Perfection System

Perfection System
All You Can Eat


__ADS_3

Bertepatan dengan teriakan para penonton, suara sistem juga terdengar nyaring di kepala Furya.


[Ding! Selamat tuan telah berhasil menyelesaikan misi]


[Selamat tuan mendapatkan hadiah 18.000 Perfection Poin]


[Selamat tuan telah naik level]


“Yes...naik level!”


Setelah pertandingan basket selesai, kelas 2D yang kelelahan hebat berniat makan bersama setelah pulang sekolah.


Furya yang diajak bahkan dipaksa ikut karena jika sang bintang tak hadir maka acara makan mereka akan terasa kurang.


“Mau ya Sher ikut sama anak-anak. Sebelum pulang kita mampir makan dulu!”


Sherly yang diajak sang pacar hanya mengangguk dan setuju.


Setelah itu karena acara disekolah hari itu sudah selesai dan sisanya akan diselesaikan besok, Furya dan teman-temannya langsung cabut dan pergi menuju restoran jepang yang tak jauh dari sekolah mereka.


“Wih...beneran nih bos Ali yang neraktir?” Tanya Jamal.


“Santai mal. Kalau bos udah bilang iya, kita tinggal ngekor.” Lanjut Boby.


Furya yang sampai di depan restoran Jepang mewah langsung turun dari motor dan berjalan masuk dengan Sherly.


Anak-anak sekolahan dengan badan penuh keringat itu masuk dan memesan satu ruangan VIP khusus untuk sore itu.


Ali yang keluarganya banyak duit mentraktir semua teman sekelasnya.


Furya yang sudah lama tak makan makanan jepang merasa sedikit nostalgia.


Dulu saat sang ayah masih hidup hampir tiap bulan ia dan keluarga pergi makan sushi dan makanan jepang lainnya.


Karena itu Furya yang sudah kelaparan tak segan-segan dan memakan semua makanan yang dipesan.


“Gas jagoan, ini untuk kemenangan kelas kita.” Kata Ali yang duduk didepan Furya.


“Hehehe...makasih bos. Terus kalo mau aku bayarin setengah deh biar gak banyak banget habis uangmu.”


“Gak perlu. Ginian doang masih sanggup aku!”


“Nah, itu baru Big Bos.” Lanjut Dinda yang duduk disebelah Ali.


Ruangan VIP yang luas itu kini penuh oleh kebisingan anak SMA yang kelaparan.


Semua meja penuh dan Furya duduk berempat bersama Sherly, Ali, Dinda dan makan dengan sangat lahap.


“Guys makan sepuasnya. Jangan pulang sebelum kenyang! Okeee...!” Teriak Ali kearah teman-temannya.


“Oke bos Ali.” Kata Egi menyeringai.


“Santai brother, akan kami koyak isi dompetmu!” Teriak Ardhi dari kejauhan.


Sherly yang melihat kedekatan dan canda tawa anak-anak kelas 2D menjadi sedikit iri. Dikelasnya, hal seperti itu tak pernah ada.


Semua orang yang ada disana seperti setara dan tak ada sedikitpun perbedaan.


Mau mereka yang kaya, miskin dan biasa saja semuanya duduk dimeja yang sama dan saling mengobrol.


Tak ada geng-gengngan dan semuanya tertawa lepas.


Furya yang memanggang daging sambil menyantap makanan lain terlihat diam saja dan menikmati makanannya.

__ADS_1


Memang kalau lagi makan pria satu ini selalu diam dan tak pernah berbicara hal yang tak diperlukan.


Tapi saat melihat dua pasangan kasmaran didepan mereka saling menyuap-nyuapi, Sherly menjadi makin iri.


Bahkan Furya yang sering makan dengannya tak pernah mau melakukan hal itu didepan orang lain.


“Nih sayang. Daging bakar spesialnya udah siap. Ahhhhkk...”


“Hemmm, enak sayang. Minta yang jamur juga dong!”


“Nih...tambahin kecap dikit dan siap di santap.”


“Gimana enak ga?”


“Enak banget.”


Melihat kemesraan Ali dan Dinda secara terang-terangan di hadapan mereka dan Furya yang asik makan sendirian, Sherly langsung menyenggol perut sang pacar.


“Aduh...kenapa Sher? Kamu gak makan?”


Melihat sang pacar yang tak peka, Sherly makin cemberut dan makan sendirian.


Ia memanggang dagingnya sendiri dan memakan itu sambil menahan rasa kesalnya.


Furya yang melihat sang pacar sudah mau makan tak terlalu mengerti code yang diberikan dan dengan santainya lanjut makan.


Semua makanan yang datang ia habiskan sampai tak tersisa. Setelah itu semua orang yang kelelahan dan kelaparan kini terduduk dan kekenyangan.


“Ahhh...terima kasih makanannya.” Kata Furya sambil mengangkat tangan ala orang Jepang.


Setelah kenyang dan hari makin gelap, semua orang berfoto selfie sejenak di tempat itu lalu pulang.


Furya yang kekenyangan hebat mengendarai motor dalam keadaan pelan.


Sherly yang sampai dirumahnya akhirnya turun dari motor.


“Dadah...”


Setelah sampai dirumahnya, Furya dapat melihat pagar rumah yang sudah terpasang.


Meskipun belum selesai tapi itu sudah terlihat hampir jadi.


Karena hanya untuk sementara sampai nantinya rumah kecilnya itu direnovasi full, pagar juga dibuat tak terlalu mewah.


Sehabis masuk kamar, Furya yang badannya penuh keringat langsung mandi.


Sambil berendam di bak mandi, ia juga melihat status dan skill barunya.


Nama                       : Furya Aditya


Ras                           : Manusia


Level                        : 19


Status                       : Penerus Resmi Dewa Kesempurnaan


Umur                        : 18


Perfection God      : Terkunci


Perfection Body     : 240


Perfection Rich       : 100

__ADS_1


Perfection Power  : 60


Perfection Poin      : 126.990.


Status Poin             : 0


Skill                           : Seni Beladiri Dewa I, Regeneration, Mata Dewa I, Dewa Game.


“Hemm...dengan poin sebanyak ini sudah lebih dari cukup bagiku untuk membunuh bajingan itu.”


Furya yang berendam di bak mandi kini mulai memikirkan bagaimana caranya ia menghabisi orang yang telah membunuh ayahnya.


Ada banyak cara yang bisa ia lakukan, tapi Furya tak ingin memberikan kematian mudah dan singkat.


Kalau bisa ia ingin menyiksa Tomy sampai puas baru membunuhnya.


Nyawa harus dibayar nyawa, tak peduli berapa lama waktu berlalu, dendam seorang anak lelaki tak akan pernah hilang.


~Tok..tok...tok~


“Kakak, udah belum mandinya?”


Saat lagi asik memikirkan cara yang terbaik untuk mengeksekusi Tomy, suara sang adik Ren mengganggu dan mulai berisik.


~Tok..tok...tok~


“Kakak...cepetan Ren udah kebelet.”


“Aduh Ren, kakak baru masuk loh.”


“Kakak cepetlah, Ren udah gak tahan mau beol.”


Mendengar suara rengekan sang adik, Furya terpaksa buru-buru mandi dan langsung keluar kamar mandi.


“Lama amat sih kakak nih mandinya!”


“Hilih ******, udah sana jongkok.”


Furya yang dirumahnya hanya ada satu kamar mandi langsung menemui Nando yang duduk santai makan cemilan sambil nonton tv.


“Om, tolong bilangin sama pak Toleh nanti sekalian bikin kamar mandi baru.”


“Ohhh, iya-iya nanti om bilang.”


“Jangan bilang aja om, langsung suruh kerjain. Masalah uang santai, kita bayar langsung.”


Setelah mengatakan itu Furya kembali ke kemarnya dan ganti baju.


Dari kamar ia bisa mencium aroma masakan sang ibu yang begitu lezat.


Meskipun sudah makan banyak, tetap saja malam itu Furya ngumpul di meja makan dan makan malam bersama keluarga kecilnya.


“Furya, pas liburan sekolah mama mau ajak adik kamu ke kampung. Kamu mau ikut gak?”


“Gak ah ma, males!”


“Kenapa males, kakek kamu lagi sakit di kampung jadi ikut ya!”


“Gak ma, Furya gak mau.”


Furya yang diajak pulang kampung  saat liburan sekolah sekaligus untuk menemui sang kakek yang sakit tetap menolak untuk ikut.


Dulu saat waktu kecil, ia masih ingat pernah diusir oleh kakek dan neneknya.

__ADS_1


Jadi sampai sekarang Furya masih agak dendam dan tak mau pergi ke kampung sang ibu.


Tapi berbeda dengan kedua adiknya yang tak pernah sekalipun bertemu dengan kakek dan neneknya, mereka terlihat sangat senang dan tak sabar.


__ADS_2