Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Seasons 2. 28 Gara Gara DuRen


__ADS_3

Pagi ini Qiran bangun lebih awal. Ia mandi lalu bersiap ingin ke suatu tempat. Bimo yang melihatnya mengerutkan keningnya.


" Sayang kamu mau kemana pagi pagi gini?" Tanya Bimo mendekati Qiran. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi.


Qiran hanya meliriknya sekilas, setelah itu ia berjalan keluar. Bimo mencekal tangannya.


" Kamu belum menjawab pertanyaan Mas sayang." Ujar Bimo.


Bugh...


" Awh."


Qiran meninju perut Bimo membuat cekalan tangannya lepas.


" Sayang kenapa kau...


Qiran pergi begitu saja, Bimo segera mengejarnya.


" Sayang tunggu! Kamu mau kemana?" Tanya Bimo mengikuti Qiran dari belakang.


" Mau cari suami yang mau menuruti semua permintaan istrinya." Sahut Qiran.


" Astaga sayang, kamu masih marah sama Mas? Mas minta maaf! Tapi Mas tidak bisa memberikannya padamu. Itu bahaya untuk anak kita sayang." Ucap Bimo.


Qiran menatap Bimo dengan tajam.


" Aku nggak percaya sama hal hal begitu Mas, apa yang terjadi itu sudah garis Tuhan. Lagian aku makannya juga nggak banyak kok, udah ah aku mau pergi! Siapa tahu nemu duda tampan yang siap menjadi...


"Empttt"


Bimo membekap mulut Qiran, Qiran memukul tangan Bimo.


" Jangan pernah berani mencari pria lain sayang! Ada Mas di sini yang akan selalu menuruti apa keinginanmu." Ucap Bimo.


Plek...


Qiran memukul tangan Bimo membuat Bimo melepas bekapannya.


" Maaf sayang!" Ucap Bimo.


Dengan kesal Qiran menghentakkan kakinya meninggalkan Bimo.


" Sayang tunggu aku! Aku akan mengantarmu." Ucap Bimo mengikuti Qiran dari belakang.


" Ini masih sangat pagi sayang, mana ada kedai gulai yang buka sepagi ini." Ujar Bimo.


" Aku bukan cari gulai Mas, aku mau cari duren." Sahut Qiran sambil terus berjalan.


" Itu lagi, mana ada penjual duren pagi pagi begini, apalagi sekarang tidak musimnya sayang." Ujar Bimo.


Qiran menghentikan langkahnya, ia menatap Bimo sambil tersenyum. Ia mengalungkan tangannya ke leher Bimo.


" Bukan duren buah sayang, tapi Duda keRen." Ucap Qiran menekan setiap ucapannya.


Ia kembali melanjutkan langkahnya.


" Kamu beneran mau ninggalin aku terus mau nyari duda keren itu?" Tanya Bimo konyol.


" Ya iyalah." Sahut Qiran.


" Sayang jangan begitu donk! Daripada sama duda mending sama Mas aja, Mas akan belikan apapun yang kamu minta." Ujar Bimo.


" Nggak mau! Aku maunya duda keren. Sepertinya anak kita ngidam duda keren deh Mas." Ujar Qiran mengusap perutnya.

__ADS_1


" Nggak ada ngidam gituan, yang ada kamu yang ingin bukan anak kita." Ujar Bimo.


" Ya dua duanya lah." Sahut Qiran berjalan menuju taman yang tak jauh dari rumahnya.


Bimo terus mengikutinya.


Pagi ini taman nampak ramai. Ada yang jogging, jalan jalan atau sekedar duduk di kursi saja. Pedagang kaki lima juga banyak, mereka menjajakan makanan yang berbeda beda.


Pandangan Qiran berhenti pada anak perempuan berambut panjang yang sedang menangis. Usianya kira kira lima tahun. Ia segera mendekatinya.


" Hai adik manis." Qiran berjongkok menyadari anak tersebut.


" Mama." Ucap anak itu menatap Qiran.


" Eh bukan! Aku bukan mama kamu." Sahut Qiran.


" Kamu mama aku, aku punya foto mama di rumah. Kamu mama aku." Pekik anak itu.


Tiba tiba anak itu memeluk Qiran dengan erat.


Qiran menatap Bimo yang mengepalkan erat tangannya.


" Apa ini yang kamu maksud mencari duda keren? Kalian sudah janjian di sini? Tega kamu Qi." Ucap Bimo terluka.


" Eh tidak Mas! Aku tadi hanya bercanda saja. Aku tidak tahu dia siapa." Ujar Qiran.


" Jenny."


Mereka bertiga menoleh ke asal suara. Pria tampan bertubuh atletis menatap mereka.


" Papa lihat! Aku menemukan mama." Ucap anak yang ternyata bernama Jenny.


Pria itu menatap Qiran dari atas sampai bawah.


" Ini mama, papa... Lihat wajahnya sangat mirip dengan foto pernikahan mama dan papa." Ujar Jenny.


Pria itu menatap intens wajah Qiran membuat Qiran tidak nyaman.


" Iya kau benar, dia mirip sekali dengan almarhumah mama kamu." Ucapnya.


" Hey bung! Dia istri saya, jadi jangan pandang dia dengan tatapan mesummu itu!" Ucap Bimo berdiri di depan pria itu menutupi Qiran.


" Om tapi dia mamaku, dia harus pulang bersama kami." Ucap Jenny.


" Kenalkan, saya Haris." Haris menyodorkan tangannya kepada Bimo.


" Bimo." Ucap Bimo tanpa membalas uluran tangan Haris.


Haris menarik kembali tangannya.


" Kalau anda Nona?" Haris menatap Qiran.


" Qirani, mamanya Jenny." Sahut Jenny.


Bimo dan Qiran di buat melongo mendengar ucapan Jenny. Keduanya saling melempar pandangan.


" Sayang itu kan nama mama kamu, papa tanya nama aunti itu sayang." Haris mengacak rambut Jenny.


" Bukan aunti papa, tapi mama.." Sahut Jenny.


Jenny menatap Qiran.


" Ma, nama mama Qirani kan?" Tanya Jenny.

__ADS_1


Qiran menganggukkan kepalanya.


" Tuh kan Pa, Jenny bilang juga apa. Namanya mama Qirani." Ujar Jenny.


" Emang iya nama kamu Qirani?" Selidik Haris.


" Iya Kak." Sahut Qiran.


" Wah suatu kebetulan donk, wajah dan nama kamu mirip dengan almarhumah istriku." Ujar Haris.


" Udah sekarang kita pulang." Bimo menggenggam tangan Qiran.


" Iya Mas." Sahut Qiran.


Saat keduanya melangkah tiba tiba ucapan Jenny menghentikan langkah mereka.


" Kenapa mama meninggalkan kami bersama om itu? Apa mama tidak menyayangi kami lagi?" Tanya Jenny membuat hati Qiran trenyuh.


Qiran kembali mendekati Jenny.


" Jenny yang manis, aunti bukan mama kamu. Kebetulan wajah dan nama kami saja yang sama. Tapi aku bukan mama kamu." Ucap Qiran.


" Jadi betul kata teman teman kalau Jenny tidak punya mama? Itu sebabnya teman teman Jenny tidak ada yang mau bermain denganku. Mereka menganggap Jenny sebagai anak pembawa sial, mereka takut ibu mereka akan tiada karena bermain dengan Jenny." Ujar Jenny sambil menangis.


" Sayang kamu jangan nangis donk! Aunti jadi ikutan sedih nih." Ujar Qiran mengusap air mata Jenny.


" Memangnya teman teman kamu bilang begitu?" Tanya Qiran di balas anggukan oleh Jenny.


" Kalau begitu aunti akan memberitahu mereka kalau Jenny masih punya mama, tapi untuk kali ini saja ya karena aunti harus pulang." Ucap Qiran.


" Benarkah Ma?" Tanya Jenny dengan mata berbinar.


" Iya sayang." Sahur Qiran.


" Sayang kamu apa apaan sih! Kamu sama saja memberi harapan palsu padanya." Ujar Bimo.


" Untuk kali ini saja Mas." Ucap Qiran.


Bimo menghela nafasnya.


" Ayo kita samperin teman teman kamu."


Qiran menggandeng tangan Jenny menghampiri teman temannya.


" Maaf Tuan sepertinya mulai hari ini putriku akan sering menyusahkan istrimu." Ucap Haris.


" Memang menyusahkan." Cibir Bimo.


" Istri anda sendiri yang menawarkan bung! Jadi jangan salahkan anak saya. Tapi ngomong ngomong aku ucapkan terima kasih atas bantuannya, semoga setelah ini teman teman Jenny mau bermain dengannya." Ucap Haris.


" Hmm." Gumam Bimo duduk di kursi taman. Ia menatap Qiran yang malah bermain dengan anak anak.


" Kelihatannya istri anda masih sangat muda, terpaut berapa tahun anda dengannya? Pasti lebih dari lima belas tahun."


Bimo menatap tajam ke arah Haris. Ia tidak terima mendengar ucapan Haris.


Sampai....


Sampai apa hayooo


Jangan lupa like untuk mendukung karya author...


Miss U All...

__ADS_1


TBC...


__ADS_2