
Furya yang selesai membawa masuk piano tua milik sang ayah dapat mengingat semua bentuknya.
Sejak kecil ia memang sering bermain petak umpet di bawah kolong piano bersama Sherly.
Ren dan Yuki yang melihat sang kakak membeli piano besar juga di buat tertarik.
Meskipun mereka tak tau kalau itu piano peninggalan sang ayah.
Saat Furya sedang memperbaiki kembali pintu samping yang sengaja di rusak, pak Devan yang melihat istri mantan temannya sekaligus teman masa lalunya di masa kuliah menjadi bernostalgia.
Bersama buk Reni mereka sempat mengobrol sedikit di depan rumah.
Melihat Reni Aditya masih cantik bahkan mungkin lebih cantik dari yang di ingatnya, Devan yang belum menikah di usia hampir 40an menjadi tertarik.
Furya yang melihat sang ibu dekat dengan pria lain menjadi sedikit jengkel.
Karena itu juga setelah memperbaiki pintu, Furya langsung menemui pak Devan di depan rumah dan berniat mengusirnya secara halus.
“Ma...pintunya dah siap, yuk masuk.”
Di panggil sang anak, buk Reni akhirnya pamit.
Devan yang sempat bercerita dengan buk Reni juga ingin mampir ke cafe Sherly terlebih dahulu untuk menemui temannya yang lain yaitu pak Hery.
“Yaudah makasih waktunya ya Reni. Saya mau coba mampir ke tempan Hery dulu deh.”
“Iya, makasih banyak udah mau balikin piano suamiku, sumpah aku seneng banget.”
Setelah berpamitan, Devan pergi meninggalkan rumah Furya.
Furya yang mendapatkan kembali apa yang ia inginkan langsung mencoba piano penuh kenangan dari sang ayah.
Hanya saja Furya tak mengerti cara bermain piano.
Untungnya sang ibu yang pernah sedikit di ajari oleh sang suami masih mengingat beberapa lagu.
“Siapa yang mau dengerin mama main piano?”
“Ren mau ma...”
“Yuki juga ma, cepetan ma mainin pianonya!”
Mendengar perkataan ibu mereka, Ren dan Yuki terlihat kegirangan dan duduk di kursi bersama sang ibu yang memainkan piano.
Mulai dari lagu anak Twinkel twinkel little star sampai doremi fasolasido sang ibu dapat memainkannya dengan baik.
Furya yang mendengar kembali dentuman halus dan merdu dari suara yang masih di ingatnya hanya memperhatikan dari jauh.
__ADS_1
Melihat sang ibu yang ternyata bisa memainkan piano, Furya menjadi makin senang.
Meskipun tak se pro sang ayah, tapi malam itu menjadi salah satu malam paling membahagiakan bagi Furya.
*****
Di tempat lain...
Devan yang menemui pak Hery mengobrol sampai larut malam.
Dirinya yang baru kembali dari Prancis memang tak begitu banyak tau kabar tentang teman-teman masa sekolah dan kuliah.
Malam itu juga Devan yang tertarik dengan ibu Furya mulai bertanya-tanya banyak hal ke pak Hery.
Meskipun sudah tau janda dan memiliki 3 orang anak, tapi Devan seperti tak peduli karena memang ibu Furya terlihat begitu cantik.
Semua itu tak lain berkat kehebatan Water Of Life, air dari surga itu tak hanya menyembuhkan tapi juga membuat buk Reni muda kembali seperti masih remaja.
Furya yang besoknya masih ada ujian langsung tidur lebih awal karena di suruh ibunya.
Yuki dan Ren yang sudah puas mendengar ibu mereka memainkan dan belajar sedikit piano juga sama dan sudah tidur nyenyak di kamar mereka di temani sang ibu.
Pagi harinya Furya bangun karena alarm hp yang berbunyi.
Setlah bangun seperti biasa ia mengerjakan rutinitas paginya.
“Woi sistem, kenapa ibuku jadi muda begini?”
[Ding! Lapor tuan, itu adalah efek Water Of Life yang memang akan memperpanjang umur dan membuat pemakainya awat muda]
“Iya aku tau itu...tapi lihat, ibuku jadi seperti gadis lagi. Bagaimana ini sekarang!” Protes Furya yang takut sang ibu di dekati pria lain.
[Maaf tuan tapi efek Water Of Life tak bisa di kembalikan]
Sadar sang ibu bukan lagi menjadi emak-emak dan sudah seperti wanita muda, Furya hanya bisa tepok jidat.
Tapi tak ada yang bisa ia lakukan, Water Of Life memang tak salah di jual dengan harga 100 ribu poin.
Furya yang ingin membelikan Sherly hal yang sama menjadi sedikit berfikit akan menjadi apa pacarnya itu nanti.
Apakah akan menjadi bayi kembali atau menjadi bidadari dari surga.
Setelah sarapan, Furya pergi lebih dulu dan menjemput Sherly. Bersama sang kekasih, Furya pergi ke sekolah dan mengikuti ujian kembali.
Di dalam kelas, Furya yang bosan karena lagi-lagi ia mendapatkan jawaban instan dari sistem memilih meninggalkan kelas lebih dulu.
Semua murid yang kembali melihat Furya yang berasal dari kelas D menyelesaikan soal ujian sangat cepat menjadi curiga dan bertanya-tanya.
__ADS_1
Tapi Furya yang orangnya cuek tak menghiraukan itu dan pergi ke taman untuk refleshing.
Entah karena takdir atau memang sudah berada di level yang sama, Aurel juga ada di sana dan mereka mengobrol kembali.
Di saat murid lain kesulitan dan bertarung dengan otak mereka, Furya malah tertawa bersama salah satu bidadari SIS sekaligus ketua OSIS.
Jika saja ada pria lain yang melihat mereka, maka sudah di pastikan mereka akan benar-benar iri oleh babang tamvan.
Setelah asik mengobrol, bel tanda istirahat berbunyi.
~Teng...ting...teng...tong~
Aurel yang mendengar itu langsung pamit buru-buru meninggalkan taman.
“Yaudah makasih waktunya, kalo kamu mau datang aja ke ruangan OSIS!”
“Iya, nanti deh ku pikirin ulang.”
Aurel yang tertarik oleh pria misterius bernama Furya berniat mengundangnya kedalam jajaran OSIS.
Ia juga sempat mengintrogasi Furya karena takut teman barunya itu yang berasal dari kelas D main asal jawab soal ujian hanya bisa percaya kalau Furya memang benar-benar pintar.
Dalam soal ujian, ada beberapa soal yang mustahil di jawab anak SMA.
Aurel yang mengetahui itu juga sengaja tak mengisinya.
Tapi Furya yang polos dan bahkan tak membaca soal tak tau kalau ada yang seperti itu.
Karena itu Aurel yang bertanya soal tersulit dan berhasil di jawab oleh Furya dapat memastikan kalau ada yang spesial dan hebat dalam diri Furya.
Tapi yang tak ia ketahui adalah Furya memiliki cheter terhebat yang sudah jauh dari logika berfikir manusia bahkan orang jenius sepertinya.
Di jam istirahat, Furya yang bosan pergi bersama Jamal dan teman-temannya yang lain ke belakang perpustakaan.
Di sana terlihat ada banyak sekali para brandalan yang bersembunyi untuk sekedar merokok.
Sambil mengobrol, para pria yang ada di sana menjadi tak sabar karena setelah ujian, akan ada Festival Olahraga tahunan SIS.
“Jadi gak sabar aku pengen unjuk gigi.” kata Jamal yang ingin pamer di depan para wanita se sekolahan.
“Hadeh, emang lu bisa apa kocak!” Jawab Boby yang mendengar kesombongan Jamal.
Ali dan beberapa teman lain juga hanya tertawa dan menjadi bersemangat.
Mereka yang tak terlalu pintar hanya memiliki satu kesempatan untuk tampil dan unjuk gigi di depan para murid wanita.
Festival Olahraga Tahunan, itu adalah tempat di mana para brandalan itu dapat menunjukkan jati diri mereka.
__ADS_1
Tapi semua itu percuma karena hanya ada satu bintang yang akan membuat semua wanita berkelas dari SIS terpikat.