
Qiran berlari menuju ruang rawat kamboja nomer lima dengan tergesa gesa. Ia sangat khawatir dengan keadaan pria tuanya saat ini.
Ceklek....
Qiran masuk ke dalam menghampiri Bimo yang sedang terbaring lemah di atas brankar dengan selang infus di tangan kirinya.
" Sayang." Bimo menatapnya.
Grep...
" Mas hiks... Maafkan aku!" Qiran memeluk Bimo.
" Tidak apa sayang, ini bukan kesalahanmu." Sahut Bimo mengelus punggung Qiran.
Qiran menatap Bimo dengan perasaan bersalahnya.
" Kenapa ini bisa terjadi Mas? Kenapa Mas bisa sampai pingsan?" Tanya Qiran.
" Mas tidak tahu sayang, tiba tiba Mas sudah ada di sini." Sahut Bimo.
Ya... Yang awalnya Bimo ingin pura pura sakit tapi malah sakit beneran. Saat ia hendak menyebrang ke rumah sakit tiba tiba ia pingsan di pinggir jalan. Orang orang di sekitar membawanya ke rumah sakit ini.
" Lalu apa kata dokter Mas? Mas kenapa?" Qiran kembali bertanya.
" Mas dehidrasi karena memang dua hari ini Mas kurang minum dan Mas pingsan karena telat makan, Mas melewatkan makan malam terus di tambah Mas harus berjalan kaki lumayan jauh, mungkin Mas kelelahan sayang." Terang Bimo.
" Maafkan aku Mas, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu dan mulai sekarang Mas tidak boleh melewatkan makan lagi, kenapa tadi tidak makan bareng mama sama papa?" Qiran duduk di kursi tepi ranjang
" Mas tidak berselera makan karena tidak ada kamu sayang, Mas kesal karena kamu lebih memilih makan di luar bersama Sam." Sahut Bimo jujur.
" Maafkan aku Mas! Karena aku Mas jadi seperti ini." Ucap Qiran.
" Sekarang Mas tahu bagaimana sakitnya melihat pasangan kita bersama orang lain, Mas tidak menyadari kalau Mas telah melukaimu terlalu dalam dengan membantu Maya, maafkan Mas sayang, Mas sangat menyesalinya." Bimo mencium tangan Qiran.
" Aku maafkan Mas, tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang sudah menjadi milikku." Sahut Qiran.
" Mas tidak menginginkannya, yang Mas inginkan adalah cinta dan kasih sayang darimu, Mas ingin kita hidup bahagia selamanya, syukur syukur jika ada tangisan babby yang akan melengkapi kebahagiaan kita, tapi kalau kau tidak mau juga tidak pa pa, Mas cukup bahagia hidup berdua bersamamu sayang." Ucap Bimo.
" Aku tahu Mas setiap pernikahan pasti menginginkan keturunan, aku pasti akan memberikannya padamu tapi tidak untuk sekarang, bersabarlah Mas! Semua akan indah pada waktunya." Sahut Qiran.
" Terima kasih sayang kau telah memberi Mas harapan, Mas akan selalu bersabar menanti saat itu tiba." Sahut Bimo.
" Naiklah ke atas ranjang! Mas akan memelukmu!" Ucap Bimo.
Qiran naik ke atas ranjang, Bimo memeluknua dengan erat.
" Semoga kau menepati ucapanmu sayang, aku sangat bahagia jika kau mau mengandung anakku, aku sangat menanti saat itu tiba." Batin Bimo.
Malam ini keduanya tidur saling berpelukan di atas ranjang rumah sakit.
Pagi hari Qiran membuka matanya. Ia turun dari ranjang dengan pelan agar tidak mengganggu tidur Bimo menuju kamar mandi. Setelah membasuh mukanya ia keluar menghampiri Bimo yang ternyata sudah bangun.
__ADS_1
" Mas sudah bangun, mau ke kamar mandi?" Tanya Qiran menatap Bimo.
" Iya, bisa minta tolong bantu Mas?" Ujar Bimo.
" Bisa donk Mas." Sahut Qiran.
Qiran membantu Bimo turun, ia mendorong tiang infusnya masuk ke dalam kamar mandi.
" Sayang Mas juga mau mandi, rasanya lengket semua badan Mas, tapi Mas tidak bisa membuka pakaian Mas sendiri." Ujar Bimo.
" Masa iya aku yang harus membuka dan memakaikannya lagi? Nanti kalau mataku melihat yang tidak seharusnya aku lihat bagaimana? Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?" Batin Qiran.
" Sayang." Bimo mengguncang bahu Qiran.
" Ah iya Mas, aku akan membantumu." Sahut Qiran spontan.
" Astaga bagaimana bisa aku malah ngomong seperti ini." Gumam Qiran lirih merutuki kebodohannya.
Mau tidak mau akhirnya Qiran membantu Bimo melepaskan baju dan kaosnya.
" Celananya gimana?" Tanya Bimo menatap Qiran.
" Buka sendiri bisa kan? Masa' aku yang bukain sih Mas, aku tidak mau melihat benda keramatmu." Ucap Qiran membuat Bimo terkekeh.
" Kau ini, tapi kau benar memang ini benda ketamat karena Mas tidak pernah mempublikasikan pada siapapun, dia suci sayang bahkan sangat suci." Sahut Bimo.
Qiran paham kata suci yang di maksud Bimo.
" Sini!" Qiran membuka kancing celana Bimo, ia menurunkan resleting tanpa melihatnya.
" Ah kamu manja banget Mas, harusnya buka sendiri juga bisa, kan yang di infus tangan kamu jadi kalau cuma membuka celana pasti bisa." Sahut Qiran menurunkan celana Bimo.
" Merawat suami itu tidak boleh kesal dan tidak boleh mengeluh sayang, ini sudah menjadi kewajibanmu dan ini juga akan menjadi ladang pahala untukmu, jadi tersenyumlah! Karena senyumanmu sangatlah indah." Ujar Bimo.
" Selesai, kalau yang dalam buka sendiri! Aku nggak mau mata suci ku ini ternoda oleh benda keramatmu itu, kalau sudah selesai segera panggil aku." Ucap Qiran hendak keluar.
" Sayang, terus yang menyabuni Mas siapa? Terus caranya menggosok punggung Mas gimana?"
Qiran memejamkan matanya sambil menghela nafasnya pelan.
" Mas...
" Sayang, ini milikmu! Kau halal melihatnya, dan suatu hari nanti kau pasti akan melihatnya bahkan menikmatinya, lalu kenapa kau menghindarinya? Kalau Mas tidak sakit begini Mas juga tidak akan meminta bantuanmu, tapi sudahlah! Panggilkan perawat pria untuk membantu Mas!" Ucap Bimo sedikit kesal. Inginnya di manja manja sama istri malah istrinya ogah ogahan.
" Baiklah aku akan membantumu." Sahut Qiran.
Bimo tersenyum senang mendengarnya
" Angkat tangan kirimu biar tidak terkena air!" Ucap Qiran.
Qiran menyiram tubuh Bimo menggunakan air hangat dari shower. Ia menggosok seluruh tubuh Bimo menggunakan bisa sabun kecuali benda keramat, biar Bimo sendiri yang menggosoknya.
__ADS_1
" Aku tidak menyangka jika Qiran mau melakukan semua ini, aku merasa tidak ada penolakan dari dalam hati Qiran selama ini, apa mungkin Qiran juga memiliki perasaan yang sama denganku selama ini? Andai saja kau bisa mengungkapkannya sayang aku pasti akan lebih bahagia dan akan lebih tenang, aku tidak akan khawatir kehilangan kamu lagi." Batin Bimo menatap pergerakan Qiran.
" Sekarang sudah selesai, suamiku sudah wangi dan bersih, Mas gosok sendiri benda keramatmu lalu pakai pakaian dalamnya, nanti aku yang akan memakaikan celana dan bajumu, semua ada di papper bag itu." Qiran menunjuk papper bag warna coklat yang berlogo sebuah mall ternama.
" Iya." Sahut Bimo.
Qiran keluar menunggu Bimo menyelesaikan ritual mandinya. Setelah selesai Bimo memanggil Qiran.
" Itu bisa pakai sendiri." Ucap Qiran.
" Kan mudah kalau pakai cd doank!" Sahut Bimo.
Qiran segera memakaikan celana dan baju Bimo, setelah itu mereka kembali ke ranjang.
Qiran membantu Bimo duduk di ranjangnya, ia menyisir rambut Bimo sampai rapi.
" Perfect! Mas terlihat tampan sekali." Ucap Qiran membuat hati Bimo berbunga bunga.
" Terima kasih sayang." Ucap Bimo tersenyum manis.
" Sarapan sudah di antar Mas, aku suapin ya." Ucap Qiran.
" Mas sangat bahagia kalau kamu mau menyuapi Mas." Ucap Bimo.
Qiran menyuapi Bimo dengan telaten, ingin rasanya Bimo berlama lama di rumah sakit ini supaya mendapat perhatian lebih dari Qiran. Selesai makan Bimo segera meminum obatnya.
" Sekarang istirahatlah!" Qiran duduk sambil memainkan ponselnya.
" Kamu cari makan dulu sayang, Mas di sini sendirian nggak pa pa kok." Ucap Bimo.
" Mama bentar lagi ke sini membawakan makanan untukku Mas, Mas tenang saja! Aku belum lapar kok." Sahut Qiran tanpa mengalihkan tatapannya dari ponselnya.
" Kamu chatan sama siapa? Kelihatannya asyik banget." Ujar Bimo.
" Sama Sam Mas, dia menanyakan apakah aku semalam pulang dengan selamat atau tidak." Sahut Qiran.
" Sok perhatian amat!" Cebik Bimo.
" Ya bukankah sebagai teman memang harus gitu Mas, seperti Mas dan aunti Maya." Sindir Qiran.
" Sayang katanya kamu sudah maafin Mas, tapi kok malah nyindir Mas gitu." Ucap Bimo.
" Sebagai bahan perbandingan aja Mas supaya Mas tidak cemburu, aku dan Sam masih di dalam batas pertemanan, aku tidak merugikanmu dan aku juga tidak pernah membohongimu Mas." Sahut Qiran.
Entah mengapa jika mengingat kebohongan Bimo hatinya masih kesal. Mungkin ia belum benar benar ikhlas melupakannya.
" Baiklah sayang, maafkan Mas!" Sahut Bimo mengunci mulutnya dari pada membuat Qiran marah lagi.
Jangan lupa like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author...
Terima kasih untuk kalian semua yang telah rela memberikan supportnya kepada author, semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All....
TBC....