
Prang....
Pyar.....
Brak....
Erlan membanting semua barang yang ada di dalam ruangannya setelah mendapat kabar jika Dera menjenguk Revan di penjara.
" Bagaimana bisa Dera tidak mau menemuiku, tapi dia menemui Revan di penjara, Bimo." Bentak Erlan menarik kasar rambutnya.
" Apa mereka berencana rujuk lagi? Apa Dera berniat menerima Revan kembali karena dia kasihan sama Revan?" Erlan menatap Bimo.
" Katakan Bimo! Cepat katakan padaku!" Bentak Erlan mengguncang pundak Bimo.
" Sa.. Saya tidak tahu Bos, tapi sepertinya itu tidak mungkin, Non Dera tidak akan meninggalkan anda Tuan." Ucap Bimo gemetar.
" Jawab saja begitu, kalau tidak bos bisa tambah marah." Batin Bimo.
" Tidak mungkin gimana? Kemarin aku ke rumah Dera dan dia tidak mau menemuiku, aku menunggu di depan pintu sampai malam hari, lalu kenapa sekarang dia menemui Revan? Pasti dia ingin rujuk sama pria brengsek itu." Teriak Erlan.
" Kau jahat Dera... Kau jahat." Erlan kembali berteriak.
Brak...
Erlan menggebrak meja dengan keras.
" Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, aku tidak akan membiarkan Dera meninggalkanku begitu saja, aku tidak akan membiarkannya." Lagi lagi Erlan kembali berteriak lalu menendang pintu.
Erlan meninggalkan ruangannya, membuat Bimo mengelus dadanya. Ia bisa bernafas lega.
" Non Dera, kenapa anda membuat masalah yang sangat merepotkanku? Aku harus membereskan kekacauan ini, sudah aku bilang jangan memancing kemarahannya tapi anda tidak menghiraukannya Nona Dera." Gumam Bimo mengacak rambutnya.
Erlan melajukan mobilnya seperti orang kesetanan menuju penjara setempat. Sesampainya di sana ia masuk ke dalam dengan langkah tegap.
" Dera." Panggil Erlan dengan suara meninggi.
Dera menoleh ke asal suara. Erlan begitu murka saat melihat Dera sedang mengobati lebam pada wajah Revan. Ia segera menghampirinya.
" Apa yang kau lakukan di sini hah? Kau ingin kembali menjalin hubungan dengan pria brengsek ini." Erlan menunjuk wajah Revan.
" Atau kau ingin aku tambahi luka lebam di wajahnya itu." Ucap Erlan.
" Apa yang kau katakan Mas, jangan pernah lakukan itu atau aku tidak akan memaafkanmu, Mas Revan sedang terluka dan aku membantu mengobatinya, apa itu salah?" Ucapan Dera membuat darah Revan semakin mendidih.
Ia menatap tajam ke arah Dera.
Brak....
Erlan menggebrak meja di depan Dera membuat Dera berjingkrak kaget.
" Kau membelanya?" Tekan Erlan.
Sadar akan ucapannya, Dera beranjak mendekati Erlan.
__ADS_1
" Jangan marah marah di sini Mas! Malu di lihat orang." Lirih Dera.
" Aku marah karena kamu lebih memperhatikan dia daripada aku." Ucap Erlan.
" Kau tidak perlu melakukan semua ini karena kita tidak memiliki hubungan apa apa, jangan lupakan itu." Ucap Dera kesal mengingat kejadian pagi itu.
Dera pergi meninggalkan Erlan.
Erlan menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Erlan beralih menatap Revan.
" Berani lo mendekati Dera sekali lagi, gue akan buat lo membusuk di penjara." Ancam Erlan.
Erlan segera mengejar Dera, ia menarik Dera ke dalam mobilnya.
" Apa apaan sih Mas, aku mau pulang sendiri." Ketus Dera merasa jengah.
" Aku antar." Ucap Erlan melajukan mobilnya.
Di dalam perjalanan hanya ada keheningan sampai ponsel Dera berdering.
" Halo." Dera menempelkan ponsel pada telinganya.
" Non Dera, apa anda sudah bertemu bos Erlan?" Tanya Bimo.
" Hmm." Gumam Dera.
" Tolong jangan buat bos marah Non, dia baru saja memporak porandakan kantor...
" Apa?" Pekik Dera.
" Iya Nona, ruangannya hancur tak berbentuk, semua berkas tidak ada yang bisa di selamatkan, tolong jangan membuatnya marah lagi atau dia akan hilang kendali Nona, ya sudah Nona Terima kasih." Ujar Bimo menutup teleponnya.
" Sebenarnya siapa pria yang akan aku nikahi? Kenapa sikapnya begitu tempramental? Hah semoga aku punya stok kesabaran yang banyak." Batin Dera melirik Erlan.
" Siapa sayang?" Tanya Erlan.
" Bukan siapa siap....." Tiba tiba Dera teringat ucapan Bimo.
" Bimo." Sahut Dera.
" Bimo?" Erlan mengerutkan keningnya.
Dera menganggukkan kepalanya.
" Apa yang Bimo katakan padamu?" Erlan menoleh sekilas pada Dera.
" Dia hanya menanyakan keberadaanmu saja." Sahut Dera menatap ke luar kaca.
" Kau masih marah padaku? Aku bisa menjelaskan semuanya, jika tidak terjadi apa apa pagi itu." Ujar Erlan.
" Monika menjebak ku karena dia ingin aku menikahinya, tapi kau tenang saja! Aku sudah mengirimnya ke tempat dimana dia tidak bisa kabur dan akan menyesali perbuatannya." Dera menatap Erlan.
" Kamu mengirimnya kemana?" Tanya Dera.
__ADS_1
" Lokalis**i"
" Apa?" Pekik Dera.
" Jangan berteriak sayang, aku bahkan belum memulainya." Canda Erlan mengerlingkan sebelah matanya.
" Kenapa kau mengirimnya ke sana Mas? Kamu keterlaluan namanya." Ujar Dera.
" Itu hukuman karena dia sudah membuatmu menangis dan bermain main denganku." Sahut Erlan.
" Siapapun yang berani melukai wanitaku maka dia akan menerima balasannya dariku." Sambung Erlan membuat Dera bergidik ngeri.
Erlan menggenggam tangan Dera.
" Aku mencintaimu sayang, jangan pernah berpikir kau bisa meninggalkan aku, karena aku tidak akan membiarkan itu, aku tidak peduli kau mencintaiku atau tidak, yang jelas cintaku cukup untuk kita berdua." Erlan mencium punggung tangan Dera.
" Apa kau begitu mencintaiku hingga kau begitu takut akan kehilanganku Mas?" Tanya Dera memastikan.
" Jangan pernah ragukan cintaku lagi sayang, lalu bagaimana dengan perasaanmu? Apa kau sudah punya jawabannya? Kemarin aku melihatmu menangis, apa kau sakit hati melihatku bersama wanita lain? Kalau benar itu tandanya kamu juga mencintaiku sayang." Ujar Erlan.
" Ya kau benar Mas, aku menangis karena hatiku sakit, aku takut akan kehilanganmu, aku mencintaimu Mas." Ucap Dera.
" Kau tidak romantis sayang, kau menembakku di dalam mobil, nggak ada makan malam romantis seperti aku melamarmu." Ujar Erlan.
" Kau ini ada ada aja Mas." Kekeh Dera.
Erlan menepikan mobilnya. Ia menatap Dera dengan tatapan penuh cinta. Tangannya menyusup ke leher belakang Dera. Ia memajukan wajahnya lalu mencium bibir Dera.
Dera memejamkan matanya, ia membuka sedikit mulutnya membuat Erlan menyusupkan lidahnya. Suara decapan memenuhi mobil mereka. Erlan ******* lembut bibir Dera hingga beberapa saat.
Setelah keduanya kehabisan pasokan oksigen, Erlan melepas pagutannya.
" Sangat manis, membuatku candu sayang." Erlan mengusap bibir Dera menggunakan jempolnya.
Dera menubruk dada bidang Erlan, ia merasa sangat malu ketahuan menikmati pacaran Erlan.
" Eh kenapa? Kamu malu? Nggak usah malu sayang, sebentar lagi kita akan menikah." Ujar Erlan.
Dera menganggukkan kepalanya.
" Ya udah, kita lanjutkan perjalanan ke rumah, atau kau mau ke suatu tempat?" Erlan menatap Dera.
" Aku mau pulang ke rumah saja Mas, aku mau istirahat." Sahut Dera.
" Baiklah, aku akan mengantarmu pulang, dan sampai di rumah nanti kau berhutang penjelasan kepadaku, kenapa kau sampai menemui Revan tanpa memberitahuku." Ucap Erlan melajukan mobilnya kembali.
Dera nampak bahagia karena ia sudah menyadari perasaannya kepada Erlan. Ia berharap akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi bersama Erlan. Pria kaya yang mau menerimanya apa adanya.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu....
Miss U All...
__ADS_1
TBC.....