
Bimo masuk ke dalam, lalu...
" Eh maaf non." Ucap Bimo hendak keluar.
" Bang Bimo, bantu aku!" Ucap Dera.
Bimo mendekati ranjang, ternyata Erlan tidak sadarkan diri di atas tubuh Dera.
Bimo menangkap tubuh Erlan lalu membaringkan nya di atas ranjang dengan benar.
" Ini kotak p3knya non, saya mau membersihkan semua ini dulu." Ucap Bimo.
" Terima kasih Bang." Sahut Dera.
Dera segera membersihkan luka Erlan dengan air hangat, setelah di obati ia membungkusnya dengan perban.
Melihat Bimo membersihkan kamar Erlan, Dera membantunya.
" Kalau boleh tahu Mas Erlan kenapa Bang? Apa karena penolakanku dia jadi seperti ini?" Tanya Dera sambil menyapu lantai.
" Sepertinya begitu nona, saya juga tidak tahu pastinya, tadi saat saya ke sini bos sudah seperti ini, saya takut bos kenapa napa makanya saya telepon anda." Terang Bimo.
" Apa dia selalu melakukan kekacauan seperti ini jika dia marah?" Dera bertanya lagi. Entah mengapa ia ingin tahu lebih tentang Erlan.
" Iya nona, saya merasa kasihan sama bos, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya nona, setelah kematian bos besar, ibu tiri bos Erlan selalu memusuhinya dan mengatur hidupnya." Ucap Bimo.
" Saya tidak pernah melihat bos tersenyum selama ini nona, tapi bersama anda bos bahkan bisa tertawa, saya mohon jangan tinggalkan bos Erlan, anda lah sumber kebahagiaannya, selama ini tidak ada wanita yang mencuri perhatiannya, saya yakin bos akan hancur jika anda meninggalkannya." Sambung Bimo.
" Entahlah Bang Bimo, aku tidak tahu harus bagaimana, yang jelas saat ini aku tidak memikirkan untuk menjalin hubungan Bang, ikuti saja takdir akan membawaku kemana, jika kami berjodoh maka suatu hari kami akan bersatu." Ucap Dera.
" Setidaknya anda tidak meninggalkan bos Erlan, nona." Ucap Bimo.
Dera menganggukkan kepalanya membuat Bimo bernafas lega.
" Mas Erlan sudah tidur, saya pulang dulu Bang." Ucap Dera.
" Kalau boleh anda jangan pulang dulu nona, saya takut kalau bos bangun akan mengamuk lagi." Ujar Bimo.
" Tapi ini sudah malam Bang." Ujar Dera.
" Anda menginap saja di sini nona, saya akan berjaga di depan, tolong saya nona! Saya tidak mau bos Erlan kenapa napa, bagaimana kalau nanti dia bangun terus mencari anda? Terus dia mengamuk karena tidak menemukan anda di sini nona? Terus bos melompat dari sini gimana nona?" Tanya Bimo mendramatisir ucapannya.
" Anda berpikiran sempit Bang, ya udah deh saya menginap di sini untuk menjaga Mas Erlan, puas?" Ujar Dera di balas senyuman oleh Bimo.
" Kalau begitu saya keluar dulu nona, kalau ada apa apa silahkan panggil saya, selamat malam." Ucap Bimo.
" Selamat malam." Sahut Dera.
__ADS_1
Dera menatap Erlan yang terbaring di ranjang.
" Kasihan sekali kamu Mas, aku tidak tahu apa yang membuatmu menjadi seperti ini." Ucap Dera.
" Aku mau tidur dimana ya?" Dera mengedarkan pandangannya.
Ternyata di dalam kamar Erlan tidak ada sofa. Akhirnya Dera tidur di samping Erlan dengan guling di tengah sebagai pembatasnya.
...****************...
Sinar matahari masuk ke dalam kamar Erlan melalui celah celah korden. Dera membuka matanya dan bertatapan langsung dengan mata Erlan. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat sampai....
" Astaga." Pekik Dera saat menyadari ia dalam pelukan Erlan.
" Mas lepas!" Ucap Dera mencoba melepaskan diri dari pelukan Erlan.
" Kenapa aku harus melepasmu? Kau sendiri yang datang kepadaku Dera." Sahut Erlan.
" Mas jangan seperti ini! Lepaskan aku, ini tidak benar Mas." Ujar Dera.
" Kalau ini tidak benar kenapa kau ada di sini? Seharusnya kau bersenang senang bersama mantan suamimu kan." Ujar Erlan merasa kesal mengingat kejadian tadi malam.
" Apa maksudmu Mas?" Tanya Dera menatap Erlan.
" Aku tidak menyangka kau wanita yang pandai berdusta Dera, di rumah kau bersama mantan suamimu, setelah dia pergi kau mendekat ke arahku." Ucap Erlan mengelus pipi Dera.
" Aku tidak mengerti apa maksudmu." Ucap Dera.
Dera menyentak kasar tangan Erlan hingga membuat pelukannya lepas. Ia segera turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci mukanya.
Setelah selesai, Dera mengambil tas selempang nya lalu keluar dari kamar Erlan.
" Dera." Panggil Erlan mengejar Dera setelah menyadari kesalahannya.
Saat Dera hendak membuka pintu tiba tiba seseorang membukanya dari luar.
Nampak seorang wanita paruh baya menatap Dera dengan tatapan meremehkan.
" Kau wanita yang di sewa putraku? Berapa dia membayarmu sampai dia menolak perjodohan yang sudah aku siapkan?" Tanya wanita itu.
Wanita yang menjadi ibu tiri Erlan, nyonya Rubi namanya.
" Anda tanyakan saja pada putra Anda, nyonya." Sahut Dera melirik Erlan.
" Erlan, apa begini caramu hidup selama ini? Kau mengundang wanita panggilan untuk menemani malam dan menghangatkan ranjangmu? Apa kau tidak tertarik dengan yang namanya pernikahan? Monika jauh lebih baik dari semua wanita yang pernah kau panggil kemari." Ucap nyonya Rubi melirik Dera.
" Saya tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kalian berdua nyonya, maaf saya permisi." Ucap Dera menyelknong keluar meninggalkan apartemen Erlan.
__ADS_1
" Dera tunggu!" Teriak Erlan namun tidak di hiraukan oleh Dera.
Erlan menatap tajam ke arah ibu tirinya.
" Jangan pernah kau menghina calon istriku nyonya Rubi." Tekan Erlan.
" Apa? Calon istri? Apa kau buta hingga gadis biasa seperti dia kau jadikan istrimu? Apalagi dia bekerja sebagai wanita panggi..
" Dia bukan wanita panggilan sepertimu." Bentak Erlan membuat nyonya Rubi berjingkrak kaget.
" Jaga bicaramu Erlan! Aku ini ibumu." Ucap nyonya Rubi.
" Bukan!... Kau hanya seorang pelakor yang merebut ayahku dari ibuku, berhentilah mencampuri urusanku." Tekan Erlan.
" Aku tidak akan menerima wanita tadi menjadi calon menantuku, aku tidak akan merestui hubungan kalian." Ucap nyonya Rubi.
" Aku tidak membutuhkan restumu, segera pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi ke sini, kau sudah cukup puas kan dengan rumah yang kau tempati, aku berharap kau tidak berniat mengambil apartemen ini." Ucap Erlan.
" Baiklah aku akan pergi, aku ke sini untuk memintamu menemui Monika, calon istrimu nanti jam sembilan di resto xx." Ucap nyonya Rubi.
" Aku tidak akan pernah menemuinya, dan calon istriku hanyalah Dera, Aldera Pramesti, camkan itu." Ucap Erlan menutup pintunya
" Aku tidak akan membiarkanmu menikahi wanita lain selain Monika, karena hanya dia yang bisa aku kendalikan Erlan." Monolog nyonya Rubi.
Erlan kembali ke kamarnya, saat ia melewati ruang tamu ia mengerutkan keningnya melihat Bimo duduk di sana.
" Kamu ada di sini?" Tanya Erlan.
" Iya bos, saya di sini sejak tadi malam dan saya yang meminta nona Dera untuk menjaga anda di sini, dia juga yang mengobati luka anda." Ucap Bimo menunjuk tangan Erlan.
" Saya lihat semalam anda menciumnya tapi kenapa pagi ini anda menghinanya." Sambung Bimo.
" Apa? Aku menciumnya?" Tanya Erlan memastikan.
" Iya bos." Sahut Bimo.
" Berarti semalam bukan mimpi?" Gumam Erlan membayangkan kejadian semalam dimana ia dengan lembut mencium bibir Dera.
Sesaat ia teringat hinaan yang ia lontarkan kepada Dera. Rasa bersalah menyeruak dalam hatinya.
" Aku harus segera ke rumah Dera." Erlan segera kembali ke kamarnya untuk mandi.
Ia berencana meminta maaf kepada Dera karena kata kata kasarnya.
Udah tiga bab ini....
Kasih author 🌹like koment dan votenya ya...
__ADS_1
Miss U All...
TBC.....