Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Gara Gara Ngidam


__ADS_3

Huek... Huek...


Pagi ini Dera kembali muntah muntah. Erlan selalu setia menemaninya sambil memijat tengkuknya dari belakang.


" Kamu belum meminum vitaminnya?" Tanya Erlan.


" Belum Mas, aku nggak mau minum obat! Karena yang aku rasakan setelah meminum obat itu justru badanku rasanya nggak karuan, terus bawaannya mau muntah terus Mas." Ucap Dera.


" Mungkin anak kita tidak suka obatnya, kan pahit.. Mending kamu minum susu aja yang enak, pasti dia suka." Ucap Erlan.


" Iya Mas." Sahut Dera.


" Nanti akan aku buatkan susunya untukmu." Ucap Erlan.


Setelah agak mendingan, Erlan menuntun Dera kembali ke ranjangnya.


" Kamu di sini dulu, aku buatkan susu." Ucap Erlan.


" Mas aku ingin makan sesuatu." Ucap Dera.


" Apa itu sayang?" Tanya Erlan.


" Aku ingin makan jambu Jamaika yang rasanya manis manis asem gitu." Ucap Dera.


" Dimana aku bisa mendapatkannya?" Tanya Erlan.


" Biasanya di super market ada, kalau tidak sepertinya di taman belakang ada pohonnya." Ujar Dera.


" Benarkah? Kok aku tidak tahu ya ada jambu seperti itu?" Ujar Erlan.


" Kita coba tengok yuk Mas." Ajak Dera.


" Ayo." Sahut Erlan.


Erlan dan Dera menuju taman belakang rumah. Di dana banyak di tumbuhi pepohonan seperti poho mangga, rambutan, sirsak, alpukat, dan jambu Jamaika.


" Mas itu ada." Dera menunjuk ke pohon besar yang sangat tinggi menurut Erlan.


" Itu ada jambu nya Mas, ayo ambil." Ujar Dera.


" Ngambilnya pakai apa sayang? Pohonnya tinggi benar." Ucap Erlan.


" Manjat lah Mas." Ucap Dera.


" Apa? Manjat?" Pekik Erlan.


" Mas kamu mantan gangster, masa' manjat pohon aja takut." Ucap Dera.


" Sayang, aku kan tidak pernah memanjat kecuali memanjat kamu di ranjang." Ucap Erlan asal.


" Apasih Mas, mau manjat nggak? Kalau nggak mau ya udah." Sahut Dera cemberut.


" Aku akan memanjat nya, demi anakku tercinta." Ucap Erlan.


Erlan mengelus perut rata Dera.


" Sayangnya Papa, doakan supaya Papa selamat sampai bawah lagi ya." Ujar Erlan.


Erlan mendekati pohon itu, pohon yang lumayan besar dan tinggi menurut Erlan.


" Aku akan menebangmu besok! Kenapa kau tumbuh besar seperti ini sih! Menyusahkanku saja." Gerutu Erlan.


Saat Erlan hendak memanjat nya, tiba tiba Dera menghentikannya.


" Mas tunggu!" Ucap Dera.


" Ada apa lagi sayang?" Tanya Erlan.

__ADS_1


" Tiba tiba aku ingin bang Bimo yang mengambilnya." Ujar Dera.


" Alhamdulillah selamat, terima kasih sayang kau telah menyelamatkan daddy." Batin Erlan.


" Aku akan segera menelepon Bimo." Sahut Erlan.


Erlan segera menelepon Bimo dan menyuruhnya untuk cepat datang ke rumah. Tak lama Bimo datang menghampirinya.


" Ada apa bos? Apa ada pekerjaan mendadak?" Tanya Bimo.


" Ambilkan jambu itu." Erlan menunjuj pohon jambu.


Bimo mendongak menatap jambu yang menggelantung di atasnya.


" Kenapa harus aku? Lagian itu tinggi bos, bisa bisa jatuh nanti saya, belum juga nikah." Sahut Bimo.


" Ini permintaan dari jodohmu, kalau kamu nggak mau juga nggak pa pa, aku tidak akan membiarkanmu menjadi menantuku." Erlan menaik turunkan alisnya.


" Jodohku?" Bimo mengerutkan keningnya.


" Iya, Dera sedang mengandung calon istrimu, dan dia ingin makan jambu itu." Ucap Erlan.


" Alhamdulillah akhirnya jodohku datang juga, selamat ya nona Dera, saya akan ambilkan jambu nya dengan senang hati." Ucap Bimo.


" Terima kasih Bang." Sahut Dera.


Bimo hendak memanjat pohonnya namun ia menghentikan aksinya.


" Kenapa?" Tanya Erlan menatapnya.


" Bos emangnya kamu udah tahu kalau anak itu perempuan? Kalau laki laki gimana?" Tanya Bimo.


" Bukannya lo akan menganggap dia keponakan lo, jadi tetap harus di turuti keinginannya, udah buruan panjat dan ambil buahnya yang banyak keburu anak gue ileran." Ucap Erlan.


" Baiklah." Sahut Bimo.


Dengan cepat Bimo memanjat pohon itu, ia memenuhi kantong plastik dengan jambu yang sudah berwarna merah maroon. Sepertinya rasanya akan manis.


" Ya udah turun." Sahut Erlan.


Bimo turun sambil membawa kantong plastik itu dengan hati hati.


" Nih bos bi dulu." Bimo mengulurkan kantong plastik itu.


" Ok makasih." Ucap Erlan.


" Nih sayang jambu nya, aku cuci dulu beberapa ya." Ujar Erlan.


" Iya Mas." Sahut Dera.


Tiba tiba...


Brugh...


" Awh." Pekik Bimo saat dirinya jatuh ke tanah. Kakinya tidak sengaja menginjak ranting yang kering.


" Astaga bang Bimo." Pekik Dera.


" Ha ha ha ha." Bukannya membantu, Erlan justru menertawakannya.


" Mas bantuin bang Bimo, malah di ketawain kan kasihan, dia susah susah ambil jambu buat aku malah jatuh." Ujar Dera.


" Baik sayang." Sahut Erlan.


Erlan membantu Bimo bangun, lalu ia memapahnya sampai di gazebo.


" Mana yang sakit Bang?" Tanya Dera.

__ADS_1


" Sepertinya kaki saya terkilir Nona." Sahut Bimo.


" Alah lebay, paling sakit dikit doank." Ujar Erlan.


" Mas." Dera menatap tajam ke arah Erlan.


" Maaf sayang." Ucap Erlan.


Bimo terkekeh melihat semua itu. Bisa bisanya mantan bos mafia takut pada istrinya sendiri.


" Apa lo Bim?" Ucap Erlan.


" Nggak apa bos." Sahut Bimo.


" Nanti pergi ke tukang urut Bang, takutnya makin parah." Ucap Dera.


" Iya Nona jangan khawatir." Sahut Bimo.


" Sayang ini jambunya." Erlan memberikan jambu yang sudah di cuci kepada Dera.


Dera langsung memakannya.


" Enak sayang?" Tanya Erlan.


" Enak banget Mas, cobain deh." Dera menyodorkan jambu bekas gigitannya kepada Erlan.


Erlan menggigitnya tiba tiba ia memejamkan matanya menahan sensasi asam dari jambu itu.


" Huek... Masam sayang." Ucap Erlan.


" Enggak ah, enak kok Mas." Sahut Dera.


" Kenapa kamu petik nya yang belum masak Bimo, ini masih asam." Ucap Erlan.


" Mungkin memang rasanya seperti itu bos." Sahut Bimo.


" Apa iya? Seharusnya kalau udah masak rasanya pasti manis Bimo." Ujar Erlan.


" Aku suka yang seperti ini Mas, pokoknya aku nggak mau tahu, kalian harus bantu aku menghabiskan semuanya." Ucap Dera.


" Apa?" Pekik Bimo dan Erlan bersamaan.


" Iya, ayo buruan! Kalau nggak mau aku akan marah dan nggak akan berbicara sama kalian berdua selama satu minggu." Ancam Dera.


" Jangan sayang! Baiklah aku akan membantumu menghabiskannya, ayo Bimo cepat makan." Ucap Erlan.


Keduanya memakan jambu itu sambil cengar cengir. Pasalnya entah jambu nya yang kurang masak atau memang rasanya yang seperti ini, jambu itu rasanya asam asam manis, membuat perut mereka sedikit perih.


Dera tersenyum menatap wajah keduanya yang nampak lucu. Alhasil jambu itu di habiskan oleh Erlan dan Bimo saja.


" Bimo, kenapa perutku sakit ya?" Erlan menatap Bimo.


" Aku juga bos, rasanya melilit sama perih gitu." Sahut Bimo memegangi perutnya.


" Aku mau ke toilet dulu." Ucap Erlan meninggalkan Dera dan Bimo.


" Nona aku juga permisi mau ke toilet ya." Ujar Bimo.


" Iya silahkan Bang." Sahut Dera.


" Kasihan mereka gara gara aku mereka jadi sakit perut, maaf ya Bang, Mas." Batin Dera.


Udah double up nih...


Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya biar author semangat double up terus.


Terima kasih untuk readers yang selalu mensupoert author, semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All


TBC....


__ADS_2