Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Tekad Revan & Aulia


__ADS_3

Revan masuk ke dalam kamarnya, ia menatap Aulia yang sedang berbaring di atas sofa sambil mainkan ponselnya. Ia mendekati Aulia membuat Aulia beringsut memberikan tempat untuknya.


" Aku ingin minta maaf padamu." Ucap Revan duduk sering menghadap Aulia.


Aulia menatap Revan sekilas, lalu ia kembali fokus pada ponselnya.


" Aku maafkan." Sahut Aulia.


" Aku pernah gagal dalam membina pernikahan, dan aku tidak mau gagal lagi, aku berharap banyak pada pernikahan ini, aku ingin membina rumah tangga yang bahagia bersama istri dan anak anakku nanti, aku tidak mau kehilangan kamu, aku bertekad untuk menghapus nama Dera dari dalam hatiku, tapi aku butuh waktu Aulia... Dera wanita yang baik... Bahkan sangat baik, dia membiayai kuliahku hingga aku lulus S2, dia selalu menutupi kekurangan ekonomi kami dengan penghasilan cafenya, dia tidak pernah mengeluh seberapapun yang aku berikan padanya, suatu hari karena kurangnya iman dalam hati ini, aku mengkhianatinya, aku tidak bermaksud menduakan cintanya, tapi aku masuk ke dalam jebakan Rizal dan Nita yang berniat memisahkan aku dan dia, aku menikahi Nita secara siri di belakang Dera, saat dia mengetahui semuanya... Dia begitu terluka Aulia, dia menceraikan aku tapi dia tidak membenciku... Saat aku sakit di penjara, dia merawatku, dia membebaskan aku dari hukuman lima tahun menjadi satu tahun, setelah itu dia memberikan rumahnya untukku tinggal... Dan suaminya memberiku pekerjaan lagi sebagai satpam di perusahaannya... Mereka sangat baik kepadaku Aulia... Itulah yang membuat rasa bersalah dan penyesalan telah menyakiti wanita sebaik dirinya terasa begitu mendalam di dalam hatiku." Terang Revan panjang lebar.


" Karena rasa penyesalan dan rasa bersalah inilah aku merasa berat untuk melupakan Dera, aku merasa Dera tidak pantas untuk di lupakan... Aku pernah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak menikah lagi, aku takut kalau aku akan mengulangi hal yang sama kepada istriku nanti, tapi Tuhan mengirimkan kamu untuk menemaniku, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga dan menyayangi titipan Tuhan itu kepadaku." Ucap Revan menggenggam tangan Aulia.


" Percayalah Aulia! Di dalam hatiku sudah ada sedikit rasa untukmu, aku ingin perasaan itu semakin hari akan semakin bertambah besar untukmu, aku punya keyakinan suatu hati nanti nama Dera akan hilang terganti dengan namamu, aku hanya butuh sedikit waktu untuk mewujudkan semua itu Aulia, ku mohon bersabarlah sebentar lagi, aku butuh bantuanmu untuk melakukan semua itu, jadi aku minta padamu, jangan bersikap dingin kepadaku! Aku ingin seperti pasangan pengantin baru lainnya yang saling bermanja manja dengan pasangannya, kau paham maksudku kan?" Tanya Revan menatap Aulia.


" Apa kau yakin bisa menggantikan nama mbak Dera dengan namaku? Aku tidak mau terluka karena suamiku masih mengenang masa lalunya, masa lalu biarkanlah berlalu Mas! Kau harus melupakannya demi masa depan yang bahagia bersamaku, jika kau memintaku untuk memahami perasaanmu, maka kau juga harus memahami perasaanku juga sebagai istrimu." Ucap Aulia.


" Iya sayang." Sahut Revan.


" Bukannya aku ingin merendahkanmu Mas, tapi ingat satu hal! Aku seorang gadis dari keluarga terpandang, aku bisa memilih siapapun dari keluarga manapun untuk menjadi suamiku, tapi aku percaya kalau Tuhan mengirimkan jodoh terbaik untukku yaitu dirimu, aku menerimamu apa adanya, aku mau menerima seberapa buruk masa lalumu dengan lapang dada, aku bisa dan mampu menerima semua yang mbak Dera tidak bisa lakukan Mas."


Deg....


Ucapan Aulia menohok hati Revan. Aulia benar, Dera tidak mampu melakukan semua yang Aulia lakukan kepadanya, karena mereka berbeda. Aulia wanita sholihah yang mempunyai kelapangan hati seluas samudera. Sedangkan Dera lebih memegang prinsipnya dan memilih dengan hidup barunya.


" Aku beri kamu waktu satu bulan, jika kamu masih belum bisa melupakan mbak Dera maka jangan salahkan aku jika aku kembali kepada orang tuaku." Tegas Aulia.


" Baiklah, aku menerima syaratmu." Sahut Revan.


" Aku mau tidur, silahkan kau kembali ke ranjangmu." Ucap Aulia.

__ADS_1


" Tidurlah di ranjang, biar aku yang tidur di sini." Ujar Revan.


" Aku tidak setega itu kepadamu Mas, aku nyaman di sini, sekarang istirahatlah! Dan jangan berdebat lagi!" Sahut Aulia.


Revan beranjak dari sofa. Aulia segera berbaring menutup rapat seluruh tubuhnya dengan selimut.


Pagi hari, Aulia mengerjapkan matanya. Perutnya terasa berat, ia menatap perutnya yang ternyata tangan Revan yang melingkar.


" Eh kenapa aku bisa tidur di sini?" Gumam Aulia setelah sadar jika ia tidur di ranjang.


Aulia mencoba menyingkirkan tangan Revan, namun Revan malah mempererat pelukannya.


" Bagaimana kau membantuku melupakannya? Kalau kau tidak membiarkan aku mendekatimu." Bisik Revan.


" Sudah adzan subuh, aku harus sholat Mas! Kau juga harus sholat!" Ujar Aulia.


Aulia nampak senang mendengar ucapan Revan. Keduanya segera mengambil air wudhu, lalu setelah itu Revan menjadi imam untuk Aulia.


Selesai sholat, Aulia mencium punggung tangan Revan, keduanya berdoa untuk kebaikan kehidupan mereka. Hati Revan merasa tenang mendengar Aulia melantunkan ayat ayat suci Al-Quran. Sungguh istri yang sholihah, pikirnya.


Selesai sarapan, Revan pamit berangkat kerja. Sedangkan Aulia pergi ke rumah Dera.


Ting tong...


Aulia mencet bel rumah Dera, tak lama Dera membuka pintu nya dan mempersilahkan Aulia masuk. Keduanya duduk di sofa ruang tamu.


" Bagaimana kabarmu dan dedek bayinya Mbak?" Tanya Aulia basa basi.


" Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana? Gimana hubunganmu dengan Mas Revan?" Tanya Dera.

__ADS_1


" Kami baik baik saja Mbak, aku ke sini sebenarnya ingin menanyakan soal Mas Revan kepada Mbak Dera." Ucap Aulia membuat Dera mengerutkan keningnya.


" Bukan maksudku ingin mengingatkan tentang masa lalu kalian, tapi aku ingin tahu lebih jauh soal Mas Revan, apa makanan kesukaannya, warna baju kesayangannya dan sebagainya, aku mau tanya ke Mas Revan tapi malu Mbak, makanya aku ke sini." Ucap Aulia.


Dera tersenyum menatap Aulia.


" Mas Revan sangat menyukai rendang." Ucap Dera.


" Oh itu sebabnya kemarin dia memintaku memasak rendang." Batin Aulia.


" Dia tidak suka masakan yang menggunakan cabai hijau, apapun bentuknya, kalau soal baju, dia suka semua warna kecuali hitam, dia tidak suka pakai kemeja ataupun kaos hitam, itu aja sih, kalau kamu mau tahu lebih dalam, kamu harus mulai memahami Mas Revan, dengan begitu kau akan mendapatkan apa yang sebenarnya hatimu inginkan." Ujar Dera.


" Iya Mbak, terima kasih sudah memberitahuku." Ucap Aulia.


" Sama sama." Sahut Dera.


" Kau akan terkejut dengan apa yang akan aku lakukan Mas, kau mau melupakan Mbak Dera kan? Dengan senang hati aku akan membantunya." Ujar Aulia dalam hati tersenyum smirk.


Kira kira apa yang akan Aulia lakukan nih?


Penasaran?


Jangan lupa untuk selalu ramein like koment vote dan 🌹nya buat author...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2