Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Berbaikan


__ADS_3

Mohon maaf kemarin author tidak update karena author sakit. Kepala sakit, demam dan menggigil sehari semalam. Hari ini lumayan udah baikan jadi author usahakan up date.


Happy reading


...----------------...


Malam hari, Dera masih mengurung diri di kamarnya, hal itu membuat Erlan merasa frustasi.


" Sayang buka pintunya! Kita makan malam ya, aku nggak mau kalau kamu sampai sakit sayang." Ucap Erlan menempelkan pipinya ke pintu dengan tangan yang terus mengetuk ngetuk pintu juga.


" Katanya kamu mau cepat punya momongan, kalau kamu nggak sehat gimana bisa, sayang... Bukain pintunya donk! Ayo kita makan! Aku sudah masakin makanan kesukaan kamu lho, rendang pedas level sepuluh." Ucap Erlan membujuk Dera.


Ceklek.....


Dera membuka pintunya.


" Sayang." Erlan hendak memeluk Dera namun Dera berlalu begitu saja.


Erlan menghela nafasnya lalu ia mengikuti Dera dari belakang. Dera duduk di kursinya lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


" Sayang kok aku nggak di ambilkan makanan." Ujar Erlan menatap piringnya yang masih kosong.


Dera tidak bergeming, ia tetap makan sampai makanannya habis.


Erlan menggenggam tangan Dera, Dera segera menariknya.


" Sayang maafkan aku! Selama ini aku tidak jujur kepadamu tentang siapa aku dan bagaimana sikapku yang sebenarnya, aku sudah melupakan dan memendam sisi gelapku sejak aku bertemu denganmu waktu itu, aku selalu berusaha mengontrol diriku sendiri, aku berhasil sayang... Sekian lama aku tidak pernah menampakkan sifatku yang sebenarnya." Ujar Erlan.


" Tapi melihatmu di sakiti oleh Rizal, membuat sifat itu muncul dengan sendirinya, apalagi setelah melihat wajah Rizal aku tidak bisa mengendalikan diriku sayang, aku marah... Aku emosi... Aku ingin dia merasakan apa yang kamu rasakan, bukankah sakit terkena sebilah pisau?" Erlan menatap Dera.


" Itu lah sebabnya aku berbuat kasar kepada Rizal, aku ingin dia merasakan betapa sakitnya saat tubuh ini terluka." Sambung Erlan.


" Tapi percayalah sayang, aku bukan monster yang menakutkan, aku tetap Erlan yang sangat mencintaimu, aku tidak akan pernah menyakiti dirimu, aku mohon padamu! Jangan pernah takut kepadaku! Aku tidak akan berbuat kasar kepadamu, lebih baik aku menyakiti diriku sendiri daripada menyakitimu." Ucap Erlan.


Tanpa mengucap sepatah kata, Dera pergi begitu saja. Erlan mengepalkan erat tangannya menatap kepergian Dera.


Setelah makan dengan penuh keheningan, Erlan kembali ke kamarnya. Ia menatap Dera yang berbaring memunggunginya.


Erlan merebahkan tubuhnya di samping Dera. Ia memeluk Dera dari belakang. Dera hendak memberontak namun Erlan menahannya.


" Biarkan seperti ini!" Ucap Erlan.


" Kau tidak bisa mengabaikan aku seperti ini sayang, kau bilang akan menghadapi segala rintangan berdua, tapi apa? Setelah kau melihat sisi gelapku, kau justru mengabaikan aku, aku merasa kau meninggalkan aku di padang pasir tanpa teman, aku sendirian sayang, aku kesepian, bisakah kau bersikap normal kepadaku?" Ucap Erlan.

__ADS_1


Dera merasa punggungnya basah, ia yakin kalau Erlan saat ini sedang menangis.


Dera membalikkan badannya. Ia menatap wajah Erlan yang di penuhi air mata. Dera mengusap air mata Erlan dengan jempolnya.


" Maafkan aku!" Ucap Dera.


" Kamu tidak perlu minta maaf, aku yang seharusnya meminta maaf padamu." Sahut Erlan mengecup mata Dera.


" Maafkan aku!" Ucap Erlan.


" Aku memaafkanmu, tapi kamu janji kalau kamu tidak akan pernah melakukan hal sekeji tadi, aku tidak menyukainya, Tuhan mengajarkan kita untuk saling memaafkan satu sama lain, lagian aku takut anak anak kita yang akan kena karmanya Mas, aku tidak mau jika sampai itu terjadi." Ujar Dera.


" Iya aku tahu, maafkan aku." Erlan memeluk tubuh Dera. Dera mengelus punggung Erlan dengan lembut.


Keduanya larut ke dalam mimpi yang indah. Dera berharap apa yang ia lihat tadi adalah mimpi semata.


Ia merasa curiga dengan Erlan dan Bimo yang berbicara dengan berbisik. Dera mengikuti mereka dari belakang hingga Dera melihat semua yang Erlan lakukan kepada Rizal. Ia tak kuasa menahan tangis, itu sebabnya ia berdiri di sana sambil menangis menatap kebringasan yang suaminya lakukan kepada Rizal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Dera sedang memasak di dapur. Erlan yang baru saja mandi menghampirinya.


" Pagi." Erlan mencium pipi Dera.


" Hari ini aku ada pertemuan di cafemu, apa kau mau ikut ke sana? Sekalian ngecek keadaan cafe." Ujar Erlan duduk di kursinya.


" Tidak Mas, aku mau istirahat saja di rumah." Sahut Dera.


" Baiklah, kalau ada apa apa segera telepon aku." Ujar Erlan.


" Iya Mas." Sahut Dera menata makanannya di atas meja.


" Kenapa sepertinya kamu murung begitu? Apa kamu masih kepikiran tentang kejadian kemarin?" Tanya Erlan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya


" Sedikit, tapi kau tenang saja aku akan lupa dengan sendirinya." Sahut Dera.


" Aku harap seperti itu." Ujar Erlan.


Selesai makan, Erlan pamit berangkat kerja.


" Aku berangkat dulu sayang." Erlan mencium kening Dera.


" Iya, hati hati Mas." Sahut Dera.

__ADS_1


" Kalau ada apa apa langsung telepon aku." Ujar Erlan.


" Iya Mas." Sahut Dera.


Setelah kepergian Erlan, Dera bergegas menuju ruang bawah tanah. Di sana masih ada Bimo yang sedang menemani Rizal.


" Nona, kenapa Nona ke sini?" Tanya Bimo.


Dera menatap Rizal yang ternyata masih bernyawa.


" Kamu belum meminumkan racun kepadanya kan?" Tanya Dera.


" Belum Nona, kebetulan racun itu habis, rencana saya baru akan membelinya." Sahut Bimo.


" Lepaskan dia Bimo, bawa dia ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan." Ucap Dera.


" Tidak bisa Nona, nanti bos akan marah." Sahut Bimo.


" Nanti aku yang akan berbicara masalah ini dengan bosmu, sekarang lakukan saja apa yang aku katakan." Ujar Dera.


" Tapi Nona, anda tidak tahu bagaimana kemarahan bos Erlan, saya takut saya yang akan terkena hukuman Nona karena berani melepaskan tahanan, saya mohon mengertilah dengan bawahan seperti saya." Ucap Bimo.


" Kalau kamu tidak mau menuruti kemauan ku, maka aku akan meninggalkan bosmu untuk selamanya, kau juga akan mendapat hukuman atas itu Bang Bimo." Ancam Dera.


Bimo menghembuskan nafasnya kasar. Bagaikan makan buah simalakama pikir Bimo.


" Lakukan sekarang!" Titah Dera.


" Baiklah Nona." Sahut Bimo menghela nafasnya pelan.


Dera mendekati Rizal yang saat ini sedang menatapnya.


" Kau akan mendapat perawatan di rumah sakit, jika kau sembuh nanti, segera pergi dari kota ini! Aku tidak mau kau berhubungan lagi dengan kami, maafkan aku dan suamiku yang telah membuatmu seperti ini." Ucap Dera.


Rizal hanya menganggukkan kepalanya saja.


" Aku pergi dulu Bang, tapi pastikan kau melakukan apa yang aku perintahkan." Ujar Dera.


" Iya Nona, saya akan membawanya ke rumah sakit." Sahut Bimo.


Dera kembali ke dalam rumah. Ia masuk ke kamarnya sedikit merenungkan apa yang terjadi akhir akhir ini.


" Aku tidak menyangka ternyata kau pria yang begitu keras Mas, aku berharap anak anak kita tidak akan menuruni sifatmu yang seperti itu, aku ingin hidup damai selamanya." Monolog Dera.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2