
Pagi hari Dera mengerjapkan matanya.
" Pagi sayang, gimana tidurmu? Apa kamu mimpi indah? Cuci mukamu, aku sudah membawa sarapan untukmu." Ucap Erlan.
" Kamu yang masak sendiri Mas?" Tanya Dera.
" Bukan! Aku merekrut art baru mulai hari ini, dia akan membantu mengurus rumah ini, namanya Bi Sumi, dia juga akan menyiapkan segala keperluanmu." Ujar Erlan.
" Terima kasih Mas." Sahut Dera.
" Ya sudah sekarang kamu mandi dulu gih." Ucap Erlan.
" Ayo aku bantu." Erlan membantu Dera menuju kamar mandi.
" Biar aku sendiri Mas." Ucap Dera.
" Tidak apa, aku akan membantumu mandi." Ucap Erlan.
" Kamu harus berangkat ke kantor Mas, udah ah sana." Usir Dera.
" Aku bosnya sayang, jadi jangan khawatir aku akan di pecat karena itu tidak akan terjadi." Sahut Erlan.
Erlan menggosok punggung Dera dengan busa sabun.
" Mas kau tidak perlu melakukan semua ini, aku bisa sendiri." Ucap Dera.
" Tidak apa sayang, aku suka kok melakukannya, biar anak kita tahu kalau Papanya sangat menyayangi Mamanya." Ujar Erlan.
" Pasti dia tahu Mas, dia juga tahu kalau Papanya bucin sama Mamanya." Sahut Dera.
" Apa tuh bucin?" Tanya Erlan.
" Budak cinta." Sahut Dera.
" Ada ada aja kamu." Ucap Erlan.
Setelah tubuh Dera bersih, Erlan membantu Dera berjalan menuju ruang ganti.
" Mas aku bisa ganti sendiri, aku seperti wanita pesakitan kalau di perlakukan seperti ini sama kamu, aku kan sehat Mas, pagi ini juga tidak mual seperti biasanya." Ujar Dera.
" Baiklah sayang, aku tunggu di sofa saja kalau begitu." Ucap Erlan berjalan menuju sofa.
Dera segera berganti baju, setelah selesai ia menghampiri Erlan di sofa.
" Sekarang makanlah! Setelah itu minum obatnya." Ucap Erlan.
" Mas aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau minum obatnya, aku malah merasa mual terus kalau minum obatnya." Ujar Dera.
" Ah iya aku lupa sayang, maaf ya." Sahut Erlan.
Dera tersenyum manis ke arahnya.
" Mau aku suapin apa makan sendiri?" Tawar Erlan.
" Aku mau makan sendiri aja, tapi ngomong ngomong kalau mendengar kata di suapin, aku malah maunya di suapin sama bang Bimo Mas." Ucap Dera.
__ADS_1
" Apa?" Pekik Erlan melotot tidak percaya.
" Kenapa harus Bimo sayang? Kan ada aku suami kamu, suapi aku aja ya." Ujar Erlan.
" Nggak ah aku maunya bang Bimo." Sahut Dera.
" Heh apa apa Bimo, apa apa Bimo, itu anak sebenarnya anakku apa anak Bimo sih." Gumam Erlan.
" Kau mengatakan sesuatu Mas?" Tanya Dera.
" Ah tidak! Aku akan menyuruh Bimo ke sini, atau kalau perlu aku akan menyuruhnya tinggal di sini." Ujar Erlan.
Erlan segera menelepon Bimo, tak lama Bimo pun datang ke rumahnya.
" Ada apa lagi Nona?" Tanya Bimo masuk ke kamar Erlan sambil menyeret langkahnya.
" Apa kamu sudah urut Bang? Kok jalannya gitu?" Dera menatap Bimo.
" Udah, tapi masih sakit sedikit sih Non, saya ke sini mau di suruh ngapain lagi Nona, kalau manjat pohon lagi saya tidak bisa." Ujar Bimo.
" Aku pengin makan, tapi di suapin sama bang Bimo." Dera menatap Bimo.
" Hah?" Bimo melongo membuka mulutnya.
" Kenapa Bang? Nggak mau ya? Kalau nggak mau juga nggak apa, maaf ya kalau aku sering ngrepotin." Ucap Dera sedih.
Bimo menatap Erlan yang di balas anggukan kepala olehnya.
" Baiklah Nona, sini aku suapin! Sepertinya calon istriku ini memang suka bermanja manja denganku." Ucap Bimo duduk di depan Dera.
" Terima kasih Bang." Sahut Dera.
" Nona, besok kalau anaknya perempuan bakal aku jadikan istri beneran lhoh, aku nggak bercanda." Ucap Bimo.
" Kalau memang jodoh aku harus gimana Bang? Yang penting Bang Bimo harus jagain dan bahagiain dia, kalau sampai di sakiti aku akan memberi perhitungan sama Bang Bimo." Sahut Dera.
" Belum juga lahir, udah main di lamar aja Bim." Ucap Erlan.
" Ya kan aku takutnya di kira aku bercanda sama kalian, entar aku udah capek capek nungguin dia dewasa malah kalian nikahkan sama pria lainnya, kan rugi aku." Ujar Bimo membuat Dera tersenyum.
" Aku tidak akan menjodoh jodohkan anakku nanti Bang, biarkan dia memilih pasangannya sendiri, tapi apa nggak jadi pedofil Bang, kalau kamu menikahi anakku nanti?" Sindir Dera.
" Nggak! Banyak juga pernikahan beda usia, malahan nanti aku akan kembali muda kalau bisa dapat yang jauh lebih muda." Sahut Bimo.
Dera dan Erlan hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Tapi berani lo sakiti anak gue, bakal gue lenyapkan tuh nyawa." Ancam Erlan.
" Nggak berani gue bos." Sahut Bimo.
Sepiring makanan habis tanpa sisa. Erlan nampak senang melihatnya.
" Udah habis Nona, apa mau nambah lagi?" Tanya Bimo.
" Udah Bang, kenyang." Sahut Dera.
__ADS_1
" Baiklah." Sahut Bimo meletakkan piring ke nampan.
" Bang Bimo, nanti siangan dikit belikan aku rujak buah ya." Ucap Dera.
" Baik Nona." Sahut Bimo.
" Kamu nggak mau di beliin apa gitu sama aku sayang?" Erlan menatap Dera yang menggelengkan kepalanya.
" Apa apa Bimo, apa apa Bimo, jangan jangan nanti kamu tidur minta di kelonin Bimo." Kesal Erlan.
" Boleh juga tuh Mas." Canda Dera.
" Apa?" Teriak Erlan memekakkan gendang telinga.
" Tidak bisa! Berani kamu minta seperti itu, aku pecat Bimo saat itu juga." Sambung Erlan menunjuk Dera.
" Enggak Mas, aku cuma bercanda." Sahut Dera terkekeh.
" Lagian aku juga nggak bakal mau bos, bisa bisa besok pagi aku hanya tinggal nama saja." Sahut Bimo.
" Kamu kerjakan pekerjaan kantor Bim, nanti aku ke kantor agak siangan." Ucap Erlan.
" Iya Bos." Sahut Bimo.
" Kalau belum sarapan, sarapan dulu di bawah." Ujar Erlan.
" Boleh deh, kebetulan saya memang belum sarapan." Kekeh Bimo.
" Sayang aku ke bawah mau sarapan dulu sama Bimo ya, kalau ada apa apa panggil aku saja." Erlan menatap Dera.
" Iya Mas." Sahut Dera.
" Bang Bimo nanti jangan lupa ya rujaknya." Ucap Dera.
" Beres Nona." Sahut Bimo.
Erlan dan Bimo turun ke bawah untuk sarapan. Dera duduk bersandar pada head board.
" Mama bahagia sayang kalau seandainya kamu perempuan dan berjodoh dengan Bang Bimo, usia tidak menjadi masalah, yang penting dia akan menyayangimu dan menuruti semua permintaanmu, Bang Bimo orang yang baik, bahkan dia lebih lembut dari Papamu." Monolog Dera mengelus perut ratanya.
Tak lama Erlan kembali ke kamarnya.
" Ada apa Mas?" Tanya Dera menatap Erlan.
" Sayang, sepertinya ingatanku sudah kembali sepenuhnya, aku ingat masa lalumu sebelum kita menikah." Ucap Erlan.
" Syukurlah kalau begitu Mas, itu berarti kamu sudah sehat kembali." Ujar Dera.
" Iya sayang, aku berharap setelah ini hanya ada kebahagiaan di dalam hidup kita berdua bersama anak anak kita nanti." Ucap Erlan merangkul Dera.
" Amin." Sahut Dera.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya..
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All....
TBC....