
Qiran keluar dari kelasnya, ia berjalan menuju mobilnya yang ia parkir di depan kampus. Saat ia berjalan tiba tiba....
Brugh....
Tubuh Qiran terhuyung ke belakang, namun seseorang berhasil menopang tubuhnya dengan. Keduanya saling beradu pandang untuk sesaat sampai...
" Ah sorry sorry." Qiran membenarkan posisinya menjadi berdiri.
" Gue yang seharusnya minta maaf, gue jalan sambil mainan ponsel makanya nggak fokus sama yang di depannya." Ucapnya.
Qiran tidak mendengarkan ucapan cowok tampan itu, ia justru menatap kagum pada ketampanannya.
" Busyet... Tampan banget.... Ya Tuhan... Andai aku bisa jadi pacarnya, eh tapi kenapa masih tampanan om Bimo ya... Ya Tuhan kenapa aku malah kepikiran om Bimo lagi, lupakan Qiran... Lupakan! Kau harus melupakannya!" Batin Qiran.
" Hello." Cowok itu menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Qiran.
" Ah iya." Ucap Qiran.
" Kenalin, gue Satria." Ucapnya mengulurkan tangannya.
" Qiran." Sahut Qiran membalas uluran tangannya.
" Nama yang bagus, baru semester pertama ya." Ujar Satria.
" Iya." Sahut Qiran.
" Kalau gitu sama donk! By the way sebagai permintaan maaf gue sama lo, gimana kalau gue traktir lo makan di cafe depan?" Tawar Satria menatap Qiran.
" Sorry gue... " Qiran menjeda ucapannya saat tatapannya tak sengaja menangkap Bimo yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
" Oh gue bisa kok, ayo!" Qiran menggandeng tangan Satria.
Bodo' amat Satria mau berpikir apa tentangnya, yang jelas ia sedang ingin menghindari Bimo.
Mereka berjalan menyebrang jalan menuju cafe S. Bimo menatap kepergian mereka sambil mengepalkan erat tangannya.
Di cafe mereka duduk berhadapan memesan coffe latte dan dessert serta fried pottato. Bimo datang menghampiri mereka.
" Sayang, Om mau berbicara sesuatu padamu." Ucap Bimo.
" Nanti aja di rumah Om, aku mau full time sama Satria dulu." Sahut Qiran tidak mau di ganggu.
" Tapi Om harus bicara sekarang, Om tunggu di mobil." Tekan Bimo meninggalkan keduanya.
"Ckk." Decak Qiran.
" Siapa Qi?" Tanya Satria.
" Om gue." Sahut Qiran malas.
" Owh, ya udah temui dulu! Kasihan dia kalau nunggu lama di mobil." Ujar Satria.
" Biarin aja! Ngomong di rumah juga bisa kok." Sahut Qiran.
" Kamu tinggal sama om kamu?" Tanya Satria.
" Iya, sama nyokap bokap juga." Sahut Qiran menyesap minumannya.
__ADS_1
" Oh." Gumam Satria.
Mereka menghabiskan pesanan sambil sesekali mengobrol.
Bimo yang merasa kesal karena lelah menunggu di mobil, akhirnya memilih untuk pulang.
" Terima kasih untuk hari ini Qi." Ucap Satria.
" Sama sama, kalau gitu aku pulang dulu! Bye." Sahut Qiran berjalan menuju mobilnya.
Satria menatapnya sambil tersenyum.
" Gadis yang manis, semoga aku bisa mendapatkannya." Monolog Satria.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Makan malam kali ini benar benar sepi. Tidak ada celotehan ataupun sikap manja dari Qiran. Sepertinya Qiran benar benar mau mandiri.
" Sayang bagaimana kuliahmu hari ini?" Tanya Dera menatap Qiran.
" Membosankan." Sahut Qiran.
Dera menatap Erlan lalu kembali menatap putrinya.
" Tapi sepulang kuliah menjadi sangat menyenangkan." Sambung Qiran.
" Menyenangkan? Hal apa yang membuatmu senang?" Dera bertanya lagi.
" Aku kenalan sama cowok paling tampan di kampus Ma, dia idola para cewek cewek, dia terkenal dingin dan tidak ramah sama cewek, tapi sama aku dia benar benar terlihat manis, dia juga perhatian, pokoknya idaman wanita banget Ma." Sahut Qiran.
Pertanyaan Dera membuat Bimo menghentikan suapan nya. Ia ingin mendengar jawaban dari Qiran.
" Ya tentu suka lah Ma, siapa sih yang nggak suka sama cowok setampan dia." Sahut Qiran.
" Maaf aku duluan!" Ucap Bimo meninggalkan meja makan.
Qiran melanjutkan makannya tanpa peduli dengan kepergian Bimo.
Selesai makan Qiran kembali ke kamarnya. Ia duduk di balkon kamarnya menatap indahnya langit malam.
Tap tap tap
Bimo melangkah mendekati Qiran. Qiran hafal benar siapa yang saat ini berdiri di belakangnya.
" Om minta maaf." Ucap Bimo.
" Untuk apa?" Qiran balik bertanya.
" Om minta maaf kalau ucapan Om menyinggung perasaanmu, Om tidak berniat untuk melukaimu, semalam Om memang ada urusan dengan Maya, dan itu merupakan privasi bagi kami." Ujar Bimo.
" Tidak perlu minta maaf untuk hal itu, aku sama sekali tidak tersinggung dengan ucapanmu." Sahut Qiran tanpa menoleh sedikit pun.
" Kalau kau tidak marah, kenapa kau bersikap dingin kepada Om? Om merasa kamu sedang menghindari Om." Ucap Bimo.
" Itu hanya perasaanmu saja Om, dan kita sudah membahasnya tadi pagi, jadi tidak perlu ada yang di bahas lagi." Sahut Qiran.
Bimo membalikkan badan Qiran. Keduanya berhadapan dan saling pandang. Qiran membuang muka ke sembarang arah.
__ADS_1
" Kalau kamu tidak marah, tatap mata Om." Ucap Bimo.
Qiran menatap mata Bimo membuat jantungnya berdebar dan berdetak dengan kencang. Begitupun sebaliknya.
" Sudah percaya? Sekarang pergilah! Keluar dari kamarku! Tidak baik kita berduaan di dalam kamar, aku tidak mau papa sama mama berpikiran negatif tentang kita." Ucap Qiran membalikkan badannya.
" Baiklah, sekali lagi maafkan Om, tidur yang nyenyak dan mimpi indah." Bimo mengelus kepala Qiran lalu keluar dari kamar Qiran.
Qiran mengusap air mata di sudut matanya.
" Hah... Rasanya aku tidak sanggup melakukan semua ini, baru sehari saja rasanya sudah tersiksa, semangat Qiran! Kau harus bisa, ini yang terbaik untuk kalian berdua." Monolog Qiran.
Qiran naik ke ranjang lalu memejamkan matanya.
...****************...
Satu minggu berlalu, hubungan Qiran dan Bimo semakin jauh. Sebaliknya hubungan Qiran dan Satria semakin dekat. Seperti malam ini, Satria mengajak Qiran jalan jalan di taman kota. Keduanya duduk di bangku taman.
" Qi, bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Satria menatap Qiran.
" Memangnya mau mengatakan apa? Kok pakai ijin segala." Ujar Qiran terkekeh.
Satria menggenggam tangan Qiran, Qiran mengerutkan keningnya menatap Satria.
" Sejak awal pertemuan kita, aku merasa tertarik kepadamu, satu minggu bersamamu aku merasa hatiku semakin bergejolak ingin mendapatkanmu, aku mencintaimu Qi, aku ingin menjadikanmu sebagai kekasihku, dan setelah kita lulus nanti, aku akan langsung melamarmu dan menikahimu, maukah kau menerima cintaku ini?" Tanya Satria penuh harap.
Bimo yang sedari tadi mengikuti mereka merasa geram. Ia langsung menghampiri mereka dengan perasaan kesal.
" Qiran ayo kita pulang!" Bimo menarik tangan Qiran.
" Om jangan kasar!" Ucap Satria.
Bimo menatap tajam ke arah Satria.
" Aku mengirim Qiran untuk sekolah mencari ilmu, bukan untuk pacaran ataupun menjalin hubungan dekat dengan laki laki sepertimu, mulai sekarang jauhi Qiran dan jangan pernah dekati dia lagi! Kalau kau masih berani mendekatinya kau akan menanggung akibatnya! Paham!" Tekan Bimo.
Bimo menarik Qiran menuju mobilnya, Satria merasa bingung dengan sikap Bimo.
" Ternyata Omnya posesif." Monolog Satria.
Bimo membuka pintu mobil.
" Masuk!" Tegas Bimo.
Tanpa membantah Qiran langsung masuk ke dalam. Bimo melajukan mobilnya dengan kencang membuat Qiran heran. Pasalnya Bimo tidak pernah melajukan mobil secepat ini.
" Kenapa om Bimo seperti ini? Apa yang membuatnya marah seperti sekarang ini? Apa karena aku Satria menembak ku, apa ada alasan lainnya? Aku merasa dia marah bukan sebagai om tapi seperti seorang kekasih yang memergoki kekasihnya selingkuh." Batin Qiran.
Siapa yang mau kasih tahu Qiran nih?
Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author biar author makin semangat..
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC....
__ADS_1