Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Kehilangan Erlan


__ADS_3

Hari hari berlalu, sudah enam bulan lamanya Erlan tidak di temukan. Hidup Dera bagaikan boneka hidup tanpa adanya Erlan, beruntung Bimo selalu menemaninya. Dera bertahan hidup hanya demi anak yang kini di dalam kandungannya.


Satu minggu yang lalu Revan sudah bebas dari penjara. Sesekali ia menjenguk Dera sekedar untuk membujuk Dera makan atau sekedar menghiburnya saja. Ia prihatin melihat keadaan Dera saat ini. Dera sangat terpukul atas hilangnya Erlan dalam hidupnya.


Seperti hari ini, Revan dan Bimo ada di dalam kamar Dera. Keduanya sedang membujuk Dera untuk makan namun sedari tadi Dera hanya diam saja. Tubuh lurus perut buncit membuat Dera nampak seperti orang cacingan.


" Dera, kamu harus makan! Kasihan anak kamu, dia akan kelaparan Dera di dalam sana, kalau kamu sayang sama Erlan kau juga harus menyayangi anakmu, kalau kamu seperti ini, Erlan akan marah melihatnya, ia tidak akan mau pulang ke rumah karena kamu tidak menjaga dirimu dengan baik, sekarang makan ya, aku suapin atau kamu mau Bimo yang menyuapi?" Tanya Revan menatap Dera.


Dera menatap ke depan dengan tatapan kosong. Hanya air mata yang menetes membasahi pipinya.


" Nona jangan menangis! Kita pasti akan menemukan bos Erlan, Nona yang sabar ya! Kami sedang berusaha Nona, seluruh anak buahku sedang berusaha mencari bos Erlan Nona." Ucap Bimo.


Dera menatap ke arah Bimo. Ia mengusap air matanya.


" Sampai kapan Bang? Sampai kapan kalian bisa menemukan Mas Erlan? Bagaimana jika Mas Erlan sudah tiada hah? Kalian terlalu lamban mencarinya, atau sebenarnya kalian tidak mencarinya? Katakan Bimo! Katakan! Apakah kalian sudah mencari dengan benar? Atau kalian hanya diam saja hah?" Bentak Dera.


Bimo diam tidak bergeming, ia membiarkan Dera mengeluarkan apa yang selama ini terpendam di dalam hatinya.


" Enam bulan Bang.... Enam bulan kalian tidak bisa menemukan Mas Erlan, lalu aku harus bagaimana? Aku tidak bisa hidup tanpanya, hidupku tidak ada artinya tanpa kehadirannya, untuk apa aku makan jika aku tidak tahu apakah Mas Erlan di sana makan atau tidak, apakah Mas Erlan bisa bernafas dengan baik atau tidak? Apakah Mas Erlan masih bernafas atau sudah tidak bisa bernafas lagi hiks... Mas Erlan... Sampai kapan kau pergi jauh dariku, aku merindukanmu Mas hiks... Aku sangat merindukanmu hiks.... " Isak Dera.


" Maafkan kami Nona, kami akan berusaha lebih keras lagi, kami berjanji akan membawa bos Erlan pulang malam ini juga, saya akan menelepon anak buahku yang sedang mengintai markas laba laba." Ucap Bimo mengeluarkan ponselnya.


Bimo menelepon anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengintai markas musuh. Karena markas itu yang selama ini terlihat mencurigakan.


" Halo, bagaimana?" Tanya Bimo.


" Sepertinya memang ada tahanan di dalam sana bos, apa bos bisa segera ke sini? Kita akan kepung sama sama bos." Ucapnya.


" Baiklah tunggu aku datang." Sahut Bimo mematikan ponselnya.


" Nona sepertinya sebentar lagi kita menemui titik terang, saya akan pergi untuk memastikannya, Nona di sini saja bersama Revan kalau ada apa apa segera telepon saya." Ucap Bimo yang di balas anggukan kepala oleh Dera.


Bimo segera meninggalkan rumah Dera.


" Dera, kamu makan dulu! Sebentar lagi Erlan di temukan, jadi kamu harus terlihat sehat supaya Erlan tidak sedih melihat kondisimu yang seperti ini yah." Ucap Revan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Dera.


Dengan pelan Dera menerima suapan dari Revan. Revan tersenyum melihatnya. Setidaknya ia bisa berguna untuk kehidupan Dera saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Di sebuah markas kelompok laba laba, tubuh Erlan terikat di atas kursi usang. Ia seperti orang yang tidak berdaya.


Byurrr...


Seseorang menyiramnya dengan air dingin membuatnya kelabakan.


" Lepaskan aku!" Teriak Erlan memberontak.


" Lepaskan? Enak aja kau bilang lepaskan! Apa saat kakakku berteriak minta di lepaskan waktu itu, kau melepaskannya hah?" Bentak orang itu mendorong tubuh Erlan.


" Siapa kau sebenarnya? Dan kakakmu yang mana yang kau maksud hah?" Teriak Erlan menatap tajam ke arah pria itu.


" Kakakku Adi... Pria yang kau siksa dan kau potong tangannya, dan setelah itu kau potong lehernya hingga kakakku tiada, dan aku akan melakukan hal yang sama kepadamu Erlangga." Teriak pria itu.


" Aku.... Ari.. Adik dari Adhi tidak akan melepas orang yang telah membuatku kakakku tiada.. " Teriak Ari menendang kaki Erlan.


" Awh." Pekik Erlan kesakitan saat tulang keringnya di tendang oleh Ari.


" Kakakmu pantas mendapatkannya, dia mengkhianati kami jadi sudah sepantasnya pengkhianat di musnahkan dari muka bumi ini." Ucap Erlan tanpa takut.


" Erlangga Pramana... Lo punya istri bernama Aldera Pramesti, dia sedang mengandung anakmu kan? Akan lebih menyenangkan jika aku bermain main dengannya bukan? Dari pada bermain denganmu tidak akan mengasyikkan." Ucap Ari menatap Erlan dengan tajam.


" Berani kau macam macam kepada istriku, maka aku akan membunuhmu." Tekan Erlan.


" Urusanmu sama aku bukan dengan istriku, istriku tidak bisa kau sentuh, jika kau berani menyentuhnya apalagi melukainya akan aku ratakan markasmu ini dengan tanah, dan kau akan aku kirim ke neraka saat itu juga, sekarang lepaskan aku! Jika kau berani satu lawan satu, aku akan akui kejantananmu." Tekan Erlan mencoba membuka tali yang mengikat ke tubuhnya.


Ari mendekati Erlan, ia menjabak rambut Erlan dengan kasar, rasanya seolah hendak copot dari kepala. Setelah itu Ari membenturkan dahi Erlan ke kursi dengan keras hingga membuat darah mengalir dari pelipis Erlan.


" Shh." Desis Erlan merasakan perih.


" Gue akan bunuh lo sekarang juga Erlangga." Bentak Ari mengambil pistol di saku celananya.


" Hutang nyawa harus di bayar nyawa, setelah aku membunuhmu aku akan menikahi jandanya istrimu, aku akan menyiksanya dan anaknya nanti supaya kau bisa melihat betapa menderitanya anak dan istrimu bersamaku, ha ha ha." Ari tertawa lepas menggelegar ke seluruh ruangan.


Ari menarik pelatuknya lalu mengarahkannya kepada Erlan dan...


Dor....


" Argh...." Teriak Ari menjatuhkan pistolnya.

__ADS_1


Erlan menatap Bimo yang sedang berlari menghampirinya, sedangkan yang lainnya meringkus Ari.


" Bos kamu tidak apa?" Bimo membuka tali yang mengikat tubuh Erlan.


" Tidak apa, untung kau datang tepat waktu Bimo, kalau tidak pasti aku sudah tinggal nama saja." Ujar Erlan.


" Ayo bos kita harus segera pergi dari sini." Ucap Bimo membantu Erlan berdiri.


" Awh Bimo... Kakiku sakit sekali, dia menendangnya keras sekali tadi, aku tidak bisa berjalan Bimo, dan kepalaku sakit banget Bim." Ucap Erlan.


" Dahimu berdarah bos, kita harus ke rumah sakit." Ucap Bimo.


Bimo memapah Erlan menuju mobilnya, belum masuk ke mobil tiba tiba Erlan jatuh pingsan.


...----------------...


" Mas Erlan." Teriak Dera langsung bangun dari tidurnya.


Keringat deras mengalir di dahi Dera.


" Ya Tuhan ku mohon lindungilah suami hamba ya Rob, jangan biarkan terjadi suatu hal buruk kepadanya, aku tidak mau kehilangannya, aku tidak mau kehilangannya hiks... Mas Erlan, ku mohon kembalilah kepadaku, sudah enam bulan kamu meninggalkan aku, aku sangat merindukanmu Mas, segeralah kembali kepadaku, anakmu sangat membutuhkan kehadiran mu Mas... Hiks..." Monolog Dera.


Drt..... Drt...


Ponsel Dera berdering, ia segera mengangkatnya.


" Halo Bang, gimana? Apa sudah ada kabar tentang Mas Erlan?" Tanya Dera.


..........


" Apa?" Pekik Dera.


" Ya Tuhan.....


Kira kira ada apa ya dengan Erlan?


Penasaran? Tekan like koment vote dan hadiahnya buat author ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu..

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2