
Furya yang memeluk erat tubuh Sherly dapat merasakan panasnya tubuh sang kekasih.
Bukan cuman itu, bahkan Shery yang menangis hebat di pelukannya sedikit menggigil dan sangat ketakutan.
Melihat orang yang di cintainya sampai seperti itu, Furya hanya bisa meminta maaf.
“Maaf, aku tak tau kalau kamu sangat mengkhawatirkanku.”
“Sherly, aku benar-benar minta maaf...”
Furya yang membuat sang pacar sedih di malam berbahagia mereka mengakui kesalahannya.
Ia yang sudah berjanji tak akan membuat Sherly khawatir lagi dengan begitu mudah mengingkari janjinya.
Tentu saja sang pacar akan syok saat melihat dirinya jatuh dari motor.
Hanya saja Furya tak tau kalau Sherly akan sampai seperti itu.
Setelah pelukan hangat penuh cinta, Sherly yang merasa sedikit lebih baik dapat melihat pakaian Furya yang robek.
Tapi anehnya sama sekali tak ada bekas luka dan darah yang terlihat.
Untuk memastikan kembali, Sherly bertanya apakah sang kekasih baik-baik saja.
“Kamu. Gpp. Kan?
“Hemm, aku gpp kok.”
“Apa. Ada. Yang. Sakit?”
“Gak ada sayang, sekali lagi maaf ya.”
Sherly yang melihat Furya meminta maaf kembali hanya mengangguk dan tersenyum lembut.
“Aku. Gak. Mau. Liat. Kamu. Kayak. Gitu. Lagi.”
“Bisakan. Kamu. Berjanji. Gak. Akan. Melakukan. Hal. Berbahaya. Lagi?”
“Iya, aku janji. Kali ini aku benar-benar janji!” Jawab Furya sambil memberikan jari kelingkingnya.
Setelah janji kelingking di buat, Sherly menjadi lebih baik dan bisa tersenyum kembali.
Anak-anak Brotherhood yang melihat kemesraan itu hanya bisa merasa iri. Terutama mereka yang jomblo.
Karena sudah terlalu malam, Furya akhirnya langsung pamit pulang lebih dulu.
Meskipun besok minggu, tetap saja ia tak bisa berlama-lama karena si cengeng harus segera pulang.
“Guys, kalo itu aku pulang duluan ya.”
“Oke duluan aja gpp. Cuman kamu serius gak kenapa-napa kan Fur? Tanya Ali yang terlihat masih khawatir.
“Iya, kalo ada yang sakit kami bisa anterin bareng-bareng ke rumah sakit kok.” Lanjut Jamal yang terlihat masih ragu kalau sahabatnya itu baik-baik saja.
Hanya saja Furya yang memang tak kenapa-napa hanya tersenyum dan tak berbicara lebih lanjut.
Melihat Sherly yang sudah tak kuat berdiri, Furya tak ingin lebih membuat sang pacar menderita.
Karena itu ia langsung pulang setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Di perjalanan pulang, Furya yang mengendarai motor dengan pelan berbicara dengan sistem dan langsung membeli Water Of Life.
__ADS_1
“Sitem, belikan aku Water Of Life!”
[Ding! Perintah di terima. Apakah tuan bersedia membayar 100.000 Perfection Poin untuk membeli barang yang di inginkan]
“Iya bawel, belikan untukku sekarang!”
[Ding! Jawaban diterima, membeli barang yang tuan inginkan]
[Selamat, tuan mendapatkan 1 botol Water Of Life]
Furya yang berhasil membeli Water Of Life di malam Anniversary mereka dapat tersenyum lebar.
Tak sia-sia ia mengikuti balapan sampai terjatuh malam itu.
Bahkan tamparan keras dari sang pacar juga menurutnya tak ada apa-apanya jika di bandingkan apa yang akan ia dapatkan.
Malam itu, salah satu impian terbesarnya yaitu untuk dapat melihat sang pacar tercinta berbicara kembali akan segera terwujud.
Sherly yang sudah sangat lelah terlihat hampir tertidur di belakang Furya.
“Sherly, jangan tidur dulu! Aku mau ngasih hadiah spesial untuk hari jadian kita.” kata Furya sambil melirik ke arah sang pacar.
Hanya saja Sherly yang anak rumahan sudah ko dan tak mendengar apa yang Furya katakan.
Furya yang melihat Sherly tertidur manja di belakangnya juga memegang erat tangan sang pacar yang memeluknya agar tak jatuh.
Setelah beberapa menit mengendarai motor, akhirnya mereka sampai di tempat bersejarah yang menjadi awal mula hubungan mereka.
Di taman kecil yang dekat rumah mereka, di sanalah Furya kecil pertama kali bertemu Sherly.
Di tempat itu mereka biasa bermain dengan anak-anak lain sampai sudah sebesar sekarang.
Di tempat itu juga Furya di tembak Sherly dan resmi jadian.
Saat sampai, Furya berhenti dan mematikan motornya. Sherly yang tertidur juga dengan terpaksa ia bangunkan.
“Hoi...”
“Bangun putri tidur.”
Sherly yang sudah tertidur lelap entah kenapa bermimpi dan mengingat masa-masa kecinya dulu.
Ia yang masih bocah bandel dan suka buat ulah dapat melihat Furya kecil yang pemalu memangil-manggil dirinya dari sebrang jalan.
“Sherly...”
“Sherly...”
Sherly yang di panggil juga berusaha menjawab. Tapi anehnya suaranya tak keluar dan seketika itu juga Sherly teringat momen mengerikan.
Momen ketika ia di tabrak puso sampai koma dan kehilangan pita suaranya muncul kembali.
Mengingat itu, Sherly sangat ketakutan tiba-tiba saja tersadar.
Saat terbangun dan membuka matanya, sosok Furya yang sangat di cintainya ternyata ada tepat di hadapanya.
Saat itu Sherly mencoba berbicara tapi tetap saja suaranya tak keluar.
Furya yang melihat sang pacar sudah bangun tanpa tau mimpi mengerikan yang lagi-lagi menghantui Sherly dengan polosnya tersenyum.
“Bangun juga akhirnya...”
__ADS_1
Sherly yang bangun di tempat aneh dan sepi langsung bertanya pada sang pacar.
“Kita. Dimana. Kok. Gak. Pulang?”
“Aku kangen tempat ini, jadi kita mampir bentar.” kata Furya yang beranjak seperti mengajak Sherly untuk duduk di ayunan yang ada di sana.
Sherly yang baru bangun akhirnya mengingat tempat itu dan mengikuti Furya.
Ia lalu duduk di ayunan lain tepat di samping Furya.
Melihat tempat penuh kenangan itu, Sherly teringat kembali dengan masa-masa kecilnya dulu.
Di sanalah ia pertama kali berjumpa dengan Furya yang baru pindah rumah.
Di sana juga ia melempar Furya dengan batu bata sampai kepala sang pacar benjol dan menangis kencang.
Yap, Sherly kecil adalah ketua geng anak-anak dan penguasa komplek di tempat tinggalnya.
Saat masih kecil ia di juluki sebagai penyihir kejam karena suka membuat nangis anak lain.
Bahkan jika di hitung, ada banyak sekali korban dari kekejamannya.
Tapi itu dulu sebelum takdir kejam mengubah anak periang dan aktif itu menjadi pendiam.
“Kamu masih inget kan tempat ini?”
Mendengar perkataan Furya, Sherly hanya menngagguk.
“Kamu juga inget gak pernah ngelempar aku pakai batu bata besar?”
Sherly yang di tanya kejadian memalukan itu langsung tersenyum lebar sambil melirik sang pacar.
Tak mungkin ia bisa lupa, saat itu Furya menangis seperti bayi dan memanggil-manggil ibunya.
Mengingat kejahatannya dulu, Sherly tersenyum sambil menatap Furya.
Furya yang melihat senyuman manis itu juga balik tersenyum.
Ia yang pertama kali berjumpa dan tak tau apa-apa langsung di timpuk batu.
Mengingat hal itu membuat Furya merasa malu.
“Sher, kalau kamu bisa ngomong lagi apa yang bakalan kamu lakuin?”
Sherly yang awalnya tersenyum lebar langsung berubah diam.
Mendengar pertanyaan aneh dari Furya, ia yang sudah tak mungkin bisa berbicara hanya menatap langit malam yang di penuhi bintang.
Furya yang pertanyaannya tak di jawab juga diam saja seakan tetap menunggu jawaban dari sang pacar.
Lalu Sherly yang menatap langit malam berbicara dengan bahasa isyarat.
“Aku...”
“Aku. Bakalan...”
Belum selesai Sherly berbicara, tanpa sadar air matanya menetes dan tak melanjutkan jawabannya.
Apa gunanya berangan-angan setinggi langit jika hal itu tak akan pernah terwujud.
Furya yang melihat Sherly sedih dan tak bisa menjawab pertanyaannya hanya diam saja sambil menatap langit malam berbintang.
__ADS_1
Saat itu juga ia mengeluarkan Water Of Life dari inventory.