Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Hari Bahagia


__ADS_3

Hari hari berlalu, tak terasa umur babby Qiran sekarang menginjak delapan bulan. Ia sudah pandai merangkak dan berceloteh ria. Ia tumbuh menjadi bayi yang sehat dan berbadan montok. Semua orang merasa gemas jika melihatnya.


Saat ini, Dera sedang menemani babby Qiran bermain.


" Mam... Mah." Celoteh Qiran.


" Iya sayang, kamu mau apa?" Dera memangku Qiran.


" Mam... mam.. mam.... mam.." Sahut Qiran.


" Kamu mau makan? Lapar ya?" Ujar Dera menciumi pipi gembul putrinya.


" Kamu tunggu di sini dulu ya! Mama ambilkan biskuit dulu." Ujar Dera mendudukkan Qiran di atas karpet.


Dera mengambil biskuit susu lalu memberikannya pada Qiran.


" Ini sayang, makan dulu nanti baru main lagi." Ucap Dera.


Qiran nampak senang menerima biskuit dari tangan Dera, senyumnya terus mengembang menghiasi wajahnya.


" Assalamu'alaikum sayang."


Dera menoleh ke belakang.


" Wa'alaikumsallam Mas, kalian kok sudah pulang?" Tanya Dera menatap Erlan dan Bimo bergantian.


" Bos mengajakku pulang, katanya kangen sama princes Qiran Nona." Sahut Bimo.


" Kalian cuci tangan dulu gih! Terus makan siang, setelah itu baru main sama Qiran." Ujar Dera.


" Nggak mau." Jawab keduanya kompak.


" Kenapa nggak mau?" Tanya Dera.


" Keburu princes Qiran bobok." Sahut Bimo.


" Iya betul." Ujar Erlan.


" Kalau tahu Qiran mau bobok, kenapa kalian pulang? Balik lagi sana ke kantor! Cari duit yang banyak." Ucap Dera.


" Uangku sudah banyak sayang, tidak akan habis walau aku tidak kerja selama tujuh tahun." Sahut Erlan menyombongkan diri.


" Kalau kamu mau alasan apa Bang?" Tanya Dera menatap Bimo.


" Emm a.. Aku.." Bimo menjeda ucapannya. Tidak mungkin kan dia bilang hal dama dengan Erlan.


" Kalau kamu miskin, aku nggak akan kasih princes ke kamu, mau di kasih makan apa dia nanti? Aku nggak mau ya kalau putriku sampai merasakan hal yang sama denganku." Ucap Dera.


" Tenang Nona! Walaupun aku tidak punya uang banyak, tapi kan princes dapat warisan banyak dari Papanya." Sahut Bimo melirik Erlan.


" Oh aku tahu sekarang." Ucap Dera berkacak pinggang.


" Bang Bimo mau menikahi anakku karena warisannya banyak? Bang Bimo tidak benar benar ingin menjaga Qiran to, kalau begitu aku nggak setuju, aku tidak akan memberikan restuku untuk Bang Bimo." Ujar Dera.


" Eh jangan begitu Nona, aku kan hanya bercanda, peace." Bimo mengacungkan dua jarinya.

__ADS_1


Dera membalikkan badannya.


" Lhoh Qiran sama Mas Erlan kemana?" Tanya Dera.


" Ah kamu si Nona, gara gara kamu berdebat denganku, jadinya bos Erlan membawa kabur princesku." Ujar Bimo.


" He he maaf Bang." Sahut Dera sambil nyengir.


Dera berjalan menuju kamarnya. Ia masuk ke dalam lalu mengembangkan senyumnya saat melihat Erlan yang tidur memeluk Qiran. Qiran nampak nyaman tidur dalam pelukan papanya.


Dera menutup pintunya, lalu naik ke atas ranjang. Ia berbaring di samping Erlan, tiba tiba Erlan memeluknya.


" Kamu nggak tidur? Aku kira kamu tidur Mas." Ujar Dera.


" Enggak! Aku cuma ngelonin Qiran aja biar dia bobok." Sahut Erlan menyusupkan wajahnya ke leher Dera membuat tubuh Dera meremang.


" Shhh." Desis Dera saat Erlan menyesap lehernya hingga meninggalkan bekas merah.


" Mas jangan buat tanda di leher! Malu kalau ada yang lihat, apalagi kalau Bang Bimo yang lihat, mau taruh dimana mukaku ini." Ucap Dera.


" Aku membuatnya di belakang sayang, jadi tidak ada yang akan melihatnya kalau kamu tidak mengucir rambutmu, aku pengin sayang." Bisik Erlan di telinga Dera.


" Masih siang Mas, nanti kalau ada yang lihat gimana? Terus nanti kalau ada tamu." Ujar Dera.


" Tidak akan ada yang berani mengganggu waktu kita, boleh ya." Sahut Erlan.


" Baiklah tapi sebentar saja." Ucap Dera.


" Siap." Sahut Erlan.


Erlan menindih tubuh Dera, ia mencium Dera dengan penuh kelembutan. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Revan, saat ini Aulia sedang memasak untuk makan malam. Ia terlihat sangat kesusahan dengan perutnya yang sudah besar. Tinggal menunggu hari atau jam saja untuk melahirkan sang buah hatinya.


Saat ia sedang meracik bumbu, tiba tiba...


Pyak....


Air mengalir dari sela sela kakinya.


" Ya Allah air apa ini? Apakah ini air ketuban? Apa aku mau melahirkan?" Aulia mengusap air itu.


" Ssshhh kenapa tiba tiba perutku terasa mulas? Iya... Pasti aku mau melahirkan, aku harus telepon Mas Revan sekarang." Ujar Aulia.


Aulia menelepon Revan, ia mengatakan kalau ia hendak melahirkan. Revan segera bergegas pulang ke rumahnya.


" Sayang.... Sayang kamu dimana?" Ucap Revan dengan sedikit berteriak.


" Mas aku di dapur." Sahut Aulia.


Revan segera berlari menghampiri Aulia.


" Sayang kita ke rumah sakit sekarang." Revan menghampiri Aulia yang sedang duduk di kursi.

__ADS_1


" Iya Mas." Sahut Aulia.


Revan menggendong Aulia ala bridal style. Keduanya menaiki mobil menuju rumah sakit permata bunda.


" Shhh." Desis Aulia mengelus perutnya.


" Sayang, sakit banget ya? Sabar ya!" Ucap Revan.


" Rasanya terlalu nikmat Mas." Sahut Aulia membuat Revan mengerutkan keningnya.


" Beginilah nikmatnya menjadi seorang wanita yang akan menjadi ibu Mas, aku harus menikmati setiap moment moment seperti ini, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu." Sambung Aulia.


" Kau memang wanita hebat sayang." Revan mengelus kepala Aulia.


" Di saat yang lainnya mengatakan sakit, kau justru merasakan nikmat, semoga setelah sampai di rumah sakit, dia akan segera lahir." Ucap Revan.


" Amin semoga ya Mas." Sahut Aulia.


Revan mengelus perut Aulia dengan tangan kirinya.


" Anak Papa anak yang pintar, segera lahir karena Papa tidak sabar menunggu kelahiranmu sayang, sampai bertemu nanti." Ucap Revan.


Sesampainya di rumah sakit, Revan membawa Aulia menuju UGD. Dari UGD Aulia langsung di pindah di ruang bersalin.


Dengan setia Revan menemani Aulia berjuang melahirkan anaknya. Ia terus menggenggam tangan Aulia saat Aulia mengejan.


" Sebentar lagi Bu, ayo dorong lagi!" Ucap dokter yang menangani persalinan.


" Aaaaaaaa." Aulia mendorong dengan sekuat tenaga hingga....


Oek.... Oek.....


" Alhamdulillah." Semuanya bernafas lega mengucap syukur.


" Selamat Pak, Bu, anaknya laki laki, sehat dan normal secara fisik tanpa kekurangan apapun." Ucap dokter.


" Alhamdulillah Mas, anak kita sehat dan normal." Ucap Aulia.


" Terima kasih sayang." Revan menciumi pipi dan kening Aulia bergantian.


Ia sangat bahagia dengan kado terindah yang Tuhan berikan kepadanya.


" Terima kasih telah menyempurnakan hidupku, semoga anak kita akan membawa kebahagiaan di dalam keluarga kecil kita sayang, aku menyayangimu." Revan kembali mencium kening Aulia.


" Sama sama Mas, kebahagiaan ini tidak akan lengkap tanpa peran darimu Mas." Ucap Aulia.


Revan membalasnya dengan senyuman.


Siapa yang mau menyumbang nama nih buat anaknya Aulia dan Revan? Tulis di kolom komentar ya...


Eitsss bukan hanya menyumbang nama, tapi kalian harus menyumbang point ya... Tekan like koment vote dan 🌹nya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All....

__ADS_1


TBC....


Yang belum mampir ke Affair With you, author tunggu di sana ya....


__ADS_2