
Huek.... Huek....
Aulia muntah di wastafel kamar mandi. Revan segera menghampirinya.
" Sayang kamu muntah?" Tanya Revan.
Aulia membasuh mulutnya.
" Iya Mas, rasanya mual banget." Sahut Aulia sambil mengelus elus ulu hatinya.
" Apa ini sakit?" Revan menyentuh bagian ulu hati Aulia.
" Enggak Mas, cuma rasanya mau muntah aja." Sahut Aulia.
" Aku buatkan susu khusus mual mau?" Tawar Revan mengusap dahi Aulia yang berkeringat.
Aulia menganggukkan kepalanya.
" Baiklah akan aku buatkan, sekarang ayo kembali ke ranjang." Revan menuntun Aulia kembali ke ranjangnya.
Revan membantu Aulia duduk bersandar pada tumpukan bantal. Revan mengecup kening Aulia, setelah itu ia mengelus perut Aulia.
" Tunggu sebentar ya sayang, Papa buatkan susu dulu buat kamu, jangan nakal ya! Kasihan Mama." Ucap Revan.
" Iya Papa." Sahut Aulia menirukan suara anak kecil.
Revan keluar dari kamarnya, ia membuat susu di dapur lalu kembali ke kamarnya.
" Nih sayang langsung di minum ya mumpung masih hangat." Ucap Revan memberikan susu ibu hamil rasa stroberry.
" Mas kaya'nya kalau susunya hangat tetap muntah deh, coba di kasih es batu Mas biar seger." Ujar Aulia.
" Kalau mau di kasih es batu, nanti nunggu dingin dulu sayang." Sahut Revan meletakkan gelasnya di atas nakas.
" Iya nggak pa pa Mas." Sahut Aulia.
Revan duduk di samping Aulia.
" Apa kamu ingin makan sesuatu? Biasanya kan kalau wanita hamil suka ngidam gitu, suka pengin makan yang aneh aneh, coba katakan kamu ingin apa? Aku akan membelikannya." Ujar Revan menatap Aulia.
" Beneran kamu mau membelikannya?" Tanya Aulia memastikan.
" Iya sayang, katakan apa yang kamu mau!" Ucap Revan.
" Aku pengin rumah dan mobil mewah." Sahut Aulia menatap Revan.
Glek....
Revan menelan kasar salivanya.
" Kalau itu aku nyerah sayang, aku nggak sanggup! Mending anak kita ileran daripada aku harus membelikan semua itu padamu, bukannya aku pelit tapi seperti yang lagi viral, aku nggak mampu." Sahut Revan dengan muka memelas.
Aulia menahan tawanya menatap wajah Revan yang menurutnya sangat lucu itu.
" Ha ha ha ha." Akhirnya tawa Aulia pecah.
Revan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Mas muka kamu lucu banget yakin." Kekeh Aulia.
" Kamu mengerjaiku?" Tanya Revan.
" Ya iyalah, nggak mungkin aku meminta itu sama kamu Mas, aku memahami keadaanmu, lagian aku juga nggak suka hal hal seperti itu, aku lebih suka kesederhanaan asalkan kita selalu bersama, aku ingin hidup dengan di temani olehmu dan cintamu, kita akan hidup bahagia bersama keluarga kecil kita, cukup terus berada di sampingku dan jangan tinggalkan aku, itu saja sudah cukup bagiku, aku tidak mau apa apa lagi." Ujar Aulia.
" Jantungku hampir copot sayang mendengar permintaanmu." Sahut Revan memegang dadanya.
" Maaf Mas." Ucap Aulia.
" Tidak apa sayang, terima kasih sudah menerimaku dan apapun keadaanku, aku berjanji akan menjadikanmu pelabuhan terakhirku, aku akan selalu menemanimu dan menyayangimu sampai nafas terakhirku." Ucap Revan mencium punggung tangan Aulia.
" Terima kasih Mas." Ucap Aulia memeluk Revan.
Keduanya meresapi perasaan bahagia di hati masing masing. Mereka sangat bersyukur bisa memiliki satu sama lain.
" Susunya mau di minum kapan sayang?" Tanya Revan.
" Sekarang aja Mas." Sahut Aulia.
" Baiklah aku ambil es batu dulu." Ucap Revan berjalan menuju dapur.
Di tempat lain, tepatnya di rumah Erlan. Dara sedang menggendong babby Qiran sambil menimang nya. Erlan datang menghampirinya.
" Sayang makanannya udah siap, kamu makan dulu gih biar Qiran sama aku." Ucap Erlan.
" Kamu aja yang makan dulu Mas, nanti baru aku." Ujar Dera.
" Kamu harus makan yang banyak dan sering makan sayang supaya asi kamu banyak, kasihan anak kita kalau sampai dia kekurangan asi." Sahut Erlan.
Ya semenjak melahirkan, Dera di haruskan banyak makan dalam tempo yang sebentar. Sebelum menyusui, ia harus makan. Setelah menyusui, ia juga harus makan. Tidak boleh makan ini, tidak boleh makan itu, jangan ini, jangan itu. Erlan benar benar posesif kepada Dera setelah kelahiran putri kecilnya.
" Biarkan Qiran sama aku bos! Kalian berdua makan saja." Ucap Bimo di depan pintu.
" Ah iya, berikan Qiran sama Bimo sayang! Kita makan dulu." Ujar Erlan.
" Hati hati yang Bang Bimo." Ucap Dera memberikn Qiran kepada Bimo.
" Siap Nona." Sahut Bimo.
Erlan menggandeng tangan Dera keluar kamarnya menuju meja makan.
" Princesnya Om kok bubuk terus sih, ngantuk ya... Duh imut banget kamu sayang, besok kalau udah besar cantik seperti mama ya." Ucap Bimo sambil menimang babby Qiran.
" Eh kalau cantik ya seperti mamanya, kalau seperti papanya namanya ganteng, ya ampun Bimo lo bego' bener sih." Gerutu Bimo.
Bimo terus menimang Qiran sampai sesuatu mengalir membasahi baju Bimo.
" Astaga princesnya Om, kamu pipis ya..." Ujar Bimo.
" Kamu pipis aja masih bisa tidur nyenyak begini, Om gantiin dulu ya popoknya." Kekeh Bimo menidurkan Qiran di atas ranjang.
Dera memang sengaja tidak memakaikan diapers kepada putrinya. Karena menurutnya itu tidak baik bagi kesehatan, jadi ia hanya memakaikan popok dan celana saja.
Dengan telaten dan seperti orang yang sudah berpengalaman, Bimo menggantikan popok babby Qiran dengan yang baru. Setelah selesai, ia menggendongnya lagi.
" Setidaknya aku sudah bisa menggantikan popok, jadi besok kalau aku sudah menikah, aku tidak bingung lagi cara mengganti popok anakku dengan benar." Ujar Bimo.
__ADS_1
Tak lama Erlan dan Dera pun kembali ke kamarnya.
" Bang Bimo makan dulu gih, biar Qiran sama aku." Ucap Dera mengambil alih Qiran dari gendongan Bimo.
" Iya Nona." Sahut Bimo.
" Eh... Qiran pipis ya Bang, nggak nyangka kalau Bang Bimo bisa gantiin popok juga." Ujar Dera saat melihat popok Qiran sudah ganti.
" Hitung hitung sambil belajar Nona." Sahut Bimo.
" Tuh Mas belajar." Dera melirik Erlan.
" Iya iya... Aku juga akan belajar dengan baik biar seperti Bimo, puas." Sahut Erlan.
Ya.. Erlan selalu bingung kalau Qiran ngompol dalam gendongannya. Ia tidak bisa menggantikan popoknya dengan alasan takut.
Takut karena babby Qiran masih sangat kecil menurutnya. Ia takut salah satu kaki babby Qiran terlikir karena ulahnya, alhasil kalau babby Qiran ngompol, ia langsung berteriak memanggil Dera.
Bimo keluar kamar Erlan sambil menggelengkan kepala.
" Bimo." Panggil Erlan menghentikan langkah Bimo.
" Ya Bos." Sahut Bimo.
" Awas aja kalau lo berani mengumpat akan gue potong gaji lo bulan depan." Ancam Erlan.
" Tidak bos." Sahut Bimo melanjutkan langkahnya.
Erlan menghampiri Dera yang menidurkan Qiran di boxnya.
" Sayang kamu bikin malu aku di depan Bimo, pasti dia berpikiran kalau aku bukan ayah yang baik." Ujar Erlan.
Dera menatap Erlan lalu tersenyum padanya.
" Mengganti popok anak itu bukan ukuran menjadi ayah yang baik Mas, lagian kamu belum bisa bukan tidak bisa." Sahut Dera.
Dera menangkup wajah Erlan.
" Kau adalah ayah terbaik bagi Qiran, dan kau adalah suami terbaik bagiku, kau juga bos terbaik bagi Bang Bimo, kau adalah terbaik dari yang terbaik Mas, kami bahagia bisa berada di sampingmu, jangan berkecil hati aku akan mengajarimu cara memakaikan baju dan menggantikan popok untuk Qiran." Ucap Dera.
" Terima kasih sayang, ucapanmu membuat hatiku tenang, aku sudah insecure tadi melihat Bimo lebih pintar dari aku." Ujar Erlan.
" Kau harus selalu percaya diri, karena kau punya kemampuan." Sahut Dera.
Erlan memeluk Dera, ia menciumi pucuk kepala Dera dengan perasaan bahagia.
Masih mau lanjut apa loncat ke seasons dia nih..... Tulis di kolom komentar ya...
Jangan lupa untuk tetap like koment vote dan hadiahnya buat author biar author semangat..
Yang belum mampir ke AFFAIR WITH YOU author tunggu ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC.....
__ADS_1