
Erlan dan Dera menjenguk Aulia di rumah sakit. Mereka meninggalkan babby Qiran bersama Bimo. Sesampainya si ruangan Aulia, keduanya masuk ke dalam menghampiri Aulia yang sedang terbaring lemah.
" Selamat Aulia! Semoga putramu menjadi anak sholeh dan berbakti kepada orang tua." Ucap Dera.
" Amin, Terima kasih Mbak." Sahut Aulia.
Dera menatap Revan yang menggendong pangeran kecilnya. Ia berjalan mendekatinya.
" Selamat ya Mas! Selamat menjadi ayah dari putramu." Ucap Dera menatap pangeran kecil yang tampan.
" Terima kasih Dera, maafkan aku!" Ucap Revan sendu.
" Untuk apa?" Dera menatap Revan sambil mengerutkan keningnya.
" Seandainya aku dulu tidak memintamu menundanya, pasti sudah lama kita...
" Tidak perlu di bahas lagi Mas!" Sahut Dera memotong ucapan Revan.
" Semua itu hanya masa lalu, aku tidak mau Aulia salah paham akan hal ini, semua sudah takdir yang kuasa, sekarang kita sudah memiliki keluarga masing masing, berbahagialah dengan keluarga kita yang sekarang." Sambung Dera.
" Rasa bersalah ini masih membekas di dalam hatiku, kebahagiaan yang aku rasakan sekarang terasa hampa Ra, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana." Ucap Revan.
" Mas aku sudah memafkaanmu lahir dan batin, tulus dari dalam hatiku! Hilangkan rasa bersalahmu itu! Dan hidup bahagialah mulai sekarang tanpa bayang bayang masa lalu bersama keluarga kecilmu, mereka membutuhkan kasih sayang darimu, jangan ulangi kesalahan yang sama dengan menyia-nyiakan keluargamu yang sekarang, jika kau terus merasa bersalah seperti ini, justru akan membuatku kepikiran Mas, aku harap kau paham dengan ucapanku." Ucap Dera tegas.
" Aku paham Dera, ucapanmu membuatku sedikit lega, aku akan melanjutkan hidupku dengan penuh kebahagiaan, Terima kasih sudah memaafkan pria sepertiku." Ucap Revan.
" Kalian sedang membicarakan apa sih? Sepertinya serius banget." Erlan mendekati Dera dan Revan.
" Kami sedang membicarakan babby boy yang tampan ini." Sahut Dera menoel pipi babby nya Revan.
" Siapa nama babby boy tampanmu Van?" Tanya Erlan.
" InsyaAllah kami beri nama Abrisam Fattahillah." Sahut Erlan.
" Nama yang indah, semoga sesuai apa yang di harapkan." Ucap Dera.
" Amin." Sahut Revan.
" Sayang kamu ingin nggak yang kaya' gitu?" Tanya Erlan.
" Maksudmu?" Dera menatap Erlan.
" Kalau kamu ingin, kita akan membuatnya lagi, lagian Qiran kan sudah di minta sama Bimo, masa' nanti kita tua hanya tinggal berdua saja." Sahut Erlan.
" Kamu ini Mas ada ada saja, Qiran masih kecil kalau mau di kasih adik, nanti nunggu Qiran berumur lima tahunan." Sahut Dera.
" Kelamaan sayang, keburu aku nggak bisa cari uang buat anak anak sekolah nanti." Sahut Erlan.
" Uangmu nggak akan habis tujuh turunan Mas, jadi kamu tenang saja." Ujar Dera.
" Nggak bisa! Pokoknya Qiran setahun kamu harus hamil lagi, jadi dia tahun dia punya adik." Sahut Erlan.
" Itu terlalu cepat Mas, aku ingin...
" Keputusan sudah bulat, tidak bisa di perdebatkan lagi." Sahut Erlan memotong ucapan Dera.
__ADS_1
Dera hanya bisa mengenal nafasnya saja.
" Baiklah terserah kamu saja." Sahut Dera.
" Gitu donk." Erlan merangkul Dera.
" Senyum donk! Masa cemberut gitu! Jelek tahu nggak." Erlan menoel pipi Dera.
" Apa sih!" Cebik Dera.
" Senyum sayang... Seperti yang lagi viral itu lhoh." Ujar Erlan.
" Yang gimana?" Tanya Dera.
" Gini... Mbok yo sing full senyum sayang, ben aku semangat berjuang."
Dera tertawa mendengar Erlan menyanyikan lagu Jawa. Suaranya terdengar sangat lucu di telinga Dera.
Revan tersenyum melihat kebahagiaan mereka.
" Aku harus bahagia, Dera sudah benar benar memaafkanku, apalagi yang aku inginkan? Buang rasa bersalah ini dan lanjutkan hidup demi masa depan, semangat Revan.... Pasti kamu bisa." Batin Revan mencium pipi putranya.
" Mas aku mau gendong boleh nggak?" Tanya Dera.
" Boleh donk! Inikan anakmu juga." Sahut Revan memberikan babby Abrisham kepada Dera.
" Hallo anak cakep, enak ya lagi tidur nyenyak, kamu ganteng banget sih, jadi pengin bawa pulang kamu buat nemenin Qiran." Ujar Dera mencium pipi baby Abrisham.
" Buat sendiri Mbak, lagian Qiran kan udah besar, nggak pa pa kali nambah satu lagi." Ujar Aulia.
" Penginnya Mas Erlan sih begitu, tapi aku kasihan sama Qiran kalau masih kecil udah punya adik, entar kasih sayangnya terbagi lagi." Sahut Dera.
" Iya Mas aku tahu, apapun akan aku lakukan untukmu." Ujar Dera.
" Berarti deal ya, Qiran satu tahun kita berikan adik kepadanya." Ucap Erlan bersemangat.
Dera dan yang lainnya menggelengkan kepala melihat tingkah Erlan.
Sepulang dari rumah sakit, Dera dan Erlan menuju kamar tamu untuk mandi. Mereka ingin menghilangkan virus virus yang menempel di badan mereka sebelum menemui Qiran. Mereka sudah menyiapkan baju ganti sebelum pergi tadi.
Ternyata tidak hanya mandi saja, Erlan berbuat usil kepada Dera. Pada akhirnya Erlan dan Dera menghabiskan waktu hingga satu jam lebih untuk keluar dari kamar tamu itu.
Saat keduanya keluar, keduanya berpapasan dengan Bimo.
" Mandi madu atau mandi susu bos? Kok lama amat?" Canda Bimo menatap kedua atasannya.
" Dua duanya." Sahut Erlan meninggalkan Bimo dan Dera menuju kamarnya.
" Sini biar aku yang gendong Qiran Bang." Ucap Dera.
Bimo memberikan Qiran kepada Dera
" Gimana Bang? Apa Qiran rewel selama kami tinggal?" Tanya Dera menimang Qiran.
" Tidak Nona, princes Qiran anteng, nggak rewel, dia sudah makan siang Nona." Sahut Bimo.
__ADS_1
" Wah anak Mama udah makan ya? Di suapin sama Om Bimo ya?" Dera mencubit pelan pipi Qiran.
" Mam.... Mam.. Mam..." Celoteh Qiran.
"Makasih ya Bang udah bantuin jagain Qiran." Ucap Dera.
" Sama sama Nona." Sahut Bimo.
" Kalau begitu saya permisi." Bimo berjalan menuju kamarnya.
" Silahkan Bang!" Sahut Dera.
" Anak Mama pintar, nggak rewel ya di ajak main sama Om Bimo, mainan apa sayang? Kuda kudaan pasti ya? Atau mainan barbie sama rumah rumahan." Ucap Dera berjalan menuju kamarnya.
" Mam... Mama.. " Ucap Qiran.
" Iya ini Mama, kangen nggak sama Papa?" Tanya Dera.
" Pa.... Pa... Pap... Pa.. " Sahut Qiran.
Dera masuk ke dalam kamarnya. Ia mencari keberadaan Erlan. Terdengar Erlan sedang berbicara dengan seseorang di balkon. Ternyata panggilan telepon.
" Tidak sayang, aku tidak akan melakukan itu, aku benar benar mencintaimu, jadi jangan berpikiran untuk mengakhiri hubungan ini."
Deg....
Jantung Dera berdetak sangat kencang. Perlahan ia mendekati pintu balkon dengan pelan.
" Iya... Aku janji besok aku akan datang, temui aku di cafe xx jam delapan malam, di sana akan ada kejutan untukmu, ok aku mencintaimu sayang." Erlan menutup panggilan teleponnya.
Saat Erlan mau masuk, ia terlihat terkejut melihat Dera yang saat ini berdiri di depan pintu.
" Sayang, sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Erlan setenang mungkin.
" Siapa yang kau telepon pakai sayang sayangan segala Mas?" Selidik Dera.
" Tidak ada... Kamu salah dengar mungkin, aku tadi cuma konten di tok tok aja." Kilah Erlan.
" Aku mendengarnya Mas, jangan berbohong padaku!" Ucap Dera.
" Berbohong apa sih sayang? Aku tidak berbohong kepadamu, aku capek mau istirahat! Sini! Qiran biar sama aku aja." Erlan mengambil Qiran dari gendongan Dera.
Ia naik ke atas ranjang lalu memeluk Qiran sambil berbaring. Dera hanya menatapnya saja.
"Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu darimu Mas, aku akan menyelidikinya." Batin Dera.
" Maafkan aku sayang, aku tidak bisa memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi." Batin Erlan.
Sebenarnya apa sih yang terjadi?
Penasaran?
Tekan dulu like koment voten dan 🌹nya buat author...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author, semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All....
TBC...