
Satu bulan kemudian, Dera baru bangun tidur. Tiba tiba perutnya terasa sangat mual. Ia segera berlari menuju kamar mandi.
Huek... Huek...
Dera memuntahkan isi perutnya ke wastafel. Erlan yang mendengar Dera muntah segera menghampirinya.
" Kamu kenapa sayang?" Erlan memijat tengkuk Dera.
Dera mengusap mulutnya menggunakan tisu.
" Aku tidak tahu Mas, tiba tiba saja aku merasa mual." Sahut Dera.
" Kita ke dokter ya, biar tahu sakitnya apa." Ucap Erlan.
" Nggak usah Mas! Paling juga hanya masuk angin biasa." Sahut Dera.
" Sayang jangan meremehkan penyakit! Aku tidak mau sampai kamu kenapa napa, atau jangan jangan.... " Erlan menjeda ucapannya.
" Jangan jangan apa Mas? Jangan menakutiku donk." Ujar Dera cemas.
" Jangan jangan kamu hamil sayang." Ucap Erlan girang.
" Hamil?" Dera mengerutkan keningnya.
" Iya sayang, biasanya kan kalau wanita hamil pasti muntah muntah di pagi hari, kapan kamu terakhir haid?" Tanya Erlan memastikan.
Dera mencoba mengingatnya.
" Bulan kemarin tanggal sepuluh Mas, tapi bulan ini belum dapat, padahal ini sudah tanggal dua puluh, itu berarti aku telat sepuluh hari Mas." Ujar Dera.
" Lebih baik kita periksa saja sayang ke rumah sakit, jadi kalau memang benar kamu hamil, kita bisa merawatnya dengan baik." Erlan mengelus perut Dera.
" Aku akan senang sekali Mas, kalau aku terbukti hamil." Ucap Dera.
" Iya sayang, aku juga." Sahut Erlan.
" Sekarang mandilah! Aku akan telepon dokter rumah sakit untuk membuat janji." Ucap Erlan.
" Iya Mas." Sahut Dera.
Erlan keluar kamar mandi. Ia menelepon dokter kenalannya yang bekerja di rumah sakit pusat.
Selesai bersiap Erlan menggandeng tangan Dera menuju mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit pusat. Di dalam perjalanan, Erlan terus menggenggam tangan Dera.
" Apa sekarang udah nggak mual lagi sayang?" Tanya Erlan.
" Enggak Mas! Cuma sekali aja tadi." Sahut Dera.
" Dia anak yang baik, dia tidak mau menyusahkan mamanya." Ujar Erlan.
" Semoga saja apa yang kita harapkan jadi kenyataan hari ini Mas." Ujar Dera.
" Amin." Sahut Erlan.
Sesampainya di rumah sakit, Erlan dan Dera langsung menuju ruang obgyn dimana Erlan membuat janji dengan dokter Mila.
__ADS_1
" Silahkan masuk tuan, nyonya!" Ucap suster.
" Terima kasih." Sahut Dera.
Erlan dan Dera duduk di depan dokter Mila.
" Apa yang anda keluhkan Nyonya Erlan?" Dokter Mila menatap Dera.
" Pagi tadi saya mual dan muntah muntah Dok, saya juga terlambat datang bulan selama sepuluh hari." Sahut Dera.
Dokter Mila tersenyum mendengarnya.
" Mari saya periksa!" Dokter Mila mempersilahkan Dera berbaring di atas ranjang.
" Langsung kita USG saja ya Nyonya, biar lebih jelas." Ucap dokter Mila.
" Iya Dok." Sahut Dera.
Dokter Mila mulai mengoleskan gel pada perut Dera. Ia menggerakkan transduser di atas perut Dera yang masih rata.
" Lihatlah ke layar Tuan, Nyonya!" Ucap dokter Mila.
Erlan dan Dera menatap ke layar yang hanya nampak berwarna hitam.
" Ini rahim Nyonya, di sini ada titik hitam yang masih kecil sekali, ini adalah calon bayi kalian berdua, saat ini kondisinya sehat, dan dapat di perkirakan usianya sekitar enam minggu." Terang dokter Mila.
Erlan dan Dera menatap layar dengan penuh haru.
" Selamat ya Tuan, Nyonya! Kalian akan menjadi orang tua." Ucap dokter Mila.
Erlan menatap Dera lalu tiba tiba ia memeluknya.
" Terima kasih sayang sudah memberikan kado terindah dalam hidupku." Ucap Erlan meneteskan air mata karena saking bahagianya.
" Iya Mas, semua ini terjadi berkat kamu juga." Sahut Dera.
Setelah mendapat penjelasan seputar awal kehamilan, keduanya menuju apotik untuk menebus resep. Erlan terus menggenggam tangan Dera seolah takut Dera akan hilang di sana.
Setelah mendapatkan beberapa vitamin, mereka masuk ke mobil menuju rumahnya.
" Mas aku punya satu permintaan untukmu, boleh nggak." Ujar Dera.
Erlan menoleh sekilas lalu kembali fokus pada stirnya.
" Apa itu sayang? Apapun akan aku berikan untukmu." Sahut Erlan.
" Aku ingin menjenguk Mas Revan, sekalian memberitahu kabar bahagia ini." Ucap Dera.
Sebenarnya Erlan paling malas jika harus membahas Revan. Ia cemburu sekaligus takut kalau Dera akan kembali tertarik kepadanya.
" Aku tidak ada maksud lain Mas, aku juga sudah tidak ada perasaan apa apa kepadanya, aku hanya menganggapnya sebagai saudaraku saja, karena kami sama sama tidak punya siapapun di dunia ini." Ujar Dera.
" Lalu aku ini siapa kamu hmm? Kok kamu bisa ngomong begitu." Ucap Erlan.
" Ya kamu suami aku lah, maksudku aku tidak punya saudara." Sahut Dera.
__ADS_1
" Baiklah aku akan mengantarmu ke sana! Tapi kali ini saja, karena sejujurnya aku tidak suka kamu dekat dekat dengannya." Ujar Erlan.
" Iya Mas, maafkan aku yang terkesan tidak menghargai perasaanmu Mas, aku ingin membagi kebahagiaan ini dengan orang lain, tapi aku tidak tahu dengan siapa, karena yang aku kenal hanya dirimu dan Mas Revan saja." Dera menundukkan kepalanya.
" Tidak apa sayang, jangan bersedih lagi!" Sahut Erlan mengelus kepala Dera.
Sesampainya di rutan, Erlan menggandeng tangan Dera masuk ke dalam. Setelah menemui polisi yang bertugas di sana, kini keduanya bisa menemui Revan.
" Dera." Ucap Revan menghampiri keduanya.
Dera menatap tubuh Revan yang nampak kurus tak terurus, namun kulitnya bertambah putih.
" Mas, kenapa kamu kurus sekali? Apa kamu tidak makan dengan baik?" Tanya Dera tanpa bisa menahannya.
Revan tersenyum mendengar perhatian dari Dera.
" Aku makan dengan baik kok, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, bagaimana kabarmu?" Tanya Revan mengalihkan pembicaraan. Ia merasa tidak pantas mendapat perhatian dari Dera lagi.
" Aku baik baik saja, aku ke sini ingin memberitahukan kabar baik kepadamu." Ucap Dera.
" Kabar baik? Apa itu?" Revan menatap Dera dan Erlan bergantian.
" Dera sedang hamil saat ini." Ucap Erlan.
Ces.....
Bagai di sayat sembilu, hati Revan sakit mendengarnya. Bagaimanapun ia masih mencintai Dera. Walaupun ia sedang berusaha mengikhlaskannya.
" Selamat untuk kalian berdua, semoga sehat sampai persalinan nanti, Dera." Ucap Revan.
" Amin, terima kasih Mas." Sahut Dera.
" Aku berharap semoga saat anakku lahir nanti, kau sudah bebas dari sini, bukankah sidang keputusannya masih minggu depan?" Tanya Dera.
" Iya, seberapa lama hukumanku, aku akan tetap menerimanya Dera, di sini aku bisa tahu bagaimana rasanya hidup dalam penyesalan, dan di sini aku sadar, bagaimana pentingnya keluarga dalam hidup kita, aku berjanji pada diriku sendiri setelah aku keluar dari sini aku akan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan lagi, terima kasih kamu tidak membenciku Dera, terima kasih kau masih mau berhubungan baik denganku walaupun hubungan kita tidak seperti dulu lagi tapi aku merasa bahagia, setidaknya aku masih kamu hargai sebagai saudaramu." Ucap Revan.
" Iya Mas, setelah keluar dari sini lanjutkan hidupmu dengan bahagia, mungkin setelah ini aku tidak akan ke sini lagi karena aku harus fokus pada keluargaku, aku juga berterima kasih kepadamu karena perbuatanmu, aku di pertemukan dengan pria yang sangat menyayangiku seperti Mas Erlan." Ucap Dera mengapit lengan Erlan.
" Aku juga harus berterima kasih padamu, karena kau aku bisa mendapatkan wanita yang sangat aku cintai." Ucap Erlan.
Revan menganggukkan kepala.
" Semoga kalian selalu bahagia, jaga anak itu Dera, kelak biarkan aku bermain dengannya." Ujar Revan.
" Kau boleh bermain dengannya, asalkan tidak punya tujuan lainnya, karena Dera dan anakku hanya akan menjadi milikku saja." Sahut Erlan.
" Aku tahu itu bro." Sahut Revan.
Dera tersenyum bahagia. Walaupun mantan suaminya pernah menyakitinya, tapi ia tidak membencinya. Ia ikhlas menerima takdir yang Tuhan berikan kepadanya. Pada kenyataannya kini dirinya hidup bahagia bersama Erlan dan calon anaknya.
TBC.....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat author...
Terima kasih untuk readera yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...