
Setelah turun dari taksi, Revan berlari menuju kamarnya. Ia segera membuka pintunya dan masuk ke dalam.
" Apa yang kau lakukan sayang?" Revan menghampiri Aulia yang sedang berkemas dengan kopernya.
" Aku mau pulang, tidak ada gunanya aku di sini." Sahut Aulia.
Revan menutup koper Aulia. Ia menatap tajam ke arah Aulia.
" Jangan bertindak seperti anak kecil! Dengarkan dulu penjelasanku!" Tekan Revan.
" Apa yang harus aku dengarkan Mas? Apa aku harus mendengar pengakuanmu jika memang pada kenyataannya kamu tidak bisa melupakan mbak Dera? Aku sudah mendengarnya lalu apa yang mau kau jelaskan kepadaku? Seperti ucapanku waktu itu, jika dalam satu bulan kau gagal, maka aku akan kembali kepada orang tuaku." Ucap Aulia tanpa rasa takut.
" Sayang tidak seperti itu." Ujar Revan.
" Lalu seperti apa hah?" Aulia menatap tajam ke arah Revan.
" Bagaimana perasaanmu jika situasinya di balik? Kau yang menyentuhku tapi aku membayangkan pria lain, apa kau bisa menerimanya tuan Revan." Tekan Aulia.
" Aulia bukan itu maksud ucapanku, aku hanya...
" Pada dasarnya kau hanya seorang pria yang berakhlak buruk." Sahut Aulia memotong ucapan Revan.
Deg....
Jantung Revan terasa berhenti berdetak. Dadanya terasa di hantam baru besar mendengar ucapan Aulia.
" Kau tega mengatakan itu padaku?" Tanya Revan tidak percaya.
" Itu kenyataannya, kau gagal dalam menjalani pernikahan karena kau tidak bisa menghargai perasaan pasanganmu Mas, jika kau tidak bisa melupakan mbak Dera, maka kembalilah kepadanya, atau setidaknya kau tidak perlu mengobral janji untuk melupakannya dan menggantinya dengan namaku, jika pada akhirnya kau hanya membual saja, kau sudah gagal dalam pernikahan ini tuan Revan, kau kembali gagal menjalani pernikahanmu." Ucap Aulia tanpa mmemikirkan dosa ataupun yang lainnya, ia di kuasai oleh emosi karena bagaimanapun Aulia hanyalah manusia biasa.
Aulia menyeret kopernya menuju pintu, sebelum keluar ucapan Revan membuatnya menghentikan langkahnya.
" Apa yang akan kau katakan pada Abi jika kau kembali tanpa aku?" Revan menatap Aulia.
" Akan aku katakan yang sebenarnya." Sahut Aulia.
" Bagaimana yang sebenarnya terjadi? Apa kau tahu bagaimana yang sebenarnya terjadi? Kau bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk membela diri, di pengadilan saja seorang terdakwa di berikan kesempatan untuk membantah tuduhan pelapor Aulia." Ujar Revan.
Aulia menundukkan kepalanya. Ucapan Revan ada benarnya. Revan mendekatinya.
" Dengarkan aku sayang!" Ucap Revan menarik dagu Aulia agar menatapnya.
" Kenapa semalam aku kepikiran Dera?" Tanya Revan yang di balas gelengan kepala oleh Aulia.
" Sebelum aku mendatangimu, Erlan meneleponku kan?" Aulia menganggukkan kepalanya.
" Dia mengabarkan kalau Dera masuk rumah sakit, Dera jatuh terpeleset di dalam kamar mandi, aku merasa khawatir kalau dia bayinya kenapa napa sayang, aku hanya mengkhawatirkannya sebagai keluarga, sebagai kakaknya, itu saja, seperti dia mengkhawatirkan aku saat aku di penjara, apakah kali ini aku tidak boleh mengkhawatirkannya? Saat ini tidak ada perasaan yang lainnya sayang, percayalah! Aku hanya mencintaimu, tidak ada yang lain." Ucap Revan jujur.
__ADS_1
Aulia menatap Revan.
" Tapi tetap saja Mas, kau melukai harga diriku sebagai istrimu, istri mana yang rela dan akan menerima jika suaminya menyentuhnya namun ia membayangkan wanita lainnya, ataupun teringat dengan wanita lain, hatiku sakit Mas mengetahui semua itu." Aulia mengusap air matanya.
Revan menarik Aulia ke dalam pelukannya.
" Maafkan aku sayang! Aku telah mengingkari janjiku untuk tidak membuatmu menangis, aku hanya terlintas bayangan Dera saja, bukan membayangkannya, ada perbedaan terlintas bayangan dan membayangkan sayang, kau harus paham akan hal itu." Ucap Revan.
" Tetap saja aku tidak terima Mas." Sahut Aulia.
" Baiklah maafkan suamimu yang bodoh ini, aku mencintaimu." Revan mencium kening Aulia.
" Apakah aku harus memaafkanmu?" Tanya Aulia.
" Harus donk! Pertengkaran dalam rumah tangga itu wajar terjadi sayang, tapi lain kali jangan menuruti ego dan asumsimu sendiri, karena yang kau pikirkan belum tentu terjadi, dengarkan penjelasanku! Baru kau mengambil keputusan, ok?" Ujar Revan.
" Entahlah." Aulia naik ke atas ranjang, ia merebahkan tubuhnya di sana lalu memejamkan matanya.
" Hei kenapa masih ngambek hmm?" Revan mendekati Aulia.
Revan memeluk Aulia dari belakang.
" Maafkan aku! Aku tidak akan mengulanginya! Setelah ini aku menjenguk Dera, apa kau mau ikut?" Tanya Revan.
Aulia membalikkan badannya, ia menatap Revan.
" Iya aku ikut." Sahut Aulia.
" Maafkan aku! Aku sudah berkata buruk kepadamu." Ucap Aulia.
" Aku memaafkanmu." Sahut Revan mencium pipi Aulia.
" Lalu kapan kita akan menjenguk mbak Dera?" Tanya Aulia.
" Sekarang gimana?" Tawar Revan.
" Baiklah ayo." Sahut Aulia.
Keduanya berjalan menuju mobil. Revan melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Dera di rawat.
Sesampainya di rumah sakit, keduanya menuju ke ruangan Dera.
Tok tok
Revan mengetuk pintunya.
Ceklek....
__ADS_1
Erlan membuka pintunya.
" Revan, silahkan masuk!" Ucap Erlan.
Ketiganya masuk ke dalam menghampiri Dera yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.
" Siang Mbak, bagaimana keadaanmu Mbak?" Tanya Aulia.
" Aku baik baik saja Aulia, hanya kakiku yang terkilir, Mas Erlan aja yang panikan, orang akunya nggak pa pa pakai di bawa ke rumah sakit segala." Ujar Dera.
" Gimana nggak panik kalau melihat kamu jatuh terpeleset begitu, aku khawatir denganmu dan bayi kita sayang, aku bahkan sampai menelepon Revan karena saking paniknya." Ujar Erlan.
" Apa? Kamu menelepon Mas Revan? Ya Tuhan... Kamu mengganggu orang saja Mas, maaf ya Aulia aku tidak tahu kalau Mas Erlan menelepon Mas Revan." Ucap Dera menatap Aulia.
Aulia tersenyum kecut.
" Tidak apa Mbak, kalau ada apa apa kabari saja kami." Sahut Aulia.
" Terima kasih Aulia." Ucap Dera.
" Oh ya Aulia, kapan kamu menyusul aku? Kita akan merawat anak kita bersama sama." Ujar Dera.
Aulia menatap Revan yang di balas senyuman olehnya.
" Doakan saja mbak, kapan pun Allah memberikannya kepadaku, aku akan menerimanya, seandainya saat saat ini aku belum di berikan rejeki itu, itu tandanya Allah memberikan kesempatan kepada kami untuk semakin dekat satu sama lain." Ujar Aulia.
" Iya kak benar Aulia, yang jelas jangan menundanya." Ucap Dera.
" Enggak mbak, aku justru ingin segera punya anak, karena aku yakin dengan adanya seorang anak di antara kami akan membuat hubungan kami semakin kuat, doakan saja yang terbaik untukku Mbak." Sahut Aulia.
" Tentu Aulia, doa terbaik untuk kalian berdua." Ucap Dera.
" Terima kasih Mbak." Ucap Aulia.
Mereka mengobrol hingga sore hari. Setelah itu Aulia dan Revan berpamitan.
Setelah kepergian Aulia dan Revan, Erlan naik ke atas ranjang. Ia memeluk Dera dari belakang.
" Istirahatlah sayang! semoga cepat sembuh." Ucap Erlan.
" Terima kasih Mas, Terima kasih telah menyayangiku dengan begitu dalam, aku mencintaimu." Ucap Dera.
" Aku juga mencintaimu sayang." Sahut Erlan.
Entah mengapa hari ini reviewnya lama... Author sudah menyerahkan dari jumat pagi tapi sampai malam belum lulus juga... Mungkin NT sedang trouble....
Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹nya biar author makin semangat...
__ADS_1
Miss U All...
TBC.....