Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Seasons 2. 3 Menyadari Perasaan


__ADS_3

Keluarga Erlan sedang makan malam saat ini. Mereka makan sambil sedikit berbincang. Qiran menceritakan kejadian tadi siang kepada papa dan mamanya membuat mereka tertawa.


" Apalagi kalau mereka tahu kamu belum menikah Bang, pasti mereka memaksamu untuk memberikan nomer ponselmu." Ucap Dera.


" Mungkin saja itu bisa terjadi mengingat mereka yang sangat centil." Sahut Bimo.


Ting tong


Suara bel berbunyi, Dera segera membukakan pintunya.


Ceklek...


Dera menatap wanita cantik seumuran dengannya yang saat ini berdiri di depannya.


" Maaf cari siapa ya?" Tanya Dera.


" Aku mencari Mas Bimo." Sahutnya.


" Kamu temannya Bang Bimo?" Tanya Dera memastikan.


" Iya, kenalkan aku Maya." Ucapnya menyodorkan tangannya.


" Aku Dera." Sahut Dera membalas uluran tangannya.


" Silahkan masuk!"


Keduanya masuk ke dalam menuju ruang tamu.


" Bang Bimo nya sedang makan malam, silahkan tunggu sebentar! Aku akan memanggilnya." Ujar Dera.


" Terima kasih." Sahut Maya duduk di sofa.


Dera kembali ke meja makan.


" Bang ada yang mau bertemu denganmu, katanya teman kamu." Ucap Dera.


" Siapa?" Tanya Bimo menatap Dera.


" Maya." Sahut Dera.


" Apa? Maya ke sini?" Tanya Bimo dengan mata berbinar.


Bimo segera beranjak menemui Maya. Qiran yang melihat itu terlihat tidak suka dengan sikap Bimo yang seolah akan bertemu dengan kekasihnya.


Mengetahui akan hal itu, Dera menatap Erlan dan di balas anggukan kepala oleh Erlan.


" Ma aku ke depan dulu!" Ucap Qiran meninggalkan meja makan.

__ADS_1


" Siapa sih wanita itu? Apa dia memang teman om Bimo atau pacarnya om Bimo ya?" Monolog Qiran.


Deg....


Jantung Qiran berdenyut nyeri saat melihat Bimo dan Maya berpelukan. Ia mengepalkan erat tangannya menghampiri mereka.


" Ehem ehem." Qiran berdehem membuat kedua insan melepas pelukannya.


" Maaf, Aunti ini siapanya om Bimo ya?" Qiran duduk di depan Bimo dan Maya.


" Aku teman semasa kecilnya, ah tidak bukan teman! Lebih tepatnya pacarnya dulu waktu SMA sampai sekarang." Sahut Maya.


Qiran menatap Bimo yang hanya diam saja. Tidak mengelak dan tidak membenarkan.


" Kalau Aunti pacarnya, kenapa selama ini Aunti tidak pernah ke sini? Apa Aunti meninggalkan om Bimo begitu saja? Lalu sekarang Aunti ingin kembali kepadanya dan mengharap cintanya kembali?" Tanya Qiran dengan nada sinis.


Maya menoleh ke arah Bimo lalu kembali menatap Qiran.


" Qiran.... Jangan seperti itu! Kalau berbicara pada orang yang lebih tua kamu harus sopan sayang, nggak baik ngomong seperti itu." Ucap Bimo.


Entah mengapa teguran Bimo membuat hati Qiran sakit. Bimo seperti sedang membela Maya dari pada dirinya.


" Enggak pa pa Bim, namanya saja anak kecil." Sahut Maya.


" Aku bukan anak kecil Aunti." Ketus Qiran.


Bimo menghela nafasnya pelan.


Qiran melongo membulatkan matanya mendengar kalimat usiran dari Bimo. Dengan kesal ia meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya.


Di dalam kamar Qiran membanting tubuhnya di atas ranjangnya. Ia menatap langit langit kamarnya memikirkan apa yang saat ini sedang di rasakan hatinya.


" Kenapa aku merasa tidak suka dengan tante Maya? Aku seperti tidak rela kalau ada wanita yang mendekati om Bimo, atau mungkin karena selama ini om Bimo tidak pernah dekat dengan wanita lain ya? Dia kan hanya dekat denganku saja." Ujar Qiran mencoba mencari tahu.


Tidak mau ambil pusing Qiran duduk bersandar pada head board sambil memainkan ponselnya. Ia membuka grup chat SMAnya yang sedang ramai membicarakan cowok tertampan di Fakultas masing masing.


Tak terasa sudah jam sembilan malam. Qiran hendak tidur namun ia merasa haus. Ia turun ke bawah menuju dapur. Saat melewati ruang tamu, hatinya mencelos melihat Bimo tertawa bahagia bersama Maya.


Qiran mengurungkan niatnya, ia kembali ke kamarnya dengan perasaan sedih dan terluka.


Qiran bersandar di balik pintu menahan rasa sesak di dadanya.


" Ya Tuhan... Kenapa rasanya sesakit ini? Apa benar aku mencintai om ku sendiri? Ya... Aku semakin yakin dengan perasaanku sekarang, aku mencintai om Bimo, Ini tidak boleh terjadi padaku, aku tidak mau membuat mama sama papa kecewa dengan perasaanku ini, mulai sekarang aku harus menjauhi om Bimo, aku harus melupakan perasaan ini untuknya." Tekad Qiran. Ia menghapus air mata yang dengan tidak sopannya membasahi pipinya.


" Tapi apa aku bisa menjauh dari om Bimo? Selama ini aku selalu bergantung padanya, ya Tuhan... Bantu aku untuk melakukan semua itu, aku tidak mau membuat mama sama papa kecewa, apalagi kalau sampai om Bimo tahu jika aku mencintainya pasti dia akan ilfell dan pergi jauh dariku, tidak... Ini tidak boleh terjadi, setidaknya aku masih bisa melihat om Bimo di sini, kau pasti bisa Qiran.. Semangat!" Ucap Qiran menyemangati dirinya sendiri.


Qiran memejamkan matanya berharap ini semua hanyalah mimpi.

__ADS_1


Pagi hari menjelang, setelah selesai bersiap Qiran turun menuju meja makan. Dimana papa, mama, dan Bimo sudah menunggunya.


" Pagi Ma, Pa." Sapa Qiran tanpa menyebut nama Om.


" Pagi sayang." Sahut Erlan dan Dera bersamaan.


" Pagi princes." Sapa Bimo.


" Hmm." Gumam Qiran membuat semuanya heran.


" Mau makan apa sayang?" Tanya Bimo seperti biasa.


" Tidak Om, aku bisa ambil sendiri." Sahut Qiran.


Qiran membuat ketiga orang tua di dekatnya heran. Tidak biasanya Qiran melakukan hal seperti ini. Selama hampir dua puluh tahun Bimo selalu mengambilkan makan untuk Qiran, tapi ada apa dengan hari ini?


" Oh ya Pa, Ma, mulai sekarang aku mau bawa mobil sendiri ke kampus, aku kan udah besar jadi udah boleh kan membawa mobil sendiri."


Lagi lagi ucapan Qiran membuat mereka merasa heran.


" Kenapa kamu mau bawa mobil sendiri? Om siap mengantarmu kemana saja." Ujar Bimo menatap Qiran.


" Tidak Om terima kasih, mulai sekarang aku ingin mencoba hidup mandiri, apalagi aku anak satu satunya Papa sama Mama, aku tidak mau terus bergantung pada kalian semua." Sahut Qiran.


Bimo merasa ada yang aneh dengan sikap Qiran kepadanya. Ia akan mencari tahu nanti.


Selesai sarapan, Qiran langsung ke garasi mobilnya. Saat ia hendak masuk ke dalam tiba tiba Bimo menghalanginya Bimo menutup kembali pintunya.


" Apaan sih Om." Cebik Qiran kesal.


" Kenapa kau melakukan ini pada Om?" Tanya Bimo menatap Qiran dengan tajam.


" Melakukan apa? Apa yang aku lakukan padamu? Sudahlah! Aku mau berangkat ke kampus, minggir!" Ketus Qiran.


" Apa kamu melakukan ini karena ingin menjauhi Om? Kamu marah karena Om menegurmu dan mengusirmu semalam?" Selidik Bimo.


" Apapun yang kau lakukan tidak akan berpengaruh buatku, memangnya siapa kau bagiku Om? Dan siapa aku bagimu? Aku tidak punya hak apapun untuk marah kepadamu dan begitupun sebaliknya, sudahlah minggir! Aku mau berangkat." Ucap Qiran menarik Bimo menjauh dari pintu mobilnya.


Qiran masuk ke dalam lalu melajukan mobilnya keluar garasi menuju jalan raya.


Bimo menatap kepergian Qiran dengan perasaan yang sulit di artikan.


" Aku tidak akan membiarkanmu menjauh dariku sayang, jika perbuatanku tadi malam membuatmu marah aku akan meminta maaf padamu." Batin Bimo.


Udah double up nih.... Kasih 🌹 donk buat author....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC.


__ADS_2