Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Seasons 2. 29 Masa Ngidam


__ADS_3

Sampai...


" Papa.. Mama pingsan." Teriak Jenny.


Keduanya menoleh ke belakang.


" Astaga sayang! " Bimo berlari menghampiri Qiran yang tergeletak di rerumputan.


Bimo segera mengangkat Qiran menuju rumahnya.


" Papa, Mama kenapa? Ayo kita ikuti Mama! " Usir Jenny.


" Tidak sayang! Ketahuilah dia bukan mama kamu, dia orang lain sayang." Ujar Haris.


"Tapi dia mirip sama mama, namanya juga sama Pa. Itu berarti dia mamanya Jenny." Sahut Jenny polos.


" Kau tidak akan paham sayang, dia hanya wanita yang mirip almarhumah mama kamu saja. Sekarang ayo kita pulang! " Ucap Haris.


Dengan lesu Jenny pun masuk ke dalam mobil papanya. Dalam hari ia berdoa semoga Qiran baik baik saja dan bisa bertemu. lagi suatu hari nanti.


Sesampainya di rumah, Bimo merebahkan Qiran di ranjang kamarnya. Dera yang melihatnya segera menghampiri mereka.


" Qiran kenapa Bim?" Tanya Dera.


" Tadi dia bermain sama anak anak di taman, tiba tiba dia pingsan Ra, apa aku perlu memanggil dokter?" Tanya Bimo.


" Tidak perlu! Mungkin dia kecapekan, aku akan membuatkan minuman hangat untuknya." Ujar Dera keluar kamar.


Bimo duduk di samping ranjang sambil mengelus kepala Qiran.


" Sayang bangun donk! Mas sangat khawatir dengan keadaan kalian berdua. Mas tidak mau kalian kenapa napa sayang." Ujar Bimo.


Tak lama Qiran mengerjapkan matanya.


" Shhh." Qiran memegangi kepalanya.


" Sayang apa kepalamu sakit lagi?" Tanya Bimo.


" Iya Mas." Sahut Qiran.


" Mama kamu lagi bikinin minuman hangat untukmu, bentar ya!" Ujar Bimo.


Qiran menganggukkan kepalanya.


" Sayang ini minumannya, di minum sampai habis biar masuk angin kamu hilang." Ujar Dera memberikan susu jahe kepada Qiran.


" Terima kasih Ma." Ucap Qiran.


Qiran meminum susu jahe hangat sedikit sedikit sampai habis.


" Mama siapkan sarapan buat kalian." Ujar Dera kembali meninggalkan kamar Qiran.


" Mas pijat ya kepalanya." Ujar Bimo.


Qiran menganggukkan kepalanya. Bimo memijat pelan kepala Qiran.


" Maafkan Mas ya! Kamu jadi seperti ini karena mengandung anak Mas." Ujar Bimo.


" Apa sih Mas! Ini sudah qodratku sebagai perempuan." Sahut Qiran.


" Iya, itu sebabnya kamu tidak boleh kapok karena setelah anak pertama kita besar, kau akan mengandung anak kedua." Ujar Bimo.


" Kalau nggak trauma sih aku mau mau aja Mas." Sahut Qiran.


" Tidak akan trauma sayang, kita akan memiliki anak yang banyak biar rumah ini ramai." Ujar Bimo tersenyum senang.


" Iya Mas." Sahut Qiran tidak mau pusing pusing berpikir.

__ADS_1


Setelah makanan siap Bimo mengambil makanan untuk mereka berdua. Dengan telaten ia menyuapi Qiran sampai habis.


" Sekarang tinggal minum obatnya! Lalu istirahatlah!" Ucap Bimo memberikan tiga butir obat pada Qiran.


Qiran segera meminumnya lalu ia merebahkan tubuhnya. Bimo menyelimuti Qiran sampai batas dada.


" Mas ke ruang kerja dulu!" Bimo mencium kening Qiran.


Sepeninggal Bimo bukannya Qiran tidur malah ia muntah muntah.


Huek... Huek...


Qiran memuntahkan isi perutnya di lantai kamarnya. Ia tidak kuat berlari sampai kamar mandi.


Bimo yang mendengarnya segera berlari masuk ke dalam kamarnya.


" Sayang." Ucap Bimo.


Bimo memberikan segelas air putih pada Qiran.


" Minum dulu sayang!" Ujar Bimo.


Qiran meminumnya hingga tandas.


" Duh anaknya papa kenapa sih kok rewel? Kamu ingin makan apa sayang?" Tanya Bimo.


" Gulai kambing." Sahut Qiran.


" Papa belikan tapi jangan rewel lagi ya, jangan muntah lagi! Kasihan mama kamu." Ucap Bimo mengusap keringat di dahi Qiran.


" Iya Pa." Sahut Qiran.


" Mas bersihkan dulu ini! Setelah itu Mas akan membelikan gulai kambing untukmu." Ujar Bimo.


Tanpa rasa jijik Bimo membersihkan bekas muntahan Qiran. Ia mengepel lantainya sampai kinclong dan wangi.


Setelah selesai, ia mengambil kunci mobilnya.


" Hati hati Mas." Sahut Qiran.


Bimo keluar kamar menuju parkiran. Ia melajukan mobilnya menuju kedai gulai kambing yang ada di dekatnya.


Setelah mendapatkan apa Qiran mau, Bimo segera kembali ke rumahnya. Ia langsung menyajikan gulai kambing ke depan Qiran.


Qiran menatapnya dengan mata berbinar. Lidahnya tidak sabar untuk segera mencicipinya.


Ia menyuapkan potongan gulai ke dalam mulutnya.


" Awh panas." Ucap Qiran.


" Sabar sayang! Ini memang masih panas. Mas tiupin ya." Bimo meniup sepotong daging tanpa kuah.


Setelah itu ia suapkan ke mulut Qiran.


" Enak nggak sayang?" Tanya Bimo.


" Enak banget Mas." Sahut Qiran.


Qiran merebut mangkok dari tangan Bimo. Ia memakan gulai nya dengan lahap sampai habis tak tersisa. Bimo melongo menatapnya.


" Sayang, apa nggak mual?" Tanya Bimo. Pasalnya Qiran makannya dengan nasi putih.


" Tidak Mas!" Sahut Qiran.


Entah mengapa Qiran merasa nyaman nyaman aja.


" Baiklah kalau begitu! Mas bereskan dulu." Sahut Bimo membawa piring kotor ke dapur.

__ADS_1


Qiran duduk bersandar sambil memainkan ponselnya sampai Bimo kembali ke kamarnya.


...----------------...


Semenjak itu setiap hari Qiran makan dengan gulai kambing. Anehnya ia tidak mual, dan bayinya sehat sehat saja. Entah ini yang dinamakan ngidam atau memang doyan.


Pengalaman author waktu hamil anak kedua


" Sayang ayo kita beli gulai di tempat biasa, sekali kali kita makan di sana." Ucap Bimo.


" Aku udah nggak ingin makan gulai, aku maunya bakso." Sahut Qiran.


" Baiklah ayo kita beli." Bimo menggandeng tangan Qiran keluar kamar.


Bimo melajukan mobilnya menuju kedai bakso freedom. Sampai di sana mereka memesan dua mangkok bakso. Qiran menambahkan sambal ke mangkok baksonya.


" Sayang jangan kebanyakan sambalnya! Kasihan anak kita nanti." Ujar Bimo.


" Aku penginnya yang pedas Mas, udah ah nggak usah nglarang nglarang gitu." Sahut Qiran.


" Tapi sayang...


" Kalau kamu ngomong terus aku nggak mau makan nih!" Ancam Qiran kesal.


Bimo hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia tidak mau membuat Qiran marah.


Keduanya makan dengan khidmat. Qiran nampak lahap memakannya walaupun keringat mengucur deras di keningnya.


" Sayang kamu berkeringat." Ucap Bimo mengusapnya dengan tisu.


" Pedes banget Mas." Ujar Qiran meminum teh hangatnya.


" Makanya jangan kebanyakan sambalnya sayang, kalau nggak kuat jangan di makan lagi, kita pesan yang baru saja." Ujar Bimo.


" Tidak Mas! Udah habis nih." Sahut Qiran.


Bimo menggelengkan kepalanya saja.


" Setelah ini kita mau kemana?" Tanya Bimo menatap Qiran.


" Aku mau pulang aja Mas, aku pengin tiduran di rumah." Sahut Qiran.


" Baiklah." Sahut Bimo.


Saat mereka sedang asyik minum tiba tiba seorang wanita cantik menghampiri mereka.


" Bimo." Ucapnya.


" Siska." Ucap Bimo.


Siska menatap Qiran lalu menatap Bimo kembali.


" Siapa dia Bim? Dimana Maya? Pasti anak kalian sudah besar ya, aku kangen pengin ketemu mereka." Ujar Siska duduk di depan Bimo tanpa di persilahkan.


Hati Qiran mendadak menjadi panas mendengar nama Maya di sebutkan. Walaupun Maya sudah tiada tapi di dalam hatinya masih menyimpan kekesalan.


" Bim, dimana Maya?" Tanya Siska kembali.


Dengan kesal Qiran meninggalkan mereka berdua.


" Sayang tunggu!" Ucap Bimo.


Qiran tidak peduli, ia terus berjalan menuju jalan raya.


" Apes banget harus ketemu Siska hari ini." Bimo menepuk jidatnya.


Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya

__ADS_1


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu..


Miss U All....


__ADS_2