Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku

Pengkhianatanmu Kebahagiaan Untukku
Seasons 2.32 Welcome to the Word


__ADS_3

Di sebuah gudang tua nampak Siska sedang meronta ronta meminta di lepaskan. Ia nampak kacau dan kering tak urus karena berbulan bulan di kurung oleh Bimo di gudang ini.


" Lepaskan aku!" Teriak Siska.


Ia berusaha mengendurkan tali yang mengikat kaki dan tangannya selama ini.


" Bimo lepaskan aku! Aku tidak akan mengusil hidupmu lagi! Tolong lepaskan aku!" Siska kembali berteriak.


Mendengar teriakan Siska, seorang pria bertubuh kekar menghampirinya.


" Jangan berisik kamu! Kalau tidak aku akan menembak kepalamu." Ancamnya.


" Lepaskan aku! Bilang pada Bimo kalau aku meminta maaf padanya, aku menyesali perbuatan dan niatku untuk menghancurkan pernikahannya." Ucap Siska.


" Heh jangan harap kaju bisa keluar dari sini Nona." Sahutnya.


" Kau sudah lama mengurungkan di sini, apa kau tidak bosan melihat wajahku setiap hari?" Tanya Siska menatap pria itu.


" Kalau boleh jujur aku sangat muak melihat wajahmu, tapi ini susah menjadi tugasku. Aku di bayar di sini Nona, dan aku bisa melakukan apa saja padamu. Jadi kau jangan berani berani macam macam atau kau akan menyesali semuanya." Ucapnya meninggalkan ruangan gelap itu.


" Hiks.. Kalau aku tahu berurusan sama Bimo membuatku berakhir seperti ini, aku tidak akan berani mengusiknya. Aku menyesal hiks.. Bimo tolong lepaskan aku!" Isak Siska.


Kini yang ada dalam hati Siska hanya penyesalan saja. Ia tidak menyangka jika Bimo bisa berbuat sekejam ini.


Di tempat lain tepatnya di dalam rumah Bimo, saat ini ia sedang mengelus elus punggung Qiran yang terasa panas dan pegal.


" Mas kenapa makin ke sini makin pegal Mas? Perutku juga rasanya nggak karuan." Ucap Qiran merengek seperti anak kecil.


" Sabar sayang." Sahut Bimo.


" Sabar sabar gimana Mas? Ini rasanya nggak karuan. Aku nggak tahan rasanya Mas." Ucap Qiran ketus.


" Iya maaf sayang Mas tidak tahu." Sahut Bimo menghela nafasnya.


" Shhh Mas... " Rintih Qiran.


Semakin ke sini perut Qiran semakin sakit. Rasanya mulas seperti orang mau BAB.


" Mas tambah sakit aduh!! Awh!!" Pekik Qiran.


" Tambah sakit?" Bimo mengerurkan keningnya.


" Gimana ini sayang? Apa kita ke rumah sakit aja sekarang?" Tanya Bimo panik.


Padahal waktu Dera melahirkan Qiran ia tidak sepanik ini. Ia biasa biasa saja menemani Dera. Bahkan Erlan lah yang merasa ketakutan.


" Iya Mas kita ke rumah sakit aja, sepertinya aku mau melahirkan Mas, awh... Sakit banget Mas." Ujar Qiran memegangi pinggangnya.


" Baiklah sayang, ayo!" Bimo menggendong Qiran menuju mobilnya.


Bimo segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit ibu dan anak. Sesampainya di sana Bimo kembali menggendong Qiran menuju UGD.

__ADS_1


" Dokter tolong istri saya!" Ucap Bimo pada dokter wanita yang berjaga di sana.


" Baik Pak, kami akan menanganinya. Silahkan anda tunggu di luar." Ucap dokter.


" Mas kamu di sini aja! Aku nggak mau jauh jauh dari kamu." Qiran menggenggam tangan Bimo.


Bimo menatap dokter tadi, di balas anggukan kepala olehnya.


" Baiklah sayang Mas tidak akan kemana mana. Mas akan selalu menemanimu." Ucap Bimo.


Dokter memeriksa kandungan Qiran untuk memastikan apakah sudah ada pembukaan atau belum.


" Sus bawa pasien ke ruang bersalin lalu kabari dokter Mila untuk menanganinya." Titah dokter.


" Baik Dok." Sahut suster.


" Istri anda mau melahirkan Pak, beri support supaya kondisi pasien tetap stabil." Ujar dokter.


" Iya Dok." sahut Bimo.


Qiran di pindahkan ke ruang bersalin. Bimo selalu menggenggam tangannya seolah mentransfer kekuatan untuk Qiran.


Dokter Mila segera menanganinya.


" Hitungan ke tiga dorong ya Nona!" Ujar dokter Mila.


Dengan mengikuti instruksi dari dokter Mila, Qiran terus mendorong anak yang hendak lahir ke dunia. Keringat dingin mengucur di dahinya dengan deras. Bimo segera mengusapnya.


Tiga kali mengej"*n akhirnya...


Oek... Oek...


Seorang babby cantik baru saja lahir ke dunia. Bimo menatap putri kecilnya yang masih berwarna merah dengan perasaan hari dan bahagia.


" Sayang putri kita." Ucap Bimo menatap Qiran dengan mata berkaca kaca.


" Terima kasih sayang kau telah menyempurnakan hidup Mas. Terima kasih untuk kebahagiaan ini." Ucap Bimo.


Cup... cup... cup...


Bimo mengecup pipi dan kening Qiran berkali kali.


" Selamat Pak, Bu! Bayinya perempuan, dia cantik dan sehat, semoga kelak menjadi anak sholehah." Ucap dokter Mila.


" Amin, terima kasih Dok." Ucap Bimo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Qiran dan bayinya baru saja di pindah ke ruang rawat. Dera dan Erlan segera masuk ke dalam.


" Sayang." Dera menghampiri putrinya di ranjang.

__ADS_1


" Mama." Qiran menatap Dera.


" Selamat sayang, semoga menjadi anak sholehah." Ucap Dera.


" Amin terima kasih Ma." sahut Qiran.


Dera mendekati Bimo yang menggendong babbynya.


" Cucu Oma cantik banget nih!" Dera mengelus pipi babby cantik tersebut.


" Biar aku gendong Bang!" Ucap Dera.


" Nggak boleh! Biar aku saja Ra. Aku tidak mau sampai anakku...


" Dia cucuku Bang! Kalau aku tidak boleh gendong maka aku akan membawa mereka ke rumah." Ancam Dera memotong ucapan Bimo.


" Baiklah." Bimo memberikan babbynya kepada Dera.


" Uluh cucu Oma.. Kamu cantik sekali Nak." Dera menciumi pipi cucunya.


" Siapa namanya Bim?" Tanya Erlan menatap Bimo.


" Namanya Bian Bos, singkatan dari namaku dan Qiran." Jawab Bimo.


" Bianca Abimana." Sambung Bimo.


" Bagus juga." Ucap Erlan.


Mereka mengobrol merasakan kebahagiaan yang saat ini mengiringi kebahagiaan keluarga Bimo. Mereka berharap kehadiran Bian akan selalu membawa ke bahagiaan untuk mereka semua.


Setelah menginap di rumah sakit selama dua hari dua malam, sore ini Qiran pulang ke rumahnya. Ia duduk di atas ranjang sambil bersandar pada head board.


" Sayang sepertinya Bian haus." Ucap Bimo memberikan Bian kepada Qiran.


Qiran segera menyusuinya dengan telaten. Bimo duduk di sebelahnya menatap putrinya yang saat ini sedang menyesap put*ng susu dengan kuat.


" Kuat banget minumnya sayang, pasti Bian akan cepat besar." Ujar Bimo.


" Iya Mas, satu bulan aja dia pasti kelihatan montok banget. Lucu banget ya Mas, nggak terasa kalau rasa sakitku akan tergantikan oleh babby cantik seimut ini." Ucap Qiran.


" Iya sayang, hari ini benar benar hari yang sangat membahagiakan. Mas jadi seorang papa sayang... Mas tidak pernah membayangkan jika hari ini akan terjadi. Terima kasih sayang untuk pengorbananmu selama ini. Mas semakin mencintaimu." Ucap Bimo mengecup kening Qiran.


" Sama sama Mas, ini juga berkat dirimu Mas." Sahut Qiran.


Keduanya merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Mereka sangat bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada mereka berdua. Keduanya berharap kelak kebahagiaan akan selalu menghampiri mereka.


Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2