan marah, kalau tidak pergi.. Bagaimana jika terjadi hal buruk pada Maya, kasihan dia... Dia tidak punya siapa siapa lagi di dunia ini, hanya aku sebagai sahabatnya, maafkan aku Maya! Aku tidak bisa berbuat banyak untukmu." Gumam Bimo.


Bimo mencoba memejamkan matanya.


Drt.... Drt....


Ponsel Bimo berdering. Ia segera mengangkatnya.


" Halo."


.......


" Apa? Baiklah saya akan segera ke sana." Bimo menutup teleponnya.


Bimo mendekati Qiran di ranjang.


" Sayang." Bimo mengguncang pelan bahu Qiran.


Qiran tidak bergeming.


Cup...


Bimo mengecup kening Qiran.


" Mas harus pergi! Mas harap kamu bisa memahami posisi Mas saat ini sayang." Lirih Bimo.


Bimo pergi meninggalkan Qiran yang tidur sendirian di kamarnya.


Hari sudah pagi, Qiran mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke samping dimana ranjang Bimo sudah kosong.


" Dingin, ini berarti Mas Bimo sudah bangun dari tadi." Gumam Qiran menyentuh kasur sisi kanannya yang biasanya di tiduri oleh Bimo.


Qiran membasuh mukanya di kamar mandi lalu ia turun ke bawah mencari Bimo.


" Mas.... Mas dimana?" Teriak Qiran setelah tidak menemukan Bimo dimana mana.


" Kok nggak ada sahutan ya? Nggak mungkin kan Mas Bimo pergi ke kantor sepagi ini?" Qiran melihat jam dinding yang masih menunjukkan jam lima pagi.


Qiran menuju garasi untuk memastikan apakah mobil Bimo ada atau tidak.


" Tidak ada, kemana perginya Mas Bimo pagi pagi begini ya?" Ujar Qiran.


Qiran kembali ke kamarnya, ia menelepon Bimo. Panggilan pertama tidak terjawab, panggilan kedua baru Bimo menjawabnya.


" Halo sayang."


" Kamu dimana Mas? Kenapa Mas pergi tidak bilang padaku?" Tanya Qiran.

__ADS_1


" Mas di rumah sakit sayang, semalam kondisi Maya memburuk dan...


Klik...


Qiran langsung memutus sambungan teleponnya begitu mendengar Bimo menyebut nama Maya. Ia kesal tanpa mau mendengar alasan dari Bimo.


Bimo mencoba menelepon Qiran namun di tolak. Bimo tidak menyerah, ia kembali mencoba hingga panggilan ke empat Qiran mematikan ponselnya.


" Pentingin aja tuh Maya kamu." Kesal Qiran.


Qiran segera mandi lalu berdandan rapi.


" Baru saja sehari aku berusaha menjadi istri yang baik, sudah ada masalah lagi. Lagian kenapa sih harus Maya lagi Maya lagi yang Mas Bimo urusin, heran deh." Gerutu Qiran di depan cermin.


" Walaupun aku sudah berusaha untuk bersikap dewasa, tapi pada dasarnya aku masih kecil... Emosiku masih labil naik turun kaya roller coaster, hah... Bagaimana caranya aku bisa bersikap dan berpikir dewasa sih? Dari kecil aja Mas Bimo memperlakukanku seperti anak kecil, sampai dewasa pun aku seperti anak kecil di matanya, ia selalu menuruti apapun perminataanku" Qiran mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil tersenyum membayangkan perhatian Bimo.


" Searching di google aja, cara berpikir positif dan bersikap dewasa dalam membina rumah tangga." Qiran mengetik pada papan ketik di ponselnya.


Ting..


Qiran membaca satu persatu artikel yang ada di layar ponselnya. Saat ia sedang fokus tiba tiba pintu kamarnya terbuka.


Ceklek....


Qiran menoleh ke pintu menatap Bimo yang terlihat acak acakan. Rambut tak karuan, celana di gulung ke atas, lengan kemeja juga dan yang menjadi pusat perhatian yaitu baju Bimo berlumpuran dengan tanah basah.


Ingin sekali rasanya Qiran bertanya tapi ia lebih mementingkan gengsinya.


" Tolong siapkan baju ganti Mas, Mas mau mandi dulu." Ucap Bimo masuk ke dalam kamar mandi.


Qiran melakukan apa yang Bimo perintahkan. Tak lama Bimo keluar kamar mandi hanya memakai handuk kecil yang menutupi bagian bawahnya saja. Ia menghampiri Qiran yang sedang menutup almari.


" Astaga!" Qiran berjingkrak kaget saat membalikkan badannya.


" Maaf sayang Mas mengagetkanmu." Ucap Bimo tersenyum manis.


" Segera pakai bajumu!" Ucap Qiran.


" Kenapa? Apa kamu tidak mau melihat body sixpack Mas ini hah?" Bimo menaik turunkan alasnya.


" Body yang sudah terkontaminasi dengan wanita lain?" Qiran menatap mata Bimo.


" Tidak... Aku bahkan tidak penasaran dengan rasanya." Qiran melangkah maju.


Bimo mencekal tangannya lalu menarik Qiran ke arahnya.


Deg...


Tidak ada jarak satu centipun di antara mereka. Keduanya saling melempar pandangan.


" Ya Tuhan jantungku... Jangan sampai Mas Bimo mendengarnya." Batin Qiran.

__ADS_1


" Mas pakai baju sayang saat Maya memeluk Mas, tubuh ini bersih dari siapapun termasuk dari istri Mas sendiri, dan tidak baik membicarakan orang lain apalagi orang itu sudah tiada sayang." Bimo merapikan anak rambut Qiran.


" Tiada?" Qiran mengerutkan keningnya.


" Iya sayang... Semalam Mas mendapat telepon dari suster yang menjaga Maya, dia mengabarkan kalau kondisi Maya drop, Mas sudah membangunkan kamu untuk meminta ijin, tapi sepertinya tidurmu terlalu nyenyak, Mas tidak tega membangunkanmu lagi jadi Mas pergi gitu aja... Saat Mas sampai sana Maya sudah tidak sadarkan diri, dia mengalami koma dan pagi tadi dia menghembuskan nafas terakhirnya." Terang Bimo.


" Innalillahiwainnailaihiroji'un." Ucap Qiran.


" Tidak ada lagi wanita yang akan membuatmu cemburu sayang, dia sudah tenang di alam sana." Ucap Bimo.


" Aku turut berduka Mas, maaf aku tidak tahu! Aku keburu emosi saat aku tahu kalau Mas pergi karena aunti Maya, aku merasa Mas lebih peduli dengan aunti Maya di banding aku, Mas meninggalkan aku sendirian demi aunti Maya." Ucap Qiran menundukkan kepalanya.


" Mas juga minta maaf sayang, lagi lagi Mas tidak mendengarkan ucapanmu." Bimo memeluk Qiran.


" Iya Mas aku memaafkanmu." Sahut Qiran.


" Ganti baju dulu Mas, nanti kalau handuknya melorot gimana?" Ujar Qiran.


" Nggak pa pa, melorot di depan istri sendiri ini... Beda lagi kalau di depan lainnya." Sahut Bimo.


" Udah ganti dulu! Nanti kamu bisa masuk angin, ingat faktor u Mas.... Aku akan memesankan makanan untuk kita berdua." Qiran melepas pelukan Bimo. Ia mengambil. ponselnya di atas nakas.


" Yah masih pengin meluk." Ucap Bimo.


" Nanti lagi." Sahut Qiran.


Selesai berganti baju, keduanya turun ke bawah menunggu pesanan datang. Keduanya duduk di sofa ruang tamu.


" Sayang ciuman semangat paginya mana?" Bimo menatap Qiran.


Qiran memajukan wajahnya, ia mengecup bibir Bimo. Tanpa melewatkan kesempatan Bimo segera menahan tengkuk Qiran. Ia mengambil alih sebagai pemimpin.


Bimo mencecap bibir Qiran dengan lembut. Keduanya saling bertukar saliva sampai bel rumah berbunyi.


Ting tong....


Bimo melepas pagutannya.


" Ckk ganggu aja!" Bimo mengusap lembut bibir Qiran.


" Mas buka dulu!"


Bimo membuka pintu lalu menerima makanan pesanan mereka. Keduanya pindah ke meja makan lalu memakan makanannya dengan khidmat.


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya donk bair author semangat. .


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2