Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Tiga Jejak


__ADS_3

Siang ini Dera pergi ke kantor Erlan dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sesampainya di sana, ia langsung menuju ruangan suami tercintanya di lantai atas.


Ceklek....


Dera masuk ke dalam, Erlan menoleh ke arah pintu menatap sang istri tercinta.


" Sayang kok nggak ngabarin aku kalau mau ke sini." Ucap Erlan memundurkan kursinya.


Dera menghampirinya.


" Surprise buat kamu." Sahut Dera duduk di pangkuan Erlan.


" Hmm sepertinya ada sesuatu nih." Tebak Erlan merapikan anak rambut Dera.


" Emangnya kelihatan ya Mas?" Dera menatap wajah tampan suaminya.


" Kelihatan banget sayang." Sahut Erlan.


" Ah masa' sih." Ujar Dera.


" Ya udah enggak deh." Sahut Erlan.


" Apa Bimo sudah memberitahumu?" Tanya Dera.


" Memberitahuku? Memberitahu apa sayang?" Erlan mengerutkan keningnya.


" Aku menyuruhnya membebaskan Rizal dan membawanya ke rumah sakit." Sahut Dera.


" Apa?" Pekik Erlan tidak percaya.


" Mas... Dia manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, berikan dia kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupnya, kita tidak boleh egois yang hanya melihat kesalahan orang lain saja." Ujar Dera.


" Lalu kenapa kau tidak memberikan Revan kesempatan kedua?" Tanya Erlan.


Dera menatap ke arahnya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul dari bibir suaminya. Dera turun dari pangkuan Erlan, ia berdiri di depan jendela sambil melipat tangannya. Erlan menatapnya tetap dari kursinya.


" Karena dia mengkhianati cintaku, apapun alasannya aku tidak peduli, karena aku paling benci yang namanya pengkhianatan, kalau seandainya bukan karena pengkhianatan aku pasti akan memberikannya kesempatan kedua." Sahut Dera.


" Tapi Revan seperti itu karena Rizal sayang." Ujar Erlan.


" Rizal berbuat seperti itupun karena Revan Mas, kalau saja Revan tidak mengkhianati persahabatan mereka, Rizal tidak akan berbuat seperti ini. Itu kesalahan pertama Revan, dan yang kedua dia mengkhianati cintaku, cinta yang seharusnya untuk Rizal, jadi aku tidak akan memberikan kesempatan lagi kepadanya." Sahut Dera.


" Tapi tidak masalah." Ucap Dera membalikkan badannya menatap Erlan.


" Kalau kau mau aku kembali kepada Revan, maka aku akan mengabulkannya, atau kalau tidak aku dengan Rizal saja, itung itung aku menebus kesalahanmu kepada Rizal." Ucap Dera hendak beranjak dari sana namun Erlan segera menariknya ke dalam pangkuannya.


" Aku tidak menginginkannya ataupun membiarkannya sayang, kau milikku dan selamanya akan menjadi milikmu bukan yang lainnya, kau paham." Ucap Erlan mengelus pipi Dera.

__ADS_1


" Hmm, sangat paham Mas." Sahut Dera.


" Baiklah tidak usah membahas orang lain, mari kita bahas kita berdua saja, mumpung kamu disini aku ingin mencicil jatahku malam nanti." Ujar Erlan.


" Nggak mau ah, nanti kalau tiba tiba ada tamu gimana." Ujar Dera.


" Tidak akan ada yang berani ke sini tanpa perintah ku sayang, kecuali si Bemo itu." Sahut Erlan.


" Bimo bukan Bemo Mas." Ucap Dera.


Ya sebenarnya namanya Abimana Raheja, tapi karena Erlan suka memanggilnya Bemo, maka dengan terpaksa Bimo memintanya untuk memanggilnya Bimo saja, daripada Bemo pikirnya. Entar di kira saudaranya bajai.


" Ya itulah, kau bilang dia di rumah sakit kan? Jadi dia tidak akan ke sini dalam waktu dekat." Ucap Erlan.


Erlan mengambil remot lalu menekan tombol merah membuat pintu terkunci secara otomatis. Ia menggendong Dera ala brydal style menuju ruangan pribadinya.


Erlan merebahkan tubuh Dera di atas ranjang. Ia mulai membuka jas dan kemejanya menampakkan dada bidang yang putih mulus seperti susu.


Dera meraba dada itu membuat Erlan memejamkan matanya menikmati sentuhan sang istri. Dengan nakalnya Dera memainkan titik hitam kecil yang berada di tengah tengah gundukan datar membuat sang empu mendes** pelan.


" Sayang... Kamu membuatku gila." Lirih Erlan mencium pipi Dera.


Ingin membuat suaminya merasa istimewa, Dera memainkan lidahnya di sana. Tangannya ia gunakan untuk memainkan telinga Erlan. Benar benar titik sensitif bagi Erlan.


Tak kuasa menahan hasra*tnya, Erlan membalikkan posisi menindih tubuh Dera. Ia buka resleting gaun Dera yang kebetulan ada di depan. Nampaklah pemandangan indah di baliknya.


Tanpa membuang waktu Erlan segera menguasai tubuh Dera. Keduanya nampak bersemangat memulai permainan yang menghasilkan keuntungan. Tanpa keduanya sadari kini mereka sudah sama sama polos.


Entah Erlan yang memang perkasa atau Dera yang payah, Dera merasa kelelahan setelah permainan berlangsung selama dua jam. Erlan merebahkan tubuhnya di samping Dera lalu memeluknya.


Dera mengatur nafasnya yang terasa hampir putus.


" Makasih sayang, tapi kenapa nafasmu ngos ngosan seperti itu?" Tanya Erlan.


" Atur yang baik donk sayang, dan rajinlah olahraga mulai sekarang supaya kau bisa mengimbangi permainanku." Sambung Erlan.


" Kamu aja Mas yang over time." Sahut Dera.


" Ya enggak lah sayang, istirahatlah nanti aku bangunkan kamu untuk mandi setengah jam lagi." Erlan mencium kening Dera.


Erlan turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Erlan kembali ke kursinya. Tanpa sengaja ia melihat siluet Bimo di depan pintu, ia membuka tombol kunci dengan remotnya.


Klik....


Mendengar suara itu, Bimo segera membukanya.

__ADS_1


" Siang bos, lama amat ngunci pintunya? Atau remotnya rusak? Baru saja saya mau menelepon tukang pintu supaya membukakan nya, saya takut bos kenapa napa di dalam." Ucap Bimo menghampiri Erlan.


" Lo yang lama, darimana saja?" Tanya Erlan.


" Da.... Dari rumah sakit bos." Lirih Bimo.


" Ngapain?" Tanya Erlan.


" Eh... Apa Nona Dera tidak memberitahumu bos?" Tanya Bimo.


" Tidak, kapan aku bertemu Dera?" Erlan bertanya lagi.


" Kalau bos tidak bertemu dengan Nona Dera, lalu siapa yang melukis tanda merah di lehermu bos?" Tanya Bimo.


Erlan mengerutkan keningnya, ia menuju kaca wastafel memperhatikan lehernya. Benar saja, tiga stempel kepemilikan melekat dengan jelas di sana. Ia tersenyum melihat tanda itu.


" Dia benar benar agresif, bahkan leherku jadi korbannya, bukan hanya satu tapi tiga... Oh my god, bagaimana aku menutupinya? Tapi aku suka sih dengan hasil karyanya, dengan begitu mereka akan tahu kalau aku sudah mempunyai wanita yang membuatku tergila gila padanya, tapi kalau tidak di tutupi pasti dia akan merasa malu, yang ada serba salah gue." Gumam Erlan.


" Atau kau main di belakang Non Dera ya bos? Saya harus melaporkannya kepada Non Dera supaya bos di pecat jadi suaminya." Ucap Bimo mengeluarkan ponselnya.


" Tidak perlu! Ya aku udah bertemu dengan istriku." Ucap Erlan.


" Cuma bertemu doank bos?" Canda Bimo.


" Nggak, gue juga bercinta sampai meninggalkan tiga jejak, puas?" Sahut Erlan kesal.


" Puas banget bos, semoga tiga jejak itu segera menghasilkan babby lucu untukku, kalau laki laki aku jadiin keponakan, nah kalau perempuan aku jadiin jodoh gue bos." Ucap Bimo asal.


" Enak aja! Keburu bangkotan lo nya, Bimo." Ucap Erlan.


" Ya enggak lah bo, sekarang umurku baru dua puluh dua tahun sama kaya' Non Dera, berarti dua puluh tahun lagi kan saya masih empat puluh dua tahun bos, lumayan kan punya mertua bos sendiri." Ujar Bimo.


" Berani macam macam sama anak gue nanti, gue pecat lo Bimo." Ancam Erlan menunjuj Bimo.


" Ya kalau jodoh bagaimana? Nggak apa kan?" Ujar Bimo.


" Bodo' amat! Kalau gue sih nggak mau." Sahut Erlan.


" Ya Tuhan.... Semoga kau menitipkan calon jodohku kepada Nona Dera... Amin." Ucap Bimo membuat Erlan geleng geleng kepala.


Siapa nih yang setuju babang Bimo jadi menantunya Erlan?


Ketik di kolom komentar ya...


Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author...


Terima kasih untuk readers yang selalu mesuport author semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All...


TBC...


__ADS_2