
" Saya Terima nikah dan kawinnya.....
" Hentikan!" Teriak Erlan menggelegar di seluruh ruangan.
Semua orang menatap ke arahnya dengan bertanya tanya. Erlan menghampiri Rizal lalu menarik merahnya dan...
Bugh... Bugh....
Pukulan Erlan mendarat di wajah Rizal membuat semua orang berteriak ketakutan.
" Dimana Dera?" Bentak Erlan menatap tajam ke arah Rizal karena di ruangan itu tidak ada Dera.
" Aku tidak akan memberitahumu." Sahut Rizal.
Bugh....
Pukulan kembali mendarat kali ini di perut Rizal.
" Aku tanya sekali lagi, dimana Dera?" Tekan Erlan.
" Dia ada di hatiku, dan aku tidak akan mengeluarkannya." Sahut Rizal.
" Dasar sjnting." Erlan mendorong tubuh Rizal hingga tersungkur di lantai.
" Bimo, cari Dera sampai ketemu dan kau Revan." Ucap Erlan menunjuk Revan.
" Awasi teman lo itu, jangan sampai dia berpindah dari tempatnya." Ucap Erlan.
" Maaf... Sebenarnya ada apa ini?" Tanya penghulu yang hendak menikahkan Rizal dan Dera.
" Dia menculik teman saya dan akan menikahinya dengan paksa." Jawaban Erlan membuat semua orang tercengang.
" Pantas saja pengantin wanitanya tidak keluar." Ucap salah satu tamu.
Erlan menaiki anak tangga mencari keberadaan Dera. Ia yakin kalau Rizal menyembunyikan Dera di salah kamarnya.
" Dera." Teriak Erlan memanggil Dera.
" Dera beri petunjuk kepadaku kau ada dimana?" Ucap Erlan.
Di dalam kamar, Dera mendengar teriakan Erlan. Ia segera berlari menuju pintu. Ia tidak bisa menjawab Erlan karena mulutnya di tutup lakban, sedangkan tangannya di ikat dengan tali.
Duk... duk...
Dera mencoba menendang pintunya berharap Erlan bisa mendengarnya.
" Dera kau di sana?" Tanya Erlan di balik pintu.
Duk... duk...
" Dera menjauhlah dari pintu, aku akan mendobraknya." Ujar Erlan.
" Bimo bantu aku." Ucap Erlan saat melihat Bimo melintas.
Keduanya mendobrak pintu hingga....
Brugh...
Pintu itu terbuka beserta daun pintunya....
" Dera." Ucap Erlan mendekati Dera.
Dengan pelan Erlan membuka lakban yang menempel di bibir Dera.
" Apa kau datang tepat waktu?" Tanya Dera menatap Erlan.
__ADS_1
" Tidak!" Sahut Erlan membuka tali pengikat tangan Dera.
" Apa maksudmu tidak? Apa Rizal berhasil menikahiku?" Tanya Dera memastikan.
" Iya."
Jeduarrr
Jawaban Erlan bagai sambaran petir untuk Dera. Dera memundurkan badannya menatap Erlan.
" Tidak.... Ini tidak boleh terjadi."Gumam Dera.
" Hei.. Kenapa? Bukankah kau seharusnya senang karena kau mendapat dua status di hari yang sama? Dari janda menjadi seorang istri lagi." Ujar Erlan.
Erlan menatap Dera yang sepertinya ketakutan.
" Ha ha ha ha." Erlan tertawa lepas.
" Kenapa kau tertawa?" Dera mengerutkan keningnya.
" Mas Erlan, kenapa kau tertawa?" Tanya Dera.
" Kamu lucu sekali, tenang saja! Kau tidak jadi menikah dengan Rizal karena aku datang tepat pada waktunya." Ucap Erlan merangkul pundak Dera.
" Hah syukurlah." Dera bernafas lega.
Bimo yang melihat bosnya bisa bersikap normal mengembangkan senyuman di bibirnya.
" Aku tidak menyangka kau akan sebahagia ini bersama nona Dera tuan, akan aku pastikan nona Dera menjadi milikmu." Batin Bimo.
Erlan menggandeng tangan Dera menuruni tangga menghampiri Revan dan Rizal.
Dera melepas tangan Erlan lalu mendekati Revan. Ia menatap tajam mata Revan lalu...
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Revan.
" Sayang... Kau.... " Ucap Revan.
" Katakan kenapa kau membohongiku selama ini?" Teriak Dera.
" Apa maksudmu sayang?" Revan balik bertanya.
" Bukan kau yang seharusnya menikah denganku kan? Tapi Rizal." Ucap Dera menunjuk Rizal.
" Apa ini yang membuatmu bersekongkol dengan Nita untuk menjebak ku?" Tanya Revan menatap Rizal.
" Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." Sahut Rizal.
" Kau tidak punya penjelasan atas semua ini?" Tanya Dera.
" Maafkan aku, pertama kali aku melihatmu aku jatuh cinta padamu, aku ingin kau menjadi milikku itulah sebabnya aku tidak mengatakan yang sebenarnya." Ucap Revan.
" Tapi apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku Revan? Kau mengkhianati aku." Sahut Rizal.
" Kalau pun seandainya aku mengatakan yang sebenarnya, apa Dera bisa mencintaimu tanpa melihat wajahmu? Apa kau yakin Dera tidak akan mencintai orang lain di sini? Kau pergi selama dua tahun Rizal, dan aku rasa hubunganmu akan berakhir begitu saja." Ujar Revan.
" Kau salah menilaiku Mas, aku wanita setia yang selalu memegang komitmen, jika aku tahu itu bukan kau, aku tidak akan pernah mencintai pengkhianat sepertimu." Ucap Dera.
" Dera... Rizal dan Nita bekerja sama untuk memisahkan kita, Nita sengaja mendekatiku dan membuatku tertarik dengannya, itu semua ia lakukan atas suruhan Rizal." Ucap Revan.
" Dan kau menerimanya dengan tangan terbuka bukan? Sekeras apapun Nita berusaha menggodamu jika kau memang pria setia maka kau tidak akan tergoda dengannya, sekarang aku justru merasa bersyukur karena bisa terlepas dari pria sepertimu, aku membencimu Revan... Sangat membencimu." Ucap Dera meninggalkan mereka semua.
Erlan segera mengejarnya, ia menarik tangan Dera masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu mobil Erlan meninggalkan rumah Rizal.
Di dalam perjalanan, Dera nampak murung dan hanya diam saja.
__ADS_1
" Kau butuh sandaran untuk meluapkan kesedihanmu?" Tanya Erlan.
" Tidak Mas, aku tidak akan menangis lagi, aku hanya sedang berpikir, dosa apa yang telah aku lakukan di masa lalu hingga takdir mempermainkan aku seperti ini, aku tidak hanya di khianati oleh Mas Revan, tapi juga di bohongi selama bertahun-tahun Mas, dan aku sama sekali tidak menyadarinya." Ujar Dera.
" Sekarang kau sudah tahu semuanya, lalu apa yang akan kau lakukan ke depannya?"Tanya Erlan.
" Aku ingin menata kembali hidupku, aku ingin hidup bahagia di atas kakiku sendiri." Sahut Dera.
" Itu berarti kau tidak membutuhkan aku lagi?" Tanya Erlan.
" Apa maksudmu Mas?" Tanya Dera menatap Erlan.
" Aku ingin memberitahumu sesuatu, tapi nanti malam." Ucap Erlan.
" Kenapa harus menunggu nanti malam? Kenapa tidak sekarang saja?" Tanya Dera.
" Suasana hatimu sedang kacau saat ini, aku tidak mau apa yang telah aku siapkan hancur berantakan karena moodmu yang jelek itu." Ujar Erlan.
" Baiklah tidak masalah." Sahut Dera.
" Nanti malam aku jemput kamu jam tujuh ya." Ujar Erlan.
" Iya Mas." Sahut Dera.
...----------------...
Malam hari telah tiba, Erlan menjemput Dera di rumah.
" Sudah siap?" Tanya Erlan.
" Iya." Sahut Dera.
Keduanya masuk ke dalam mobil. Erlan melajukan mobilnya ke sebuah danau tempat mereka bertemu pertama kali.
" Mas Erlan, kenapa kita ke sini? Bukannya kalau malam di sini sepi?" Tanya Dera.
" Aku sengaja membawamu ke tempat ini, tempat dimana tidak akan ada yang mengganggu kita." Sahut Erlan.
Dera mengerutkan keningnya.
" Kau tidak berniat berbuat macam macam kan?" Tanya Dera.
Erlan menatap Dera sambil tersenyum.
"Jauhkan pikiran burukmu itu, aku ke sini untuk membawamu ke dalam kebahagiaan." Sahut Erlan.
Erlan menggandeng tangan Dera menuju danau yang sangat indah itu. Lilin lilin menyinari jalanan setapak sampai di tepi danau.
" Emang kalau malam gini, banyak lilin ya? Aku baru tahu." Ucap Dera.
" Iya... Itu sebabnya aku membawamu ke sini." Sahut Erlan.
Sampai di tepi danau, Dera melihat lilin yang menyala dengan membentuk lambang love.
" Apa itu Mas?" Tanya Dera mengerutkan keningnya.
Udah ketebak kan pasti itu apa?
Tekan like koment vote dan 🌹nya ya buat author....
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC....
__ADS_1