
Tiga bulan berlalu, pagi ini Qiran merasa kepalanya sangat pusing. Rasanya pandangannya kabur. Ia memijat keningnya dengan pelan.
Bimo yang baru keluar dari kamar mandi segera menghampirinya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Bimo.
" Kepalaku sakit banget Mas." Sahut Qiran.
" Sini Mas pijit!" Bimo duduk di tepi ranjang.
Bimo memijat kepala Qiran dengan pelan.
Tiba tiba...
Huek...
" Sayang." Pekik Bimo saat Qiran muntah tepat di pahanya dan mengenai bagian tengahnya.
Huek...
Lagi....
Bukannya pergi karena merasa jijik, Bimo justru memijat tengkuk Qiran.
" Gimana? Apa udah mendingan?" Tanya Bimo.
Qiran mengusap mulutnya dengan kaos yang Bimo kenakan. Bimo hanya memejamkan mata saja. Ia tidak mungkin marah dengan Qiran hanya karena hal sekecil ini.
" Maaf Mas, aku membuatmu harus mandi lagi." Ujar Qiran.
" Tidak masalah sayang, Mas mandi dulu ya." Ujar Bimo masuk ke kamar mandi.
Lima belas menit, Bimo keluar dengan pakaian rapi. Ia melihat ke arah ranjang dan...
" Astaga sayang." Bimo menghampiri Qiran yang sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
Ia segera membopong Qiran menuju mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Qiran segera di tangani oleh dokter jaga yang ada di UGD.
" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Bimo.
" Selamat tuan, istri anda sedang hamil."
Ucapan dokter membuat Bimo melongo membulatkan matanya.
" A.. Apa Dok? Hamil? Istri saya hamil?" Pekik Bimo tidak percaya.
" Iya Tuan, istri anda hamil sekitar tujuh minggu. Nanti akan ada dokter spesialis kandungan yang memeriksanya, sebentar lagi istri anda akan siuman." Ucap dokter.
" Terima kasih Dok." Ucap Bimo.
" Sama sama, saya permisi." Dokter kembali ke ruangannya.
Bimo duduk di kursi tepi ranjang, ia menggenggam tangan Qiran lalu menciuminya.
" Terima kasih sayang, terima kasih dengan hadiah yang kau berikan kepada Mas. Mas sangat bahagia sayang, Mas akan menjadi seorang ayah. Mas jadi tidak sabar menanti kelahirannya." Ucap Bimo.
Qiran membuka matanya, ia memperhatikan sekitar.
__ADS_1
" Aku dimana Mas?" Qiran memegangi kepalanya.
" Kamu di rumah sakit sayang, tadi kamu pingsan." Ujar Bimo.
" Aku sakit apa Mas?" Qiran bertanya lagi.
" Kamu hamil sayang." Sahut Bimo sontak membuat Qiran melongo.
" Ha... Hamil Mas?" Ucap Qiran tidak percaya.
" Iya sayang, di sini ada calon anak kita." Bimo mengelus perut rata Qiran.
Qiran menyentuh perutnya dengan perasaan bahagia.
" Kita akan menjadi orang tua Mas." Ucap Qiran.
" Iya sayang, kita akan menjadi orang tua yang menyayangi anak anak kita kelak." Ujar Bimo.
" Iya Mas." Sahut Qiran tersenyum bahagia.
" Ayo kita pulang Mas!" Ajak Qiran.
" Dokter meminta kita menunggu infusnys sampai habis, nanti juga akan ada dokter kandungan yang memeriksamu sayang untuk memastikan kalau kamu benar benar hamil dan keadaan janin kita sehat." Ujar Bimo.
" Baiklah Mas." Sahut Qiran.
Sore hari Qiran di pindah ke ruang bagian obgyn. Dokter Mila segera melakukan USG terhadapnya.
" Lihatlah Tuan, Nona! Titik hitam ini calon bayi kalian. Usianya tujuh minggu dan dia sehat." Jelas dokter Mila.
" Di tri semester pertama biasanya ibu hamil akan mengalami morning sickness yaitu mual dan muntah di pagi hari, jangan khawatir Nona itu tidak berbahaya. Makan makanan bergizi, perbanyak minum air putih, jangan sampai stress dan kecapekan." Ujar dokter Mila.
" Baik Dok." Sahut Qiran.
Setelah di periksa Qiran segera menebus resepnya. Setelah itu keduanya kembali ke rumah. Bimo menggendong Qiran sampai ke kamarnya. Ia tidak mau sampai Qiran kecapekan.
Bimo menurunkan Qiran di atas ranjang.
" Apa kamu ingin makan sesuatu sayang?" Tanya Bimo menatap Qiran.
" Aku pengin tidur aja Mas, kepalaku pusing." Sahut Qiran.
" Baiklah kau tidur saja, nanti saat makan malam aku akan membangunkanmu." Ujar Bimo duduk di tepi ranjang. Ia mengusap usap kepala Qiran hingga Qiran memejamkan matanya.
Malam hari Qiran turun ke bawah menuju meja makan. Ia mengembangkan senyumnya saat melihat kedua orang tuanya ada di sana.
" Mama... Papa." Qiran memeluk mereka bergantian.
" Selamat sayang! Akhirnya kau akan menjadi seorang ibu, buatkan cucu yang banyak untuk Mama ya." Ucap Dera.
" Tenang aja Ma! Kalau cuma membuat akan aku buatkan setiap hari. Tapi kalau masalah jadi dan enggaknya aku tidak tahu." Sahut Qiran nyeleneh.
" Kamu ini." Dera mencubit pelan pipi kanan Qiran.
" Ma ae, apa nanti waktu persalinan rasanya sakit?" Tanya Qiran menatap Dera.
Dera menatap Bimo yang menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Tidak! Siapa bilang?" Dera balik bertanya.
" Aku menonton video orang melahirkan kok sepertinya sakit banget ya... Jadi takut sendiri aku Ma." Ujar Qiran.
" Tidak sayang, semuanya proses alami. Yah mungkin kau akan merasakan sakit tapi hanya sebentar saja, setelah anakmu lahir sakitnya akan hilang begitu saja." Ujar Dera.
" Oh gitu ya Ma." Qiran menganggukkan kepalanya.
" Ya sudah sekarang makanlah! Mama sudah memasak makanan kesukaan kamu, capcay sayur." Ujar Dera.
" Terima kasih Ma." Ucap Qiran.
Bimo mengambilkan makanan untuk Qiran. Qiran tersenyum bahagia ke arahnya. Mereka makan dengan khidmat.
Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga.
" Ma, apa Mama akan tinggal di sini lebih lama?" Tanya Qiran.
" Bimo meminta kami tinggal di sini sampai usia kandunganmu empat bulan sayang. Bimo ingin Mama menemani kamu saat dia bekerja." Sahut Dera.
" Aku senang banget kalau Mama mau menemaniku, selama ini aku kesepian Ma." Ujar Qiran.
" Maaf ya sayang kamu jadi kesepian di rumah karena Mas tinggal kerja." Ucap Bimo.
" Tidak masalah Mas! Toh kamu kerja kan juga buat aku dan masa depan anak anak kita nanti. Setelah anak kita lahir, aku tidak akan kesepian lagi." Sahut Qiran.
" Iya sayang, dia akan menjadi temanmu di rumah ini." Ujar Bimo.
Lama berbincang kini Bimo dan Qiran masuk. ke dalam kamarnya. Saat Qiran naik ke atas ranjang tiba tiba ia menginginkan sesuatu.
" Mas." Panggil Qiran.
" Iya sayang, ada apa?" Bimo naik ke atas ranjang.
" Aku ingin makan gulai kambing Mas. Kamu belikan gih." Ujar Qiran.
" Gulai kambing? Kamu lagi hamil muda lhoh sayang. Katanya tidak boleh makan olahan dari kambing." Ucap Bimo.
" Ya makannya sedikit aja Mas, aku ingin makan itu sekarang juga." Ujar Qiran.
" Udah jam sembilan malam sayang, kedainya pasti pada tutup. Mending kita tidur aja." Sahut Bimo.
" Kamu mah ngeles aja! Bilang aja kalau nggak mau beliin." Cebik Qiran.
" Bukan begitu sayang.... Makan gulai kambingnya nunggu kehamilanmu empat bulan ya, aku pasti akan membelikannya." Ujar Bimo.
" Udah nggak kepengin Mas, ya udah lah aku mau tidur aja." Qiran menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Bimo menghela nafasnya pelan. Ia harus menyiapkan stok kesabaran yang super banyak untuk menghadapi sikap Qiran ke depannya.
Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya
Terima kasih untuk kalian semua yang sudah mendukung author... Semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC....
__ADS_1